...⦆⦈⦇⦅...
Caron menatap langit-langit kamarnya dan melirik jam dinding yang menunjukkan waktu tengah malam.
Canoa keluar dari kamarnya tak lama setelah mendengar kalimat Caron tentang pelayan yang dilihatnya saat sebelum kecelakaan keluarga mereka.
“Apa Canoa tahu sesuatu?”
Caron kembali menatap telapak tangannya dan melirik pena yang berada di atas meja berjarak lima meter darinya.
Menarik nafas panjang, Caron mengarahkan tangannya ke arah pena tersebut dan berusaha menggerakkan pena itu ke arahnya.
Caron mengerutkan keningnya dan tetap mempertahankan tangannya yang mulai terasa pegal. Mata navy Caron samar-samar menatap cahaya navy yang hadir di sekitar pena tersebut.
Apa aku berhasil? Batin Caron mulai senang dan terus mempertahankan posisi tangannya.
Tok tok
Sayangnya, karena ketukan pada jendela kamarnya, konsentrasi Caron hilang dan pena itu kembali terjatuh di atas meja. Mengerutkan keningnya, Caron melirik ke arah jendela kamarnya.
Kamarnya berada di lantai tiga, sudah dipastikan itu bukan dari keluarga Lacrymos. Caron mengambil pistol yang terletak di bawah bantalnya dan sebuah pisau kecil yang berada di meja samping tempat tidurnya.
Penyusup? Tapi kenapa dia mengetuk jendela? Tidak! Apa dia melempar batu? Batin Caron mengerutkan keningnya dan turun perlahan dari tempat tidurnya.
Menarik paksa kakinya tak mampu bergerak, Caron bersembunyi di bawah tempat tidur dan menutupi bantalnya dengan selimut.
Prangg
Caron menatap dua kaki yang masuk ke dalam kamarnya dari kaca jendela yang pecah.
“Dia tidak bangun karena suara ribut seperti ini? Haha … benar-benar tuan muda yang bodoh!”
Suara sepatu hitam yang digunakan penyusup itu bergema di dalam kamarnya. Caron melirik ke arah pintu kamarnya saat mulai mendengar keributan di luar ruangan.
Dirinya yakin Veistar dan Canoa pasti mendengar suara kaca yang pecah itu. Mata navy Caron menatap sepatu penyusup yang berdiri di dekat kasurnya.
Jubah hitamnya tampak menjuntai hingga ke mata kakinya. Caron menggenggam erat pistol di tangannya dan bersiap menembak kaki si penyusup.
Dor
Caron sedikit tersentak saat mendengar suara tembakan yang di arahkan ke tempat tidurnya. Sudah jelas penyusup itu menginginkan kematian dirinya.
“Hm? Hanya bantal? Ya ampun, Anda pintar sekali tuan muda!”
Caron menggertakkan giginya dan menatap sepatu si penyusup yang tetap berada di samping tempat tidurnya.
Apa dia menyadari keberadaanku? Batin Caron mempersiapkan pistol dan pisau di tangannya.
Jantungnya berdetak lebih kencang, bukan gaya Caron untuk bersembunyi seperti saat ini. Dirinya lebih suka menghadapi semuanya secara langsung. Akan tetapi, dengan kondisi kakinya yang tidak bergerak seperti saat ini. Caron tidak punya pilihan.
Sembunyi dan amati musuhmu! Bukan berarti tindakan seorang pengecut! Lebih baik menyusun rencana daripada langsung menyerang! Batin Caron melirik setiap pergerakan kaki sang penyusup.
Caron segera menggerakkan tubuhnya saat melihat sang penyusup bertekuk lutut dan mengarahkan kepalanya ke bawah tempat tidur.
“Anda di sini, Tuan Muda? Hm?”
Caron menyembunyikan tubuhnya di sisi lain dinding dan menyamarkan warna pakaiannya membuat mata hitam penyusup itu tak mampu melihatnya.
“Hmm … aneh. Ke mana tuan muda yang lumpuh itu pergi?”
Caron menggerakkan tubuhnya dan melirik si penyusup yang berjalan ke tengah kamarnya. Jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan pakaian serba hitam yang digunakannya.
Siapa dia? Orang yang tidak suka dengan Lacrymos? Pembunuh bayaran? Batin Caron mulai mengarahkan pistol ke arah si penyusup tersebut.
Caron yang hendak menekan pelatuk itu tersentak saat penyusup itu berbalik dan menatap nyalang Caron yang langsung menekan pelatuk pistolnya.
Suara tembakan kembali bergema di dalam ruangan. Sayangnya, tembakan Caron itu meleset membuat pria muda itu berdecak kesal dan keluar dari bawah tempat tidurnya.
“Anda cukup tangguh, Tuan Muda.” Caron hanya diam dan mengamati penyusup di depannya.
Mata hitam penyusup itu tampak menelisik penampilan Caron dan tersentak saat menatap mata navy Caron.
Jemari si penyusup meraih sesuatu di dalam jubahnya dan menekan sebuah tombol yang ada di permukaan bola tersebut kemudian melemparkan bola berwarna hijau muda ke arah pintu kamar.
Caron menatap dinding transparan yang hadir menutupi pintu kamarnya dan kembali memandang tajam si penyusup di depannya.
“Jangan khawatir. Saya tidak ingin ada orang yang mengganggu pertemuan berharga kita, Tuan Muda Caron.”
Caron mengerutkan keningnya. “Seorang pembunuh bayaran? Apa kamu tidak malu melawan orang tidak berdaya seperti ini?”
Si penyusup itu tertawa dan memainkan pisau di tangannya. Mata hitam itu tampak berkilat di tengah remangnya cahaya ruangan.
“Permainan kata-kata yang menarik. Misi tetaplah misi, Tuan Muda.”
Caron hanya diam dan menggenggam erat gagang pistol di tangannya. Mata hitam si penyusup itu menyipit menatap Caron yang berjarak sepuluh meter darinya.
“Oh tunggu! Kamu sudah mendapatkan semua bagian dirimu? Menarik! Sangat menarik! Hahah ….”
Mata navy Caron melebar menatap mata hitam si penyusup itu menatapnya nyalang diselingi tawa kecil yang memenuhi ruangan.
Dia mengubah gaya bicaranya? Orang aneh dari mana lagi ini? Batin Caron melirik sekitarnya dan mencari senjata pertahanan yang baru.
“Bang Caron! Abang bisa mendengarku! Apa yang terjadi di dalam sana?!”
Di lorong kamarnya, Canoa mulai panik saat pintu kamar pria muda itu tak bisa dibuka.
“Veistar! Apa yang terjadi dengan pintu ruangannya?”
Suara Canoa kembali terdengar cemas dan Caron kembali memandang penyusup dengan pakaian serba hitam dan masker hitam di depannya.
“Apa hanya itu tujuanmu datang ke sini?”
Penyusup itu tertawa dan melemparkan pisau di tangannya ke arah pintu ruangan. Canoa dan Veistar yang berada di balik pintu ruangan itu tersentak saat mendengar suara yang dihasilkan pisau itu.
“Senang bisa berbicara dengan dirimu seutuhnya, Caron Arjerta Lacrymos.”
Caron hanya diam dan menatap tajam penyusup di depannya. Caron mengangkat pistol di tangannya, berusaha membuat penyusup itu diam di tempatnya.
“Apa menurutmu aku takut dengan pistol sederhana seperti itu? Haha … cukup lucu, Tuan Muda Caron!”
Caron mengerutkan keningnya saat melihat penyusup itu melayangkan pisau ke arahnya. Menggertakkan giginya, Caron mulai menembaki pisau yang melayang ke arahnya.
Caron segera menghindar saat penyusup itu mendekatinya dengan pisau yang siap menusuk tubuhnya. Mata navy Caron melirik pisau yang menancap di samping kirinya dan segera menembakkan pisau ke bahu penyusup tersebut.
Tembakan itu tepat sasaran dan membuat penyusup serba hitam itu berdecak kesal. Kaki sang penyusup langsung menjaga jarak dengan Caron dan melompat ke arah jendela kamar yang sudah pecah.
“Menarik! Aku tidak menyangka kamu masih bisa bertahan dan menghindar dengan kaki yang lumpuh seperti itu!”
Caron hanya diam dan kembali menekan pelatuk pistolnya ke arah penyusup tersebut. Sayangnya, semua tembakan itu meleset dan mengenai kaca jendela lainnya.
Mata hitam penyusup itu menatap santai kaca jendela di dekatnya yang pecah karena tembakan Caron.
“Aku tidak akan takut! Aku akan menghadapi semua yang terjadi dan aku … akan membawa kedamaian untuk keluargaku!”
Penyusup itu terdiam mendengar kalimat Caron dan melirik suasana di luar jendela dan halaman mansion Lacrymos yang ramai oleh para penjaga.
“Haha … baiklah! Senang menghabiskan sisa malam ini dengan Anda, Tuan Muda Caron! Sampai bertemu lagi! Semoga saat itu Anda masih hidup!”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments