...⦆⦈⦇⦅...
Keluarga Rozittyo adalah keluarga bangsawan tingkat menengah yang berada di Pygena L. Keluarga ini juga merupakan keluarga yang menghasilkan para peneliti terkenal sepanjang sejarah Pygena berdiri.
Sayangnya, beberapa tahun terakhir kejayaan keluarga Rozittyo meredup. Semua dikarenakan penerus keluarga Rozittyo yang dianggap tidak mampu mengemban nama besar Rozittyo.
Arsya Rozittyo, putri tunggal keluarga Rozittyo yang kini menjadi pemimpin sementara organisasi keilmuan Rozittyo di saat kepala keluarga tersebut terbaring di atas ranjang rumah sakit. Wanita berusia dua puluh empat tahun it-
Oh, dia seumuran denganku. Batin Caron kembali melanjutkan membaca identitas Arsya Rozittyo yang dicarinya di internet.
Wanita berusia dua puluh empat tahun itu pernah menjadi pusat pembicaraan karena kegagalan dirinya dalam menciptakan vaksin flu yang disebabkan oleh asap mutan erchi.
Kegagalannya itu menyebabkan pemimpin keluarga Rozittyo, Archon Rozittyo terbaring di atas ranjang rumah sakit karena serangan jantung.
Sejak saat itulah, orang-orang mulai memandang rendah keluarga Rozittyo dan pendapat mereka tak lagi didengar masyarakat ramai.
Kasihan sekali, tapi aku dengar keluarga Lacrymos masih sering mengunjungi mereka. Batin Caron menatap Veistar yang sedang menuangkan teh pada cangkir di depannya.
“Hei, Veistar. Apa hubungan kita dengan keluarga Rozittyo baik?”
Veistar menoleh dan menganggukkan kepalanya sambil menyerahkan secangkir teh ke tangan Caron. “Ya, Tuan Muda. Nona Muda juga sering mengunjungi mereka.”
Caron menganggukkan kepalanya dan melirik Canoa yang masuk ke dalam kamarnya. Wanita muda itu mengangguk ke arah Veistar yang langsung menyiapkan minuman untuknya. Canoa menatap Caron yang sedang sibuk dengan ponsel pintarnya.
“Apa yang sedang Abang cari?”
Caron menatap Canoa sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya. “Informasi yang berhubungan dengan Rozittyo.”
Canoa mengerutkan keningnya dan kembali berpikir. Setelah diskusi mereka kemarin, Caron semakin gencar mencari segala informasi tentang keluarga Rozittyo.
Pertemuan mereka dengan keluarga itu hanya tinggal tiga jam, lebih tepatnya saat jam makan siang selesai mereka akan langsung bertolak ke mansion keluarga Rozittyo di sudut pulau Pygena L.
“Kenapa Abang tertarik mencari itu?” Caron menatap Canoa dan menutup ponsel pintarnya. Pria muda itu tampak larut dalam pikirannya dan Canoa dengan sabar menunggu jawaban yang akan disampaikan Caron.
“Ada banyak hal yang ingin aku bahas dengan mereka.”
...***...
Mata navy Caron kembali menatap tiga pulau yang mengambang di bawahnya. Tidak pernah bosan dirinya menatap tiga pulau Pygena tersebut.
Lautan yang terus berdebur di bawah mereka dan daratan gersang tanpa adanya kehidupan selain dari para mutan yang terus berkembang.
Caron melirik Canoa yang duduk tenang di depannya, sedangkan Veister berdiri tenang di samping Caron dan memastikan tidak ada kesalahan pada setting kursi roda tuan muda Lacrymos itu.
Pesawat segera mendarat di halaman mansion Rozittyo. Beberapa pelayan dan seorang wanita dengan rambut hijau dan mata kuning jagung menunggu mereka di halaman mansion. Canoa berjalan di samping kursi roda Caron sambil menguntai senyum di wajahnya.
“Selamat datang di mansion Rozittyo.” Wanita dengan rambut hijau dan mata kuning jagung itu menyambut mereka ramah.
Dia pasti Arsya Rozittyo. Dia tidak seperti yang aku pikirkan, aku pikir keluarga Rozittyo itu menggunakan kacamata tebal. Batin Caron menatap Canoa yang berjabat tangan dengan Arsya.
Wanita muda itu menoleh ke arah Caron dan tersenyum sopan. Caron terdiam saat tak melihat ekspresi ketakutan di wajah Arsya yang menyapanya. “Selamat datang, Tuan Muda Caron. Senang Anda bisa mengunjungi mansion kami.”
Caron mengalihkan pandangannya menatap para pelayan yang juga tersenyum dan menganggukkan kepala mereka. Hanya ekspresi tulus yang bisa Caron tangkap dari wajah mereka. Canoa yang melihat keterdiaman Caron segera mengambil alih.
“Ah, maaf sebelumnya. Bang Caron mengalami sedikit masalah dengan ingatannya.”
Caron segera tersadar dari lamunannya dan tersenyum sopan. “Canoa benar. Maafkan sikap tidak sopan saya, Nona Muda Rozittyo. Saya mengalami amnesia sementara.”
Arsya dan beberapa pelayan di halaman mansion itu terdiam dan menganggukkan kepala."Tidak masalah, Tuan Muda Caron, Nona Muda Canoa. Kami selalu senang menyambut kunjungan Anda.”
Arsya segera mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam mansion lantai dua keluarga Rozittyo itu.
Caron menatap beberapa tanaman obat-obatan yang ditanam di halaman mansion dan tanaman kering yang ditempelkan pada beberapa bagian dinding lorong.
Bangunan dengan dominasi warna hijau itu terasa menenangkan saat wangi lavender mulai memenuhi indera penciuman mereka.
Canoa melirik Caron yang tampak tenang di atas kursi rodanya. Pintu ruangan di depan mereka terbuka dan Arsya mempersilahkan mereka untuk masuk.
Veistar langsung berdiri di belakang kursi roda Caron, sedangkan Canoa duduk di sofa yang dekat dengan kursi roda Caron.
“Apa ada hal yang harus dibahas, Nona Muda Canoa? Tidak biasanya ada kunjungan mendadak seperti ini.”
Canoa tersenyum tipis dan melirik pelayan yang meninggalkan ruangan. “Panggil aku seperti biasa saja, Kak Arsya. Hanya ada kita di ruangan ini dan ya … ada beberapa hal yang ingin ditanyakan, Bang Caron.”
Semua mata menatap ke arah Caron yangs sedang sibuk mencicipi kue di depannya. Arsya melirik Canoa yang tersenyum canggung, mata coklat terang wanita itu melirik Veistar yang sudah siap dengan jemari tangannya untuk mengembalikan wibawa Caron.
Abang ini bikin malu saja. Batin Canoa mengusap wajahnya.
Tangan Veistar mencubit pelan lengan Caron membuat pria muda mendesis dan segera menyadari tatapan mata yang terarah kepadanya. Sadar akan sikap cerobohnya, Caron segera meletakkan kue di tangannya dan tersenyum canggung ke arah Arsya. Pria muda itu mengabaikan aura-aura dingin yang terasa dari tatapan Canoa.
“Mohon maaf, Nona Muda Arsya. Semenjak kehilangan ingatannya, Tuan Muda selalu hadir dengan sikap tak biasa. Mohon maafkan anomali dari Tuan Muda kami ini.”
Arsya menganggukkan kepalanya dan kembali memandang Caron yang melirik tajam Veistar. “Jadi, apa yang ingin Anda bahas dengan kami, Tuan Muda?”
“Aku ingin tahu tentang kelanjutan penelitian kalian mengenai antivirus dan vaksin Erchi.”
Arsya terdiam dan melirik Canoa yang menganggukkan kepalanya. Sudah lama tak ada yang menanyakan tentang kelanjutan penelitian itu kepadanya. Penelitian yang dilakukannya bersama sang ayah saat beliau masih dalam kondisi sehat.
Bertahun-tahun berlalu, dengan semua investor yang berlalu dan berpaling dari mereka. Hanya keluarga Lacrymos lah yang masih mau menunggu dan membimbing mereka untuk terus maju.
Arsya masih ingat, saat Canoa datang kepadanya ketika tetua Pygena menolak mentah-mentah idenya di tengah rapat bersama beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu Rozittyo bersumpah akan selalu setia dengan Lacrymos.
Arsya tersenyum kecil. “Kami baru sampai di tahap isolasi antigen dan pengecekan darah mutan Erchi, Tuan Muda. Sampel darah terakhir dari serangan di bawah pulau Pygena F mengalami banyak perubahan dari sampel darah yang kami terima sebelumnya.”
Caron menganggukkan kepalanya. Itu artinya mereka kembali ke tahap awal dan masih butuh waktu yang panjang untuk mendapatkan antivirus. Apalagi jika nantinya, para mutan erchi itu terus bermutasi.
Arsya menatap Caron yang larut dalam pikirannya dan melirik kaki Caron yang berada di atas kursi roda.
Sudah lama wacana yang hendak disampaikannya ini hadir di benaknya. Menatap wajah Caron dan Canoa, Arsya kembali bersuara menarik perhatian keduanya.
“Tuan Muda Caron, apa Anda ingin ikut terapi berjalan dari kami?”
...⦆⦈⦇⦅...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya 🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments