...⦆⦈⦇⦅...
Canoa terdiam dan langsung melirik Caron yang tampak kaget dengan pertanyaan tak terduga Arsya.
Tentu saja salah satu tujuannya datang ke mansion Rozittyo adalah untuk membicarakan mengenai kesempatan kakinya untuk sembuh.
Veistar melirik Caron yang terdiam dan mulai berseru cemas tentang tanggapan tuan mudanya itu.
Caron tersenyum dan menatap Arsya. “Saya tidak menduga pertanyaan itu datang dari Anda, Nona Muda Arsya.”
Arsya tersenyum dan menatap cangkir teh di depannya. “Sejak keluarga Lacrymos memberi kami dukungan. Saya selalu berpikir cara untuk membalas kebaikan kalian. Saat itu saya mendengar tentang keadaan Anda, Tuan Muda.”
Caron menganggukkan kepalanya. Syukurlah Arsya yang lebih dulu mengajukan hal itu kepadanya. Mata navy Caron menatap Canoa dan Veistar yang menunggu jawabannya.
“Tentu. Saya dengan senang hati menerimanya, Nona Muda Arsya.”
Arsya tersenyum senang dan menatap Canoa yang menganggukkan kepalanya, sedangkan Veistar bersyukur karena Caron tak lagi bersikap seenaknya dan mampu mengendalikan emosinya dengan baik.
Setelah makan dan minum teh bersama, Arsya segera membawa mereka menuju ruang latihan fisik keluarga Rozittyo. Caron kembali merasa tenang saat merasakan wangi lavender di penjuru ruangan.
Sepertinya mereka menyebarkan aroma terapi di seluruh mansion. Batin Caron menatap punggung Arsya di depannya.
Caron menatap takjub ruangan di depannya. Ada banyak alat-alat latihan fisik yang pernah dilihatnya di dunia asalnya.
Ada mesin eliptis dan pijakan tangga, Smith Machine, Cable Machine dan masih banyak alat-alat lainnya yang biasanya Caron lihat di sebuah gym di dunia asalnya.
Arsya tersenyum menatap raut wajah Caron dan Canoa.
“Sebagian dari alat-alat di sini adalah alat yang berada di dunia lama. Kami terus merawat dan menjaganya sebaik mungkin, terkadang beberapa orang dari luar datang untuk melatih kekuatan fisik mereka ke sini.”
Dugaanku benar. Batin Caron tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Canoa menatap dua besi dengan jarak yang sama dipasang di dinding dan membentuk sebuah jalur sepanjang satu meter. Arsya ikut menatap ke arah pandang Canoa dan kembali tersenyum.
“Itu adalah tempat Tuan Muda Caron belajar nantinya, setelah Tuan Muda sukses menggunakan tongkat. Untuk saat ini kita bisa belajar teknik konvensional dulu, Tuan Muda.”
Caron menganggukkan kepalanya, setidaknya ada opsi yang bisa digunakan agar otot-otot kakinya tidak lagi kaku.
Dari pengakuan Veistar sebelumnya, dirinya menolak untuk belajar berjalan kembali meski tulang kakinya sudah dinyatakan sembuh oleh pihak medis.
Sungguh keputusan yang bodoh. Ada apa dengan jalan pikiran diriku di dunia ini? Apa mungkin karena pengaruh serpihan jiwa itu? Batin Caron menyandarkan punggungnya pada kursi rodanya.
Veistar dan Canoa terus berkeliling sambil mengamati alat-alat di sekitarnya, sedangkan Arsya mendekat ke arah Caron dan berdiri di samping kursi rodanya. Mata kuning jagung wanita itu menatap Caron yang sibuk dengan pikirannya.
“Saya senang Anda mau datang ke sini lagi, Tuan Muda.” Caron segera menoleh dan menatap Arsya yang tersenyum di sampingnya.
Pandangan mata itu terasa teduh dan hangat. Seketika Caron teringat dengan semua berita buruk tentang Arsya yang dirinya baca.
Meski dunia terus menjatuhkannya wanita di sampingnya ini tetap berdiri dan bangkit dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.
“Yah, sudah saatnya untuk menunjukkan perubahan pada dunia.”
Arsya menoleh ke arah Caron dan menatap Canoa yang sibuk berbincang dengan Veistar. Wanita itu tampak ragu dengan kalimat yang akan disampaikannya dan mengepalkan tangannya erat.
“Mungkin ini karena Anda amnesia, Tuan Muda.” Caron menoleh ke arah Arsya yang menghentikan kalimatnya dan menatap keraguan di wajah Arsya.
“Tapi Anda tidak pernah membenci, Canoa. Setidaknya itulah yang Anda katakan kepada saya.”
Caron terdiam dan memandang penuh tanya maksud kalimat Arsya. Jadi semua perilaku buruk itu hanya sandiwara?
Bagaimana Arsya bisa tahu? Veistar yang dekat dengan Caron saja menganggap perilaku buruk Caron itu adalah aib dan sebuah kesalahan.
Arsya tersenyum kecil saat mengingat pertemuan Caron dengannya hari itu. Tuan Muda Lacrymos yang datang seorang diri tanpa siapapun mendampingi.
Dengan kursi roda yang bergerak mengikuti perintah otaknya, pria muda itu menatap wajah Arsya dengan tekad yang membara.
“Tolong berada di sisi Canoa hingga semuanya selesai! Hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya!”
Arsya kembali melirik Caron dari sudut matanya. Tanpa diminta oleh Caron, dirinya akan selalu berada di sisi keluarga Lacrymos. Bantuan yang diberikan keluarga ini kepadanya tak akan pernah bisa terbalas oleh Arsya.
“Apa rencana Anda sudah selesai, Tuan Muda?” Caron kembali menatap Arsya yang tersenyum tipis ke arahnya.
Mata kuning jagung wanita itu menatap punggung Canoa di depannya.
“Anda bilang saya harus bertahan di sisi Canoa sampai semuanya selesai. Saat itu saya tidak bertanya tentang apa yang Anda persiapkan. Saya hanya membantu Canoa sebisa saya, seperti keluarga Anda membantu saya.”
Arsya menjeda kalimatnya. “Satu hal yang bisa saya katakan. Anda melakukan semuanya demi Canoa.”
Caron terdiam dan mengernyit saat merasakan rasa sakit pada kepalanya. Ingatannya kembali beraksi.
Reaksi tiba-tiba Caron itu membuat Arsya yang berada di dekatnya panik dan segera mengambil sesuatu di dalam lemari obat-obatannya.
Ugh … apa kunci ingatan itu kembali terbuka? Batin Caron menggenggam erat rambutnya.
Veistar segera melepaskan tangan Caron yang menggenggam rambutnya membuat mata navy Caron meliriknya. “Genggam saja tangan saya, Tuan Muda. Salurkan rasa sakitnya kepada saya.”
Caron tersenyum tipis menatap kesetiaan Veistar. “Bagaimana jika rambut Anda jadi botak karena Anda menggenggamnya seerat itu? Saya tidak mau melayani orang botak.”
Senyum tipis di wajah Caron hilang berganti menjadi kerutan dan langsung menggenggam tangan Veistar sekuat tenaga membuat pria itu mengerut menahan sakit.
Canoa yang mendengar kalimat Veistar sebelumnya hanya menghela nafas dan menatap keringat yang mengalir di wajah Caron.
Apa kak Arsya memancing ingatan abang untuk kembali? Batin Canoa menyeka keringat di wajah Caron.
Caron menutup matanya dan kembali mendapat beberapa potongan ingatan. Dirinya yang berada di lorong mansion Rozittyo, wajah kaget Arsya saat melihat kedatangannya. Caron terdiam saat melihat air mata yang mengalir membasahi wajahnya hari itu.
“Hanya Canoa yang aku punya. Tolong jaga dia! Aku tidak bisa menjaganya dalam keadaan seperti ini!”
Arsya segera berlari ke arah keduanya dengan membawa teh bunga chamomile di tangannya.
Canoa memberikan teh itu kepada Caron dan menyuruh sang abang untuk meminumnya. Mata coklat terang Canoa menatap keringat yang mengalir deras di wajah Caron saat pria muda itu terus menghabiskan teh yang diberikannya.
Veistar yang berada di samping Caron hanya bisa pasrah saat merasakan tangannya yang mati rasa dan melirik Caron yang mulai tenang.
“Apa sudah lebih baik, Tuan Muda?” Caron menganggukkan kepalanya dan menatap Arsya yang berdiri di depannya.
“Nona Muda Arsya, apa Anda masih ingat dengan janji yang Anda katakan dahulu?”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments