...⦆⦈⦇⦅...
Caron menatap datar makanan yang tersaji di depanya. Pikirannya sibuk menggali ingatan yang dilupakannya.
Diskusi mereka dihentikan sejenak karena jam makan siang telah tiba. Canoa yang duduk di samping kanan Caron melirik sang pemuda yang terus sibuk dengan pikirannya.
“Jangan dipaksa, Bang. Kita bisa fokus ke hal lainnya.”
Caron menatap Canoa yang menyerahkan air kepadanya, sedangkan Lalita yang duduk di samping kiri Caron hanya melirik pria muda itu dari sudut matanya.
“Jadi, apa kita punya agenda lain hari ini?”
Semua mata menatap ke arah Lalita yang sedang mengunyah buang anggur. Mata crimson wanita itu menatap ke arah Raimound yang tampak berpikir.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dengan pesawat? Ryan sendiri yang akan membawanya.”
Ryan menganggukkan kepalanya. “Aku setuju. Jalan-jalan bisa membuat pikiran kita tenang. Bukan begitu, Canoa?”
Canoa menganggukkan kepalanya menatap senyum hangat Ryan dan kembali melirik Caron yang kembali sibuk dengan pikirannya.
Aku tahu mereka tidak mendesakku soal Arestrow Gillowirz, tapi tetap saja aku harus segera mengingatnya. Orang itu bisa berada di mana saja! Batin Caron memakan anggur yang diberikan Canoa kepadanya.
Acara makan siang mereka berjalan dengan tenang, Veistar yang menunggu di luar bersama pelayan lainnya segera membersihkan ruang makan itu.
Mata navy Caron menatap langit biru di atasnya. Saat ini dirinya sedang berada di balkon mansion Engyna yang menampilkan pemandangan laut lepas dan juga perumahan di Pygena E.
Ada banyak hal yang bermain di dalam kepalanya. Pemuda itu kembali melirik Canoa yang sedang berjalan dengan Lalita sambil tertawa, sedangkan Laister dan Ryan sedang mempersiapkan pesawat yang akan mereka pakai nantinya.
“Jangan paksakan dirimu, Caron.”
Caron menoleh saat melihat Raimound berdiri di sampingnya. Pria muda dengan mata orchid itu menatap rumah-rumah dan gedung di bawah mereka.
“Aku tahu, hanya saja semakin cepat aku mengingatnya … semakin banyak hal buruk yang bisa dicegah di masa depan. Aku yakin orang itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk.”
Raimound bergumam pelan dan melirik ke arah Canoa dan Lalita saat suara tawa keduanya kembali terdengar.
“Itu benar. Akan tetapi, ada banyak hal yang bisa kita selesaikan hari ini. Aku dengar kamu juga ingin bertemu dengan kami. Ada apa?”
Caron menatap Raimound yang menunggu jawabannya. Mata navy pria itu kembali menatap ke depan.
“Aku ingin membahas tentang teknologi yang sedang kalian kembangkan dan juga aku ingin kalian menciptakan sebuah benda untukku.”
Raimound mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Caron. “Benda? Dengan teknologi Engyna? Hmm … apa ada hubungannya untuk perlindungan diri?”
Caron tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sangat puas rasanya berbicara dengan orang seperti Raimound Archyon Engyna. Pria muda itu berpikir tenang dan mampu menyimpulkan semuanya. Kepribadian yang sangat disukai Caron.
“Aku senang tidak perlu menjelaskan panjang lebar.”
Raimound tersenyum tipis dan melirik sekitarnya. “Aku hanya menebak dari informasi yang kamu berikan.”
Caron tersenyum dan mengepalkan tangannya.
“Aku sadar dengan keadaanku saat ini. Aku tidak bisa mengandalkan perlindungan dari Veistar atau Canoa. Aku harus bisa berdiri tegak dengan kakiku sendiri sampai kakiku kembali berjalan.”
Caron menarik nafas dan melirik Canoa. “Situasiku sangat rentan untuk diusik, bukan? Terlebih kekuatanku juga belum kembali.”
Raimound menganggukkan kepalanya. Meski dirinya abai terhadap Caron selama beberapa tahun ini, tetapi dirinya dan Ryan tetap memantau keluarga Larcymos.
Termasuk keberhasilan serangan terhadap mutan Erchi di bawah pulau Pygena F. Dirinya dan Ryan kaget saat mengetahui rencana Caron yang digunakan dalam serangan tersebut.
“Karena itu … aku butuh bantuan kalian!” Raimound melirik Caron saat keheningan hadir di sekitar mereka.
“Ah, jika kalian tidak keberatan dengan rencanaku. Haha … atau kita bisa melakukan pertukaran?”
Raimound tersenyum tipis menatap sikap gugup Caron membuat Caron yang berada di sampingnya mengerutkan kening.
“Meski lupa ingatan sikap gugupmu tetap sama. Aku justru bingung kenapa kamu bisa bersikap kasar seperti sebelumnya?”
Caron hanya tertawa canggung dan kembali menatap kota di bawah mereka. Berbicara dengan Raimound membuatnya gugup, sikap pria muda itu sangat sulit untuk diprediksi.
“Aku dan Ryan pasti akan membantumu, Caron. Jangan khawatir dengan pikiran negatif di dalam kepalamu itu! Kamu hanya perlu menyampaikan rinciannya dan kami akan mengerjakannya.”
...***...
Pesawat berukuran sedang putih bercampur lilac itu berdesing dan mulai terbang di atas langit. Semua penumpang di dalam pesawat duduk dengan tenang dan menikmati langit biru dari jendela pesawat.
Ryan menekan salah satu tombol di depannya dan segera badan pesawat berubah menjadi transparan, membuat mereka melihat dengan jelas langit di sekitar mereka.
“Wah … apa ini teknologi baru kalian?”
Ryan yang sedang memegang kemudi pesawat itu tertawa dan menganggukkan kepalanya.
“Kami sudah mengembangkannya sejak beberapa bulan yang lalu dan mengujinya di pesawat pribadi kami.”
Lalita menganggukkan kepalanya ke arah Raimound yang bersuara. Caron menatap takjub teknologi buatan keluarga Engyna. Itu artinya tidak sulit bagi kedua tuan muda Engyna itu untuk membuat teknologi pelindungnya.
“Apa orang-orang dari bawah pulau juga bisa melihat kita?”
Raimound menoleh ke arah Canoa yang bersuara, sedangkan Lalita menatap burung gagak yang terbang di samping pesawat mereka.
“Tidak. Ini hanya teknologi dari dalam pesawat. Jika, mereka melihat dari bawah ini hanya seperti pesawat biasa.”
Veistar yang ikut bersama rombongan itu melirik Caron yang hanya diam dan fokus menatap daratan yang sedikit terlihat di bawah mereka.
Daratan yang gersang dan tampak sedang mengalami badai pasir di bawah sana. Apa itu artinya tidak ada kehidupan di bawah sana? Hanya ada para mutan erchi yang berkeliaran.
Caron mengerutkan keningnya saat samar-samar melihat rombongan orang-orang berpakaian hitam yang berlari di antara badai pasir di bawah sana.
“Apa ada orang-orang yang sedang mengunjungi daratan?”
Semua mata menoleh ke arah Caron yang terus menatap daratan di bawah mereka. Lalita menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada! Kita tidak bisa mengunjungi daratan tanpa adanya misi khusus. Ada surat-surat yang harus diurus dan kita juga harus siap mati di bawah sana.”
Caron mengerutkan keningnya mendengar ucapan Lalita dan kembali menatap daratan di bawahnya.
“Apa Anda melihat sesuatu, Tuan Muda?”
Caron menganggukkan kepalanya saat Veistar bertanya. Dirinya yakin yang dilihatnya itu adalah sekelompok orang yang berlari di antara badai pasir.
“Sekelompok orang-orang berpakaian hitam berlarian di tengah badai pasir di bawah sana. Aku yakin kalau itu manusia.”
Suasana pesawat itu hening dan Ryan menstabilkan posisi pesawatnya di atas udara. Pria muda itu berbalik menatap Caron.
“Bang Caron, yakin? Bisa jadi itu hanya para mutan erchi yang berlarian di antara badai?”
Caron menggelengkan kepalanya.
“Pergerakan para mutan erchi hanya seperti zombie, bukan? Akan tetapi, yang aku lihat mereka bergerak seperti rombongan yang ahli berlarian dalam badai.”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments