...⦆⦈⦇⦅...
Caron dan Canoa yang mendengar ledakan itu segera kembali ke atap mansion mereka. Mata keduanya menatap api yang timbul di daratan di bawah pulau Pygena F. Lalita dan Leister tampak cemas saat serangan itu mengincar pulau mereka.
“Sepertinya ini ulah mutan.”
Lalita dan Laister menganggukkan kepalanya. “Apa mereka membom lift bawah tanah? Itu akan membahayakan masyarakat di dalam pulau!”
Caron menatap pulau Pygena F dan melirik bola-bola hijau yang terlihat bergerak di daratan. Sepertinya itu adalah mutan yang dimaksud Canoa. Bola-bola hijau itu kembali bergerak dan masuk ke dalam air laut di bawah pulau Pygena F.
Virus erchi yang menyerang umat manusia sejak dua puluh tahun yang lalu terus bermutasi membuat umat manusia yang tersisa harus berpacu dalam membuat senjata dan meningkatkan teknologi.
Perubahan tersebut sejalan dengan kelahiran mereka yang memiliki kekuatan magis. Mereka yang memiliki kekuatan magis berasal dari keturunan orang-orang yang berhasil bertahan dari gigitan para mutan erchi.
Caron ingat Canoa pernah menceritakan kepadanya, tentang buyut keluarga mereka yang dulunya terkena gigitan mutan erchi saat sedang mengungsi bersama umat manusia yang tersisa.
Namun, bukannya menjadi mutan. Buyut mereka justru merasa lebih kuat dan satu minggu setelahnya mendapat kekuatan pengendalian jarak jauh (telekinesis) dan sejak saat itulah muncul orang-orang pemilik kekuatan.
Bertahun-tahun kemudian alasan dibalik kebalnya mereka terhadap gigitan mutan erchi adalah karena kelopak bunga melati yang sering dimakan oleh buyut mereka dan orang-orang yang dekat dengannya ketika evakuasi berlangsung.
Sejak itulah di pulau Pygena mereka menggunakan ladan melati untuk mencegah para mutan masuk.
Apa aku harus terkena gigitan mereka agar kekuatanku kembali? Batin Caron mengepalkan tangannya.
Ledakan kembali terdengar membuat Lalita dan Laister berseru tertahan. Laister segera mendapat sambungan komunikasi dari kepala prajurit pulau Pygena F, Doffier Syn.
“Tuan Muda! Sepertinya para mutan hendak masuk melalui jalur lift tanah. Kami berusaha memblokirnya dengan menggunakan ekstrak melati, tetapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh.”
Lalita berdecak kesal dan menatap asap merah yang terus membumbung dari tepi daratan di bawah mereka.
“Tidak ada pilihan lain. Laister, kita pulang sekarang!”
Caron yang larut dalam pikirannya itu segera menatap dua bersaudara Flowlax yang hendak kembali ke rumahnya. Pria muda itu tersenyum tipis saat sebuah rencana hadir di benaknya.
“Tuan Muda dan Nona Muda Flowlax. Aku punya rencana, maukah kalian mendengarnya?”
...***...
Veistar segera berlari menuju ruang pertemuan saat mendengar kabar dari para pelayan.
“Tuan Muda Caron ikut rapat bersama keluarga Flowlax tentang serangan di daerah Pygena F.”
Veistar menatap pintu ruang rapat di depannya dan mengetuk pintu itu setelah menenangkan nafasnya. Pria muda itu segera membuka pintu saat mendengar suara dari dalam.
Mata perak Veistar terdiam menatap suasana tegang di dalam ruangan. Rapat darurat itu telah dimulai dan beberapa tetua dari keluarga Flowlax juga tampak hadir dari layar hologram video di depan mereka.
“Menggunakan kekuatan berkah air Nona Muda Canoa? Yang benar saja?!”
Veistar mendekat dan berdiri di belakang Canoa yang berdiri di samping Caron, sedangkan Lalita dan Laister berada di sisi lain meja. Suasana rapat itu tampak alot karena para tetua Flowlax yang menolak usulan Caron.
“Anda pikir hal seperti itu bisa mencegah para mutan, Tuan Muda Caron? Mereka adalah makhluk yang menyerupai zombie.”
“Itu benar. Mereka tidak semudah itu dibasmi. Kita perlu menggunakan senjata yang lebih kuat dengan daya ledakan yang juga besar.”
Laister mengerutkan keningnya. “Maksud Anda bom nuklir, Tetua?”
Lalita mengusap wajahnya. Para tetua itu ada benarnya, tetapi mereka tidak menyetujui penggunaan bom nuklir. Selain merusak lingkungan daratan di bawah mereka, suara ledakan itu juga bisa memancing kedatangan mutan lainnya.
Canoa memandang kerutan pada wajah-wajah di sekitarnya dan melirik Caron yang tersenyum tenang. Seolah pemuda itu yakin rencananya akan berhasil.
Canoa sendiri yang menjadi bagian dari rencana Caron merasa kurang yakin. Pasalnya dirinya belum berlatih banyak dengan berkah kekuatan air.
“Tidak ada salahnya untuk mencoba, Tetua Flowlax. Kita juga bisa memanfaatkan rencana ini untuk membersihkan tepi wilayah daratan dengan cara yang lebih alami. Penggunaan senjata hanya akan menghancurkan daratan kita.”
Caron menjeda kalimatnya dan menatap wajah-wajah di depannya. Pria muda itu kembali tersenyum miring.
“Atau Anda semua ingin mereka memasuki wilayah Pygena F? Semakin lama kita berdebat semakin lancar jalan para mutan itu. Saya hanya memberikan saran. Semuanya terserah Anda.”
Lalita melirik Laister yang menganggukkan kepalanya. Wanita muda itu menatap para tetua di depannya. Mata crimson Lalita menelisik setiap wajah para tetua.
“Saya rasa tidak ada salahnya untuk mencoba rencana Tuan Muda Caron. Kita harus memikirkan dampak dari daratan yang terus terkena serangan. Melestarikan daratan adalah misi jangka panjang kita semenjak Pygena terbentuk.”
Caron menganggukkan kepalanya dan setuju dengan ucapan Lalita. Meskipun pemuda itu tidak tahu dengan misi jangka panjang yang disebutkan Lalita.
Yang penting dia setuju. Aku bisa bertanya nanti kepada Canoa atau Veistar tentang misi jangka panjang itu. Batin Caron menatap layar hologram di depannya.
Para tetua itu tampak berdiskusi hingga sepuluh menit kemudian keputusan tercapai. Mereka menyetujui ide Caron dan akan melaksanakannya keesokan harinya.
Lalita tentu saja menolak dengan keras waktu pelaksanaan rencana tersebut. Bisa saja para mutan itu berhasil masuk dan berkeliaran di pulau Pygena F.
“Nona Muda … kita juga butuh waktu untuk melatih rencana ini. Anda yakin nona muda Canoa langsung berhasil? Tidak ada salahnya untuk memberi waktu kepadanya.”
Lalita melirik Canoa yang menganggukkan kepalanya seraya membungkuk hormat.
“Baik. Saya akan memanfaatkan waktu untuk mendapatkan hasil terbaik.”
Caron tersenyum kecil dan kembali memandang layar hologram di depannya. Para tetua Flowlax menganggukkan kepalanya.
“Sampai esok hari kami akan menurunkan para pejuang Flowlax dan menggunakan pedang yang baru saja kita kembangkan bersama dengan wilayah Pygena E.”
Laister menganggukkan kepalanya dan melirik Lalita yang masih diam.
“Baiklah. Perintahkan juga mereka untuk menggunakan ekstrak melati demi mencegah hal yang tak kita inginkan.”
Para tetua mengangguk setuju. “Terima kasih atas tanggapan cepat kita semua. Saya senang akhirnya keputusan bisa diambil. Semoga rencana ini berjalan lancar.”
Tetua lain menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis ke arah mereka. “Kami pamit Tuan Muda, Nona Muda.”
Lalita menatap sambungan layar hologram yang terputus dan menghela nafasnya. Selalu saja ada cekcok jika berhubungan dengan para tetua.
Mata crimson Lalita menatap Caron yang sedang berbicara dengan Canoa.
Aku justru tidak menyangka tuan muda Caron akan menyumbangkan idenya. Sungguh perubahan yang mengejutkan. Batin Lalita menyandarkan punggungnya pada kursi di belakangnya.
Caron tidak bisa menghilangkan senyum di wajahnya saat rencananya di setujui. Hal ini adalah langkah pertamanya untuk bangkit dan kembali menaikkan namanya.
Jika rencana ini berhasil, orang-orang itu pasti akan menyadari potensiku dan aku tidak akan diremehkan lagi. Batin Caron tersenyum.
Caron benar-benar merasa senang saat jalannya menuju hidup damainya berjalan mulus. Akan tetapi, bukankah ini terlalu mulus?
“Bang Caron!”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments