“Dingin. Tubuhku serasa mati rasa. Aku melihat pembunuhan itu tetapi, aku tidak berani melakukan apapun. Apa yang dilakukan kasim itu sampai-sampai ia mencariku ke halaman belakang? Apakah yang aku lihat ini hanyalah mimpi?”
“Kau pewaris Kerajaan bangunlah! Bukan saatnya bagimu untuk tidur!”
Suara Wanita ini tiba-tiba terdengar di telinganya. Wanita itu tampak sedang berbicara dengan penuh amarah. Xiao Xinshu tidak tahu siapa yang sedang berbicara dengannya atau bahkan orang ini tidak sedang berbicara dengannya. Ia pun langsung membuka mata secara perlahan dan menyaksikan awan putih yang berada tepat di depan matanya. Ia mampu melihat suara-suara air yang sedang mengalir deras di sekitarnya. Pemandangan langit biru dengan dihiasi oleh sekumpulan orang seketika membuat jiwanya merasa sedikit tenang.
“Apakah aku sudah mati?”
“Bodoh sekali aku pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi!”
Wanita ini kembali mengatakan sesuatu hingga membuat Xiao Xinshu penasaran untuk melihat sosoknya. Dengan segera ia pun bangkit dari posisinya kemudian duduk sembari menatap sekitar. Tempat duduknya saat ini adalah sebuah genangan air yang warnanya mirip sekali dengan warna biru yang ada di langit, begitupun dengan sekumpulan awan yang terpantul di sana bagaikan cermin yang sangat jernih. Sunyi sekali. Ia begitu tenang berada di tempat ini. Rasanya berbeda sekali saat ia memutuskan tinggal di istana pangeran yang orang-orangnya sibuk untuk membicarakan tentang dirinya.
“Kau sudah bangun?”
Wanita yang berdiri di belakangnya berjalan perlahan menghampirinya. Sosoknya tampak seperti seorang putri bangsawan dengan mahkota yang ada di atas kepalanya, dan hanfu berwarna biru yang lembut terbuat dari sutera. Kilauan rambutnya terpancar meski rambutnya kini berwarna hitam legam. Kedua matanya berwarna biru cerah, sama persis seperti mata kanan Xiao Xinshu yang tidak mengalami kutukan. Senyumnya pun tampak lembut seperti seorang ibu yang menyambut kedatangan anaknya kembali.
“Ah, maaf. Nona ini siapa? Tempat apa ini?”
Itulah yang terlintas di pikiran Xiao Xinshu begitu ia melihat Wanita ini. Ia tidak lebih dulu memuji kecantikannya melainkan menanyakan tentang keselamatannya yang sedang terancam. Meski Wanita ini seperti Wanita baik, siapa tahu ia menyimpan sebuah niat tersembunyi untuk mencelakainya.
“Kau tumbuh semakin besar. Apakah kedua orang tuamu selalu menyaksikan perkembanganmu? Lihatlah, kau sepertinya begitu lelah.” Ucap Wanita sembari mengusap wajah kiri Xiao Xinshu yang tak lepas dari tatapan wajahnya.
“Siapa kau ini? Mengapa aku ada di sini?”
Wanita itu terdiam kemudian ia tertawa kecil yang sebentar sembari menutupi mulutnya dengan pakaian lengannya yang kebesaran. “Maaf sudah membawamu secara tiba-tiba. Aku hanya ingiin menanyakan tentang keadaanmu. Pasti menyulitkan bagimu untuk tinggal di istana pangeran padahal kau sebenarnya adalah anak dari Yang mulia kaisar yang akan mewarisi tahta Kerajaan berikutnya.”
“Apakah aku dibawa kemari hanya untuk dikasihani? Aku tidak terima ini!”
“Tenang saja. Bukannya aku mengasihani mu. Aku hanya peduli padamu. Lagipula, tempat yang kau duduki saat ini, adalah bagian dari wilayah kekuasaanku. Apakah kamu pernah mendengar tentang dinding penghalang antara jiwa orang yang sudah mati dengan yang masih hidup?”
Xiao Xinshu terkejut dan terdiam sejenak. “… Apakah itu artinya aku sudah mati?”
Wanita itu kembali tertawa, “… Aduh, kau ini aneh-aneh saja. Tentu kau belum mati. Saat ini, kau berada di atas dinding penghalang. Aku hanya memindahkan jiwamu kemari sementara tubuhmu baik-baik saja.” Wanita itu terdiam sejenak untuk menghela nafasnya, “Haah, tadi itu seru sekali. Sayangnya seorang anak laki-laki dan juga Ayahnya telah merusak suasana. Aku jadi tidak bisa menikmatinya.”
“Anak laki-laki? Siapa yang kau maksud? Mana ada orang yang mau menyelamatkanku di saat seperti itu? Bahkan rasanya mereka akan bersyukur kalau aku mati saat itu juga.”
“Tidak juga. Tentu saja ada seseorang yang mengkhawatirkan mu meski mereka bukan berasal dari kalangan yang menonjol.”
Wanita itu melangkah satu kali kemudian genangan air yang mereka tempati seketika mengeluarkan gelombang kecilnya. Dan ketika gelombang itu mulai padam, ia melihat sosok dirinya yang lain sedang berbaring di atas rumput yang tergenang oleh darah.
“Hanya begitu saja? Aku sudah tahu. Tidak aka nada yang menyadari bahwa aku menghilang tiba-tiba.” Ucap Xiao Xinshu dengan nada putus asa.
Wanita itu tersenyum kemudian berkata, “Cobalah untuk melihatnya lebih lama lagi dan perhatikan baik-baik.”
Sesuai dengan perkataannya, Xiao Xinshu memperhatikan dirinya sendiri dengan lebih lama. Lalu, beberapa saat kemudian, ia melihat sesosok anak laki-laki yang langsung berlari menghampirinya tanpa takut sedikitpun. Anak itu mencoba memeriksa keadaannya apakah ia baik-baik saja atau tidak. Anak itu mencoba mendengar irama jantungnya yang ternyata sangat tidak stabil. Menyadari bahwa dirinya berada dalam bahaya, dia segera melakukan segala usaha pada tubuhnya agar irama jantungnya kembali seperti semula.
“Anak yang aneh. Mengapa dia tidak takut sedikitpun padahal pakaianku berdarah-darah seperti itu. Apakah perasaan takutnya sudah tumpul?”
“Kau sudah melihatnya bukan? Orang lain yang berusaha menyelamatkanmu meski keadaanmu begitu mengerikan. Memangnya kau pikir ada yang mau melakukannya jika di dalam dirinya masih ada rasa takut yang menghantuinya?”
“Semua orang itu berbeda kan? Dan semua orang juga tidak ingin dibeda-bedakan begitu pula dengan di samakan. Aku juga seperti itu. Perlahan, dia pasti akan menjauh seperti orang-orang kebanyakan yang dulu berjanji akan membantuku menjadi seorang pemimpin suatu saat nanti.”
“Kamu salah besar dengan berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku memiliki tujuan untuk memanggilmu kemari. Di negaramu, ada seseorang yang membuat sebuah kuil untukku. Permintaan mereka begitu menjijikan. Tidak ada satupun yang mengharapkan mereka semua meminta keberuntungan, kekayaan dan kematian seseorang yang dibenci olehnya. Mereka memberikanku uang hasil curian demi kesenangan mereka sendiri. Aku sangat kesal sampai-sampai aku ingin merobohkan kuil yang sudah mereka bangun dengan susah payah.”
“Apakah dia ini seorang dewi yang belakangan ini sering dibicarakan oleh orang-orang? Mungkinkah dia itu dewi murah hati?” batin Xiao Xinshu yang memperhatikannya.
Wanita itu menghela nafasnya kemudian melanjutkan, “Akan tetapi, baru-baru ini ada seorang anak yang membuatku sangat terkejut atas doanya. Aku bahkan sampai memuntahkan kembali minumanku. Aku ingat anak itu datang bersama Ayahnya yang baru saja kembali dari perang. Anak itu tidak memberikanku uang maupun membakar dupa untukku. Ia hanya memberikanku sebatang bunga Peony merah muda yang ia letakkan diatas meja dengan secarik kertas yang terikat di sana kemudian pergi tanpa memberi salam padaku. Sungguh tidak sopan.”
Xiao Xinshu terdiam sejenak. “Lalu bagaimana dengan surat itu?”
Wanita itu lagi-lagi tertawa meski hanya sedikit. “Ternyata kau tertarik juga dengan cerita konyol ini.” Wanita itu memberi jeda selama beberapa saat. “… Tapi, maaf saja. Aku dilarang untuk mengatakan apa yang tertulis dalam suratnya. Ini adalah rahasiaku dengan anak itu. Aku juga berharap, aku tidak akan mengabulkan keinginannya.”
“Apakah keinginannya adalah hal-hal yang akan membahayakan dirinya?” tanya Xiao Xinshu.
Wanita itu tiba-tiba menunjukkan ekspresinya yang terlihat serius. “Tidak juga.”
Xiao Xinshu terdiam sejenak karena tidak bisa menebak apa yang tertulis dalam surat itu jika ia melihatnya dari ekspresi yang ditunjukkan Wanita ini. “Kurasa kau juga tidak boleh memberi tahu siapa anak yang mengirimkan surat itu.”
Wanita itu terdiam selama beberapa saat. Dalam diamnya, ia terlihat seperti sedang mencemaskan sesuatu. Sepertinya ini adalah permintaan yang sangat berat baginya jika dibandingkan dengan menerima permohonan untuk menjadi seorang raja. Ia jadi penasaran apa yang dituliskan oleh anak itu sehingga membuat seorang dewi murah hati menjadi berat sekali untuk mengabulkannya.
“Yah, kalau kau mau jawabannya, kau akan tahu dalam beberapa tahun ke depan. Ngomong-ngomong, sejak tadi sepertinya aku merasa kalau kau ini mengira aku ini dewi murah hati, ya?”
Seketika Xiao Xinshu tampak terkejut dan langsung terdiam selama beberapa saat, menyadari Wanita ini tampaknya bisa membaca isi pikirannya. “Memangnya bukan?”
Wanita itu tersenyum padanya sembari mengusap ujung kepalanya kemudian berkata, “Namaku Huanqin, seorang dewi peramal.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments