“Yang mulia, maaf karena telah mencoba menemui Anda secara mendadak.” Ucap Xin Qingqi berdiri berhadapan dengan Xiao Jinwu bersama dengan An Ding di sebelahnya.
“Tidak masalah. Katakana pendeta, adakah yang perlu kau sampaikan padaku?” tanya Xiao Jinwu.
“Tujuan saya kemari bukan untuk memberi kabar yang baik tetapi, ini mengenai kabar Nyonya Xin yang belakangan ini membuat saya khawatir.”
“Maksudmu Xiao Liufei? Apa yang terjadi padanya?” Xiao Jinwu terlihat tertarik dengan kabar yang dibawakan oleh Xin Qingqi sampai ia berdiri dari atas singgasananya.
Xin Qingqi melanjutkan, “Kesehatan Nyonya Xin menurun setelah Xin Huanran sakit dan hingga sekarang ia masih belum mendapatkan kesadarannya kembali. Saya khawatir, sesuatu yang buruk akan menimpa Nyonya Xin dan Huanran kalau kejadian ini terus menerus terulang. Karena itu, saya memohon pada Yang mulia agar Yang mulia mau membujuk Nyonya Xin agar ia mau menyentuh makanannya.”
“Apa yang terjadi pada Huanran? Mengapa dia sampai tidak sadarkan diri selama berhari-hari?”
“Saya tidak begitu mengetahui apa penyebabnya Yang mulia. Tetapi, sebelum dia hilang kesadaran sepenuhnya, saya sempat melihatnya bertabrakan dengan seorang pria yang tidak dikenalnya. Lalu, entah kenapa dia seketika mematung dan terlihat seperti sangat ketakutan. Setelah itu, aku membawanya pulang ke rumah untuk diobati akan tetapi, tabib yang ada di rumah kami mengatakan bahwa itu adalah demam biasa dan serangan panik. Akan tetapi, demam itu membuat Xin Huanran menjadi tidak sadarkan diri selama berhari-hari.”
Xiao Jinwu menghela nafasnya. Semua itu sudah terbayangkan di kepalanya terlebih, Xiao Liufei dan semua keluarga Xin telah menjadi bagian dari keluarganya. Ia tentu tidak bisa membiarkannya begitu saja dan menelantarkannya. Harus ada sesuatu yang bisa dilakukannya meskipun itu adalah hal yang kecil.
“Aku akan segera ke sana untuk memperbaikinya.”
Berbeda dengan suasana di istana. Di medan perang saat ini, para pasukan dari negara Shaanxi dan negara Shibuye sedang bertarung habis-habisan dengan banyak darah dan mayat yang bergelimpangan di semua tempat dan wilayah. Xin Lianshi telah melepas kuda tunggangannya dan memutuskan untuk berlari, melawan semua pasukan-pasukan musuh yang ada di depannya. Pelipisnya berdarah serta terdapat banyak luka sayat yang ada di tubuhnya. Beruntungnya, tidak ada satupun luka yang berhasil menusuk atau melukai area vitalnya.
Sedikit lagi mereka bisa menguasai wilayah musuh. Mereka hanya tinggal membunuh jenderal yang memimpin pasukan-pasukan lawan. Hamparan rumput yang luas kini tergenang oleh banyaknya darah yang datang dari tebasan pedang seorang pasukan yang gagah. Sebagian mereka ada yang memilih untuk mundur karena sudah terluka cukup parah dan sebagian lagi ada yang pergi meninggalkan medan perang untuk melihat keluarganya. Beberapa juga ada yang berkhianat demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Tentu kejadian itu membuat Xin Lianshi menjadi jengkel sehingga ia melarang siapapun meninggalkan tenda saat malam atau pergi meninggalkan medan perang jika tidak ada sesuatu yang penting untuk dilakukan.
“Jenderal! Kami sudah tidak sanggup lagi jenderal! Tolong lepaskan kami!” ucap salah seorang pasukan yang berdiri di tengah-tengah pasukan lain dengan luka di tubuh mereka yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka parah yang ada di tubuh Xin Lianshi.
Xin Lianshi menghela nafasnya. Padahal hanya tinggal sedikit lagi, mereka akan bisa mengalahkan pasukan lawan. Akan tetapi, semua pasukan-pasukannya telah menyerah lebih dulu sebelum mereka menang. Ia memandang mereka dengan tatapan sedih. Ia juga tahu bagaimana perasaan mereka ketika turun ke medan perang untuk yang pertama kalinya bahkan untuk yang ke sekian kalinya. Pasti yang ada di pikiran mereka hanyalah keluarga dan orang tua mereka.
“Aku bisa mengerti bagaimana perasaan kalian saat turun ke medan perang. Tentu kalian harus berdarah-darah untuk mempertahankan negara kelahiran kalian. Kehilangan keluarga kalian? Tentu aku pernah mengalaminya bahkan terjadi di depan mataku saat melihat kepala Ayahku dipenggal di depan pasukan kami. Aku mati-matian melawan mereka demi membalaskan dendam Ayahku sampai-sampai aku tidak bisa berjalan selama beberapa bulan. Aku pun pernah gagal dalam mempertahankan wilayahku sendiri. Karena itu, aku tidak pernah berani untuk menjadi seorang kepala keluarga jika aku sendiri tidak pernah bisa melindungi wilayahku sendiri. Karena itu, aku mengerti dan sangat mengerti apa yang kalian rasakan. Tentu aku takut pada kematian akan tetapi, aku lebih takut melihat keluargaku yang berada di rumah dan pasukanku dibantai habis-habisan oleh pasukan lawan. karena itu, lebih baik akulah yang mati lebih dulu daripada kalian semua ketika kita sudah terpojok.” Ucap Xin Lianshi.
“Kalau begitu, kau saja yang bertarung di depan sana! Kami tidak sanggup untuk berjalan lagi! Kau ini kuat! Kau pasti bisa membunuh mereka sendirian daripada hanya bermulut besar dan terus memerintah kami!”
Mendengar itu membuat Xin Lianshi menjadi sangat sedih namun ia tidak menunjukkannya pada mereka. Hanya ada beberapa orang yang berdiri beriringan dengannya yang bahkan jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang. Ia sangat ingin membunuh orang yang seperti ini akan tetapi, ia tidak ingin membuat pasukannya sendiri merasa sangat ketakutan padanya.
Ketika ia ingin mengatakan sesuatu, sebuah anak panah melesat ke arahnya dan langsung menembus bagian bahunya hingga ia tidak bisa mengangkat tangan kanannya lagi. Xin Lianshi menjadi sangat terkejut. Anak panah ini, tidak lain berasal dari pasukannya sendiri. Entah apa alasannya. Laki-laki itu menunjukkan ekspresinya yang terlihat kesal namun juga terlihat sedih. Ia adalah orang yang tidak terbiasa melihat kematian di depan matanya sendiri hingga ia melampiaskan amarahnya pada Xin Lianshi dengan melepaskan anak panah ke arah nya.
“Apakah kau sudah gila? Bagaimana mungkin kau melukai jenderal mu sendiri?!” bentak seorang pasukan yang berdiri tepat di sebelah Xin Lianshi.
“Sudah, jangan memarahinya karena aku juga tidak akan melakukannya. Ini semua adalah salahku karena telah mengambil kalian semua yang belum siap terjun ke medan perang. Padahal, saat berangkat kemarin, kalian semua memasang wajah senang seolah akan menghadiahkan pada negara ini sebuah kemenangan. Akan tetapi, sepertinya ekspektasi ku terlalu berlebihan terhadap kalian.” Xin Lisnshi berhenti sejenak sembari mencabut anak panah yang menusuk dirinya hingga darahnya tercecer di atas tanah. “… kalau kalian ingin pulang tanpa membawa kemenangan baiklah, kalian bisa pergi. Titipkan salamku pada Yang mulia kaisar dan juga Xiao Liufei kalau aku tidak akan kembali dengan selamat dan tanpa meninggalkan jasad. Mungkin mayatku akan dibuang ke hutan untuk dijadikan santapan hewan-hewan buas yang ada di sana.”
Beberapa orang seketika terdiam sembari mengalihkan perhatiannya. Setelah itu, mereka mendengar suara langkah kuda yang begitu banyak yang berarti para pasukan dari negara Shibuye Bersiap untuk menyerang! Xin Lianshi pun dengan segera berbalik ke belakang, menatap para pasukan perang Shibuye yang hendak menyerang balik mereka dengan senjata dan peralatan perang yang masih lengkap. Hanya dengan beberapa pasukannya yang tidak sampai sepuluh orang, Xin Lianshi tidak yakin dirinya akan kembali dengan selamat.
Xin Lianshi menatap ke atas kemudian berkata pada dirinya sendiri, “Maafkan aku, Liufei. Sepertinya kau harus mengurus Ran’er seorang diri.” Ucapnya sembari memejamkan matanya.
Setelah melakukannya, ia pun langsung membuka matanya begitu mendengar suara langkah kaki yang beriringan masuk ke dalam barisannya. Suara langkah kaki yang tidak sedikit itu membuatnya terkejut dan seketika saat itu juga ia pun melihat sekitar dan menatap semua pasukannya sedang berdiri mengitarinya. Ia begitu terkejut bahkan sampai terdiam begitu melihatnya. Tidak disangka, orang-orang ini bisa berubah dengan cepat meski sebelumnya ia sempat kesulitan untuk membujuk mereka.
“Maafkan kami jenderal. Sesungguhnya kami hanya takut pada kematian sementara kami belum melakukan apapun untuk keluarga kami yang berada di rumah. Kami bahkan sudah melupakan jenderal yang bahkan sudah hidup di medan perang ini selama bertahun-tahun dibandingkan dengan kami yang belum pernah merasakan kemenangan.” Ucap salah seorang.
Mendengar suara ini membuat Xin Lianshi merasa sedikit senang. Ia mengusap kedua matanya kemudian menghela nafasnya, “Baiklah, terima kasih sudah percaya padaku. Di akhir cerita nanti, kita pasti akan memenangkan peperangan ini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments