Maudy sekarang sampai di rumah, ia sudah tidak sabar memberikan kabar gembira pada ayahnya jika ia diterima kerja di salah satu sekolah swasta terbaik di kota.
Maudy masuk ke dalam dan melihat Bapak bersama dengan Caca, "Bapak," panggil Maudy.
Bapak tidak menanggapi panggilan Maudy dan ia menghampiri Maudy. Maudy pikir Bapaknya akan memeluk Maudy, tapi ia salah ternyata Bapak menghampirinya dan menampar kuat pipi Maudy hingga bekas tamparan tersebut terlihat dengan jelas di pipi mulus Maudy.
Plak...
Maudy menatap tidak percaya pada sang Ayah karena ini adalah pertama kalinya Bapak Ruslan menampar Maudy.
"Bapak," lirih Maudy.
"Berapa kali Bapak harus bilang ke kamu Maudy untuk tidak dekat dengan Sersan Nial, tapi kamu justru gsk dengerin ucapan Bapak dan terus deket sama Sersan Nial!" bentak Bapak Ruslan.
"Maudy gak deket sama Sersan Nial, Pak. Maudy udah ngejauh dari Sersan Nial," ucap Maudy.
"Halah, tadi Caca lihat sendiri kalau Kak Maudy bicara berduaan sama Sersan Nial kok," ucap Caca.
"Tapi, itu cuma sebentar dan gak ada hal penting yang Maudy bicarakan sama Sersan Nial," ucap Maudy.
"Bapak kecewa sama kamu Maudy, kamu tau akibat perbuatan kamu keluarga kita di usir dari rumah ini," ucap Bapak Ruslan.
"Maksud Bapak apa?' tanya Maudy.
"Gara-gara kamu deketin Sersan Nial, kita di usir dari rumah ini. Kamu tau kan kalau rumah kita ini sewa sama komandan Ade dan tadi sebelum kamu pulang Bu Nanda istri komandan Ade meminta untuk Bapak segera mengemasi barang-barang Bapak," ucap Bapak Ruslan.
Maudy tentunya terkejut dengan apa yang dikatakan Bapak, "Bapak bercanda kan? terus kita mau tinggal dimana Pak?" tanya Maudy.
"Bapak gak tau, semua ini salah kamu. Bapak udah peringatkan sama kamu untuk tidak dekat dengan Sersan Nial," ucap Bapak Ruslan.
"Maafin Maudy Pak, Maudy gak tau bakal kayak gini. Tapi demi Tuhan Pak, Maudy gak deketin Sersan Nial bahkan Maudy udah berusaha menjauh dari Sersan Nial," ucap Maudy.
"Bapak gak peduli lagi, sekarang kita harus segera pergi dari sini," ucap Bapak Ruslan.
"Gak Pak, Maudy akan bicara sama Bu Nanda. Siapa tau Bu Nanda mau memaafkan Maudy," ucap Maudy.
"Ya, kamu bicarakan semuanya dengan Bu Nanda Bapak tunggu, lebih baik sekarang kamu ke Bu Nanda sekarang," ucap Bapak Ruslan.
"Iya Pak," ucap Maudy dan keluar dari rumah menuju rumah dinas.
Maudy pun berjalan menuju rumah dinas yang ditempati Bu Nanda, "Selamat siang Bu Nanda," sapa Maudy.
"Ada apa?" tanya Bu Nanda yang berada di depan rumah.
"Saya ingin mempertanyakan perihal maksud Bu Nanda yang mengusir keluarga saya dari rumah yang saya ini kami tempati," ucap Maudy.
"Oh itu, kenapa emangnya kamu gak terima?" tanya Bu Nanda.
"Iya Bu, saya tidak mengerti kenapa Bu Nanda sampai seperti ini hanya karena saya dekat dengan Sersan Nial," ucap Maudy.
"Ya, jelas lah. Sersan Nial itu calon menantu saya, saya gak mau ya sersan Nial dekat sama kamu, kamu sama sersan Nial itu berbeda jauh dan gak cocok. Sersan Nial itu cocoknya sama Freya anak saya, dia seorang dokter dan kehidupannya juga menjanjikan," ucap Bu Nanda.
"Saya tidak ada hubungan apapun dengan Sersan Nial, Bu. Bahkan saya sudah menjauhi Sersan Nial sesuai dengan apa yang Bu Nanda inginkan waktu itu. Apa Bu Nanda akan tetap mengusir keluarga saya?" tanya Maudy.
"Iya, saya akan tetap mengusir keluarga kamu, tapi saya juga tidak akan mengusir keluargamu jika kamu pergi dari sini maksudnya pergi dari desa ini bahkan kota ini karena dengan adanya kamu di sini maka kamu masih bisa bertemu dengan Sersan Nial bukan," ucap Bu Nanda.
"Baik, saya akan segera pergi dari sini, tapi tolong berikan beberapa waktu karena saya harus menyiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum pergi," ucap Maudy.
"Silahkan, tapi awas saja jika kamu tidak pergi dari tempat ini," ucap Bu Nanda dan masuk ke dalam kamar.
Maudy sengaja mengatakan hal tersebut karen memang dalam waktu dekat ini, Maudy harus segera pergi dari sini bukan karena ia diterima bekerja di salah satu sekolah swasta terbaik di kota.
'Semangat Maudy! lagipula gak ada yang suka kamu di sini bukan,' ucap Maudy dalam hati.
Maudy pun pergi dari tempat tersebut dan ia berpapasan dengan Nial dan tentara lainnya yang tadi ia temui di cafe. Maudy berusaha untuk tidak melihat mereka, namun naas Bian melihat Maudy dan menyapanya alhasil Maudy pun ikut menatap mereka. Ingat! hanya menatap dengan menganggukkan kepalanya tanpa berbicara apapun setelah itu ia berjalan meninggalkan para tentara tersebut.
Tapi, lagi-lagi langkah Maudy terhenti karena Yudha yang menggodanya bersama Nial bahkan Yudha menghadang Maudy, "Lagi marahan sama Nial ya?" tanya Yudha.
"Maaf, Sersan. Saya harus pergi," pamit Maudy dan berjalan melewati Yudha lalu ia berlari dari tempat terkutuk itu.
"Maudy kenapa?" tanya Bobby.
"Gak tau, btw lo beneran udah mastiin kalau dia gak marah sama lo?" tanya Bian.
"Hem," jawab Nial.
"Jawaban yang sangat singkat, padat dan jelas sekali," ucap Bian dan Nial hanya melirik Bian lalu pergi meninggalkan sahabatnya.
Disisi lain, Maudy sampai di rumah dan langsung berhadapan dengan sang Bapak, "Bagaimana? apa Bu Nanda masih ingin mengusir kita?" tanya Bapak Ruslan.
"Gak kok Pak, Bu Nanda gak jadi ngusir kita," ucap Maudy.
"Syukurlah," ucap Bapak Ruslan.
"Terus apa yang buat Bu Nanda gak jadi ngusir kita?" tanya Caca.
"Maudy harus pergi dari sini dan dengan itu Bu Nanda bakal tetap membiarkan kita tinggal di sini," ucap Maudy.
Bapak tentunya terkejut dengan hal itu, "Tapi, Maudy. Bapak gak mau kamu pergi dari sini, Bapak gak mau aku dari anak-anak Bapak," ucap Bapak Ruslan.
Setelah kematian Chelsea, Bapak memang menjadi sangat khawatir saat berjauhan dengan anaknya bahkan saat Maudy kuliah dulu hampir setiap malam Bapak menelpon dan menanyakan keadaan Maudy.
"Gapapa kok Pak, lagipula Maudy pergi juga bakal kerja kan," ucap Maudy.
"Maksud kamu?" tanya Bapak Ruslan.
"Ini Pak, Maudy di terima di salah satu sekolah swasta terbaik di kota A," ucap Maudy dan dengan bangganya menunjukkan sebuah gambar di ponselnya.
Dimana hasil dari tes yang Maudy lalui sehingga Maudy dinyatakan lolos, "Bapak bangga sama kamu Maudy, maafin Bapak karena tadi nampar kamu. Bapak refleks karena Bapak tidak punya apa-apa kalau harus pergi dari sini," ucap Bapak Ruslan.
"Iya, gapapa kok Pak, Maudy paham itu, maafin Maudy juga karena Maudy semuanya kacau kayak gini," ucap Maudy.
"Kapan Kakak perginya?" tanya Caca.
"Mungkin secepatnya karena Minggu depan Kakak udah mulai masuk," ucap Maudy.
"Yaudah, kalau gitu besok aja," ucap Caca.
"Kalau besok bukannya terlalu mendadak," ucap Bapak Ruslan.
"Gak lah Pak, malah lebih cepat lebih bagus," ucap Caca.
"Iya Pak bener kata Caca. Maudy harus cepat pergi dari sini sebelum Bu Nanda berubah pikiran," ucap Maudy.
"Bapak hanya mampu mendoakan semoga kamu betah di tempat kerja kamu, kamu gak boleh kelelahan kalau ada apa-apa jangan lupa kabari Bapak ya," ucap Bapak Ruslan.
"Iya Pak," ucap Maudy.
Maudy yang mendapatkan respon hangat dari Bapak pun begitu bahagia, 'Maudy seneng banget Bapak kasih respon positif ke Maudy bahkan Bapak tadi bilang kalau Bapak bangga sama Maudy,' ucap Maudy dalam hati.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Marlin priyama Marlin
lanjut donk
2024-03-03
0