Xin Huanran memutuskan untuk kembali ke rumahnya setelah memastikan Xiao Xinshu kembali ke istana. Sebelumnya ia terkejut dengan pertanyaan Xiao Xinshu yang seolah mengartikan bahwa dirinya akan menjadi seorang penjahat di masa depan nanti. Sepanjang perjalanannya kembali ke kediaman, ia terus memikirkan. Bahkan ia tidak lagi tertarik pada pasar-pasar yang menyediakan begitu banyak makanan manis dan pedas. Ia hanya bercerita sedikit mengenai kunjungannya ke kuil dewi peramal akan tetapi, Xiao Xinshu berkata seolah ia dulu pernah menyaksikan dirinya berada di dalam kuil itu untuk berdoa.
“Ahh! Kesal! Bagaimana dia tahu semuanya? Apakah aku yang terlalu kepikiran? Bisa saja ia tidak sengaja mengatakannya. Kalau sudah begini, aku tidak akan pernah kembali ke istana lagi.” Gumam Xin Huanran.
Xin Huanran terus berjalan sembari memikirkannya sampai ia tidak memperhatikan keadaan yang ada di sekitarnya. Tanpa sengaja ia menabrak seorang laki-laki tinggi dan besar yang berjalan berlawanan dengannya. Xin Huanran sampai harus terdorong ke belakang dan terjatuh saking kerasnya dorongan yang diberikan laki-laki itu. Ia terlalu terkejut sampai ia tidak begitu memperhatikan orang yang sudah ditabraknya.
Dengan perawakan tinggi dan berotot besar, laki-laki itu memiliki tatapan yang terlihat sedih dan pilu. Rambutnya yang Panjang tampak terlihat acak-acakan seperti baru saja dihempas oleh kencangnya angin yang berhembus saat badai gurun. Ia memiliki wajah yang pucat dan tidak bernyawa. Orang-orang akan melihat dirinya seperti sebuah boneka hidup yang tidak memiliki ekspresi. Namun, semua itu berbeda dengan Xin Huanran yang melihatnya seperti sedang melihat mayat berjalan.
Kedua tangannya bahkan terlihat gemetaran dan kulitnya seketika berubah menjadi pucat begitu ia melihat sosok asli dibalik manusia ini. Sungguh mengerikan! Untuk pertama kalinya ia melihat sosok iblis yang bisa mengambil alih tubuh manusia! Wujud yang sebenarnya ia adalah iblis yang memiliki banyak kepala dan banyak tangan juga tubuhnya yang mirip seperti tubuh kalajengking dengan ekornya yang sangat berbisa. Dari empat wajahnya, semuanya menunjukkan ekspresi manusia yang bermacam-macam bahkan semua ekspresi yang biasa ditunjukkan oleh manusia juga terbentuk di sana. Kekuatannya jelas melebihi apapun bahkan seisi dunia akan hancur jika iblis ini mengeluarkan semua kekuatannya. Akan tetapi, iblis ini malah meniru seorang manusia dan tanpa ditakuti oleh orang-orang di sekitarnya.
Karena rasa takutnya yang berlebih, mulut Xin Huanran enggan untuk terbuka bahkan untuk berteriak saja ia masih belum bisa melakukannya seolah iblis ini melakukan sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengatakan apapun. Ketakutannya terlihat pada keringatnya yang terus bercucuran dari atas kepalanya juga dengan caranya menatap iblis berwujud manusia yang masih berdiri di depannya.
“Ran’er! Apa yang kau lakukan di sana?”
Seorang Wanita muda bersama dengan seorang pemuda datang menghampirinya dan langsung membantunya berdiri kembali meskipun menatap iblis di depannya sudah membuat kedua kakinya menjadi lumpuh. Begitu Wanita ini datang, iblis tadi langsung melanjutkan perjalanannya setelah ia membuat Xin Huanran mengalami ketakutan setengah mati.
“Ran’er! Apa yang kau lihat? Ran’er!”
Xin Huanran tiba-tiba terbangun dalam ketakutannya. Ia menatap Wanita muda yang ternyata adalah bibinya, Xin Qingqi yang datang bersama An Ding saat mereka berdua secara kebetulan melihatnya terjatuh dan terus terdiam sembari menatap ke arah laki-laki asing tadi. Karena merasa aneh, Xin Qingqi berinisiatif untuk menghampirinya meski sebelumnya ia merasa cukup terkejut dengan hawa kekuatan yang dimiliki oleh laki-laki aneh tadi. Jelas ia merasakan kalau orang itu bukanlah manusia. Ia hanya bisa memperkirakannya karena ia tidak bisa melihat wujudnya seperti Xin Huanran.
“Kenapa Ran’er? Apa yang kau lihat?” tanya Xin Qingqi sekali lagi.
Wajah Xin Huanran masih terlihat pucat dan berkeringat. Xin Qingqi berusaha untuk mengelapnya dengan selembar kain akan tetapi, ia terus saja berkeringat seperti tidak aka nada habisnya. Kejadian ini tentu membuat Xin Qingqi merasa khawatir dan cemas. Ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya lagi selain membawanya pulang ke rumah. Akan tetapi, saat ia hendak mengatakan sesuatu, lagi-lagi hidung Xin Huanran berdarah dan membuatnya sangat terkejut.
“Ran’er! Kau sangat parah sekali Ran’er. Kemari Lah, aku akan membawamu pulang.”
Xin Qingqi yang panik setelah melihat keadaan keponakan laki-lakinya mencoba untuk membawanya. Akan tetapi, An Ding yang berada di belakangnya tidak membiarkan hal itu terjadi di depannya. Dengan penuh pengertian, ia menggantikan Xin Qingqi untuk membawa pulang keponakannya. Dengan mudah, ia membawanya tanpa mendapatkan perlawanan dari Xin Huanran. Ia sudah terlalu lemah dan bahkan ia merasa tidak bisa mengangkat satupun jari jemarinya. Sudah sejak tadi, hidungnya juga terus menerus mengeluarkan darah yang tidak ada habisnya dan membuat Xin Qingqi menjadi semakin cemas.
“Qingqi, jangan khawatir. Dia pasti baik-baik saja.”
~o0o~
Yang mulia Kaisar sepertinya sangat mencemaskan keadaan putranya yang jarang sekali dilihat keadaannya. Xiao Jinwu langsung memeluk anaknya yang masih berumur 7 tahun itu begitu juga dengan sang permaisuri. Beruntungnya rute yang ditunjukkan oleh Xin Lianshi berhasil membawa Xiao Xinshu kembali ke istana. Kemudian karena tidak ingin kejadian ini terulang terlebih lagi terbukti bahwa tidak ada satupun orang yang memperhatikan Xiao Xinshu saat berada di istana pangeran, Xiao Jinwu memindahkan Xiao Xinshu ke istana kekaisaran yang memiliki lebih banyak penjagaan.
Xiao Xinshu pun memiliki sebuah kamar baru yang lebih luas lagi. Namun, keadaan di istana kekaisaran tidaklah terlalu menyenangkan ketika ia berada di istana pangeran. Semua orang di sini lebih menghormatinya meski ia memiliki satu pasang mata iblis. Mereka semua dilatih dan dipaksa untuk bersumpah agar mereka memiliki kesetiaan dan tidak akan pernah berkhianat pada negara. Meski suasananya tampak normal dan terbilang tidak ada sesuatu pun yang dirasa istimewa baginya, Xiao Xinshu terkadang merasa bosan karena tidak diperbolehkan untuk memenuhi kebutuhannya seorang diri seperti mengambil makanannya dan memasak untuk dirinya sendiri.
Siapapun yang ditemui olehnya langsung memberi salam kemudian mereka dengan terburu-buru sekali pergi untuk melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Di sini juga terlalu sepi karena hanya dipenuhi oleh para pejabat negara dan Menteri yang ada di sini begitu juga dengan kaisar dan permaisuri yang menjadikan istana ini sebagai tempat bekerja mereka.
Saat menyusuri sebuah danau kecil yang berada di halaman istana, ia begitu terkejut dengan ikan-ikan hias yang mampu berenang dengan bebasnya di dalam sana. Di sana juga terdapat beberapa pohon Teratai berwarna merah muda yang berada di atas permukaan airnya. Xiao Xinshu menjangkau salah satunya lalu, ia baru mengetahui kalau di dalam kelopak Teratai ini, terdapat secarik kertas yang sengaja digulung oleh seseorang lalu diletakkannya di sana. Entah apa yang menjadi tujuannya, Xiao Xinshu langsung mengambilnya dan membuka isinya.
“Kau akan mati!”
Begitulah yang tertulis pada kertas tersebut. Meski ini adalah sebuah ancaman yang dilakukan secara tidak langsung padanya. Ia tetap bersikap biasa saja dan malah membuang kertas itu kembali ke dalam danau. Ia sudah terlalu terbiasa mendapatkan ancaman seperti ini dan bahkan ia pernah nyaris terbunuh karena dianggap sebagai pembawa kutukan.
“Huanran masih belum menjawab pertanyaanku. Apakah dia terlalu takut untuk mengatakan yang sejujurnya padaku?”
~o0o~
“Kenapa demamnya tidak berangsur pulih?” Xiao Liufei tampak cemas melihat kedatangan Xin Huanran yang mengalami syok berat dan demam tinggi yang sampai sekarang masih belum sembuh. Ia juga belum membuka matanya sejak tadi. Tabib bilang, ia tidak bisa melakukan apapun selain memberikan beberapa obat yang bisa mengurangi rasa stress nya.
Sudah sejak beberapa hari yang lalu, Xiao Liufei terus berjaga di sebelah Xin Huanran. Ia bahkan sampai tidak nafsu makan karena rasa cemasnya yang mengalahkan segalanya. Baginya, Xin Huanran adalah satu-satunya harta yang dimilikinya saat ini. Sifatnya yang terkadang kekanak-kanakan, terkadang membuatnya ingin sekali memeluknya.
“Nyonya, sebaiknya kau beristirahat. Biar saya saja yang akan menjaganya.” Ucap seorang pelayan Wanita yang berdiri di belakangnya. Ia cemas terhadap keduanya termasuk Xiao Liufei yang sejak kemarin hanya makan beberapa suap nasi saja.
“Saya mohon, Nyonya, pikirkan diri Anda juga. Sejak kemarin, pola makan Anda berubah. Saya mulai khawatir sesuatu juga terjadi pada diri Anda.” Ucap pelayan Wanita dengan raut wajahnya yang terlihat sedih seperti ingin menangis.
Xiao Liufei menghela nafasnya kemudian ia menjawabnya dengan lembut, “Bagaimana aku bisa makan dengan tenang sementara Putraku tidak bisa memakan makanannya sendiri untuk saat ini? Aku tidak bisa melakukannya.”
Xin Qingqi mendengarkan dari balik pintu bersama dengan An Ding di sebelahnya. Xin Qingqi terlihat berbeda dari yang biasanya semenjak Xin Huanran jatuh sakit hingga berhari-hari. Baru kali ini, selama berhari-hari An Ding tidak melihat Xin Qingqi yang tergila-gila pada mayat manusia padahal sebelum mereka ke sana, terdapat sesosok mayat yang ditemukan di sebuah rumah kosong dalam keadaan tergantung di atas langit-langit ruangan. Dan belakangan ini, ia juga terlihat lebih serius dan menanggapi sesuatu dengan cepat dan tanggap. Ia tidak menduga Xin Qingqi begitu menyayangi keponakannya sampai-sampai ia membuang jati dirinya yang sebenarnya.
Xin Qingqi menghela nafasnya kemudian ia berjalan meninggalkan kamar, tanpa mengajak An Ding yang biasanya selalu bersamanya. An Ding sendiri merasa kalau keberadaannya sangat diabaikan olehnya terlebih, Xin Qingqi yang sekarang bukanlah Xin Qingqi yang dulu. Ia lantas mengejarnya dan berjalan tepat di sebelahnya.
“Apa yang akan kau lakukan sampai-sampai mengabaikanku?” tanya An Ding memperhatikan wajahnya yang terlihat serius.
Xin Qingqi menjawab beberapa saat kemudian, “Aku akan melaporkannya pada Yang mulia.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments