Tunggu!

Pagi-pagi sekali Maudy sudah bersiap-siap karena hari ini ia akan pergi ke kota untuk melakukan wawancara di salah satu sekolah yang ada di kota A.

"Pak, Maudy berangkat dulu ya," pamit Maudy.

"Iya," jawab Bapak.

"Jangan lupa bawain oleh-oleh, Kak," ucap Caca.

"Kakak di kota A bukan untuk liburan, tapi untuk wawancara," ucap Maudy.

"Tapi, tetep aja Kak Maudy itu ke kota A bukan. Pokoknya Caca mau oleh-oleh, entah itu makanan atau pakaian," ucap Caca.

"Dek...," ucapan Maudy terhenti lantaran Bapak menyelanya.

"Tinggal kamu beliin aja apa susahnya sih Maudy, lagian kan Adek kamu itu cuma minta oleh-oleh," ucap Bapak.

"Iya, Pak," ucap Maudy dan setelah itu ia pun pergi.

Maudy pun sampai di terminal, Maudy memang menggunakan Bus untuk ke kota A karena hanya itu transportasi yang dapat ia gunakan.

Tak lama kemudian, Maudy pun masuk ke dalam Bus yang akan mengantarkan dia menuju kota A.

"Mau ke kota A ya nak?" tanya seorang nenek.

"Iya, Nek. Nenek juga mau ke kota A?" tanya Maudy.

"Iya, Nenek kangen sama cucu Nenek. Makanya Nenek ke kota A," ucap Nenek tersebut.

"Nenek udah kabarin kerabat yang ada di kota A?" tanya Maudy.

"Udah, mereka udah tau kalau Nenek mau ke sana. Nanti Nenek di suruh nunggu di ruang tunggu katanya," ucap Nenek tersebut dan diangguki Maudy.

"Kalau kamu sendiri asli dari kota A ya?" tanya Nenek tersebut.

"Bukan Nek, saya asli kota X," ucap Maudy.

"Terus merantau di kota A?" tanya Nenek tersebut.

"Ya, bisa di bilang begitu. Sebenarnya saya mau wawancara di kota A," ucap Maudy.

"Oh begitu, semoga kamu diterima ya," ucap Nenek tersebut.

"Amin," jawab Maudy.

Kurang lebih 6 jam perjalanan dari rumah Maudy menuju kota A dan akhirnya Maudy pun sampai di kota A.

"Panas banget, tapi gapapa," gumam Maudy.

Maudy pun mencari ojek untuk menuju tempat wawancara. Setelah mendapatkan ojek, Maudy pun langsung menuju tempat wawancara.

"Terima kasih Pak," ucap Maudy dan memberikan uang pada ojek tersebut.

"Akhirnya sampai juga," gumam Maudy.

"Maaf Pak, saya mau tanya. Apa wawancara untuk guru baru masih bisa?" tanya Maudy pada satpam.

"Oh iya Mbak, silahkan masuk. Di sana sudah ada beberapa yang wawancara juga," ucap satpam.

"Terima kasih Pak," ucap Maudy.

Skip wawancara...

"Baiklah, untuk informasi selanjutnya akan diberitahukan melalui email," ucap Bu Nindy.

"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Maudy dan diangguki Bu Nindy.

"Sayang banget ya, kalau ke kota A gak jalan-jalan dulu. Apalagi ini masih jam 1, tapi mau kemana ya, aku kan gak tau kota A," gumam Maudy.

"Udahlah, jalan-jalan aja dulu. Lagipula aku kan bilangnya pulang nanti malam, jadi masih ada waktu terus sekalian beliin buat Caca juga," lanjut Maudy.

Maudy sengaja menaiki Bus untuk menuju pasar yang ada di kota A, Maudy lebih memilih membeli barang di pasar karena harganya yang lebih murah di bandingkan membeli di pusat perbelanjaan yang ada di kota A.

Tak lama setelah itu, Maudy pun sampai di pasar dan ia langsung memilih oleh-oleh yang akan ia bawa untuk Caca.

Setelah membeli beberapa barang, Maudy kembali menaiki Bus menuju terminal tentunya.

Saat tengah di dalam Bus, Maudy merasa risih saya seorang pria asing yang terus mendekat kearahnya.

Sebenarnya Maudy ingin menegur, tapi Maudy takut karena ia hanya orang baru di kota A.

'Aduh, ini gimana ya, masa aku harus diam aja sih,' ucap Maudy dalam hati.

Akhirnya, Maudy pun memberanikan diri untuk bersuara. Namun, sebelum Maudy bersuara tiba-tiba seorang pria bersuara terlebih dahulu.

"Silahkan duduk di tempat saya," ucap pria tersebut.

"Terima kasih, tapi itu kursi Mas nya," ucap Maudy yang merasa tidak enak karena harus duduk di tempat duduk pria asing tersebut.

"Jadi anda lebih memilih pria yang ada di belakang anda terus melecehkan anda?" tanya pria tersebut yang bernama Nial.

(Gak usah dijelasin lagi lah ya siapa itu Nial, kalau ada yang gak tau langsung baca Tentara Tampanku yg S2. Di sequel kali ini author lebih banyakin latar belakang gimana hubungan Nial sama Maudy atau sudut pandang dari Maudy ya)

"Tidak, terima kasih karena sudah memperbolehkan saya duduk," ucap Maudy dan duduk di kursi yang duduki Nial tadi.

Nial berdiri di depan pria yang tadi melecehkan perempuan tersebut, Nial membalikkan badannya.

"Nanti akan ada tim keamanan yang datang untuk menindaklanjuti tindakan yang baru saja anda lakukan, jadi jangan berusaha kabur karena sekarang anda sudah memiliki gelang yang bisa melacak keberadaan anda," ucap Nial, dengan mengangkat tangan pria tersebut.

Entah sejak kapan gelang tersebut terpasang di tangan pria tersebut, "Apa maksudmu?" tanya pria tersebut.

"Semua tindakan kejahatan akan mendapatkan balasan yang setimpal bukan, dan pelecehan termasuk hal yang sangat meresahkan dan harus ditindaklanjuti," ucap Nial.

"Tapi, saya hanya masyarakat kecil yang tidak memiliki apa-apa, saya tidak ingin di hukum," ucap pria tersebut, dengan wajah memelasnya.

"Biarkan majelis hakim dan para juri yang menilai. Apa tindakanmu pantas di ampuni atau tidak di mata hukum," ucap Nial.

Sedangkan, semua orang yang ada di sana hanya menatap jengkel pada pria tersebut yang berani-beraninya melakukan pelecehan di dalam Bus dan menatap kagum pada Nial karena berhasil menangkap salah satu orang yang meresahkan bagi para perempuan tentunya.

Tak lama setelah itu, Bus pun berhenti dan pria tersebut langsung pergi entah kemana, nial tidak mempermasalahkannya karena yang jelas Nial sudah memasangkan gelang keamanan tersebut.

Memang Nial juga bekerjasama dengan polisi sehingga jika terdapat kejahatan maka ia bisa dengan langsung memberikan gelang tersebut agar dapat dilacak oleh pihak kepolisian.

Beberapa saat kemudian, Bus yang ia tumpangi pun berhenti ditempat pemberhentiannya, Nial pun keluar dari Bus dan berjalan kaki menuju rumahnya.

Saat melihat sang malaikat penolong keluar dari Bus, Maudy pun langsung mengikuti Nial yang berjalan cukup cepat.

"Tunggu!" teriak Maudy.

"Iya, ada apa?" tanya Nial.

"Anda tidak ingat saya?" tanya Maudy.

"Anda siapa?" tanya Nial.

"Saya perempuan yang tadi anda tolong saat di dalam bus," ucap Maudy yang cukup terkejut lantaran Nial tidak mengenalinya.

"Oh iya, ada apa?" tanya Nial.

"Ini, sebagai ucapan terima kasih saya karena anda telah membantu saya, saya tidak tau harus bagaimana jika tidak ada anda tadi di sana," ucap Maudy dengan memberikan beberapa makanan yang tadi sempat ia beli di pasar.

"Tidak masalah dan ini saya kembalikan karena saya tidak suka makanan manis," ucap Nial yang mengembalikan makanan tersebut.

.

.

.

Tbc.

Episodes
1 Yakin Kamu?
2 Tunggu!
3 Siapa?
4 Burger
5 Cewek?
6 Biasa
7 Sadar Diri
8 Merasa Bersalah
9 Anterin
10 Jangan Belagu
11 Menghindar
12 Semangat Maudy!
13 Galau
14 Melaporkannya
15 Sanksi
16 Jelas Itu Salah!
17 Beneran Nial?
18 Mimpi Lo Ketinggian
19 Merasa Frustasi
20 Gak Ada Orang?
21 Lo Yakin?
22 Sakit
23 Maudy Bangun!
24 Siapa Mbak?
25 Kamu Suka Maudy?
26 Cantik Ya
27 Ayo Sadar!
28 Salah Paham Apa?
29 Saya Tidak Memiliki Pasangan
30 Kemana Kak?
31 Maksud Ayah?
32 Ini Rumahnya
33 Meminta Restu
34 Melamar
35 Jadi Istri Orang
36 Kamu Sangat Cantik
37 I Love You
38 Mau Jalan-jalan?
39 Ini Istri Saya
40 Kamu Gak Mau?
41 Maksud Bunda?
42 Resign
43 Makan Sendirian
44 Cuma Tidur Sayang
45 Rafiq?
46 Istri Saya Cantik!
47 Itu Siapa Mbak?
48 Seperti Maudy
49 Jawab!
50 Cerai?
51 Sudah Lihatnya?
52 Maudy Sakit
53 Sengaja Apa?
54 Sayang!
55 Ayo, Mbak!
56 Maudy Gapapa?
57 Tujuan Lain
58 Jahat Banget
59 Saingan Gue
60 Sumpah Mbak!
61 Diculik
62 Gak Bisa!
63 Bangun Sayang
64 Udah Sayang
65 Kenapa Mustahil?
66 Candaan Kamu Gak Lucu
67 Sahabat Maudy
68 Takut Kenapa?
69 Istri Kamu?
70 Bunga Mawar Merah?
71 Ngidam?
72 Biar Impas
73 Hutang?
74 Kenapa Berhenti Lagi?
75 Keluarga Kamu Juga Keluargaku
76 Jangan Dengerin
77 Jangan Lihat!
78 Terserah
79 Pak Guntur Siapa?
80 Saingan?
81 Nanti Bapak Jelasin
82 Bapak Gak Salah
83 Jelaskan Ke Kakak
84 Ganteng Banget
85 SELESAI
86 info penipuan
87 Istri Pengganti
88 Cinta Dalam Diam
89 Terjebak Cinta Mafia
90 Menikahi Kakak Sahabatku
91 Assalamualaikum Gus Faiz
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Yakin Kamu?
2
Tunggu!
3
Siapa?
4
Burger
5
Cewek?
6
Biasa
7
Sadar Diri
8
Merasa Bersalah
9
Anterin
10
Jangan Belagu
11
Menghindar
12
Semangat Maudy!
13
Galau
14
Melaporkannya
15
Sanksi
16
Jelas Itu Salah!
17
Beneran Nial?
18
Mimpi Lo Ketinggian
19
Merasa Frustasi
20
Gak Ada Orang?
21
Lo Yakin?
22
Sakit
23
Maudy Bangun!
24
Siapa Mbak?
25
Kamu Suka Maudy?
26
Cantik Ya
27
Ayo Sadar!
28
Salah Paham Apa?
29
Saya Tidak Memiliki Pasangan
30
Kemana Kak?
31
Maksud Ayah?
32
Ini Rumahnya
33
Meminta Restu
34
Melamar
35
Jadi Istri Orang
36
Kamu Sangat Cantik
37
I Love You
38
Mau Jalan-jalan?
39
Ini Istri Saya
40
Kamu Gak Mau?
41
Maksud Bunda?
42
Resign
43
Makan Sendirian
44
Cuma Tidur Sayang
45
Rafiq?
46
Istri Saya Cantik!
47
Itu Siapa Mbak?
48
Seperti Maudy
49
Jawab!
50
Cerai?
51
Sudah Lihatnya?
52
Maudy Sakit
53
Sengaja Apa?
54
Sayang!
55
Ayo, Mbak!
56
Maudy Gapapa?
57
Tujuan Lain
58
Jahat Banget
59
Saingan Gue
60
Sumpah Mbak!
61
Diculik
62
Gak Bisa!
63
Bangun Sayang
64
Udah Sayang
65
Kenapa Mustahil?
66
Candaan Kamu Gak Lucu
67
Sahabat Maudy
68
Takut Kenapa?
69
Istri Kamu?
70
Bunga Mawar Merah?
71
Ngidam?
72
Biar Impas
73
Hutang?
74
Kenapa Berhenti Lagi?
75
Keluarga Kamu Juga Keluargaku
76
Jangan Dengerin
77
Jangan Lihat!
78
Terserah
79
Pak Guntur Siapa?
80
Saingan?
81
Nanti Bapak Jelasin
82
Bapak Gak Salah
83
Jelaskan Ke Kakak
84
Ganteng Banget
85
SELESAI
86
info penipuan
87
Istri Pengganti
88
Cinta Dalam Diam
89
Terjebak Cinta Mafia
90
Menikahi Kakak Sahabatku
91
Assalamualaikum Gus Faiz

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!