Beberapa saat kemudian, Nial sudah selesai dari kamar mandi dan setelah itu ia pun pergi dari kamarnya dan menuju lapangan untuk latihan sore bersama dengan ketiga temannya tentunya.
"Eh, itu ada Maudy," ucap Bian.
"Halo Maudy, makin cantik aja deh," ucap Yudha.
"Terima kasih Kak atas pujiannya," ucap Maudy.
Maudy saat ini bersama dengan Ayahnya tengah berjualan burger dengan gerobak yang sudah digunakannya sejak beberapa tahun lalu bahkan sudah terlihat jelas jika gerobak yang digunakan tersebut sudah rapuh.
"Maudy ini ada Nial nih," ucap Yudha dan mendapat lirikan tajam dari Nial.
Maudy sendiri malu karena di sana juga terdapat Ayahnya, "Memangnya ada apa dengan Sersan Nial dan anak saya?" tanya Bapak Ruslan.
"Ini loh Pak, calon menantu Bapak pengen ketemu katanya," ucap Bobby.
"Maaf Pak, mereka ini memang gak waras, jadi tidak perlu di dengarkan. Saya gak kenal dengan putri Bapak kok, kalau begitu saya permisi," ucap Nial dan akhirnya ia memilih berjalan cepat untuk menjauhi ketiga temannya yang tidak waras itu.
"Udah gak usah di dengerin Nial-nya, dia emang kayak gitu. Kalau begitu mari Pak," ucap Yudha pada Maudy.
Akhirnya ketiga orang itu pun pergi dan menyusul Nial yang sudah jauh di depan.
"Jangan berharap apapun Maudy, kita ini dari keluarga miskin gak bakal sepadan sama Sersan Nial. Bapak dengar Ayahnya Sersan Nial itu seorang komandan terus Ibunya juga seorang Dokter, sangat berbeda jauh dengan kita, Bapak cuma jualan burger keliling terus Ibumu juga lumpuh di rumah," ucap Bapak Ruslan dari Maudy.
"Iya, Pak. Maudy juga sadar diri Pak," ucap Maudy.
'Maudy, sadar Pak. Kalau Maudy gak bakal bisa bersama dengan Sersan Nial, lagipula Maudy gak berharap lebih, Maudy hanya merasa kagum atas kebaikan Nial waktu nolongin Maudy,' ucap Maudy dalam hati.
"Yaudah sekarang kita jualan lagi," ucap Bapak Ruslan.
"Iya, Pak," jawab Maudy.
Saat Maudy dan Bapak Ruslan tengah berjualan tiba-tiba Caca datang, "Pak, minta uang," ucap Caca dengan mengulurkan tangannya.
"Dek, kan kemarin udah Kakak kasih masa sekarang kamu minta lagi sih," ucap Maudy.
"Uang yang kemarin ya buat kemarin kalau hari ini ya beda lagi dong Kak, gimana sih. Mana minta uang," ucap Caca.
"Tapi, kemarin kan Kakak bilang kalau uang itu buat tiga hari. Kemarin Kakak kasih 200 ribu padahal, harusnya kamu gunakan uang itu sehemat mungkin. Kita ini bukan orang berada yang setiap mau beli apa-apa gampang, tapi kita harus kerja dulu biar bisa beli," ucap Maudy.
"Malah ceramah, udah deh Kak lagian Caca juga minta uang ke Bapak bukan ke Kakak," ucap Caca.
"Udah Maudy, kamu kasih aja Adek kamu uangnya," ucap Bapak Ruslan.
"Pak, Bapak sadar gak sih kalau Bapak itu terlalu manjain Caca. Harusnya itu Caca diajarkan berhemat mumpung dia masih sekolah dan pengeluaran untuk kebutuhan dia gak terlalu banyak kecuali uang sekolah," ucap Maudy.
"Kamu kasih aja, Bapak tau apa yang baik untuk Adek kamu," ucap Bapak Ruslan dengan sedikit meninggikan suaranya.
Maudy pun menghela napas, "Ini, dalam Minggu ini. Ini adalah uang terakhir dari Kakak, Kakak gak bakal ngasih kamu uang lagi karena pengeluaran kita juga banyak. Kalau semua uang yang di perlukan buat jualan Kakak kasih ke kamu bisa-bisa kita jadi gelandangan," ucap Maudy.
"B*c*t," ucap Caca lalu pergi meninggalkan Maudy dan Bapak.
"Biarkan saja Caca, dia masih muda. Dia butuh pengenalan diri terhadap lingkungan luar," ucap Bapak.
Maudy benar-benar tidak percaya jika Bapak nya mengatakan hal itu, tapi melihat Bapak tersenyum dengan mengatakan hal itu membuat Maudy diam dan membiarkannya.
'Begitu sayangnya Bapak sama Caca, sampai memaklumi apa yang dilakukan Caca. Sejujurnya Maudy juga ingin di perlakukan sama seperti Caca, namun itu sangat mustahil,' ucap Maudy dalam hati.
"Kamu mau kemana?" tanya Bapak.
"Maudy mau pergi sebentar, nanti Maudy ke sini lagi, Pak," ucap Maudy dan pergi.
Maudy memutuskan pergi ke pinggir pantai untuk menenangkan diri, "Kapan ya aku bisa banggain Bapak? Kayaknya gak bisa deh, wajar sih kalau Ibu gak suka sama aku. Karena emang gak ada yang bisa dibanggain dari aku, Caca cantik persis kayak Ibu. Aku gak ada cantik-cantiknya, percuma juga punya pendidikan tinggi karena emang gak berarti apa-apa buat Bapak sama Ibu," gumam Maudy.
"Ngapain lo disini?" tanya seorang perempuan cantik yang duduk di samping Maudy.
"Biasa," jawab Maudy dengan menatap perempuan tersebut.
"Meratapi nasib lagi, hidup gak akan berhenti walau lo meratapi nasib," ucap Yura yang merupakan sahabat Maudy.
"Ya, aku juga tahu kali," ucap Maudy.
"Lo gak tanya gitu kapan gue balik kesininya?" tanya Yura.
"Gak tuh," ucap Maudy.
"Ok, karena lo gak tanya berarti gue yang bakal tanya dan jawab sendiri. Kapan gue balik kesini? Jawabannya kemarin sore, tapi karena gue udah ngantuk kemarin makanya gue baru nemuin lo hari ini," ucap Yura dan Maudy hanya menatap Yura.
"Btw, katanya lo baru dari kota ya?" tanya Yura dan diangguki Maudy.
"Gimana kota? bagus kan?" tanya Yura.
"Ya, gitu deh," ucap Maudy.
"Sayang banget ya gue lagi liburan jadinya lo gak bisa mampir ke rumah gue," ucap Yura.
"Lain kali juga bisa kan," ucap Maudy.
"Semoga aja lo di terima ya," ucap Yura.
"Amin, makasih ya," ucap Maudy.
"Oh iya, kamu disini sampai kapan?" tanya Maudy.
"Gak tau sih tergantung Ari," ucap Yura.
Yura merupakan satu-satunya sahabat Maudy sejak SMP, Yura saat itu pindah ke sekolah Maudy dan akhirnya mereka pun berteman. Status keluarga Yura berbeda dengan Maudy, ia berasal dari keluarga berada dan asli dari Kota A.
Satu tahun setelah lulus SMA, Yura menikah dengan sang kekasih yang merupakan teman sekelas mereka saat SMA dan memutuskan untuk tinggal di kota A. Namun, Yura dan sang suami sering mengunjungi desa karena memang keluarga Ari tinggal di desa.
"Oh iya, lo gak mau nikah? Bukannya apa sih, tapi kayak di desa ini cuma lo yang di umur segini belum nikah loh," tanya Yura.
"Tumben kamu nanya pertanyaan itu? Biasanya juga kamu kan yang ngasih saran buat aku jangan nikah dulu kok sekarang malah tanya kapan aku nikah?" tanya Maudy dengan penuh selidik terhadap sang sahabat.
"Hehehe, ketahuan ya?" tanya Yura dan diangguki Maudy.
"Sebenarnya gue punya temen, bukan gue sih lebih ke Ari punya temen," ucap Yura.
"Terus?" tanya Maudy.
"Ya, mau gue kenalin ke lo lah. Dia pinter, kerja keras dan yang terpenting dia ganteng," ucap Yura.
"Hehehe, gak dulu deh," ucap Maudy.
"Kenapa sih kok gak mau?" tanya Yura.
"Aku itu mau punya pasangan karena usahaku sendiri bukan karena orang lain," ucap Maudy.
"Gue tahu, tapi ini gue cuma sebagai perantaranya aja kok dan sisanya lo usaha sendiri," ucap Yura dan Maudy pun tersenyum pada Yura.
"Mau kan?" tanya Yura.
"Gak mau, udah ya aku mau balik dulu kasihan Bapak sendirian," ucap Maudy dan pergi meninggalkan sang sahabat.
"Dasar Maudy nyebelin, pokoknya aku bakal jodohin lo sama temen kerja Ari!" teriak Yura dan Maudy pun menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang sahabat.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
fhittriya nurunaja
lanjut 💪💪💪
2024-01-02
1
Eko Sujatno
lanjutken Thor,,,,,,
2024-01-02
1