“Saat ini, Yang mulia putra mahkota telah menghilang. Yang mulia kaisar ingin memastikan bahwa tidak ada seorangpun dari istana pangeran ini yang bersalah.” Ucap Shen Wu berdiri tepat di sebelah Xiao Jinwu dengan pose duduknya yang terlihat sedang memusingkan sesuatu dan memikirkan sesuatu yang berat.
“Kenapa aku juga dipanggil kemari? Aku baru saja sampai rumah setelah pangeran An Ding mengajakku jalan-jalan ke tempat yang jauh dari keramaian.” Celetuk Xin Qingqi tanpa sengaja hingga membuat An Ding yang berdiri di sebelahnya merasa sangat terkejut dan secara refleks langsung menutup mulut Xin Qingqi yang tidak bisa berkata bohong.
“S- saya mohon maaf, Yang mulia. Wanita ini memang tidak pernah memikirkan ucapannya lebih dulu.” Ucap An Ding dengan keringatnya yang sangat terlihat saat ia ingin menjelaskan kesalahpahaman ini.
“An Ding!” seru Xiao Jinwu dengan tegas sembari menatap mereka berdua dengan dingin hingga membuat An Ding merasa bahwa kematiannya berada selangkah lebih dekat darinya. Xiao Jinwu kemudian mengangkat kepalanya sedikit ke atas dan melanjutkan, “Jelaskan apa yang kau lakukan dengan pendeta Wanita ini saat Putra mahkota menghilang?”
Dengan cepat, An Ding langsung membungkuk di hadapannya dengan cemas. Ia merasa semua pangeran di sini sedang menatapnya termasuk Li Yangchu dan Su Lian. Ia malu untuk menceritakannya begitu ia melihat ekspresi penuh ejekan yang datang dari Xin Qingqi. Meski judulnya ia adalah seorang pendeta, An Ding tidak menyangka Xin Qingqi begitu agresif terhadapnya.
“Saya dan pedeta Wanita ini, awalnya hanya berjalan-jalan keluar, Yang mulia. Pendeta ini memaksa saya untuk mengantarkannya pulang akan tetapi, ia lupa dimana tempat tinggalnya berada jadi, seharian saya berada di luar untuk mencari di mana alamatnya itu berada, Yang mulia.” Jelas An Ding penuh keyakinan bahwa Xiao Jinwu akan mempercayainya.
Xiao Jinwu mencoba memastikan dengan menambah pertanyaannya, “Kau yakin hanya pergi berdua untuk mencari kediaman pendeta Wanita ini?”
Seketika wajah An Ding langsung terlihat memerah sementara Xin Qingqi tampak tertawa di belakangnya. Xiao Jinwu tampaknya merasa curiga terhadapnya meski ia hanya ingin memastikan. An Ding merupakan salah satu orang yang percaya semua masalah yang terjadi di negara ini adalah ulah dari kutukan sang Putri sulung karena itu, Xiao Jinwu membebaninya dengan berbagai pertanyaan hingga membuatnya merasa sangat yakin bahwa An Ding tidak bersalah.
An Ding tampak enggan menjawabnya kemudian, Xin Qingqi mengangkat tangannya dan berkata, “Yang mulia, kami melakukan ini dan itu di tempat yang sepi. Jadi, mustahil bagi kami yang memiliki intelektual di atas rata-rata seperti Yang mulia menunjukkannya pada anak kecil.”
“Jangan terlalu berlebihan!” teriak An Ding yang panik dan langsung menutup mulut Xin Qingqi sembari melihat ke arah semua orang yang sedang menatapnya dengan ekspresi mereka yang terlihat tidak bisa mempercayainya. Mereka mungkin tidak percaya atau tidak mengira An Ding dan Xin Qingqi yang baru saja kenal beberapa jam lalu, langsung melakukan hal yang tidak sembarang orang bisa dilakukan di tempat umum.
Xiao Jinwu menghela nafasnya, kemudian berkata, “Pendeta Wanita ini tidak mungkin berbohong. An Ding akan aku lepaskan dari dugaan ini. Lalu, adakah diantara kalian yang melihatnya kemarin?”
Semua orang di sana terdiam. Mereka tidak ingin jujur bahwa mereka menghindari Xiao Xinshu karena ketakutan yang masih menghantui mereka mengenai kutukan Sang Putri sulung yang mampu membuat seseorang kehilangan semua yang berharga dalam kehidupannya. Mereka tampak cemas karena tidak ada satupun yang memperhatikan Xiao Xinshu selain Xin Huanran yang saat ini sudah kembali pulang ke rumahnya.
“Yang mulia, selama ini kami memperhatikan Tuan muda Xin belakangan ini sering mengganggu Putra mahkota. Mengapa Anda tidak mencurigainya lebih dulu?” ucap pangeran ke-10 bernama Yun Ke.
“Apakah bisa dikatakan seperti itu? Kalau begitu, seharusnya Ran’er berada di sini untuk menjelaskannya. Akan tetapi, kau bisa lihat sendiri kan? Ran’er tidak berada di sini. Saat aku kembali pulang ke rumah, ia sudah tidak berada di sana sejak pagi dan kemungkinan ia menghilang bersama dengan Putra mahkota. Dan juga, pelayan di sana semuanya mengatakan kalau Ran’er hendak pergi ke pasar untuk membeli sesuatu akan tetapi, sampai malam kemarin, mereka masih belum menemukannya. Apakah saat ini Yang mulia masih ingin menyalahkannya?” tanya Xin Qingqi sembari menatapnya dengan dingin.
“Sebagai Putra mahkota, seharusnya semua orang bisa mengawasinya dengan baik mengingat posisinya yang paling penting dalam membangun sebuah Kerajaan. Akan tetapi, tidak ada seorangpun kasim maupun pelayan dan bahkan pangeran yang ada di sini yang mengetahui kemana perginya Yang mulia. Saya mulai curiga kalau kalian ini sengaja untuk mengucilkannya.” Cibir Shen Wu.
“Ah, aku setuju dengan ucapan penasehat ini. Ternyata bukan hanya rakyat biasa yang bisa dikucilkan oleh orang-orang kaya di luar sana tetapi, ini juga berlaku pada bangsawan seperti kalian.” Lanjut Xin Qingqi sembari mengibaskan cambuk ekor kudanya.
Xiao Jinwu merespon dengan ekspresinya yang terlihat marah melihat putra kesayangannya dikucilkan oleh orang-orang di istana Pangeran. Ia lantas menatap ke arah Li Yangchu dan Su Lian yang berdiri saling berdekatan tidak jauh dari singgasananya. “… Yangchu! Lian! Apakah kalian tidak tahu kemana perginya Putra mahkota?” ucapnya dingin.
Li Yangchu menjawab, “Saya tidak melihatnya, Yang mulia. Sebentar lagi saya akan turun untuk berperang di wilayah perbatasan jadi, saya terus berlatih pedang bersama guru dan adik Lian.”
Xiao Jinwu berganti menatap Su Lian kemudian bertanya dengan nada yang sama, “Benarkah itu, Lian?”
Dengan sangat gugup dan terkejut, dengan cepat Su Lian langsung membungkuk di hadapannya dan menjawab, “Ya, itu benar Yang mulia.”
Xin Qingqi tiba-tiba mengangkat tangannya kembali dan menyela, “Mengapa Yang mulia hanya menginterogasi para pangeran yang ada di tempat kejadian? Bukankah ada begitu banyak para Menteri yang diam-diam melakukan tindakan mencurigakan?”
“Sialan! Apa maksudmu kami melakukan sesuatu yang mencurigakan?!” seorang Menteri mencoba untuk memukul kepalanya menggunakan sebuah kipas lipat akan tetapi, Gerakan yang tiba-tiba itu langsung dihentikan oleh An Ding ketika ia masih berdiri di sebelahnya.
“Dia hanya berspekulasi. Untuk apa kau marah padanya? Atau memang kaulah yang telah menculik Putra mahkota?” ucap An Ding dengan wajahnya yang terlihat sangat marah dan begitu dingin.
Seketika kedua mata Xin Qingqi langsung berbinar, menatap An Ding yang telah mencoba untuk melindunginya padahal ia akan baik-baik saja jika terkena pukulan ringan yang seperti tadi. Ia lantas memeluknya dari belakang dan berkata dengan nadanya yang seperti sedang menggodanya, “Yang mulia keren sekali. Aku jadi ingin segera menikahi mu secepatnya. Berapapun mahar yang kau inginkan akan aku berikan.”
An Ding seketika langsung membeku di tempat. Wajahnya memerah dan ia merasa tidak bisa melakukan dan berbuat apapun saat ini. Xin Qingqi terus memeluknya dari belakang dan lagi-lagi mereka berdua menjadi pusat perhatian di sana. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain berusaha kabur dari tempat ini akan tetapi, selama beberapa saat, Xin Qingqi terus menahannya sampai rasanya ia kehabisan nafas.
“Ah, iya Yang mulia.” Ucap Xin Qingqi dengan posisinya yang sama hingga ia mendapatkan perhatian dari Xiao Jinwu. Ia kemudian melanjutkan, “… sepertinya ada banyak dari anggota menteri mu yang harus diwaspadai. Seperti yang aku katakana di awal, Yang mulia. Ada seseorang yang tega mengkambing hitamkan Putra mahkota sebagai penyebab dari bencana Masyarakat yang terjadi belakangan ini. Seseorang yang hidup dalam rasa takut atau dendam, pasti akan melakukan apa saja untuk melindungi dirinya sendiri.”
Usai menjelaskannya, Xiao Jinwu memasang ekspresinya yang terlihat serius. Meski tampak dari luar, Xin Qingqi merupakan Wanita yang selalu menggoda laki-laki akan tetapi, ia selalu memiliki spekulasi yang kebanyakan itu menjadi kenyataan. Kemampuannya dalam meramal memang bisa disandingkan dengan Ibunya yang merupakan peramal terkuat beberapa tahun lalu.
“Yang mulia! Yang mulia!”
Salah seorang penjaga berlari memasuki ruangan dengan berlari dan terburu-buru. Tampaknya ia hendak menyampaikan sesuatu melewati secarik kertas yang berada di tangannya yang sebelumnya dibawakan oleh seekor burung merpati yang datang dari medan peperangan. Semua orang tahu kalau pasukan ini adalah pasukan khusus yang diwajibkan untuk menyampaikan dan menerima pesan dari wilayah-wilayah yang sedang mengalami krisis seperti di medan pertempuran saat ini.
“Kenapa begitu terburu-buru? Katakan saja kalau kau memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan.”
Dengan terengah-engah dan berkeringat setelah ia berlari menyusuri semua halaman istana, pemuda itu merasa tidak layak berdiri di hadapan kaisar saat ini. Akan tetapi, pesannya ini adalah pesan yang sangat penting dan ujung dari permasalahan yang terjadi saat ini sampai membuat Yang mulia Kaisar sendiri harus turun tangan untuk memeriksa mereka.
“Saya membawa kabar dari wilayah perbatasan saat ini. Para pasukan dari Shibuye mulai mengepung bukit Yi dan akan menghancurkannya. Akan tetapi, Jenderal Xin datang tepat waktu dan mengatasi masalah yang ada di sana dengan cepat. Lalu, di kuil dewi peramal yang ada di puncak bukit Yi, pasukan kami menemukan Tuan muda Xin dan Putra mahkota yang dijadikan sandera oleh mereka. Dan lagi-lagi, Jenderal Xin berhasil membereskannya dan menyelamatkan mereka berdua.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments