...⦆⦈⦇⦅...
Caron yang sedang berada di taman mansion keluarga Lacrymos itu menatap dua pulau terapung di sekitarnya. Pygena adalah nama dari ketiga pulau terapung di sekitarnya.
Pulau tempat Caron tinggal diberi nama Pygena L dan dipimpin oleh keluarga Lacrymous yang menggunakan bendera biru. Pulau ini juga merupakan pulau terbesar dari tiga pulau lainnya.
Pulau dengan bendera merah yang tampak berkibar itu adalah Pygena F dipimpin oleh keluarga Flowlax, sedangkan pulau lainnya dengan bendera ungu adalah Pygena E yang dipimpin oleh keluarga Engyna.
Sesuai perkataan Veistar ketiga pulau ini diberi batas berupa ladang melati yang ditanam di sekeliling pulau. Transportasi yang digunakan pun adalah pesawat atau tidak sihir teleportasi. Hm … ini menarik. Batin Caron menatap pesawat yang terbang di atasnya.
Caron yang sibuk menatap pesawat di atasnya tak menyadari seseorang berdiri di belakangnya. Rambut hitam sepunggung itu tampak bergerak terkena angin di halaman. Canoa, yang baru saja pulang itu menatap Caron dengan pandangan ragu.
“Anda bisa berbicara dengannya, Nona Muda.” Canoa menoleh saat melihat Veistar berdiri di sampingnya.
Canoa menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendu.
“Tidak perlu, Veistar. Biarkan saja … aku tidak ingin mengganggu waktu santai Abang. Lagipula jarang sekali bisa melihat Abang menikmati waktunya seperti ini.”
Canoa berbalik dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Veistar yang hanya diam menatap punggung Canoa.
Caron melirik Veistar yang terdiam di tempatnya. Dirinya mendengar percakapan keduanya dan hanya bisa diam.
Seburuk itukah sikapku? Hah … jika ingin hidup damai … hal pertama yang harus aku lakukan adalah selesaikan konflik dengan Canoa! Batin Caron berbalik dan menggerakkan kursi rodanya ke arah Veistar.
“Ya, Tuan Muda?” Veistar kembali tersenyum saat Caron mendekat.
Mata navy Caron menatap serius Veistar yang masih setia menunggu perintahnya. “Aku butuh bantuanmu, Veistar. Siapkan semuanya tanpa banyak tanya!”
...***...
Canoa yang baru saja keluar dari kamarnya itu mengerutkan kening menatap kesibukan pelayan di sekitarnya. Wanita itu mendekat ke arah Aryl yang bertugas sebagai kepala pelayan di rumah mereka.
“Ah, sarapan akan segera siap, Nona Muda.”
Canoa mengerutkan keningnya menatap pria dengan mata emerald dan rambut coklat di depannya.
“Bukankah sebelumnya aku bilang tidak perlu siapkan makan malam untukku?”
Aryl Rounda tersenyum canggung dan melirik sekitarnya. “Tuan Muda Caron yang memintanya, Nona Muda. Kami diperintahkan untuk menyiapkan makanan yang banyak.”
Canoa terdiam dan menatap Aryl yang pamit hendak melakukan pekerjaannya.
Apa ini rencana baru abang? Apa lagi yang ingin abang lakukan? Batin Canoa resah dan hendak berjalan menuju kamarnya.
“Ah, kamu di sana, Canoa?!”
Canoa berbalik dan memandang Caron yang bergerak dengan kursi roda ke arahnya. Perasaan Canoa tampak campur aduk dan hal itu terlihat dari raut wajahnya.
Caron tentu saja menyadari semua hal itu. Mata navy Caron menatap sang adik yang mengalihkan pandangan secara perlahan.
“Apa kamu bisa menemaniku sebentar?”
Canoa menatap Caron dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu segera mengikuti kursi roda Caron yang mampu bergerak sesuai kendali otak penggunanya.
Canoa ingat saat dulu dirinya memberikan kursi roda itu kepada Caron, pipinya langsung menjadi samsak dari kemarahan Caron. Rasa sakitnya masih terasa jelas oleh Canoa hingga sekarang.
Mata coklat terang Canoa menatap rambut hitam Caron dan melirik helai rambut hitamnya. Satu-satunya hal yang mengikat jelas hubungan mereka adalah rambut hitam khas keluarga Lacrymos.
Mata navy Caron adalah mata yang diturunkan dari kepala keluarga sebelumnya dan secara sah memastikan Caron sebagai penerus keluarga. Hanya saja, kecelakaan yang menimpa keluarga mereka menjadi titik balik semuanya.
Canoa masih ingat dengan pesawat yang mereka tumpangi saat itu. Tidak ada keanehan selain suara ledakan yang terdengar di bagian belakang pesawat. Canoa yakin itu adalah rencana musuh keluarga mereka yang menginginkan kejatuhan Lacrymos.
“Jangan lepaskan tanganku, Canoa!”
Canoa ingat Caron yang mati-matian menggunakan kekuatannya untuk menahan laju dirinya dan Canoa yang terus jatuh bebas menuju laut di bawah mereka.
Keduanya melihat dengan mata kepala sendiri, akhir hidup dari orang tua mereka yang terkenal ledakan di dalam pesawat. Canoa yang terkena cipratan d*rah dari orang tua mereka hanya bisa diam saat Caron terus menarik tubuhnya untuk menyelamatkan diri.
Canoa menatap jemari tangannya yang merindukan genggaman tangan besar dan hangat Caron.
“Apa yang kamu pikirkan?” Canoa tersentak dan menatap Caron yang tersenyum kecil ke arahnya.
Rasa rindu mekar di hati Canoa, tetapi wanita muda itu segera menepis perasaan di dalam hatinya. Canoa menatap sekitarnya dan menyadari dirinya berada di bagian atap mansion mereka.
Ada beberapa bunga dandelion yang hadir di sudut ruangan membuat Canoa tanpa sadar tersenyum kecil. Hal itu tidak luput dari perhatian Caron yang merasa puas dengan idenya.
Untunglah dirinya sempat mengingat bunga kesukaan Canoa. Bunga dandelion. Manik navy Caron menatap dandelion yang terbang terbawa angin.
“Aku minta maaf.” Canoa yang sedang sibuk menatap dandelion itu menoleh ke arah Caron yang berada di sampingnya.
Mata coklat terang Canoa menatap senyum sendu di wajah Caron.
“Untuk apa?” Canoa bersuara pelan dan menatap dandelion di depannya.
Caron melirik Canoa dan terkekeh. “Aku yakin kamu tahu yang aku maksud. Untuk semuanya, Canoa. Perlakuan dan perkataan kasar yang aku lakukan.”
Canoa menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya. “Apa ini rencana baru, Abang? Membuatku kembali berharap lalu setelah itu Abang kembali bersikap seenaknya? Permintaan maaf itu bukan permainan, Bang!”
Caron hanya diam dan menatap ke depan. Beberapa kenangan tentang sikapnya kepada Canoa berputar dalam benaknya. Salah satunya adalah dirinya yang menampar Canoa di depan para tamu keluarga Lacrymos.
S*alan! Aku b*doh sekali! Batin Caron mengusap wajahnya.
Caron melirik Canoa yang berdiri tenang di sampingnya. Pria itu menarik nafas dan memerintahkan kursi rodanya itu bergerak. Canoa menatap Caron yang berhenti di depannya dan kursi roda yang menghadap ke arahnya.
Canoa terdiam menatap ekspresi serius di wajah Caron.
“Aku tahu tidak mudah memaafkan semua sikap burukku, tapi aku bersungguh-sungguh. Canoa, hanya kamu keluarga yang aku punya sekarang. Maukah … maukah kamu memberikan kesempatan untukku?”
Caron mengalihkan pandangannya setelah mengucapkan kalimat tersebut. Rasa bersalah dan penyesalan memenuhi hatinya. Permintaan maaf adalah langkah awal untuk membuka dua hati yang sedang berkonflik.
Caron mendongak menatap Canoa saat mendengar suara tangis. Manik navy pria itu melebar menatap Canoa yang baru saja mengusap air mata di wajahnya.
“Abang tidak berbohong, kan? Abang tidak akan menjauh lagi?”
Caron tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. “Ya, aku berjanji. Aku tidak akan menjauh lagi, Canoa.”
Canoa tersenyum dalam tangisnya dan menatap Caron. “Bolehkah … bolehkah aku memeluk, Abang?”
Caron tertawa dan merentangkan tangannya. Canoa yang melihat hal itu segera berlari ke arah Caron dan memeluk tubuh tegap Caron di atas kursi rodanya.
Caron tersenyum dan mengusap helai rambut hitam Canoa sambil berbisik pelan. “ Terima kasih sudah memaafkanku, Canoa.”
Canoa menganggukkan kepalanya dan memeluk erat Caron.
“Aku ingin kembali mengurus semuanya, Canoa! Aku harap kamu bersedia membantuku!”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments