...⦆⦈⦇⦅...
“Ini aku, Caron. Kamu ingat suaraku, bukan?”
Caron mengerutkan keningnya dan menatap pintu kamarnya dengan pandangan bingung. “Raimound?”
“Ya, apa aku boleh masuk?”
Caron menatap senjata di tangannya dan berbalik menatap pintu kamarnya. Apa yang ingin dilakukan tuan muda Raimound itu tengah malam seperti ini?
“Masuklah. Pintunya tidak aku kunci.”
Pintu kamar terbuka menunjukkan Raimound yang memakai baju kaus berwarna putih dan celana dasar berwarna hitam.
Penampilan yang santai. Mata orchid pria muda itu menatap Caron yang berada di tepi tempat tidur.
“Maaf aku mengganggumu. Apa kamu ingin melanjutkan istirahat?”
Caron menggelengkan kepalanya dan menatap Raimound yang berjalan ke arah jendela kamarnya.
Mata orchid pria muda itu menatap suasana di halaman mansionnya. Beberapa penjaga tampak berjaga dan berpatroli.
“Kamu bawa senjata, bukan? Mau ikut ke ruang latihan?”
Caron menatap senyum tipis di wajah Raimound dan menganggukkan kepalanya. Caron segera membawa tubuhnya ke atas kursi roda miliknya dan menatap Raimound yang hanya diam di dekat jendela kamar.
“Ada apa?” Raimound tersentak dan menggelengkan kepalanya.
Tuan Muda keluarga Engyna itu segera berjalan di depan Caron sambil membuka pintu kamar Caron.
Mata orchid Raimound menatap kursi roda Caron yang sudah berada di lorong dan segera mengambil langkah untuk berjalan.
Mata navy Caron hanya menatap punggung Raimound yang berjalan di depannya. Beberapa penjaga mansion menganggukkan kepala ke arah keduanya. Caron menatap lorong di depannya yang semakin sepi.
Raimound berhenti di sebuah pintu kayu di sudut lorong lantai dua dan menekan dinding di samping kanan pintu.
Pintu kayu itu segera terbuka dan Raimound berbalik menatap Caron yang sedikit terpana dengan teknologi di depannya.
“Ruangan ini hanya bisa dibuka olehku dan Ryan.”
Caron menatap Raimound yang sedang mengisi peluru di pistolnya. Mata orchid pria itu menatap Caron yang melirik pistol di tangannya. Raimoind tersenyum tipis dan mengangkat pistol di tangannya ke arah Caron.
“Kamu tidak takut, Caron?”
Mata navy Caron menatap pistol yang mengarah tepat ke kepalanya. Pria muda itu tersenyum tipis dan menyandarkan punggungnya ke kursi roda di belakangnya.
“Kenapa aku harus takut? Karena pistol di tanganmu? Jika kamu benar-benar ingin menembakku kamu bisa melakukannya sejak awal, Raimound.”
Caron menatap ruangan sekitarnya yang penuh senjata dan pintu di belakangnya yang menggunakan kunci otomatis.
“Kamu tidak perlu repot-repot membawaku ke ruangan dengan keamanan tertinggi seperti ini. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Raimound?”
Raimound tersenyum miring dengan pistol masih menuju ke arah Caron. Mata orchid dan mata navy itu saling menatap dalam keheningan memenuhi ruangan.
Raimound menurunkan pistol di tangannya dan menganggukkan kepala. “Syukurlah kamu peka, Caron. Aku tidak perlu melanjutkan drama ini lagi. Kita bisa kembali menyusun rencana lagi.”
Caron mengerutkan keningnya. “Drama apa?”
Raimound hanya diam dan menekan tombol merah pada dinding di sampingnya. Beberapa sasaran tembak muncul di depan mereka.
“Mari kita asah kemampuan menembak kita.”
Raimound tersenyum tipis dan mengambil posisi di depan Caron. Pria muda keturunan Engyna itu mulai menembak sasaran di depannya tiga kali berturut-turut dengan ujung peluru terakhir yang masuk ke dalam peluru kedua.
Caron terdiam menatap skill menembak Raimound. Itu kemampuan yang luar biasa dan membutuhkan latihan yang ulet. Raimound berbalik dan menunggu hasil tembakan Caron.
Apa aku bisa menandinginya? Batin Caron mulai mengambil posisi di atas kursi rodanya.
Raimound berdiri tenang di samping Caron dan menunggu Tuan Muda Lacrymos itu untuk menembak. Sekian tahun berlalu akhirnya ruang senjata ini kembali ribut dengan suara tembakan.
Mata orchid Raimound menatap tembakan yang mulai dilakukan Caron. Sama seperti dirinya, peluru itu saling bertumpuk satu sama lain dan ujung peluru ketiga menancap dalam peluru kedua.
“Hah … itu berhasil.”
Raimound tersenyum tipis dan mendekati Caron. “Kemampuanmu tidak berkurang walaupun amnesia. Aku benar-benar merasa nostalgia.”
Kenapa ekspresinya seperti itu? Batin Caron menatap ekspresi terluka di wajah Raimound.
“Apa aku … sering melakukan kesalahan di masa lalu? Bagaimana hubungan kita di masa lalu? Terkadang aku merasakan perasaan rindu tak berdasar saat menatapmu, Raimound. Sahabat? Apakah itu?”
Raimound hanya diam dan kembali mengangkat pistol di tangannya untuk menembak balon yang menjadi sasaran tembak di depan mereka.
Raimound tidak akan menduga jika Caron bertanya tentang hubungan mereka di masa lalu. Normalnya para tuan muda dan nona muda di Pygena hanya terikat dengan hubungan kerja.
Namun, seiring berjalan waktu mereka yang kehilangan keluarga karena posisi keluarga mereka yang tinggi mulai berangkulan. Orang pertama yang mengajukan hubungan penuh kasih sayang itu adalah Caron.
Saat pertemuan rutin mereka lima tahun yang lalu. Caron Ajerta Lacrymos mengajukan idenya.
“Bagaimana kalau kita sudahi panggilan formal ini? Kita semua sama-sama terluka. Bagaimana kalau kita menjadi keluarga? Keluarga tidak harus dari hubungan darah, bukan?”
Ruangan pertemuan itu hening dan dirinya adalah orang pertama yang menolak gagasan itu. Lalita hanya diam dan melirik Laister yang ada di dekatnya.
Saat itu Canoa tidak datang karena sedang menemani kepala keluarga Lacrymos yang baru saja mendapat teror ke rumah sakit.
Berbagai penolakan dari Raimound tidak membuat Caron gentar. Pria itu terus mengajukan idenya hingga akhirnya Lalita menyetujuinya. Diikuti Laister, Ryan dan juga Canoa.
Hah … kenapa aku harus merasakan perasaan ribet seperti ini. Batin Raimound mengerutkan keningnya.
“Hei, Raimound. Apa kamu tidak akan menjawab pertanyaanku?”
Raimound sedikit tersentak dan menatap Caron yang mengerutkan keningnya.
“Ya, tebak saja. Aku terlalu malas untuk menceritakan kisah itu. Aku punya tujuan lain untuk mengajakmu ke sini, Caron.”
Caron hanya diam saat Raimound dengan mulus mengalihkan topik pembicaraan. Raimound meletakkan pistol di tangannya di atas meja yang ada di ruangan itu dan berbalik menatap Caron.
“Soal sosok yang kamu lihat di daratan hari ini. Kamu benar-benar melihatnya, bukan?”
Caron menganggukkan kepalanya, sedangkan Raimound tersenyum dan mengusap permukaan pistol di atas meja. “Aku akan membantumu. Kamu akan mencarinya, bukan?”
Caron menatap Raimound yang tersenyum ke arahnya. Senyum yang membuat Caron merasa cemas, karena tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Raimound. Mata orchid itu memandang tajam Caron yang duduk tenang di atas kursi rodanya.
“Sebelum itu aku ingin memastikan sesuatu. Apa kamu benar-benar amnesia, Caron?”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments