...⦆⦈⦇⦅...
Canoa menatap Caron yang berada di depannya. Sejak kembali ke mansion Lacrymos, pria itu tampak menghindarinya jika ingin bertanya tentang janji yang sebelumnya dikatakan Caron kepada Arsya.
Rasa penasaran memenuhi hati Canoa saat menatap wajah bahagia Arsya. Janji apa yang mereka berdua lakukan? Apa itu artinya Caron pernah bertemu dengan Arsya? Kapan?
“Oh, itu bukan apa-apa. Hanya janji biasa.”
Mata coklat terang Canoa menatap Caron yang sedang berbicara dengan Veistar. Pria dengan mata perak itu tampak menganggukkan kepalanya mendengar perintah dari Caron.
Apa Veistar tau tentang janji itu? Batin Canoa kembali menatap lantai di bawahnya.
“Apa yang kamu pikirkan, Canoa?” Canoa tersentak dan menatap Caron serta Veistar yang menatapnya.
“Eh, tidak ada. Aku ke kamar dulu, Bang.”
Caron menatap punggung Canoa yang menjauh darinya dan kembali melirik Veistar. “Siapkan saja semuanya. Aku akan memulainya besok.”
Veistar menganggukkan kepalanya dan menatap Caron yang bergerak ke kamarnya. Malam itu dua bersaudara Lacrymos kembali hanyut dalam tujuannya masing-masing.
Veistar menatap beberapa pelayan yang lalu-lalang di sekitarnya dan ksatria penjaga yang sedang patroli.
Hm … mungkin ini saatnya memulai tugas dari Tuan muda. Batin Veistar berjalan santai menuju dapur dan menyiapkan makan malam untuk Caron dan Canoa.
Sementara itu di dalam kamarnya, Caron yang baru saja menutup pintu menghela nafas. Menatap langit malam di luar ruangan, pria muda itu menggerakkan kursi rodanya ke arah jendela.
Langit yang penuh bintang dan bulan yang bersinar terang. Pemandangan yang elok untuk menenangkan hati yang gusar. Caron menatap siluet dirinya di dalam cermin.
Kalimat-kalimat penuh penyesalan itu memenuhi benaknya. Semua yang dilakukan dirinya sebelum ini hanyalah bentuk perlindungan yang tak lagi bisa dirinya berikan kepada Canoa.
Jika melindungi dirinya sendiri saja tidak bisa? Bagaimana dirinya bisa melindungi Canoa?
Maka satu-satunya jalan yang dilakukan Caron adalah mendorong Canoa untuk menjauh darinya dan membiarkan gadis itu mengambil kursi kepemimpinan sendirian.
Caron mengepalkan tangannya dan melirik album foto yang berada di meja di samping tempat tidurnya. Keluarga yang bahagia dan hangat. Itulah yang dipikirkan Caron jika melihat foto tersebut.
Aku tarik kata-kata sebelumnya. Diriku di dunia ini tidak bodoh. Pilihan terbaik dan paling berani yang bisa dia lakukan. Perasaan bersalah saat mempermalukan adik sendiri … bagaimana dia bisa menahannya? Batin Caron menggerakkan kursi rodanya ke arah tempat tidur.
Suara ketukan pada pintu kamar kembali menarik perhatian Caron. Veistar, pria muda itu muncul dari balik pintu dengan senyum sumringah di wajahnya.
“Saya membawakan ramuan yang diberikan nona muda Arsya, Tuan Muda.”
Caron menganggukkan kepalanya dan meminta Veistar untuk meletakkannya di atas meja. Ramuan dari tanaman Curcuma Xanthoriza yang bertujuan untuk memberikan kekuatan dan kekebalan tubuh serta menetralkan racun di dalam tubuhya.
Ramuan yang diracik dalam bentuk jamu itu akan menjadi santapan Caron setiap hari selama dirinya belajar menggunakan tongkat di dalam kamar.
Demi kakiku … aku harus segera sembuh! Batin Caron kembali mengalihkan pandangan keluar ruangan.
Veistar mengerutkan keningnya saat merasakan hawa lain dari Caron.
“Apa yang sedang Anda pikirkan, Tuan Muda?”
Caron melirik Veistar dan menggelengkan kepalanya, sedangkan Veistar hanya menghela nafas saat melihat sikap Caron dan Canoa yang sangat mirip.
“Anda ingin makan di kamar, Tuan Muda?”
Caron mengerutkan keningnya dan menatap bingung Veistar. “Nona Muda Canoa tidak makan malam, Tuan Muda. Itulah yang dikatakan nona muda kepada saya.”
Caron menganggukkan kepalanya dan kembali melirik ramuan yang dibawakan Veistar. Setelah meminum ramuan itu Veistar segera keluar dari kamar Caron dan hendak membawakan makan malam yang sudah disiapkan para pelayan.
Aku harus memulainya sekarang! Musuh yang tak terlihat jelas membuat dan aku harus segera menyusun rencana! Batin Caron melirik tongkat yang sudah dibawakan Veistar sebelumnya.
...***...
Brukk
Canoa yang sedang berjalan di lorong di depan kamar Caron menoleh saat mendengar suara benda jatuh di dalam ruangan. Seminggu berlalu semenjak mereka kembali dari mansion Rozittyo.
Dari informasi yang disampaikan Veistar, Caron sesekali berhubungan dengan Arsya dan menanyakan hal tentang terapi berjalannya. Canoa segera mengetuk pintu kamar Caron dan memastikan kondisi sang abang.
Pada beberapa kesempatan Caron juga datang ke ruang latihan bersama Veistar dan mulai melatih kembali kemampuannya menggunakan pedang dan pistol.
Bukannya Canoa tidak senang dengan perubahan Caron, hanya saja pria muda itu jika sudah sibuk dengan sesuatu, selalu melupakan kesehatannya.
“Abang … Abang baik-baik saja? Suara apa itu tadi? Abang jatuh? Pusing?”
Canoa menunggu dengan tenang dari depan pintu dan melirik beberapa pelayan yang lalu-lalang di sekitarnya.
“Ya, aku baik-baik saja. Kamu bisa masuk, Canoa.”
Suara Caron terdengar dari dalam ruangan membuat Canoa menghela nafas lega. Canoa membuka pintu kamar dan menatap Caron yang duduk di tepi tempat tidurnya.
Wajah pria itu tampak sumringah saat melihat Canoa, sedangkan Canoa mengerutkan keningnya menatap kamar Caron yang berantakan.
“Apa yang terjadi? Apa yang sedang Abang lakukan?”
Caron hanya tertawa kecil dan melirik tongkat di dekatnya. “Hanya mencoba untuk berjalan dan menggerakkan otot kakiku.”
Canoa melirik Caron dari sudut matanya dan mengambil buku-buku yang berserakan di tengah ruangan.
“Hasilnya? Apa sudah ada kemajuan, Bang?”
Caron menggelengkan kepalanya dan menghela nafas sambil menghempaskan tubuhnya ke atas empuknya kasur.
Canoa tersenyum tipis dan mengambil beberapa buku yang berserakan di atas lantai, lalu meletakkannya di atas meja.
“Jangan khawatir, Bang. Masih ada waktu. Jangan terlalu paksakan diri dan aku lihat … wajah Abang lebih cerah dari sebelumnya.”
Caron menganggukkan kepalanya dan menatap langit-langit ruangan di atasnya. “Canoa, apa kamu punya orang yang dicurigai tentang kecelakaan yang terjadi pada keluarga kita?”
Canoa menatap wajah Caron dan kembali larut dalam pikirannya. Sejujurnya ada beberapa nama yang hadir di kepala Canoa dan semua kecurigaan itu mulai hadir ketika rapat bersama para tetua pusat Pygena, yang berjarak dua minggu sebelum kecelakaan terjadi.
“Aku hanya mencurigai beberapa nama, Bang. Mereka tinggal di Pygena E.”
Caron mengerutkan keningnya. Pulau Pygena E, daerah yang bertanggung jawab atas teknologi Pygena. Dirinya belum pernah bertemu dengan para penguasa Pynena E dan Caron juga tidak punya informasi tentang sikap mereka.
“Apa sulit mencari informasi tentang mereka?”
Canoa menatap Caron dan menggelengkan kepalanya.
“Veistar juga sudah mencari kaki tangan mereka di mansion kita. Aku yakin ada titik terangnya, Bang. Apa ada sesuatu yang mengusik pikiran, Abang?”
Caron menarik nafas dan menatap Canoa yang menunggu jawabannya.
“Aku ingat sesuatu. Sebelum kita berangkat dengan pesawat empat tahun yang lalu. Ada seorang pelayan yang mendekat ke pesawat pada malam harinya.”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments