Pagi harinya Maudy siap mengantarkan pesanan pada pelanggan, "Ini nanti kamu minta uang sisanya ya," ucap Bapak Ruslan.
"Iya, Pak," ucap Maudy.
"Oh iya, nanti kamu jualan di tempat biasanya aja ya, soalnya di sana paling banyak pembeli dari pada tempat lain," ucap Bapak Ruslan.
"Tapi, kemarin kan kata Bapak kita gak boleh jualan di sana sama Bu Nanda," ucap Maudy.
"Ya, mau bagaimana lagi. Di sana tempat yang paling strategis buat jualan," ucap Bapak Ruslan.
"Nanti kalau Maudy di usir gimana Pak? Bapak kan tau sendiri gimana Bu Nanda," tanya Maudy.
"Ya, nanti kalau kamu di usir. Kamu pergi dari sana dan cari tempat lain, pokoknya nanti dicoba dulu jualan di sana," ucap Bapak Ruslan.
"Tapi, Pak. Maudy takut kalau Bu Nanda rusakin barang dagangan kita gimana," ucap Maudy.
"Kamu itu ya, di coba dulu jangan takut dulu," ucap Bapak Ruslan.
Maudy yang melihat Bapak mulai meninggikan suaranya pun mulai takut, "Iya, Pak. Nanti Maudy coba," ucap Maudy.
"Nah, dari tadi kek kayak gitu," ucap Bapak Ruslan.
Maudy pun menuruti kata Bapak Ruslan dan segera berangkat mengantarkan pesanan burger lalu ia segera berjualan.
Sesampainya di tempat ia biasa berjualan, cukup ramai bahkan sudah ada yang membeli burgernya. Namun tidak bertahan lama karena tiba-tiba Bu Nanda datang, "Ngapain kamu masih jualan di sini hah?" tanya Bu Nanda.
"Maaf Bu, tapi tempat ini yang paling ramai dari pada tempat lain Bu. Kalau saya tidak boleh berjualan di sini, saya harus jualan dimana Bu," ucap Maudy.
"Mana saya tau, itu urusan kamu ya. Pokoknya kamu gak boleh jualan di sini, udah sama pergi," ucap Bu Nanda.
Maudy tidak punya pilihan lain selain pergi dari tempat tersebut, "Aku jualan dimana sekarang ini ya?" tanya Maudy pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Maudy pun memutuskan untuk berjualan di depan sekolah dasar.
"Semoga aja banyak yang beli di sini," gumam Maudy.
Hari mulai sore dan tidak ada stau pelanggaran pun yang datang untuk membeli burgernya, "Ini udah jam setengah empat dan burgerku belum habis, aku harus gimana ini," gumam Maudy.
"Maudy," panggil Yura.
"Ra, kamu kok di sini?" tanya Maudy.
"Gue mau ke rumahnya Tante gue, tapi btw lo kok ada di sini? Bukannya lo jualan burger di deket asrama militer?" tanya Yura.
"Oh itu, a-aku mau cari suasana baru aja gitu. Siapa tau di sini banyak yang beli," ucap Maudy.
"Masalahnya di sini agak jauh dari pemukiman sama orang-orang kan jarang main di sini, kalau di deket asrama militer banyak orang lalu lalang soalnya deket pemukiman sama deket taman juga," ucap Yura.
"Ya, gapapa. Makanya juga mencoba tempat baru," ucap Maudy dan diangguki Yura.
"Yaudah deh, gue mau beli burger 6 bungkus," ucap Yura.
"6 bungkus, banyak banget. Kamu mau apapun burger 6 bungkus itu?" tanya Maudy.
"Yah dimakan lah Maudy, kan gue mau ke rumahnya Tante gue dan di sana banyak orang jadi nanti gue bagiin juga ke mereka," ucap Yura.
"Oke, sebentar ya," ucap Maudy lalu membuatkan pesanan untuk Yura.
Beberapa saat kemudian, burger pesanan Yura pun selesai dan Yura segera membayarnya, "Gue pergi dulu ya takut Tante gue nungguin," pamit Yura.
"Iya, makasih ya," ucap Maudy dan diangguki Yura.
Setelah Yura pergi Maudy pun kembali melihat ke sekelilingnya dan berharap ada yang membeli burgernya.
"Bener kata Yura kalau di sini jarang orang lewat, tapi aku gak tau harus jualan dimana lagi. Semoga di sini membawa keberuntungan untuk aku," gumam Maudy.
Saat tengah menunggu pembeli tiba-tiba seorang ibu-ibu datang, "Harusnya kamu terima lamaran anak saya dan bukannya keras kepala menolak lamaran anak saya katanya mau fokus kuliah lah itulah, lihat kamu sekarang gak jadi apa-apa. Kamu itu sekarang justru bikin mau keluarga kamu sendiri, percuma kamu kuliah jauh-jauh karena akhirnya kamu jualan burger mana tuh ilmu yang kamu dapatkan di bangku kuliah udah gak ada kan makanya kamu nganggur gak jadi apa-apa. Udahlah mendingan kamu nikah aja sama Juan anak saya, kalau kamu nikah sama Juan saya bisa jamin hidup kamu dan keluarga kamu bakal terpenuhi semuanya dan kamu gak perlu jualan burger lagi," ucap Bu Devi yang merupakan salah satu warga di desa tempat tinggal Maudy.
Ya, Bu Devi memang sempat menjodohkan Maudy dengan anaknya yang bernama Juan, dimana umur Juan lebih tua dua tahun dari Maudy.
Namun, saat itu Maudy menolak lamaran Juan karena ia beralasan ingin kuliah karena memang saat itu Maudy baru saja duduk di bangku perkuliahan dan akhirnya perjodohan tersebut pun gagal dan Maudy sudah melupakan hal itu karena sejak perjodohan tersebut gagal, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Bu Devi ataupun Juan.
Ini adalah kali pertama Maudy bertemu dengan Bu Devi setelah gagalnya perjodohan antara Maudy dan Juan.
"Bagaimana kabar, Ibu?" tanya Maudy yang berusaha untuk ramah pada Bu Devi karena ia tahu bagaimana sifat Bu Devi yang begitu sombong dan angkuh.
"Saya baik, gimana kamu mau gak nikah sama anak saya daripada kamu jualan burger kayak gini?" tanya Bu Devi.
"Maaf Bu, tapi saya masih belum ada keinginan untuk menikah," ucap Maudy.
"Halah, alasan apa lagi kamu kali ini. Lagian nih ya kamu kan udah lulus kuliah tinggal kerja aja kan, nanti kamu kerjanya setelah nikah sama Juan anak saya. Saya bakal pastikan kamu di terima di perusahaan atau tempat manapun yang kamu mau," ucap Bu Devi.
"Sekali lagi, maaf Bu. Tapi, saya benar-benar tidak ada keinginan untuk menikah dalam waktu dekat ini, lagipula saya juga yakin kalau Juan anak Bu Devi pasti dapat perempuan yang lebih baik dan perempuan dari keluarga yang statusnya setara dengan keluarga Bu Devi," ucap Maudy.
"Kamu itu ya, udah miskin masih aja sombong. Awas aja ya kamu nanti kalau Juan udah nikah saya bakal buat kamu dan keluarga kamu sengsara karena menolak lamaran ini," ucap Bu Devi.
Sebelum pergi, Bu Devi terlebih dahulu menghampiri Maudy. "Kamu itu cuma anak orang miskin, jadi jangan belagu," bisik Bi Devi lalu mendorong Maudy hingga terjatuh dan setelah itu Bu Devi pun pergi.
Maudy berusaha untuk bangkit, "Apa yang sebenarnya di rencanakan tuhan untuk orang miskin kayak aku?" tanya Maudy pada dirinya sendiri.
Hari mulai malam dan Maudy pun harus pulang karena jika tidak maka ia tidak akan berani pulang, "Jalanan daerah sini memang sepi sih, jadi wajar kalau jualanku gak habis," gimana Maudy dan mendorong gerobaknya sampai rumah.
Sesampainya di rumah, Maudy pun merapikan barang dagangannya. "Kok gak habis?" tanya Bapak Ruslan.
"Tadi Maudy di usir sama Bu Nanda Pak, makanya gak habis," ucap Maudy.
"Terus kamu jualan dimana?" tanya Bapak Ruslan.
"Di dekat sekolah dasar Pak," ucap Maudy.
"Kok jualan di sana sih, di sana kan memang sepi. Besok kamu jualan di tempat lain aja jangan di sana," ucap Bapak Ruslan.
"Iya, Pak. Nanti Maudy cari tempat yang cocok buat jualan," ucap Maudy dan diangguki Bapak Ruslan.
"Makanya kamu jangan deket-deket sama Sersan Nial lagi, kalau kayak gini kan bukan cuma kamu yang susah. Tapi, Bapak juga," ucap Bapak Ruslan.
"Iya, Pak," jawab Maudy.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Eko Sujatno
lanjutken Thor,,,,,,
2024-01-04
1