Malam harinya di asrama militer, Nial menuju ke lapangan untuk menikmati udara malam.
"Kenapa lo disini?" tanya Bobby yang baru saja datang dan duduk di samping Nial.
"Gapapa, emangnya gue gak boleh duduk di sini?" tanya Nial.
"Ya, boleh aja sih. Tapi, cuma gimana aja gitu secara lo kalau habis latihan pasti ngurung diri di kamar," ucap Bobby.
"Gak tau nih, gue kayak banyak pikiran. Tapi, gak tau mikirn apa," ucap Nial.
"Jangan bilang lo mikirin masalah Maudy?" tanya Bobby.
"Kenapa harus Maudy, ya gak lah. Gua gak ada sangkut pautnya sama dia, jadi gue gak perlu mikirin dia," ucap Nial yang cukup kesal dengan teman-temannya karena selalu menyangkut pautkan dirinya dengan Maudy.
"Jangan gitu, kalau nantinya lo suka sama Maudy kita gak mau ikut-ikut loh ya," ucap Bobby.
"Ngaco lo, udah sana jangan ganggu gue. Gue pengen sendiri dulu," ucap Nial.
"Oke deh," ucap Bobby dan pergi meninggalkan Nial.
Disisi lain, Maudy saat ini berada di rumahnya dan berkemas untuk kepergiannya besok. "Semoga ini keputusan yang baik," gumam Maudy.
Saat tengah berkemas tiba-tiba pintunya terbuka dan menampilkan wajah bahagia Caca, "Kak, itu ada Kak Yura di depan," ucap Caca lalu pergi.
Maudy pun menghampiri Yura, "Ada apa, Ra?" tanya Maudy.
"Ini buat lo," ucap Yura dengan memberikan bingkisan pada Maudy.
"Ini apa?" tanya Maudy.
"Nanti lo juga tahu, sekalian gue mau pamit," ucap Yura.
"Kamu mau balik ke kota A?" tanya Maudy.
"Bukan, gue mau pamit karena gue bakal menetap di luar negeri," ucap Yura.
"Kok kamu baru ngasih tahu aku sekarang," ucap Maudy yang tentunya terkejut karena sahabatnya akan pergi.
"Gue juga baru tahu dari Ari kalau dia dipindah tugaskan ke luar negeri, mau gak mau gue harus ikut sama dia. Makanya sekarang gue pamit sama lo karena gue gak yakin kapan gue bisa balik ke sini lagi," ucap Yura.
"Gapapa, aku ngerti kok, yang penting kita harus saling ngasih kabar aja. Inget loh kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan buat ngabarin satu sama lain," ucap Maudy.
"Pasti itu, nanti kalau lo mau nikah. Gue bakal usahain buat pulang, tapi gak janji ya," ucap Yura.
"Apa sih kamu ini gak ada yang mau nikah," ucap Maudy.
"Ya kan siapa tahu aja suatu saat nanti," ucap Yura.
"Iya, doain ya," ucap Maudy.
Setelah itu, Yura pun berpamitan pada Bapak Ruslan dan Caca, bukan hanya berpamitan. Tapi, Yura juga memberikan beberapa bingkisan pada mereka dengan alasan keluarga Maudy juga keluarganya meskipun sikap keluarga Maudy tidak mengenakan pada Maudy.
Pagi harinya Maudy pun sudah bersiap-siap, namun sayang tidak ada satupun keluarga yang menemaninya.
"Gapapa Maudy, Bapak tadi ada urusan sama Pak Samsir," gumam Maudy.
Akhirnya Maudy pun berangkat menuju terminal yang jaraknya cukup jauh, Maudy menuju terminal menggunakan ojek yang merupakan tetangganya sendiri.
"Semoga lancar semuanya," gumam Maudy dan pergi dari rumah.
Sesampainya di kos Maudy pun mulai bersih-bersih dan bersiap dengan pakaian yang akan ia kenakan besok.
"Ternyata kota tidak seburuk itu, tapi ya gak tau lagi sih kan ini masih hari pertama. Semoga untuk kedepannya semakin baik," gumam Maudy.
Pagi harinya Maudy terlihat begitu rapi dan ia pun pergi menuju sekolah, "Selamat pagi Bu Maudy," sapa salah satu guru.
"Selamat pagi juga Bu," jawab Maudy yang tersenyum ramah pada orang tersebut.
"Kalau begitu Bu Maudy bisa mulai mengajar di kelas yang sudah saya sampaikan sebelumnya ya," ucap guru tersebut.
"Iya, Bu. Terimakasih," ucap Maudy.
"Iya sama-sama Bu, nanti pas istirahat Bu Maudy bisa kenalan dengan guru-guru lainnya," ucapnya.
"Iya, Bu," jawab Maudy.
.
Satu Minggu kemudian, Nial yang selesai berlatih pun menatap gerobak burger yang sangat ia kenal, Nial menghampiri gerobak tersebut.
"Eh, Sersan Nial. Mau beli burger Sersan? tanya Pak Ruslan orangtua Maudy.
"A-ah, iya Pak saya beli enam ya," ucap Nial dan diangguki Pak Ruslan.
Pak Ruslan pun mulai membuatkan pesanan Nial, "Oh iya, Pak. Maudy lagi sibuk ya kok saya gak pernah ketemu sama Maudy lagi, biasanya kan kalau hari selasa itu dia yang jualan, tapi ini saya gak pernah ketemu lagi sama Maudy?" tanya Nial.
Pak Ruslan pun menatap Nial dan tersenyum, "Maudy kerja Sersan ,makanya dia gak bisa jualan lagi," ucap Pak Ruslan.
"Kerja? kerja dimana?" tanya Nial.
"Ada lah Sersan Nial, Maudy kerja di suatu tempat yang ia impikan sejak dulu, lagipula yang terpenting apa yang dikerjakan Maudy halal kok," ucap Pak Ruslan.
"Udah berapa hari Maudy kerja, Pak?" tanya Nial.
"Sekitar satu Minggu sersan," ucap Pak Ruslan.
"Lama ternyata," gumam Nial dan masih dapat di dengar Pak Ruslan.
"Ini, sersan Nial silahkan," ucap Pak Ruslan dan memberikan burger yang dipesan Nial.
"Terima kasih Pak," ucap Nial dan pergi dari tempat tersebut.
Pan Ruslan menatap punggung tegap Nial, "Beruntung sekali kamu Maudy," gumam Pak Ruslan.
Nial pun menuju asrama karena memang hari ini latihannya selesai lebih cepat, "Nih," ucap Nial dan memberikan burger yang ia pesan tadi ke Bian.
"Buat gue?" tanya Bian.
"Hem, bagi-bagi sana," ucap Nial.
"Semuanya?" tanya Bian.
"Hem," jawab Nial.
"Kenapa gak lo makan aja?" tanya Bian.
"Gak pengen," ucap Nial.
"Terus kalau lo gak pengen kenapa beli coba? apa gara-gara Maudy? lo pasti ngiranya Maudy yang jualan kan?" tanya Bian.
"Gak," ucap Nial.
"Kelihatan banget tau," ucap Bian.
Nial tidak merespon godaan Bian dan ia lebih memilih untuk tidur di kasurnya, entahlah kenapa dengannya yang jelas ia ingin bertemu dengan Maudy dan berbicara panjang lebar seperti dulu saat Maudy yang berbicara panjang lebar padanya.
Nial tidak bodoh, ia yakin ada sesuatu yang Maudy sembunyikan darinya. Bahkan Nial sempat berpikir jika Maudy diancam oleh seseorang agar menjauh dari Nial karena tidak mungkin Maudy tiba-tiba menjauhinya begitu saja tanpa sebab bahkan sebelumnya Maudy sangat berusaha untuk dekat dengan Nial.
'Hish, kenapa gue mikirin hal yang penting kayak gini sih,' ucap Nial dalam hati.
Sedangkan, Bian yang sejak tadi berada di sana pun menatap geli sahabatnya. Bagaimana tidak, Bian dapat melihat secara langsung bagaimana Nial yang pusing karena perempuan dan hal itu membuat Bian harus menahan tawa.
"Kak Bian kenapa?" tanya Elvan yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut bersama dengan Bobby, Yudha dan Brandon.
"Oh ini lagi lihat orang galau," ucap Bian.
"Orang galau? siapa?" tanya Bobby.
"Tuh Nial," ucap Bian.
"Kenapa gue?" tanya Nial dan membuka matanya.
"Lah kan lo galau gara-gara gak ketemu sama Maudy," ucap Bian.
"Gak ya, gue gak galau gara-gara dia," ucap Nial.
"Ck, gitu aja gak mau ngaku," ucap Bian.
"Bukannya Maudy kerja di kota ya," ucap Yudha.
"Kerja di kota?" tanya Nial.
"Iya, jadi gue denger-denger dia itu udah semingguan mungkin ya kerja di kota," ucap Yudha.
"Kerja apa?" tanya Bobby.
"Maudy kan jurusannya guru gitu sih, terus ya Maudy kerja jadi guru di sekolah swasta, tapi gue gak tau apa nama sekolahnya," ucap Yudha.
"Lo tau ini dari siapa?" tanya Nial.
"Oh gue dengernya waktu Pak Ruslan bicara gitu sama Bu Nanda," ucap Yudha.
"Kenapa Pak Ruslan bicara sama Bu Nanda?" tanya Elvan.
"Ya, wajar dong kan Pak Ruslan juga bisa berjualan di sini karena izin dari Bu Nanda," ucap Yudha dan semua orang percaya akan hal itu.
"Kenapa lo?" tanya Brandon.
"Entahlah, gue kok masih ngerasa ada yang aneh gitu. Tapi, gue gak tau apa itu," ucap Nial.
"Udah, kalau jodoh pasti ketemu kok, lo gak usah takut soal Maudy," ucap Bian.
"Apa sih gak jelas," ucap Nial.
"Lah, nih anak masih aja nyangkal," ucap Bian.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Rika Astuti
up
2024-01-06
1
Eko Sujatno
lanjutken Thor,,,,,,
2024-01-06
1