Tentu saja pertengkaran yang memicu wajah Julio menjadi babak belur membuat heboh satu rumah. Beti yang awalnya ingin melabrak Laura karena tak kunjung menemuinya, ia urungkan kala ia melihat sang menantu berteriak meminta tolong. Ia yang merasa kepo tentu saja mendekati Laura dan betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh putra kesayangannya itu terkapar tak berdaya.
Beti tentu saja panik seketika dan saat itu juga ia menyuruh salah satu anak buah Maikel menelepon dokter pribadi keluarga Kail, sedangkan dirinya, ia langsung menuduh Laura lah sang pelaku yang menghajar putranya sampai babak belur. Tentu saja Laura langsung mengelak atas tuduhan yang di berikan oleh sang ibu mertua. Lagian mana bisa dirinya melawan suaminya, apalagi sampai memukul Julio hingga tak sadarkan diri sedangkan dia melawan dengan suara saja nyalinya sudah menciut. Dan tak hanya itu saja Laura juga menjelaskan apa yang ia lihat tadi. Tentu saja semua itu tak langsung di terima oleh Beti. Wanita paruh baya itu tak percaya suaminya yang terlihat begitu sayang dengan sang putra dengan teganya dia menghabisi anaknya sendiri dan terus menuduh Laura lah sang pelaku. Entah menantunya itu melakukan pemukulan itu dengan tangannya sendiri atau membayar orang lain, Beti tidak perduli akan hal itu karena baginya tetap Laura lah pelakunya. Dan tentu saja penjelasan yang Laura berikan berujung sia-sia bahkan dirinya langsung di usir dan di suruh menjauh dari suaminya sendiri.
Laura ingin sekali menolak karena dirinya ingin menemani Julio sampai dia sadar. Namun seretan dari dua laki-laki berbadan kekar yang diperintahkan oleh Beti, mampu membuat Laura tak berkutik. Ia pasrah kala di seret keluar dari dalam kamarnya.
Dan disinilah Laura berada, di taman belakang rumah yang sering ia jadikan tempat untuk menumpahkan segala kesedihan yang selama ini ia rasakan. Laura menangis tanpa suara dengan tatapan yang memandang lurus hamparan bunga matahari di depannya.
Dan tanpa Laura sadari, sedari tadi dirinya sampai di taman tersebut ada sepasang mata yang mengawasi dirinya dari atas balkon lantai dua. Seseorang itu menatap lekat kearah Laura dengan sesekali menyesap sebatang nikotin yang berada di sela jarinya.
"Bodoh," ucap orang tersebut setelah menghembuskan asap rokok yang memenuhi rongga mulutnya. Tatapannya pun masih lekat menatap Laura hingga suara pintu di barengi suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa mendekati dirinya, membuat seseorang itu memutar bola matanya malas. Tanpa melihat siapa yang datang terlebih dahulu, ia sudah tau seseorang yang saat ini berdiri di belakangnya.
"Mas!" panggilan penuh nada tinggi terasa berdenging masuk kedalam indra pendengaran Maikel yang masih berada di posisinya sebelumnya. Dan ya, orang yang sedari tadi memperhatikan Laura adalah ayah mertuanya.
Maikel tak menjawab, ia masih terdiam hingga membuat Beti merasa sebal.
"Mas!" panggil ulang Beti bahkan tangannya ikut bergerak, membalik tubuh Maikel. Dan berhasil, dirinya saat ini telah berhadapan dengan suaminya.
Maikel merespon hanya dengan salah satu alisnya yang terangkat.
"Orang yang memukul Julio sampai babak belur itu bukan kamu kan Mas?" Maikel diam, tak mau menjawab ucapan dari sang istri karena ia sangat yakin Laura pasti sudah menceritakan semuanya kepada istrinya itu.
Sedangkan Beti, ia menghela nafas lega. Hidup beberapa tahun dengan Maikel membuat dirinya paham dengan sikap suaminya yang sangat irit bicara dan beberapa kode yang sering suaminya itu lakukan, salah satunya ya diam seperti ini saat di tanyai. Dan keterdiaman itu biasanya diartikan dengan sesuatu yang baik. Sehingga Beti bisa menyimpulkan jika Maikel tidak melakukan apa yang telah Laura tuduhkan kepadanya tadi.
"Huh, benar kan apa kataku tadi jika kamu tidak mungkin memukuli anak kamu sendiri. Laura itu benar-benar pandai sekali bersandiwara. Padahal dia sendiri yang dengan kurang ajarnya melakukan KDRT kepada suaminya sendiri, ehhh bukannya mengakui malah bersilat lidah dan melemparkan kesalahannya kepadamu. Sialan memang perempuan gila itu. Berani-beraninya mengadu domba kita. Awas saja nanti, aku akan kasih dia pelajaran! Menyebalkan. Kenapa sih Julio tidak menceraikan dia saja? Padahal tidak ada yang bisa dibanggakan dari perempuan mandul itu," celoteh Beti.
"Saya juga berpikiran kenapa Julio tidak menceraikan dia saja? Padahal di luar sana masih banyak perempuan lain yang menginginkan dia." Beti yang mendapat respon dari sang suami apalagi pemikiran mereka berdua sama tampak terlihat excited menanggapi ucapan dari Maikel.
"Nah, benar kan. Perempuan di luar sana juga banyak yang lebih baik dari Laura. Harusnya Julio sadar dan segara bercerai saja daripada bertahan dengan perempuan sialan itu yang benar-benar tidak berguna sama sekali, malah menambah beban saja," ujar Beti gregetan sendiri dengan putranya itu.
"Benar, harusnya Julio memang sadar dan segara melepas Laura. Lalu setelah itu menghalalkan selingkuhannya daripada terus berbuat zinah, memalukan," ucap Maikel yang dengan seketika membuat anggukan di kepala Beti yang sedari tadi ia lakukan untuk menimpali ucapan dari Maikel seketika berhenti. Tatapan matanya pun berpindah hingga saling bertatapan dengan mata tajam sang suami.
"Tunggu, apa tadi? Selingkuhan? Siapa yang selingkuh? Laura?"
"Tidak perlu bertingkah seolah-olah kamu tidak tau semua hal busuk yang putramu itu lakukan. Bahkan wanita yang menjadi selingkuhan putramu merupakan wanita pilihanmu sendiri, yang kamu kenalkan 3 bulan yang lalu. Jadi tanpa perlu saya sebutkan siapa nama dari wanita itu, kamu tentu saja sudah tau bukan? Dan satu lagi, pelaku yang telah memukul putra kesayanganmu itu bukan Laura melainkan saya, Maikel Federico Kail."
Beti begitu terkejut saat suara lantang sang suami yang mengakui perbuatannya memasuki pendengarnya. Namun ia tetap saja menggeleng-gelengkan kepalanya, menyangkal fakta yang ada.
"Tidak. Tidak mungkin kamu melakukan hal itu, Mas. Aku tau seberapa sayangnya kamu dengan Julio jadi tidak mungkin kamu memukul Julio sampai pingsan! Kalaupun iya, apa alasan kamu melakukannya? Apa gara-gara wanita sialan itu? Apa saja yang telah dia lakukan sampai kamu terhasut dengan mulut berbisanya itu?!"
"Stop! Jangan pernah menuduh Laura melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan! Tindakan yang telah saya lakukan terhadap putramu tidak ada kaitannya sama sekali dengan Laura. Dia tidak pernah menghasut saya seperti yang kamu tuduhkan tadi. Tapi semua yang telah saya lakukan murni karena keinginan saya sendiri! Saya sudah muak dengan kelakuan putra kamu! Dan saya juga sangat muak dengan sikap kamu!" ujar Maikel sembari menunjuk tepat di wajah Beti. Dan karena ia tak ingin kehilangan kontrol sehingga menyakiti seorang wanita, Maikel memilih untuk pergi dari hadapan Beti.
Sedangkan Beti, ia menggeram keras setelah Maikel meninggalkan dirinya.
"Arkkhhhhhhh! Semua ini gara-gara wanita sialan itu! Laura! Awas saja kamu! Aku pastikan kamu akan hancur!" tutur Beti dengan kobaran api kebencian yang terlihat jelas di dalam matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Helen Nirawan
bini gini di pasar byk , buang aj ke jurang , cerai in , ish gk penting
2024-07-21
2
Aprisya
eeeaallaahhh kenapa semua kesalahan dituduhkan pada laura,, dasar mak lampir
2024-01-13
5
Yunia Afida
apakah si beti nikah ama maikel itu di beti jebak ya
2024-01-09
0