...⦆⦈⦇⦅...
Brakk
Pintu kamar Caron terbuka. Canoa dan Veistar langsung masuk dan menatap ruangan yang berantakan.
Mata keduanya langsung terfokus kepada Caron yang bersandar pada dinding di depan tempat tidurnya.
“Abang! Apa … apa yang terjadi? Siapa itu tadi? Tembakan apa itu tadi? Abang terluka?”
Caron tersenyum tipis menatap kecemasan Canoa dan mengusap pelan puncak kepala sang adik. “Satu-satu, Canoa. Aku baik-baik saja hanya kamar ini yang kacau.”
Caron menatap Veistar yang mulai mengamati seluruh bagian ruangan. Bekas tembakan dan pecahan kaca berserakan di mana-mana. Canoa membantu Caron berdiri dan duduk di atas kursi rodanya.
Mata coklat terang Canoa menatap pisau yang tertancap di pintu bagian dalam kamar Caron. Wanita muda itu mengambil pisau tersebut dan menatap logo sayap hitam yang berada di gagang pisau.
Caron melirik Canoa yang terdiam dan mendekat dengan kursi rodanya. Pria muda itu segera mengambil pisau itu dari tangan Canoa dan menatap logo sayap hitam tersebut dengan kening berkerut.
“Kamu kenal dengan logo ini, Canoa?”
Caron mendongak dan menatap Canoa yang menggelengkan kepalanya, sedangkan Veistar yang baru saja selesai mengamati suasana dari jendela mendekat ke arah keduanya.
“Itu adalah logo dari organisasi Aerance, Tuan Muda.”
Caron mengerutkan keningnya. Organisasi Aerance? Rasanya kalimat itu cukup familiar. Apakah dirinya dahulu pernah berurusan dengan organisasi ini?
“Dahulu Anda sering menggagalkan rencana mereka, Tuan Muda. Hingga akhirnya pemimpin organisasi itu, Arestrow Gillowirz menunjukkan dirinya di hadapan umum.”
Canoa menganggukkan kepalanya. “Ah, Aku ingat. Saat itu dia menunjukkan diri di tengah rapat bersama tetua pusat. Untung saja rapat itu tidak berakhir ricuh. Tujuannya hanya ingin menampakkan diri di hadapan Abang.”
Caron menganggukkan kepalanya dan menatap kembali logo sayap hitam pada gagang pisau di tangannya.
Itu artinya ada dua masalah yang menghalangi kehidupan damainya. Virus Erchi dan Organisasi Aerance.
Apa pria tadi itu Aestrow Gillowirz? Batin Caron mengingat sosok penyusup yang menghadapinya tadi.
“Anda harus pindah kamar, Tuan Muda. Saya tidak tahu bagaimana caranya penyusup itu bisa mengetahui letak kamar Anda.”
Caron mendongak menatap wajah gusar Veistar dan melirik para penjaga mansion Lacrymos yang berlalu di luar ruangan.
Itu artinya dugaanku benar. Ada mata-mata di mansion ini. Batin Caron melirik Canoa yang menyuruh beberapa penjaga mansion membersihkan ruangan di sekitar mereka.
Veistar yang menyadari tatapan Caron kembali menatap sekitarnya sambil menggenggam batu kecil berwarna hitam legam yang digunakan penyusup untuk memecahkan jendela kamar Caron.
“Tuan Muda.”
Caron mendongak dan memandang Veistar yang berdiri di depannya. Pria muda itu segera menyerahkan batu kecil berwarna hitam itu ke tangan Caron.
“Batu ini digunakan untuk memecahkan kaca jendela Anda, Tuan Muda.”
Caron menganggukkan kepalanya dan menatap Veistar yang tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Selain itu … ada juga kamera kecil di dalam batu ini.”
...***...
“Kamu baik-baik saja, Caron? Aku sudah dengar dari Canoa tentang serangan malam itu.”
Caron menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis menatap Lalita yang menghubunginya dari sambungan video. Layar hologram itu muncul di depan Caron yang sedang duduk santai di atas meja kerjanya.
“Ya, aku baik-baik saja. Dia lawan yang cukup tangguh.”
Lalita dalam sambungan video itu larut dalam pikirannya. Wanita itu meraih selembar foto berisi gambar pisau dengan gambar sayap hitam pada gagangnya. Foto yang dikirim Caron kepada Lalita melalui sambungan pesan singkat.
Segera setelah mendapat pesan itu, Lalita langsung menghubungi Caron dengan sambungan video sekaligus memastikan kondisi tuan muda Lacrymos itu.
“Bagaimana tanggapan Canoa?”
Caron kembali memandang Lalita yang kini mulai membuka beberapa buku tentang Pygena di depannya.
“Dia panik. Penyusup itu juga menggunakan sesuatu yang mencegah pintu ruangan terbuka. Alat yang menghasilkan dinding transparan berbentuk bola berwarna hijau. Ah, juga batu kecil uang yang digunakannya untuk memecahkan jendela kamarku.”
Caron menjeda kalimatnya dan menatap Lalita yang menunggunya dengan tenang. “Terdapat kamera juga di dalamnya. Aku akan segera mengirim foto kedua alat aneh itu kepadamu.”
Lalita menganggukkan kepala sambil mengerutkan keningnya. “Alat aneh? Hmm … sebuah alat berkaitan dengan teknologi. Maka keluarga Engyna adalah orang yang tepat untuk memberikan jawaban.”
Caron menganggukkan kepalanya dan menyandarkan punggungnya pada kursi rodanya.
“Aku tahu! Hanya saja ….”
Caron menggantungkan kalimatnya, sedangkan Lalita mengerutkan keningnya menatap keraguan di wajah Caron.
“Oh, jangan-jangan kamu takut dengan mereka? Para tuan muda dari keluarga Engyna? Serius? Caron yang terkenal sebagai orang tak tahu malu di Pygena L?”
Caron menatap datar ekspresi antusias di wajah Lalita. Menghela nafas kesal pria muda itu menggelengkan kepalanya.
“Bukan takut, Lalita. Aku hanya tidak tahu seperti apa karakter mereka. Aku amnesia, jika kamu lupa dengan fakta itu.”
Lalita tertawa kecil dan menatap santai Caron. “Mereka baik kok dan kita semua berteman. Justru yang tidak bisa ditebak itu adalah kepribadianmu, Caron. Menebak apa yang kamu pikirkan itu seperti menebak cuaca yang akan terjadi hari ini. Sangat tidak stabil!”
Caron tersenyum lelah mendengar fakta yang disampaikan Lalita. Menatap sayap hitam pada gagang pisau di atas mejanya Caron kembali menghela nafas.
“Jangan terlalu jujur soal fakta diriku, Lalita.”
Lalita hanya tertawa melihat wajah lelah Caron.
“Jangan khawatir, Caron. Aku dan Flowlax akan membantumu. Kita akan mencari jalan keluar dan dalang dibalik serangan teror ini. Kamu sudah dua kali mengalami teror ini, bukan?”
Caron menganggukkan kepalanya. Pertama adalah bom di taman mansion dan kedua adalah si penyusup yang memasuki kamarnya.
Dua pola yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mengambil nyawanya.
“Aku pikir keluarga Egyna juga harus mengetahui hal ini. Mereka juga sedang mengembangkan teknologi dengan cara kerja yang mirip dengan alat dari penyusup itu. Siapa tahu seseorang mengambil rancangan alat mereka, kan?”
Caron menatap Lalita yang tersenyum tipis ke arahnya. Wanita muda itu melirik Laister yang muncul di belakangnya sambil menyerahkan secangkir kopi.
“Bagaimana kalau membahas hal itu di pertemuan bersama tiga keluarga lusa, Bang Caron?”
Caron mengerutkan keningnya. “Pertemuan tiga keluarga?”
Lalita menganggukkan kepalanya dan berterima kasih kepada Laister yang sudah membawakan minuman untuknya. Mata crimson wanita itu kembali menatap Caron.
“Itu pertemuan biasa antara keluarga Lacrymos, Flowlax dan Engyna. Kali ini pertemuan dilaksanakan di mansion Engyna. Aku rasa ini kesempatan bagus untuk membahas alat-alat itu dengan mereka.”
Laister yang berdiri di belakang Lalita menganggukkan kepalanya. “Kita juga akan membahas tentang proyek bersama untuk mencegah serangan mutan virus erchi semakin meningkat, Bang Caron.”
Caron menganggukkan kepalanya saat Laister menyelesaikan kalimatnya. Proyek bersama tiga keluarga? Itu sangat menarik baginya, terlebih Caron juga penasaran kedua tuan muda keluarga Engyna yang akan ditemuinya.
Mata navy Caron menatap pemandangan di luar jendela ruang kerjanya. Semoga saja semesta mengizinkan kehidupan damainya terlaksana.
“Ah, Caron! Jangan lupa untuk membawa senjatamu, ya? Siapa tahu ada serangan lagi dari Organisasi Aerance.”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments