...⦆⦈⦇⦅...
Veistar yang berada di belakang Caron ikut menatap ke arah daratan di bawah mereka. Mata perak Veistar hanya melihat badai pasir di bawah sana. Tak ada satupun tanda-tanda kehidupan.
“Hmm … aku yakin tetua Pygena tidak akan membiarkan siapa pun ke daratan. Salah satu syarat untuk ke daratan juga harus ada perwakilan dari tiga keluarga kita.”
Raimound menganggukkan kepalanya, sedangkan Canoa kembali menatap Caron yang sibuk menatap ke arah daratan.
“Hmm … mungkin Abang salah lihat. Maksudku di daratan sedang badai pasir. Jadi, tidak mungkin ada yang ke sana.”
Caron menatap wajah di sekitarnya dan menganggukkan kepalanya.
Suasananya jadi tidak enak. Bagaimanapun aku mengatakannya mereka pasti tidak akan semudah itu percaya. Batin Caron kembali menatap ke arah daratan di bawahnya.
Ryan kembali menjalankan pesawat setelah mendapat perintah dari Raimound. Pesawat itu mulai berputar di atas tiga pulau Pygena yang masing-masing mereka pimpin. Semua mata menatap dalam ketiga pulau yang mengambang di udara tersebut.
“Beberapa hari ini tidak ada kasus tentang mutan erchi, bukan?”
Raimound menoleh ke arah Lalita dan menganggukkan kepalanya, sedangkan Laister sedang membagikan kue kering yang menjadi cemilan mereka kepada Caron dan yang lainnya.
Ryan menganggukkan kepalanya dan melirik Raimound yang sibuk menatap langit di sekitar mereka.
“Terlalu tenang. Aku takut kita semua terlalu santai dengan kedamaian ini.”
Caron menatap Raimound yang sibuk menatap ke arah lain. Pria muda itu benar, terkadang manusia bisa lengah hanya karena perasaan damai yang hadir di sekitar mereka.
Caron tahu yang dilihatnya di daratan tadi bukan masalah yang bisa diabaikan. Dirinya harus mencari sendiri informasi tersebut dan mengumpulkan bukti untuk memperkuat pendapatnya. Di samping itu dirinya juga harus melatih kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
Veistar yang duduk di belakang Caron hanya menatap punggung Caron dan pandangan mata Caron yang tetap fokus ke daratan di bawahnya.
Tuan Muda selalu yakin dengan kalimatnya. Apa mungkin yang dilihatnya itu memang manusia? Batin Veistar menoleh ke arah Raimound yang meminta Ryan untuk kembali ke mansion mereka.
Raimound menoleh ke arah wajah-wajah di bangku belakang. “Kalian menginap saja. Masih ada hal yang harus kita diskusikan malam ini.”
...***...
Caron menoleh ke arah pintu kamarnya saat mendengar ketukan pintu. Setelah bersuara dan menyuruh sosok di balik pintu itu masuk ke dalam kamarnya, Caron menatap Veistar yang mendekat.
“Ada apa, Veistar?”
Veistar menatap Caron dan jongkok, menyajarkan tubuhnya dengan Caron yang duduk di atas kursi roda.
“Anda … ingin menyelidiki tentang sosok di daratan itu, Tuan Muda?”
Caron terdiam dan kemudian tersenyum. Sungguh, dirinya sangat senang mendapat sosok yang peka seperti Veistar di sampingnya. Pria dengan mata navy itu menganggukkan kepalanya.
“Kenapa? Aku pikir kamu menganggapku seperti yang lainnya. Salah lihat?”
Veistar tersenyum tipis. “Tuan Muda Anda adalah orang yang selalu yakin dengan kata-kata Anda. Saya yakin yang Anda lihat itu bukan hal sepele. Saya sudah lama melayani Anda dan saya tahu Anda punya penglihatan yang tajam.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan, Veistar?”
Pria muda dengan mata perak itu membungkuk hormat. “Izinkan saya membantu Anda, Tuan Muda. Saya bisa membantu Anda mencari informasi di pustaka pusat Pygena.”
Caron menatap tekad di mata Veistar. Pustaka pusat Pygena berada si pulau Pygena L, cukup mudah bagi Caron untuk mengunjungi tempat tersebut hanya saja Canoa pasti akan mengetahuinya.
Caron ingin mencari informasi ini secara diam-diam tanpa melibatkan siapa pun.
“Mari kita lihat! Siapa yang bisa memenangkan permainan ini!”
Caron mengerutkan keningnya saat suara berat itu kembali berputar di benaknya. Sosok berbalut pakaian hitam dan cahaya terang yang hadir di sekitarnya, menyulitkan Caron untuk melihat wajah dan mengenali identitasnya.
“Kepala Anda sakit lagi, Tuan Muda?”
Caron mendongak menatap Veistar yang menatapnya khawatir. Pria muda itu menggelengkan kepalanya dan segera meminta Veistar untuk keluar ruangan karena dirinya yang ingin istirahat. Veistar menganggukkan kepalanya dan bangkit berdiri.
“Veistar.”
Veistar yang hendak membuka pintu kamar Caron itu menoleh ke arah Caron yang tersenyum tipis ke arahnya.
“Pastikan hal ini tidak diketahui Canoa.”
Veistar menganggukkan kepalanya. “Dengan senang hati, Tuan Muda.”
Caron menatap pintu kamarnya yang tertutup. Mata navy pria itu menelisik suasana kamar di sekitarnya.
Ruangan dengan nuansa warna lilac-putih itu memiliki wangi lavender yang menyebar memenuhi ruangan.
“Hah … s*al! Kenapa ingatanku harus terkunci seperti ini? Aku jadi susah mengurangi informasi!”
Caron beranjak menuju tempat tidur dan menaiki tempat tidur di depannya. Mata navy Caron menatap langit ruangan. Rasa kantuk mulai menguasainya dan perlahan Caron terlelap.
...***...
“Kenapa aku di sini lagi?”
Caron menatap malas savana di depannya saat jemari kakinya merasakan rerumputan di bawahnya.
Layar-layar hologram berwarna biru itu muncul di depan Caron dan kali ini menampilkan sebuah ledakan yang sempat dikatakan Canoa kepadanya.
“Canoa bilang … aku melindunginya dari ledakan itu.”
Caron menatap kunci yang hadir dari layar hologram di depannya. Dirinya yang tampak menahan bom yang akan meledak dengan kekuatan telekinesisnya dan bayangan seorang pria yang berdiri di depannya.
Layar hologram itu hanya menampilkan sebagian kecil dari ingatan Caron. Pria dengan mata navy itu berdecak kesal dan melirik batang kayu lapuk di kejauhan.
Caron mengangkat tangannya dan berusaha memfokuskan konsentrasinya. Mata navy Caron menatap tajam kayu lapuk di depannya dan melihat cahaya biru yang mulai melingkari kayu tersebut.
“Ayo! Bergeraklah!”
Caron bergumam dan berusaha membawa kayu lapuk itu ke arahnya. Caron berseru senang saat kayu lapuk itu sedikit terangkat ke udara. Pria muda itu tersentak saat merasakan rasa hangat pada hidungnya.
Caron menghela nafas saat da*ah segar kembali mengalir dari hidungnya. Kayu lapuk itu kembali jatuh menimbulkan angin yang cukup untuk membuat Caron kembali sadar di dunia nyata.
“Yang terlihat buruk, belum tentu membawa hal buruk.”
Caron membuka kelopak matanya dan tersengal menatap langit-langit ruangan di atasnya. Keringat membasahi tubuhnya, Caron menoleh menatap langit gelap di luar ruangan.
“Apa itu tadi? Suara siapa itu?”
Caron mengusap keringat di wajahnya dan bangkit duduk. Suara yang sangat halus saat angin kencang itu mengembalikan kesadarannya. Jemari pemuda itu mengusap hidungnya dan menatap bekas kemerahan yang masih hadir di sana.
“Jadi di dunia nyata aku juga mimisan? Alam pikiranku berpengaruh ke dunia nyata?”
Mata navy Caron menatap waspada suasana sekitarnya saat merasakan seseorang mengawasinya. Jemari Caron meraih pistol yang berada di dalam tas kecil yang selalu dibawanya.
Mungkinkah sosok penyusup itu kembali menyerangnya? Caron melirik ke arah jendela kamarnya yang terdapat pelindung berwarna lilac. Pelindung yang akan melindunginya dirinya dari dunia luar.
Caron menoleh ke arah pintu kamarnya saat mendengar suara langkah kaki di lorong. Siapa itu? Apa yang dilakukannya tengah malam seperti ini?
Tok tok
...⦆⦈⦇⦅...
Hai ... Sepertinya kemarin aku salah up bab ... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments