Belum sempat Maudy pergi dari tempat tersebut seseorang sudah menahan tangannya, Maudy pun menatap orang tersebut yang mengenakan pakaian serba hitam serta menutup wajahnya dengan masker dan topi bahkan ia juga menggunakan kaca mata hitam.
"Ada apa ya?" tanya Maudy dengan penuh ketakutan, namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Kenapa kau di sini?" tanya orang tersebut.
"Ini jalanan umum, jadi wajar bukan kalau aku ada di sini, yakin kau siapa kenapa aku gak pernah lihat?" tanya Maudy.
"Bukan urusanmu," ucap orang tersebut.
"Kok songong, kan aku tanya baik-baik," ucap Maudy.
"Menarik, kayaknya kalau kau jadi mangsa oke juga nih," ucap orang tersebut.
"AAAAA! kau pasti preman kan," ucap Maudy.
"Tau juga," ucap orang tersebut.
"Tolong!" teriak Maudy.
"Percuma berteriak karena tempat ini jauh dari pemukiman," ucap orang tersebut.
Maudy benar-benar takut, jika terjadi sesuatu pada dirinya bagaimana, ia belum membahagiakan keluarganya dan yang terpenting ia belum bertemu jodohnya. Maudy memikirkan cara agar ia dapat kabur dari orang ini dan dengan cepat Maudy menggigit tangan orang itu.
Maudy membalikkan tubuhnya dan berlari menjauh dari orang tersebut, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba saja kepalanya terbentur ke dada bidang seseorang.
Sakit, itulah yang Maudy rasakan dan dengan cepat Maudy menatap orang yang menghadangnya.
"Sersan Nial," gumam Maudy yang begitu bahagia mendapati Nial ada di hadapannya.
Ya, pria yang berada di hadapannya saat ini adalah Nial, seseorang yang tidak seharusnya ia dekati atau ia temui.
"Sudah jangan bercanda," ucap Nial, menatap orang yang Maudy kira adalah preman.
Maudy pun menatap orang tersebut, "Ish, lo buat rencana gue gagal aja," ucapnya dan membuka masker serta kacamata dan topinya.
"Sersan Yudha," gumam Maudy.
"Halo Maudy, maaf ya pasti kamu takut ya tadi," ucap Yudha.
"Tidak apa-apa sersan, kalau begitu saya permisi," ucap Maudy dan pergi meninggalkan Nial dan Yudha.
"Ck, dasar gak peka ya lo," ucap Yudha dan memberikan isyarat pada Nial.
Namun, Nial tidak mengerti akan isyarat yang diberikan Yudha, "Apa?" tanya Nial.
"Anterin," ucap Yudha.
"Ngapain di anterin dia kan bisa pulang sendiri?" tanya Nial.
"Dai cewek loh, masa lo tega sih biarin dia pulang sendirian kalau ada apa-apa gimana mau lo tanggungjawab," ucap Yudha.
Entahlah apa yang terjadi pada Nial, ia pun menghela napasnya dan berlari menghampiri Maudy. Maudy yang masih berjalan menuju ke rumahnya terkejut saat Nial sudah berada di sampingnya.
"Ada apa sersan Nial?" tanya Maudy.
"Ayo saya antarkan," ucap Nial.
"Tidak perlu sersan, saya sudah biasa pulang sendirian lewat sini," ucap Maudy.
"Tidak apa-apa, biar saya antarkan," ucap Nial.
Maudy teringat bagaimana nasib keluarganya karena ia berdekatan dengan Nial dan mulai sekarang ia akan menjauh dari Nial dan melupakan rasa kagumnya pada sang tentara itu.
"Saya bilang tidak usah ya tidak usah!" ucap Maudy yang mulai meninggikan suaranya karena sikap keras kepala Nial.
Setelah mengatakan hal tersebut Maudy pun berlari, ia malu karena telah berteriak di depan Nial. Tapi, ia tidak punya pilihan lain, pikirannya saat ini hanya agar ia bisa menjauh dari Nial.
Sedangkan, Nial cukup terkejut karena ini adalah pertama kalinya perempuan berteriak di hadapannya kecuali Bunda Rea, Lea dan Daisy tentunya.
"Dia berteriak padaku, untuk pertama kalinya ada perempuan yang bernai membentakku selain keluargaku" gumam Nial.
Nial pun akhirnya membuntuti Maudy, meksipun Maudy sempat berteriak padanya, tapi sebagai pria ia tidak tega melihat perempuan harus pulang sendirian apalagi malam-malam seperti saat ini.
Setelah Maudy sampai di rumah dengan selamat barulah Nial pergi dan kembali ke pangkalan militer.
Disisi lain, Maudy melihat Bapak Ruslan yang masih menyiapkan beberapa bahan untuk berjualan besok.
"Bagaimana Caca udah ketemu?" tanya Bapak Ruslan.
"Caca ada di rumahnya Lita kok pak," ucap Maudy.
"Huh, syukurlah," ucap Bapak Ruslan.
"Besok Bapak istirahat aja ya biar Maudy yang jualan," ucap Maudy.
"Bapak gapapa kok," ucap Bapak Ruslan.
"Bukan itu, maksud Maudy itu. Bapak istirahat karena kan Bapak pasti capek karena harus menyiapkan pesanan yang cukup banyak, jadi biar besok Maudy yang antarkan pesanannya dan setelah itu Maudy yang berjualan. Bapak jualannya besoknya aja gimana Pak, biar gantian gitu?" tanya Maudy.
"Gapapa? Bapak gak ngerepotin kamu?" tanya Bapak Ruslan.
"Gak Pak, Bapak gak pernah ngerepotin Maudy kok," ucap Maudy.
"Yaudah, semuanya udah Bapak siapin besok kamu tinggal kirim pesanan dan jualannya aja," ucap Bapak Ruslan dan diangguki Maudy.
Setelah itu, Maudy pun masuk ke dalam kamar. "Capek banget, harusnya pengumumannya udah keluar, tapi kok sampai sekarang belum ada kabar ya," gumam Maudy.
"Apa aku gak diterima lagi ya, aku udah melamar kerja di beberapa sekolah. Tapi, belum ada kabar semuanya, bener kata Caca aku justru jadi beban padahal aku kuliah ingin membuat keluargaku bangga. Tapi, sepertinya gak ada yang bangga dengan pencapaianku, percuma jadi lulusan terbaik kalau belum bekerja. Maafin Maudy ya Kak karena belum bisa bahagiain keluarga, Kakak pasti kecewa ya sama Maudy, Maudy janji Maudy bakal berusaha lebih keras lagi supaya keluarga kita bahagia kayak dulu sebelum Kakak pergi hiks hiks," lanjut Maudy yang tidak bisa menahan tangisnya.
Baru saja mau terlelap tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan cukup keras dan membuat Maudy membuka matanya.
"Caca, ada apa? Bukannya kamu ada di rumahnya Lita ya?" tanya Maudy.
"Ini penting, jangan kasih tau Bapak sama Ibu," ucap Caca dan masuk ke dalam kamar Maudy lalu mengunci pintu kamar tersebut.
"Ada apa?" tanya Maudy.
"Kakak deket sama Sersan Nial?" tanya Caca.
"Gak, Kakak gak deket. Cuma waktu itu sersan Nial pernah beli burger aja mungkin karena itu banyak yang ngira Kakak deket sama Sersan Nial," jawab Maudy.
Bukannya menjawab, Caca justru berbicara dengan seseorang melalui teleponnya.
^^^Kan, apa gue bilang kalau Kak Maudy gak mungkin deket sama Sersan Nial lo denger sendiri kan tadi, jadi lo gak usah khawatir karena Kakak gue ini gak pantes buat jadi saingan lo.^^^
Syukurlah, gue takut banget kalau ternyata Kakak lo deket sama Sersan Nial kayak yang dibilang orang-orang.
^^^Gak mungkin, btw jangan lupa ya uangnya.^^^
Gampang kalau itu, di tempat biasa ya.
^^^Siap.^^^
Setelah itu, Caca pun memutuskan sambungan telepon tersebut. "Kenapa?" tanya Caca saat Maudy menatap dirinya.
"Maksud kamu apa nanya Kakak soal tadi?" tanya Maudy yang penuh selidik pada sang Adik.
"Bukan apa-apa, Kak Maudy gak perlu tau," ucap Caca.
"Kamu nyebar fitnah lagi?" tanya Maudy.
"Enak aja, jadi gini ya. Karena Kakak gak bisa ngasih aku uang makanya aku cari sendiri," ucap Caca.
"Tunggu, jangan bilang kalau kamu ngasih informasi tadi dan kamu di bayar?" tanya Maudy.
"Betul sekali, lumayanlah ya buat informasi kayak gitu dapat lima ratus ribu," ucap Caca dengan bangga.
"Caca, kamu gak boleh kayak gitu," ucap Maudy.
"Nyenyenye, banyak b*cot gak bisa ngasih uang aja ngomongnya kayak orang bener," ucap Caca dan keluar dari kamar Maudy.
'Sabar Maudy, Caca itu dulu dimanja sama Kak Chelsea jadi wajar kalau sekarang dia masih belum bisa melepaskan sifat kekanak-kanakannya,' ucap Maudy dalam hati.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
dekk du
adik nggk tau diri nih si Caca,,,
2024-01-03
1
Eko Sujatno
lanjutken Thor,,,,,
2024-01-03
1
fhittriya nurunaja
kelakuanmu ca 😡
2024-01-03
1