...⦆⦈⦇⦅...
Caron menggerutu dan menatap Veistar yang berdiri tenang di sampingnya. Saat ini keduanya sedang mengamati Canoa yang sedang melatih kekuatan airnya.
Saat ini mereka berada di ruang bawah tanah mansion Lacrymos, di salah satu ruangan yang digunakan untuk latihan.
“Jangan khawatir, Tuan Muda. Anda tidak perlu takut, meskipun saya sering kesal dengan Anda, saya akan melindungi Anda jika terjadi sesuatu.”
Caron menoleh dan tersenyum pasrah dengan kalimat Veistar. “Ya, terima kasih atas kejujuranmu.”
“Sama-sama, Tuan Muda.”
Caron hanya diam dan kembali menatap Canoa yang sudah kuyup dengan kekuatan airnya. Saat ini ruangan di sekitar mereka sudah penuh dengan air. Mata navy Caron menatap ombak air yang sedang dikendalikan Canoa.
Sang adik tampak fokus dan berusaha menjatuhkan tonggak kayu di depannya dengan ombak yang dikendalikannya. Sementara itu, Veistar berdiri dengan tenang di belakang kursi roda Caron sambil memasang sihir pelindung tingkat satu.
“Itu kekuatan yang besar.”
Caron menganggukkan kepalanya saat mendengar kalimat Veistar. Gerakan tangan Canoa tampak lebih tenang dalam mengendalikan airnya.
Sebelumnya, wanita muda itu kehilangan kontrol dalam pengendalian ombak airnya dan alhasil air itu menghantam segala benda di dalam ruangan. Untunglah Veistar dengan cepat menggunakan sihir pelindungnya dan berhasil mencegah Caron terkena air.
“Apa rencana ini akan berhasil, Tuan Muda?”
Caron tersenyum dan menoleh menatap Veistar di belakangnya. “Tentu saja. Kita harus yakin dan berusaha. Keinginan yang kuat akan sia-sia jika tidak diikuti usaha yang kuat.”
Veistar terdiam mendengar penjelasan Caron dan terharu. “Saya tidak menyangka kalimat indah itu akan keluar dari mulut Anda, Tuan Muda.”
Caron menghela nafas dan mengalihkan pandangannya. “Ha … sudahlah. Kamu membuatku merasa menjadi orang yang paling buruk.”
“Tapi itu faktanya, Tuan Muda.” Caron melirik tajam Veistar yang akhirnya terdiam dan menutup mulutnya rapat.
Brakkk
Suara itu membuat perhatian keduanya teralihkan ke arah Canoa yang bersandar di dinding ruangan. Wanita muda itu terlempar setelah kehilangan kendali kekuatan ombak airnya untuk yang kesekian kalinya.
Caron mendekat ke arah Canoa yang sedang mengusap wajahnya dan tampak kesal itu. Mata coklat terang Canoa menatap Caron yang mendekat ke arahnya.
“Aku kehilangan kendali lagi, Bang.”
Caron menganggukkan kepalanya dan memandang dinding ruangan yang terdapat lubang dan basah. Pria muda itu mengusap surai hitam Canoa yang basah dan tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa. Kita masih ada waktu sampai besok, Canoa. Kamu hanya perlu merasakan kekuatanmu sedikit lebih tenang.”
Veistar dan Canoa terdiam mendengar kalimat Caron. Benar-benar berbeda dari sosok Caron sebelumnya, seolah ada orang lain di dalam dirinya.
Canoa tersenyum dan bangkit dari duduknya sambil mengusap air yang mengalir di wajahnya.
“Abang benar. Aku hanya perlu membiasakan diri dengan kekuatanku. Air melambangkan ketenangan, karena itu aku juga harus menenangkan hati saat mengendalikannya.”
Caron menganggukkan kepala dan Veistar hanya tersenyum menikmati interaksi keduanya. Caron tersenyum menatap Canoa yang kembali bersemangat.
Wanita muda itu dengan cepat menoleh ke arah Caron dan mendorong kursi roda sang abang keluar.
“Aku butuh waktu sendiri. Aku pasti bisa mengendalikannya besok. Abang istirahat saja! Jaga Abang dengan baik Veistar!”
“Eh.” Caron terdiam menatap Canoa yang mengusirnya keluar ruangan dan menutup pintu besi itu rapat-rapat.
Veistar yang berdiri di belakang Caron menarik nafas panjang dan menatap Caron yang masih terdiam. “Anda diusir, Tuan Muda. Kasihan sekali.”
...***...
Suara pesawat memenuhi halaman mansion Lacrymos. Caron menatap Lalita dan Leister yang turun dari pesawat dengan setelan seragam hitam dan tak lupa pedang di sisi kiri pinggang mereka.
“Di mana Canoa?” Lalita menatap Caron yang menggelengkan kepalanya.
“Dia melarangku masuk ke ruang latihan. Aku hanya bisa menunggu waktu pagi datang.”
Lalita dan Laister saling lirik. Suara langkah kaki terdengar mendekat membuat mereka berbalik dan menatap Canoa yang mendekat dengan kantung mata di bawah mata.
“Ya ampun. Kamu terlalu memaksakan diri, Canoa.”
Canoa hanya tersenyum dan melirik Caron yang berada di dekatnya. Nasehat Caron itu benar-benar membuka pikirannya. Setelah Caron keluar, Canoa berusaha menenangkan perasaannya dan hasilnya dirinya berhasil mengendalikan kekuatannya.
“Baiklah. Kalau begitu, ayo berangkat! Pejuang Flowlax mulai kelelahan.”
Canoa menganggukkan kepalanya dan melirik Caron yang bergerak di dekatnya. Veistar juga ikut berdiri tenang di belakang Caron dan bertindak sebagai pelindung jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mata navy Caron menatap pemandangan Pygena dari jendela pesawat. Selain tiga pulau terapung itu tak lagi ada kehidupan. Daratan di bawah mereka tampak gersang dan penuh cairan hijau di beberapa tempat.
Jadi umat manusia hanya tersisa di tiga pulau ini? Batin Caron menatap tiga pulau terapung Pygena.
“Apa yang Anda lihat, Tuan Muda?”
Caron menoleh ke arah Veistar yang tersenyum di sampingnya. Keduanya kembali menatap pulau Pygena yang berada tepat di bawah mereka.
Mata navy Caron menatap asap merah yang membumbung tepat di bawah pulau Pygena F. Caron melirik pintu pesawat yang terbuka dan Canoa yang bersiap untuk menggunakan kekuatannya.
Mata coklat Canoa bertemu dengan mata navy Caron. Senyum hadir di wajah keduanya seolah saling memberi semangat.
“Siap, Canoa?”
Canoa menganggukkan kepalanya ke arah Laister yang berdiri di sampingnya. Laister melirik Lalita dan segera pria muda itu menggunakan papan seluncur yang dilengkapi mesin sihir untuk terbang di atas birunya langit.
Laister mengulurkan tangannya ke arah Canoa dan langsung menarik wanita muda itu untuk berdiri di belakangnya.
Caron menatap papan seluncur yang menjadi alat untuk Leister dan Canoa terbang dengan pandangan berbinar.
Aku benar-benar harus mempelajari segalanya, tapi pertama-tama apa kaki ini bisa sembuh? Batin Caron menatap kakinya yang mati rasa di atas kursi roda.
Canoa dan Laister tampak berbicara di kejauhan. Pesawat memilih terbang di atas keduanya berjaga-jaga jika terkena ledakan kekuatan Canoa.
“Sudah menemukan titik yang tepat, Canoa?”
Laister melirik Canoa yang berada di belakangnya. Mata coklat terang wanita itu tampak bersinar terang dan Canoa melihat mutan erchi berbentuk bola hijau di antara asap merah di bawahnya.
“Aku menemukannya!”
Laister menganggukkan kepalanya dan menstabilkan posisi papan seluncur mereka. Canoa menarik nafas dalam saat mulai menggerakkan tangannya. Wanita itu melirik pesawat yang terbang di atas kepala dan tersenyum kecil menatap manik navy Caron dari jendela.
Demi bang Caron, aku harus berhasil. Batin Canoa mulai mengendalikan air laut di bawahnya dan mengurung semua bola-bola hijah mutan erchi yang bersembunyi di antara asap merah.
Laister menatap air laut yang mulai terangkat dan perlahan mengurung para mutan tersebut. Mata ruby Laister melirik senyum kecil di wajah Canoa.
Bommmm
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments