Malam harinya Nial memutuskan untuk pergi ke rumah Maudy sendirian, dalam perjalanan Nial begitu gugup karena untuk pertama kalinya ia akan berbicara serius dengan Bapak Ruslan.
"Gapapa, gue cuma tanya masalah Maudy yang pergi karena ancaman Bu Nanda bukan untuk urusan lain," gumam Nial.
Beberapa saat kemudian, Nial pun sampai di depan rumah Bapak Ruslan dan ia pun mengetuk pintu rumah tersebut lalu Bapak Ruslan membukakan pintu.
"Loh Sersan Nial," sapa Bapak Ruslan yang terkejut melihat Nial ada di hadapannya.
"Selamat malam Pak," sapa Nial.
"Selamat malam Sersan Nial, ada apa ya Sersan Nial malam-malam ke sini?" tanya Bapak Ruslan.
"Saya ingin bertanya mengenai Maudy Pak," ucap Nial.
"Sudahlah Sersan Nial tidak usah lagi membahas Maudy, Maudy saat ini sedang bekerja," ucap Bapak Ruslan.
"Apa Maudy kerja di kota Pak?" tanya Nial.
"Saya tidak dapat memberitahukannya pada Sersan Nial, yang jelas Maudy sudah bekerja dan saya berharap untuk Sersan Nial tidak membahas mengenai Maudy lagi," ucap Bapak Ruslan.
"Apa karena Bu Nanda?" tanya Nial.
Bapak Ruslan pun menatap Nial, ia cukup terkejut karena Nial membahas mengenai Bu Nanda saat ini Bapak Ruslan berpikir apa Nial tau mengenai masalahnya dengan Bu Nanda, "Semua tidak ada sangkut pautnya dengan Bu Nanda," ucap Bapak Ruslan gugup.
"Saya tau mengenai ancaman Bu Nanda pada keluarga Pak Ruslan dan karena itu Maudy pergi dari sini," ucap Nial.
"Walaupun Bu Nanda tidak mengancam keluarga saya, tapi Maudy memang harus pergi bukan karena dia diterima kerja," ucap Bapak Ruslan.
"Tapi, kenapa Pak Ruslan terkesan menutupi semuanya?" tanya Nial.
"Saya tidak menutupinya pada orang lain, tapi maaf saya tidak bisa memberitahukannya pada Sersan Nial," ucap Bapak Ruslan.
"Kenapa?" tanya Nial.
"Saya tidak dapat memberitahukannya, tapi yang jelas saya mohon pada Sersan Nial untuk berhenti peduli pada Maudy ataupun keluarga saya," ucap Bapak Ruslan.
"Tapi, apa salahnya saya peduli dengan Maudy atau keluarga Bapak?" tanya Nial.
"Ya, jelas itu salah! Mungkin bagi Sersan Nial itu tidak masalah, tapi bagi saya itu adalah masalah. Sudah jam setengah 9 saya dan keluarga saya butuh istirahat lagipula saya dengar Sersan Nial besok harus kembali bukan, kalau begitu anggap saja ini sebagai salam perpisahan dari saya," ucap Bapak Ruslan.
"Huh, baiklah jika memang Pak Ruslan inginnya begitu. Saya permisi," pamit Nial dan pergi dari rumah tersebut.
"Bapak kenapa kayak gitu ke Sersan Nial?" tanya Caca.
"Bapak cuma gak mau keluarga kita terjerat sama keluarganya Sersan Nial yang jelas berbeda dari kita. Kita harus sadar diri terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh," ucap Bapak Ruslan.
"Caca sih terserah Bapak aja," ucap Caca.
Sedangkan, Nial pulang dengan hampa karena ia tidak mendapatkan apa-apa dari kedatangannya ke rumah Maudy.
"Kenapa?" tanya Brandon.
"Gak kenapa-napa," ucap Nial.
"Gue udah kenal sama lo gak cuma satu atau dua tahun, gue tau kalau lo sekarang lagi galau, pasti gara-gara Maudy. Sesuka itu ya lo sama Maudy sampe lo galau kayak gini gara-gara ditinggal Maudy," ucap Brandon.
"Gue gak mau bahas ini," ucap Nial.
"Oke, kalau gitu lebih baik lo istirahat dan siapin buat besok," ucap Brandon.
.
Pagi harinya Nial dan rekan-rekannya pun sudah kembali ke kota dan saat ini mereka sudah sampai di kantor militer untuk pengecekan dan setelah itu mereka pun akan kembali ke rumah masing-masing dan libur beberapa hari setelah itu mereka kembali ke kantor dan bertugas seperti biasanya.
"Akhirnya gue bisa ketemu sama ayang gue," ucap Bian.
"Kok mau ya si ayang sama lo," ucap Bobby.
"Biasa lah ayang pasti di jampi-jampi sama tuh orang," ucap Yudha.
Sekedar info saja nama pacar Bian bernama Rita dan dipanggil ayang bisa dibilang nama panggilan sejak kecil. Bian pun sudah biasa dan tidak masalah karena memang Rita kenal dengan rekan-rekannya terlebih dahulu dan setelah itu teman-teman Bian terutama Yudha yang menjodohkan Bian dan Rita lalu setelah beberapa Minggu mereka kenal barulah mereka meresmikan hubungan mereka.
"Tapi, dari kita semua yang paling seneng itu Nial," ucap Bobby.
"Kenapa gue?" tanya Nial.
"Ya lah karena lo bisa cari Maudy kan," ucap Bobby.
"Gak ada hubungannya ya, lagian buat apa gue cari Maudy?" tanya Nial.
"Siapa tau buat dilamar gitu," ucap Bobby.
"Aneh, jangan mikir yang gak-gak, gue sama Maudy ga ada hubungan apa-apa," ucap Nial.
"Iya iya percaya kok," ucap Yudha.
"Kak Nial, Elvan bareng dong pulangnya," ucap Elvan, yang baru saja datang.
"Kenapa gak pulang sendiri?" tanya Nial.
"Gak kak, soalnya Mama lagi di rumahnya uncle Alan," ucap Elvan.
"Yaudah, ayo," ucap Nial.
"Okey kak," ucap Elvan.
"Gue duluan," pamit Nial.
"Iya, hati-hati," ucap Bobby.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di rumah Ayah Alan, di sana bukan hanya ada keluarga Nial, tapi juga sahabat-sahabat Ayah Alan dan Bunda Rea dan siapa lagi jika bukan orangtua Elvan.
"Mama!" teriak Elvan yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.
"Astaga anak Mama!" teriak Tante Qilla yang tak kalah heboh dari anaknya.
"Ck, gak anak gak Ibu sama aja," ucap Bunda Rea.
"Biarin sih," ucap Tante Qilla.
"Sayang," panggil Bunda Rea dan memeluk Nial.
"Gimana keadaan Bunda?" tanya Nial.
"Bunda baik dong," ucap Bunda Rea.
"Daisy gak bikin ulah kan Bun?" tanya Nial.
"Gak ya, aku gak bikin ulah kayak Kakak," ucap Daisy.
Ya, meskipun Nial dan Daisy kembar, tapi Daisy memanggil Nial dengan sebutan Kakak karena Ayah Alan yang mengajarkannya sejak kecil sehingga Daisy sudah terbiasa memanggil Nial dengan sebutan Kakak, kalaupun Daisy memanggil nama saja itu artinya Daisy tengah marah dengan Nial. Tapi, tetap saja hal itu hanya beberapa saat karena Daisy sudah terbiasa memanggil Nial dengan sebutan Kakak.
"Daisy gak bikin ulah kok, kalaupun Daisy bikin ulah masih ada Ayah kamu," ucap Bunda Rea.
"Bunda mah," ucap Daisy dan Bunda Rea pun tersenyum melihatnya.
"Kak Lea, gimana keadaan Kak Lea?" tanya Nial dan menghampiri Kak Lea lalu memeluk Kakaknya yang duduk di salah satu sofa single yang ada di ruang tamu.
"Kakak baik kok," ucap Kak Lea.
"Kok Kak Lea tambah gemuk sih?" tanya Nial.
"Jadi, Kakak tambah gemuk ya," ucap Kak Lea, dengan berkaca-kaca.
"Eh, gak gitu Kak. Tapi, Kak Lea tetep cantik kok," ucap Nial.
"Tapi, Kakak tetep gemuk?" tanya Kak Lea.
"Iya, Kak Lea sedikit gemuk, tapi beneran cuma sedikit kok," ucap Nial.
"Iyalah kan Kak Lea lagi hamil makanya tambah gemuk," ucap Daisy.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Eko Sujatno
lanjutken Thor,,,
2024-01-07
1
dekk du
Alhamdulillah,,,
semangat author up nya
2024-01-06
1