...⦆⦈⦇⦅...
Ryan melirik Raimound yang duduk di sampingnya dengan wajah tegang. Hal yang sama yang dirasakan oleh Canoa, keduanya takut akan ada pertumpahan darah oleh kedua penerus sah masing-masing keluarga itu.
Apa tidak apa-apa dibiarkan seperti ini? Batin Canoa melirik Ryan yang juga tersenyum canggung.
Lalita hanya diam dan melirik ketegangan yang hadir antara Raimound dan Caron. Bukan tanpa alasan Raimound mempertanyakan kehadiran Caron.
Empat tahun sebelumnya, tiga bulan setelah keluarga Lacrymos mengalami kecelakaan. Mereka bersama-sama datang mengunjungi Caron dan berencana menghibur teman mereka itu.
Sayangnya, respon yang mereka dapatkan sungguh sebaliknya dan Caron juga melayangkan tangannya untuk menampar Canoa di depan mereka.
Bukan hal yang mudah bagi mereka semua untuk mengalihkan pandangan dari hal tersebut.
Sejak saat itulah, Caron menjauh dari mereka dan perlahan menghilang dalam dunia Pygena. Namanya tenggelam dan tak lagi pernah muncul dalam pemberitaan Pygena. Raimound juga memutuskan untuk tidak ambil pusing tentang hilangnya Caron.
Karena itulah, saat Caron menyambut dirinya dan Laister ketika mengunjungi mansion Lacrymos, Lalita langsung sadar bahwa mungkin saja pria muda itu sudah berubah.
Terlebih saat Lalita menatap cara pandang Caron kepada Canoa. Terasa hangat dan dalam. Sebagai seorang kakak, Lalita paham dengan arti tatapan Caron tersebut.
Itu tatapan seorang kakak yang akan melakukan apa pun untuk adiknya. Batin Lalita mengepalkan tangannya.
Braak
“Maaf saja, Tuan Muda Caron. Apa Anda berniat bermain-main dan akan mengolok keluarga kami seperti yang Anda lakukan dahulu? Apa Anda mengabaikan pertanyaan saya?”
Lalita tersentak saat suara gebrakan meja dari Raimound itu hampir saja menjatuhkan cangkir teh yang tadinya disiapkan para pelayan.
“Hei, kalian berdua! Kita bertemu untuk membahas kasus serta proyek kerja sama kita! Bukan untuk pertengkaran seperti ini!”
Lalita bersuara berusaha mengurangi ketegangan antara Raimound dan Caron.
Mata navy Caron memandang kerutan di wajah Raimound, sedangkan Canoa menekan lonceng kecil di depannya membuat layar hologram berisi identitasnya hadir di belakang kursinya.
Semua mata di dalam ruangan itu menoleh ke arah Canoa yang menarik nafas panjang.
“Tuan Muda Raimound, mungkin Anda tidak tahu … saat ini Bang Caron mengalami amnesia dan alasan Bang Caron ikut selain menunjukkan perubahan sikapnya juga karena ingin mendapat informasi tentang penyusup yang menyerang Bang Caron..”
Raimound dan Ryan menatap kaget ke arah Caron yang hanya menatap keduanya dengan tenang.
“Tunggu! Amnesia? Penyusup? Mansion kalian diserang penyusup?”
Canoa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ryan. Pria muda itu mengusap wajahnya dan menyandarkan punggungnya ke kursi di belakangnya.
“Itu tidak terduga. Apa ingatan Anda sudah kembali, Tuan Muda Caron?”
Caron menggelengkan kepalanya, sedangkan Raimound merangkai pikirannya dari penjelasan Canoa sebelumnya.
“Saat kamu membahas tentang penyusup. Apa dia memiliki alat yang mirip dengan yang sedang kami kembangkan?”
Lalita menganggukkan kepalanya, begitu pun dengan Caron.
“Itu benar. Salah satu alat yang digunakan penyusup itu bisa menghasilkan dinding hijau transparan dan itu menghalangi fungsi alat yang bersentuhan dengannya.”
Raimound mengusap wajahnya mendengar penjelasan Caron dan melirik Ryan di sampingnya. Pria muda dengan mata orchid itu mengulurkan tangannya ke arah Caron.
“Hah … maafkan sikap tidak dewasa saya, Tuan Muda Caron. Saya tersulut emosi dari hal-hal di masa lalu.”
Caron menerima uluran tangan Raimound dan tersenyum kecil.
“Sayalah yang seharusnya minta maaf, Tuan Muda Raimound. Saya memang tidak ingat sikap saya di masa lalu, tapi saya yakin yang saya lakukan melukai hati banyak orang.”
Raimound dan Ryan terdiam, keduanya serentak tersenyum.
“Tidak masalah, Tuan Muda Caron. Saya paham Anda mengalami masa yang sulit setelah kecelakaan itu.”
Raimound melirik Ryan yang menganggukkan kepalanya. “Ya, tak masalah. Kita bisa menyelesaikannya dengan beberapa pertandingan kecil. Apa Anda setuju, Tuan Muda Caron?”
Caron tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya, Canoa dan yang lainnya tersenyum menatap interaksi positif keduanya.
Syukurlah berakhir dengan baik. Batin Canoa melirik Lalita yang menganggukkan kepalanya.
“Kenapa tidak ubah panggilan kita menjadi lebih bersahabat? Terlalu formal jika harus menyebut Tuan Muda … atau Nona Muda. Bukan begitu, Caron?”
Caron hanya tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya.
“Aku tidak masalah. Selama semua orang bersikap baik, maka aku akan membalasnya dengan lebih baik dan sekali lagi … aku meminta maaf untuk semua sikap burukku.”
Ryan segera mengambil alih dengan senyum hangat menguntai wajahnya. “Tidak perlu khawatir, Tuan Muda Caron. Ah, tidak! Haruskan aku memanggilmu, Bang Caron?”
Caron tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Baiklah! Kita lanjutkan kembali pembicaraan serius kita.” Semua orang menganggukkan kepalanya mendengar kalimat Lalita.
Laister melirik Lalita yang menganggukkan kepalanya dan menyalakan layar hologram dari ponselnya.
“Kami mendapat pesan dari Bang Caron tentang senjata yang digunakan penyusup itu.”
Layar hologram berwarna perak itu menampilkan foto pisau dengan gagang terdapat logo sayap hitam.
“Organisasi Aerance?”
Lalita menganggukkan kepalanya mendengar kalimat Raimound. Pria muda itu menghela nafas dan menatap Ryan yang juga ikut cemas.
Caron menatap interaksi keduanya dan kembali berpikir tentang organisasi bernama Aerance ini. Kemungkinan besar organisasi ini juga pernah mengusik keluarga Engyna.
“Apa dia mengatakan sesuatu, Bang Caron?”
Caron menatap Ryan dan semua orang yang menunggu jawabannya. Caron menganggukkan kepalanya.
“Aku menyadari, kedatangannya hari itu hanya untuk mengujiku. Dia bisa saja membunuhku dengan langsung menembakkan pistol itu dari luar jendela.”
Caron menghentikan kalimatnya sejenak dan melirik Canoa yang diam di sampingnya.
“Dia memilih menciptakan keributan seolah ingin semua orang mengetahui kedatangannya. Dia ingin bermain-main dan melihat ekspresi gusar kita.”
Raimound menatap Caron dan Canoa yang berada di depannya. “Lalu ada petunjuk soal pelakunya?”
Caron menggelengkan kepalanya, sedangkan Canoa tampak sibuk berpikir.
“Sebenarnya … aku mendapat pesan dari seseorang tak dikenal sebelum Bang Caron mendapat serangan teror pertama.”
Lalita dan yang lainnya menatap Canoa yang sedikit menundukkan kepalanya.
“Aku yakin pengirim pesan itu ada kaitannya dengan penyusup, serangan kedua di mansion dan juga … kecelakaan keluarga kami.”
Caron terdiam. Dirinya memang sudah menduga hal itu, terlebih penyusup itu mengetahui tentang keping jiwanya yang kembali utuh.
Semakin dipikirkan semakin rumit. Batin Caron mengusap wajahnya.
“Apa diantara kalian ada yang pernah bertemu langsung dengan Arestrow Gillowirz?”
Semua mata memandang ke arah Raimound. Topik pembicaraan mereka semakin serius dan Caron dengan gencar menangkap semua informasi yang diterimanya.
Beberapa kunci ingatan pria muda itu terbuka, meski hanya untuk hal-hal kecil. Namun, bagi Caron itu tetaplah sebuah informasi.
“Canoa … bukankah kamu pernah bertemu dengan mereka?”
Caron langsung menoleh ke arah Canoa yang tampak ragu menjawab saat mendapat tatapan Caron. Wanita muda itu tersenyum lemah dan menganggukkan kepalanya.
“Aku yakin Abang lupa, tapi satu tahun sebelum kecelakaan itu … keluarga kita juga pernah mengalami teror bom serupa yang Abang alami sebelumnya.”
Caron dan yang lainnya tetap diam, membiarkan Canoa melanjutkan kalimatnya.
“Teror bom berisi pesan video dari Arestrow Gillowirz. Aku hampir melihat wajahnya, karena bom itu hampir meledak di depanku …”
Canoa menatap Caron yang mulai mengerutkan keningnya. “Bang Caron saat itu melindungiku. Jadi, aku tidak sempat melihat wajahnya.”
Ryan menatap Caron yang terdiam dan memegang kepalanya yang pusing.
“Jadi, yang mengetahui wajah Arestrow Gillowirz itu … hanya, Bang Caron?”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments