...⦆⦈⦇⦅...
Caron menatap malas setumpuk buku dan kertas di depannya. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Canoa yang mulai membaca buku di depannya.
“Apa ini penting?” Canoa mendongak dan menganggukkan kepalanya.
“Abang sudah banyak ketinggalan informasi. Jika, Abang ingin mengambil kembali kursi perusahaan, Abang harus meyakinkan orang-orang dengan ilmu dan pengetahuan Abang.”
Caron menggerutu dalam diam. Canoa benar, tapi dirinya cukup malas untuk membaca setumpuk buku yang membuatnya mengantuk.
“Kenapa tiba-tiba kita membaca ini?” Canoa kembali menatap Caron dan meletakkan bukunya di atas meja.
“Keluarga Flowlax akan datang, Bang. Jadi, aku harap Abang bisa mulai menampilkan diri di sana. Apa Abang ingat dengan Tuan Muda dan Nona Muda keluarga Flowlax?”
Caron menggelengkan kepalanya, sedangkan Canoa hanya tersenyum dan melirik pelayan di sekitarnya untuk menuangkan kembali teh ke dalam cangkirnya.
Dua hari berlalu semenjak kedua saudara itu berbaikan. Ada banyak perubahan yang terjadi di mansion Lacrymos.
Para pelayan mulai bersikap santai, termasuk Veistar yang lebih ekspresif dan tampak tidak canggung lagi di sekitar keduanya.
“Mohon maaf, Nona Muda. Sepertinya karena pengaruh amnesia ini, otak Tuan Muda tidak mendukung untuk membaca banyak buku. Anda lihat! Kepala beliau sudah berasap.”
Caron melirik tajam Veistar yang menunduk hormat ke arah Canoa, sedangkan Canoa hanya tertawa dan menatap buku-buku di depannya.
Keluarga Flowlax cukup dekat dengan keluarga Lacrymos, itu karena keduanya sering mengadakan pertemuan untuk meningkatkan hubungan baik.
Keluarga Flowlax yang bertanggung jawab atas kemampuan fisik selalu melakukan latihan bersama keluarga Lacrymos yang bertanggung jawab dengan pertahanan dan senjata. Jadi, tak heran jika keduanya cukup dekat untuk bertemu tanpa adanya urusan pekerjaan.
“Kapan mereka datang?” Canoa menatap Caron yang kembali membaca buku tentang bentuk senjata di depannya.
Canoa melirik jam yang menunjukkan pukul delapan pagi. “Siang. Mereka datang saat jam makan siang.”
...***...
“Canoa! Aku merindukanmu! Bagaimana kabarmu?”
Caron melirik Canoa yang tersenyum tipis dan menyambut pelukan dari nona muda di keluarga Flowlax itu. Di belakangnya tampak tuan muda dari keluarga Flowlax yang membawa beberapa plastik berisi belanjaan.
Wajah lelah pria itu sudah cukup menjadi informasi bagi Caron betapa merepotkannya persiapan keduanya untuk datang mengunjungi Lacrymos.
“Loh, kenapa Tuan Muda Caron ada di sini?” Caron mengalihkan pandangannya menatap Lalita Nica Flowlax yang mengerutkan kening ke arahnya.
“Kenapa? Memangnya tidak boleh aku di sini?”
Lalita tampak kaget dan langsung menatap Caron yang menunggu jawabannya. Wanita itu berbalik dan memandang sang adik, Laister Ryn Flowelax yang juga mematung.
“Oh itu, Bang Caron mengalami amnesia. Jadi, dia tidak ingat dengan kalian berdua.”
Lalita dan Laister menatap Caron yang tersenyum tipis di atas kursi rodanya. Lalita segera menarik Laister dan berbisik di telinga sang adik.
“Dia berubah? Apa kamu lihat dia tersenyum, Laister? Saking kagetnya aku merasa dunia akan kiamat.”
Laister yang mendengar hal itu hanya menganggukkan kepalanya dan menatap canggung ke arah Canoa dan Caron.
Ya ampun, Kakak ini! Mereka berdua bisa mendengarnya! Batin Laister pasrah saat Lalita terus berbisik keras di telinganya.
Caron berdehem dan menarik perhatian keduanya. Lalita tersenyum canggung dan meminta maaf atas sikapnya begitu pula dengan Laister.
“Jadi, apa yang akan kalian bahas?” Caron melirik Lalita dan Laister yang berjalan di belakangnya.
Lalita melirik Laister yang sibuk menatap lukisan dan beberapa lampu gantung di lorong mansion keluarga Lacrymos. Selain mempercantik ruangan, barang-barang tersebut juga senjata pertahanan yang digunakan di waktu genting.
“Hanya pertemuan seperti biasa. Sepertinya kita juga tidak akan membahas pekerjaan.”
Laister menganggukkan kepalanya, sedangkan Caron hanya diam. Dirinya butuh informasi dari sisi keluarga Flowlax. Tidak ada ingatan yang tertinggal di tubuhnya ini, seolah semuanya terhenti empat tahun sejak kecelakaan itu terjadi.
Ingatan Caron akan kembali jika ada pemicunya. Contohnya saat dirinya berusaha mencari tahu tentang hubungannya dengan Canoa.
Canoa melirik wajah serius Caron dan menatap pintu ruang pertemuan mereka. Veistar yang berdiri di depan pintu segera membuka pintu ruangan tersebut dan membiarkan keempatnya masuk.
“Aku yakin kalian belum mendengar hal ini. Soal m*yat yang ditemukan di laut di bawah pulau Pygena E.”
Caron melirik Lalita yang memulai pembicaraan. Laister menganggukkan kepalanya dan menunjukkan beberapa foto dari ponsel pintarnya yang ditampilkan dalam mode layar hologram.
Mata Caron melihat rupa mayat yang terserang virus Erchi. Kulitnya memang berubah menjadi hijau dan karena berada di dalam air m*yat itu tampak menggembung.
“Kenapa m*yat itu bisa ada di sana?” Lalita menatap Caron dan kembali memandang layar hologram di depannya.
“Sepertinya mereka berusaha untuk naik ke pulau Pygena E melalui lift tanah. Aku tidak tahu bagaimana cara makhluk itu menemukannya.”
Caron kembali mengerutkan keningnya. Lift tanah? Apa itu transportasi yang digunakan masyarakat pulau untuk mencapai daratan di bawah mereka?
“Lift tanah adalah transportasi manual yang digunakan untuk mencapai daratan, Bang.”
Caron menoleh ke arah Canoa dan menganggukkan kepalanya. Satu informasi kembali tercatat di dalam benaknya, sedangkan Lalita memandang kaget interaksi keduanya.
Biasanya Caron tak akan mau berada di sekitar mereka, tetapi hari ini tuan muda Lacrymos itu berkumpul dan mendengarkan kegiatan mereka. Awalnya, Lalita hanya berpikir semua ini adalah sandiwara dari Caron.
“Kalian sudah baikan? Tidak konflik lagi? Kamu tidak marah-marah lagi, Tuan Muda Caron?”
Laister menghela nafas menatap kakaknya yang bertanya secara blak-blakan.
Caron menganggukkan kepalanya. “Ya, aku ingin memulai kembali hubungan dengan Canoa. Aku juga minta maaf jika ada perilaku buruk yang aku lakukan kepada kalian. Amnesia ini … membuatku menjadi pribadi yang baru.”
...***...
“Ada apa, Kak? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Laister menatap Lalita yang memandang pulau Pygena F dan Pygne E dari atas mansion Lacrymos.
Saat ini Caron dan Canoa sedang mengambil data dan beberapa senjata yang sedang dikembangkan perusahaan mereka. Caron ikut dengan Canoa karena ingin melihat gudang senjata keluarga mereka.
“Aku … benar-benar tidak menduga sikap Tuan Muda Caron bisa selunak ini. Dia tidak akan mempermainkan perasaan Canoa, kan? Aku tidak ingin melihat Canoa menangis lagi.”
Laister menatap Lalita yang menatap ke arah jauh. Mata delima kakaknya itu nampak hanyut dalam lika-liku pikirannya.
“Sepertinya Tuan Muda memang amnesia, Kak. Aku tidak melihat keanehan dalam tindakannya. Semuanya normal.”
Lalita menganggukkan kepalanya dan menghela nafas menatap langit biru di atasnya. Cahaya matahari tampak redup dan bersembunyi di balik awan putih di atasnya.
“Ya, kamu benar. Aku juga berpikir demikian. Semoga saja tidak ada badai lagi yang mengganggu kehidupan saudara Lacrymos ini. Aku harap keduanya bisa hidup damai.”
Laister menganggukkan kepalanya. Pria muda itu mengerutkan keningnya dan hendak bertanya tentang asap merah yang dilihatnya membumbung tinggi dari daratan di bawah mereka.
“Kak, apa it-”
Bommmm
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments