Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Maudy pun akhirnya sampai di rumah. Namun, bukannya sambutan hangat yang di dapatkan Maudy, ia justru di bentak oleh Bapak.
"Kamu apa-apaan Maudy!" bentak Bapak.
"Maksud Bapak apa? Maudy gak ngelakuin apa-apa, ini aja Maudy baru pulang, Pak," tanya Maudy.
"Sini oleh-olehnya," ucap Caca dengan mengambil bingkisan yang ada di tangan Maudy.
"Kamu bener-bener udah ngecewain Bapak, Maudy," ucap Bapak.
"Maksud Bapak apa?" tanya Maudy.
"Bapak tau, kalau kamu kemarin ngobrol sama Raffa kan," ucap Bapak.
"Astaga, Pak. Maudy kan udah bilang sebelumnya kalau Maudy sama Raffa itu gak ada hubungan apa-apa dan Maudy juga udah bilang kalau Maudy gak sengaja ketemu sama Raffa juga karena Raffa beli burger dan bilang bakal di pindah tugaskan, udah itu aja gak ada obrolan lain," ucap Maudy yang ke coba menjelaskan pada Bapak agar tidak salah paham.
"Bapak gak peduli, tapi Bu Nanda udah tau dan Bu Nanda udah peringatkan Bapak agar mendidik kamu lebih baik, Maudy," ucap Bapak.
"Bapak harus percaya apa yang Maudy katakan, Maudy gak ada hubungan apapun dengan Raffa," ucap Maudy.
"Tapi, Bapak gak mau tau. Pokoknya kamu harus jaga jarak dengan para tentara apalagi Raffa, kamu tau sendiri kan kalau istrinya Raffa itu keponakannya Bu Nanda dan otomatis Bu Nanda sangat menjaga Raffa," ucap Bapak.
"Iya, Pak. Maudy ngerti kok," ucap Maudy.
"Tapi, Bapak gak usah khawatir. Kan Kak Raffa juga udah di pindah tugaskan, jadi Kak Maudy gak bakal bisa godain Kak Raffa lagi deh," ucap Caca yang menikmati cemilan yang di bawa Maudy tadi.
"Bapak anggap masalah ini udah selesai, lebih baik kamu bersih-bersih terus siapin makanan karena Ibu kamu belum makan," ucap Bapak.
"Iya, Pak," jawab Maudy.
Seperti hari-hari berikutnya, Maudy berjualan burger keliling desa dan kali ini ia tengah berjualan di depan tempat para tentara karena jujur saja banyak pelanggan jika ia berada di sana karena memang tempat para tentara berdampingan dengan taman.
"Hai," sapa salah satu tentara.
"Jangan nyapa gak jelas gitu, mentang-mentang sersan Raffa udah gak di sini lagi," ucap pria lainnya.
"Hehehe, bercanda ya Kak," ucap pria tadi dan diangguki Maudy.
"Tinggal berapa burgernya?" tanya Patrick.
"Tinggal beberapa aja sih," ucap Maudy.
"Yaudah, kalau gitu saya mau dua ya," ucap Patrick.
"Baik, Kak," ucap Maudy.
"Makasih banget ya Kak Patrick yang baik hati," ucap Elvan.
"Makasih buat apa?" tanya Patrick.
"Kak Patrick beli dua dan satunya buat saya kan, saya tau itu," ucap Elvan dengan senyuman manis pada Patrick.
"Saya beli satu lagi buat Nial yang satunya bukan buat kamu," ucap Patrick.
'Nial? Namanya kayak gak asing gitu?' tanya Maudy dalam hati.
Setelah menyiapkan pesanan Patrick, Maudy pun langsung memberikannya pada Patrick dan mereka berdua pun pergi.
"Burgernya tinggal 7, aku kasih ke anak-anak aja deh pasti mereka belum makan tadi siang," gumam Maudy.
Setelah itu, Maudy pun pergi dari tempat tersebut dan menuju ke sebuah rumah sederhana yang begitu damai dan begitu ia masuk ke dalam, Maudy dapat melihat beberapa anak yang tersenyum bahagia di sana.
"Halo, anak-anaknya Kak Maudy," panggil Maudy dan sontak saja membuat anak-anak yang ada di sana bahagia mendengarnya.
"Kak Maudy bawain burger nih," ucap Maudy.
"Kamu bawa burger tiap hari Maudy, emangnya gak rugi kamu?" tanya Bu Pipit.
"Gak, Bu. Maudy juga udah untung kok," ucap Maudy.
"Terima kasih ya karena kamu mau bantu anak-anak yang ada di panti ini," ucap Bu Pipit yang merupakan pengurus panti tersebut.
"Ibu ini apa sih, Maudy itu justru seneng banget karena bisa buat mereka bahagia," ucap Maudy.
"Padahal banyak warga yang mengutuk panti ini karena keterbatasan yang anak-anak alami, tapi untung masih ada kamu jadinya mereka bisa bangkit walaupun mereka memiliki kekurangan," ucap Bu Pipit.
"Ibu gak boleh nyerah ya, kalau ada apa-apa Ibu harus bilang ke Maudy," ucap Maudy.
"Iya, Maudy," ucap Bu Pipit.
"Kak Maudy, lihat tadi Lista gambar rumah loh bagus kan?" tanya Lista dengan menunjukan gambar rumahnya.
"Bagus banget, Lista pinter gambarnya," puji Maudy.
"Iya, padahal Lista gak punya tangan, tapi gambarnya Lista bagus ya," ucap Lista spontan dan membuat Maudy serta Bu Pipit terkejut lalu tersenyum canggung.
"Iya, gambarnya Lista bagus. Ibu bangga deh," ucap Bu Pipit.
"Lain kali Lista gak boleh ya bilang kayak tadi, Lista itu di beri kelebihan sama Tuhan. Gak semua orang loh bisa gambar sebagus Lista," ucap Maudy.
"Iya, Kak Maudy," ucap Lista.
"Yaudah, Lista lanjut warnai ya nanti tunjukkin ke Kak Maudy," ucap Maudy.
"Iya, Kak," ucap Lista dengan menganggukkan kepalanya.
.
Disisi lain, Nial tengah merapikan barang-barangnya karena ia baru saja datang tadi pagi.
"Al, ini burger lo," ucap Patrick.
"Burger? Gue gak pesen burger," ucap Nial.
"Gue tau, tadi gue beli di depan. Burgernya enak kok...," ucapan Patrick terhenti lantaran Elvan yang menyelanya.
"Burgernya yang enak atau penjual burgernya yang cantik nih," ucap Elvan.
"Apaan sih, gak ya. Emang burgernya aja yang enak," ucap Patrick.
"Yakin?" tanya Elvan.
"Ya, penjualnya sih cantik juga, tapi burgernya juga enak tau," ucap Patrick.
"Iya deh percaya, awas loh jangan macam-macam, inget ada pacar lo di kota," ucap Nial.
"Astaga, lo ngeremehin kesetiaan gue ya, gue ini setia ya," ucap Patrick dan Nial hanya mengangkat bahunya.
"Tapi, btw. Maudy kayaknya cocok deh sama lo," ucap Patrick.
"Terus?" tanya Nial.
"Gimana kalau gue jodohin lo sama Maudy," ucap Patrick.
"Ngaco, gue gak butuh orang buat bantuin gue cari pasangan, gue juga bisa sendiri. Lebih baik lo jodohin ke yang lain aja," ucap Nial.
"Kalau ke yang lain gak cocok, soalnya Maudy lebih cocok sama lo," ucap Patrick.
"Kenapa gak sama gue aja?" tanya Bobby yang baru saja datang.
"Sama lo, bisa-bisa Maudy makan hati terus. Gak deh kalau buat lo, jadi mendingan cari sendiri aja," ucap Patrick.
"Jahat banget lo," ucap Bobby yang mendramatisir.
"Tapi, emang nih ya setelah di perhatikan dengan seksama, Nial ini cocok deh sama Maudy," ucap Bobby.
"Kan apa gue bilang," ucap Patrick.
"Lebih baik, kalian semua pergi deh. Gue mau istirahat sebelum latihan besok," usir Nial yang mulai jengah dengan orang-orang yang ada di sekitarnya ini.
"Udah marah nih si Nial, yaudah deh yuk kita pergi aja sebelum di makan kita," ucap Bobby dan mendapat tatapan tajam dari Nial.
"Hehehe, bercanda," ucap Bobby lalu keluar dari ruangan tersebut dan disusul oleh Patrick dan Elvan.
"Dasar gak jelas," gumam Nial.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments