Seorang perempuan tengah menunggu jualannya di pinggir pelabuhan, ia berharap ada orang yang datang dan membelinya. Hari sudah siang, tapi burger yang ia jual hanya terjual 2 saja, sedangkan ia membawa cukup banyak burger. Ya, dia adalah Maudy.
Maudy sudah berjualan di sini kurang lebih selama 3 hari dimana sebelumnya Bu Nanda melarang Bapak untuk berjualan di dekat asrama tempat biasanya Bapak berjualan dengan alasan karena Maudy dekat dengan Nial. Tidak masuk akal bukan alasannya, tapi ya karena tidak mau cari masalah maka Ruslan pun hanya diam dan pindah tempat berjualan.
Setelah di usir Bu Nanda, Maudy memutuskan berjualan di dekat sekolah dasar, tapi hasil jualan di sana tidak memuaskan sehingga Maudy pun berpindah tempat untuk berjualan.
"Kak Maudy," panggil seseorang.
Maudy pun menoleh dan melihat siapa yang telah memanggilnya, "Iya, ada apa ya?" tanya Maudy.
Maudy tidak kenal siapa orang tersebut, tapi dari cara pakaiannya Maudy tau pasti orang ini adalah tentara karena memakai seragam tentara.
"Kak Maudy tumben gak jualan di dekat asrama Kak?" tanya orang tersebut.
"Oh itu, ehm pengen cari suasana baru aja," ucap Maudy.
"Oh iya Kak kenalin aku Elvan," ucap Elvan.
"Oh iya, salam kenal, ehm aku panggilnya apa ya kira-kira?" tanya Maudy.
"Panggil Elvan aja kak soalnya aku masih baru kok di dunia tentara. Lagipula umurnya lebih tua-an Kak Maudy juga," ucap Elvan dan diangguki Maudy.
"Kak Maudy dapat salam dari Sersan Nial," ucap Elvan dan Maudy hanya tersenyum canggung.
Maudy sudah tidak ingin berurusan dengan Nial karena ia takut akan berdampak pada keluarganya.
'Kenapa harus bawa-bawa Sersan Nial lagi sih, aku gak mau kena masalah lagi karena aku deket sama Sersan Nial atau orang-orang yang kenal sama Sersan Nial,' ucap Maudy dalam hati.
"Kak Maudy mau nomornya Kak Nial gak? Elvan punya nih nomornya Kak Nial," tanya Elvan.
"Gak perlu, aku gak butuh nomornya Sersan Nial kok," ucap Maudy.
"Elvan," panggil Nial dari belakang Elvan.
"Eh ada Kak Nial," ucap Elvan.
"Ayo, kita balik," ajak Nial.
"Iya bentar Kak, ini Elvan msu beli burgernya Kak Maudy dulu. Kak Maudy burger tiga ya," ucap Elvan.
"Iya," ucap Maudy dan mulai membuatkan burger pesanan Elvan.
"Ini," ucap Maudy dan memberikan burger tersebut pada Elvan lalu Elvan pun membayarnya.
"Kak Nial gak beli?" tanya Elvan.
"Gak," jawab Nial.
"Kak Maudy gak mau nyapa Kak Nial," ucap Elvan.
Maudy pun menatap Elvan dan bergantian menatap Nial lalu menganggukkan kepala seadanya.
Maudy benar-benar mengacuhkan Nial bahkan Maudy menganggap jika saat ini tidak ada Nial, ia harus bisa menjauh dari Nial agar keluarganya tidak terkena masalah. Cukup waktu itu saja ia dekat dengan Nial dan berakhir keluarganya tidak boleh berdagang di dekat asrama.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Maudy dan pergi begitu saja tanpa menatap Nial.
Nial yang di acuhkan oleh Maudy pun bertanya-tanya ada apa dengan Maudy karena yang ia tau Maudy adalah salah satu perempuan yang sangat ramah padanya bahkan Maudy terkesan mendekati Nial, tapi kenapa sekarang Maudy seolah-olah tidak mengenal Nial.
Nial berpikir apa ia pernah punya salah pada Maudy, tapi apa. Seingat Nial, ia tidak berbuat apapun pada Maudy. Itulah yang dipikirkan Nial saat ini karena mendapatkan sikap kurang mengenakkan dari Maudy.
"Kak Nial marahan ya sama Kak Maudy?" tanya Elvan.
Nial menatap Elvan, "Gak, bahkan Kakak aja udah lama gak ketemu sama dia," ucap Nial.
"Tapi, kok Kak Maudy kayak ngehindar gitu ya dari Kakak," ucap Elvan.
"Mana Kakak tau, mungkin dia udah sadar kali," ucap Nial.
"Halah, Kak Nial aja kelihatan gak suka sama sikap kak Maudy tadi sama Kak Nial iya kan," ucap Elvan.
"Sok tau kamu," ucap Nial.
"Tenang aja kak nanti Elvan bantuin buat deketin Kak Maudy kok," ucap Elvan.
Nial sendiri hanya menatap malas Elvan dan berlalu pergi begitu saja, "Dasar gengsian!" teriak Elvan.
.
Hari berganti ,saat ini Maudy berada di salah satu cafe yang ada di dekat pusat pelabuhan untuk melihat apakah dia di terima di salah satu sekolah yang ia lamar. Maudy sendiri berada di cafe ini udah satu jam lebih karena memang sinyal terbaik berada di cafe ini.
"Semoga lolos," gumam Maudy.
Beberapa saat kemudian, Maudy pun meneteskan air mata saat melihat hasil yang tertera pada laptopnya dimana namanya lolos di salah satu sekolah swasta yang ia lamar, "Ini beneran! aku lolos, terima kasih Tuhan, hiks hiks," gumam Maudy dan meneteskan air matanya.
Sadar bahwa ia berada di keramaian, Maudy segera menghapus air matanya agar orang-orang di sekitarnya tidak melihatnya yang tengah menangis bahagia.
"Loh Maudy kenapa? di sakitin Nial ya," tanya Bian.
"Eh, Sersan Bian. Gak kok sersan," ucap Maudy.
"Kenapa Maudy? bilang aja kenapa ya gak Nial?" tanya Yudha.
Maudy menatap Nial yang saat ini juga menatapnya dan dengan cepat Maudy mengalihkan pandangannya ke arah Yudha. Ya, di sana bukan hanya ada Bian dan Yudha saja, tapi juga ada Nial dan Bobby.
"Saya gapapa kok Sersan Yudha," ucap Maudy.
"Beneran?" tanya Yudha dan diangguki Maudy.
"Yaudah, kita duduk di sini aja nemenin Maudy. Lagian minuman kita juga masih di buatin kan," ucap Bian.
Mereka berempat pun duduk di tempat yang sama seperti yang Maudy tempati, "Kalau begitu saya permisi dulu ya," pamit Maudy dan mengambil laptop serta tasnya lalu berjalan menjauh dari tempat tersebut.
"Lo ngerasa gak sih kalau Maudy itu kayak ngehindar dari kita?" tanya Bian.
"Iya, gue juga ngerasa gitu. Biasanya aja kalau kita ngobrol gak ada masalah, tapi ini dia kayak gak mau ada kita di sini," ucap Yudha.
"Dia bukan ngehindar dari lo pada," ucap Bobby.
"Terus?" tanya Bian.
"Tapi, dia menghindar dari nih orang," ucap Bobby dengan menunjuk Nial menggunakan dagunya.
"Kenapa gue?" tanya Nial.
"Ya iyalah, Maudy itu menghindar dari lo. Gue denger dari Elvan kalau Maudy beberapa waktu lalu juga sikapnya cuek gitu bahkan terkesan menjauh dari lo, terus ini tadi terbukti bukan, Maudy langsung pergi gitu aja bahkan dia gak ngelirik lo sama sekali," ucap Bobby.
"Tapi, gue gak ngelakuin apa-apa sama dia terus letak kesalahan gue dimana?" tanya Nial.
"Nah itu yang harus lo cari tau," ucap Bobby.
"Bentar," ucap Nial dan berlari keluar cafe.
Nial keluar untuk mengejar Maudy, ia tau Maudy masih belum jauh dari cafe dan benar saja tebakannya Maudy memang belum jauh dari cafe.
Nial berlari ke arah Maudy dan memegang lengan Maudy lalu membalikkan tubuh Maudy hingga saat ini Maudy berhadapan dengan dirinya.
"Sersan Nial," ucap Maudy, ia benar-benar terkejut melihat Nial saat ini.
Maudy menatap tangan Nial yang masih memegang lengannya dan otomatis Nial langsung melepaskan tangannya. Setelah itu, Suasana sangat canggung bagi keduanya.
"Ada apa ya sersan Nial?" tanya Maudy.
"Harusnya saya yang tanya ada apa?" tanya Nial.
Maudy mengerutkan keningnya dan menatap Nial seolah-olah bertanya-tanya, "Maksud Sersan Nial?" tanya Maudy.
"Apa saya punya salah?" tanya Nial.
"Sama siapa?" tanya Maudy.
"Sama kamu lah," ucap Nial.
"Saya rasa Sersan Nial tidak pernah punya salah sama saya," ucap Maudy.
"Terus kenapa kamu menghindar dari saya?" tanya Nial.
"Sa-saya tidak menghindar dari Sersan Nial," ucap Maudy.
"Kamu sangat tidak pandai akting, kenapa kamu menghindar?" tanya Nial lagi.
"Tapi, saya memang tidak menghindar dari sersan Nial, mungkin sersan Nial yang salah. Kalau begitu saya permisi, saya masih ada beberapa urusan," pamit Maudy dan ia benar-benar meninggalkan Nial.
"Apa iya ya ini cuma perasaanku aja kalau dia menghindar dariku," gumam Nial.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Marlin priyama Marlin
lanjut donk. jgn bkin penasaran
2024-03-03
0
dekk du
lanjut thor
2024-01-06
1
Rika Astuti
up
2024-01-05
1