Keluarga Xin adalah keluarga yang sangat kuat. Pemiliknya adalah seorang panglima teratas kekaisaran yang pernah memerdekakan salah satu negara ketika berada di ambang krisis. Panglima Xin begitu terkenal di kalangan kekaisaran. Yang mulia kaisar hanya mengutus Panglima Xin dalam perang melawan negara-negara besar yang sulit untuk dikalahkan. Ia terkenal dengan pedangnya yang sangat besar yang dulu pernah membunuh ratusan jenderal perang dan memenangkan perang selama lima tahun berturut-turut. Bahkan diusianya yang masih belasan tahun, ia sudah dipercayakan untuk menjadi pemimpin pasukan dalam peperangan melawan negara Shibuye yang saat itu berusaha mengambil alih setengah dari kekuasaan negara Shaanxi. Dan kini, berkat kakek dari panglima Xin, kedua negara ini akhirnya bisa berdamai meski ada beberapa syarat yang harus terpenuhi.
Yang mulia kaisar terdahulu menghadiahkan Xin Lianshi seorang putri bungsunya sendiri yang cantik dan menawan juga terpelajar bernama Xiao Liufei. Pernikahan itu berlangsung dengan sangat meriah bahkan Xiao Liufei mengaku sudah sangat mencintai Xin Lianshi sejak ia pertama kali mendengar kabarnya ia memimpin pasukan di usianya yang masih sangat muda. Tak berselang lama setelah pernikahan mereka berdua, lahirlah seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan ibunya dan memiliki sikap seperti Ayahnya. Anak itu terkadang memilih untuk tinggal di istana pangeran untuk bersenang senang dan berlatih pedang bersama dengan pangeran lainnya. Orang tuanya memberinya nama Huanran yang berarti anak yang ceria.
“AHHH! HUANRAN! TOLONG JANGAN MATI DULU! MASA MUDAMU MASIH PANJANG KAN?!” seorang pangeran bernama Su Lian datang menjenguk dan langsung memeluk leher Xin Huanran yang baru saja diobati.
Xin Huanran merasa bahwa Su Lian datang untuk memperparah keadaannya. Bukan memeluknya justru ia lebih terlihat sedang mencekiknya sampai ia kehabisan nafas. “… Lian, aku akan bersungguh-sungguh membunuhmu kalau kau tidak melepaskanku!” ucap Xin Huanran dengan kesal.
Dengan cepat Su Lian langsung melepaskannya dan menunjukkan senyum meledek, begitu ia melihat kaki kiri Xin Huanran yang tertutup oleh perban. “Sayang sekali hanya kaki kirimu mengapa tidak sekalian kaki kanan saja?”
“Kau ini memanglah manusia yang berwajah banyak.”
Tidak lama, datang seseorang yang lebih tua sekitar usia belasan tahun yang langsung berlari memasuki kamar Xin Huanran dengan terburu-buru. “… Aku dengar Ran’er terluka. Apakah ia baik-baik saja?” ucap seorang laki-laki dengan rambut yang dikuncir dua dan memakai pakaian biru yang basah karena keringat sehabis latihan.
“Kak Chu! Tenang saja aku baik-baik saja. Ini hanya luka sedikit tidak akan membuatku mati.” jawab Xin Huanran sembari menatap Li Yangchu dengan antusias.
Akan tetapi, bukannya mendapatkan sambutan yang membuatnya terharu, Li Yangchu malah menghadiahinya sebuah pukulan tepat di atas kepalanya sampai mengeluarkan bunyi yang membuat ngilu dan rasa pusing yang didapatkannya. “Berapa kali aku sudah bilang?! Jangan memanjat pohon sembarangan! Inilah akibatnya kalau kau tidak mau mendengarkanku! Beruntung saja hanya kaki kirimu yang terkilir! Bagaimana kalau kau kehilangan salah satu kakimu atau keduanya? Kalu pikir Ayahmu tidak akan sedih begitu mendengarnya?!” bentak Li Yangchu.
Sembari memegangi kepalanya, Xin Huanran berkata, “Bagaimanapun, ini lebih sakit dari apapun. Apakah otakku ini tidak akan terluka kalau terus dipukul seperti ini?”
Sembari tersenyum puas, Su Lian berkata, “Sepertinya kak Chu sedang mencari pelampiasan amarahnya. Aku dengar, dia gagal mengalahkan gurunya hari ini karena harus menjengukmu.”
“Cih, mengapa jadi aku yang harus di salahkan?” gumam Xin Huanran kesal.
“Tuan muda apakah saya bisa menjelaskan keadaan Tuan muda Xin saat ini?” tanya tabib yang sedari tadi sudah mengobati luka di kaki kiri Xin Huanran.
Li Yangchu mengangguk kemudian menjawab, “Ya, silahkan.”
“Baik tuan muda. Saat ini, keadaan Tuan muda Xin tidak begitu parah. Kaki kirinya hanya terkilir saja. Jika dkompres dengan air dingin atau mandi dengan air dingin, kakinya akan segera sembuh. Akan tetapi, untuk beberapa hal, Tuan muda tidak boleh memaksakan diri untuk berjalan. Bahkan saat ini, sebaiknya Anda tetap berada di sini untuk beristirahat dan tidak melakukan latihan apapun.”
“Hah? Sangat tidak seru sekali. Aku bisa mati kalau terus-terusan berada di sini.” celetuk Xin Huanran.
“Saya mohon maaf tuan muda. Anda harus lebih banyak beristirahat saat ini. Kalau Anda memaksakan diri untuk beraktivitas menggunakan kedua kaki Anda. Bisa-bisa Anda tidak akan bisa berjalan selamanya.” lanjut tabib dengan ekspresi mengancam.
“Sungguh? Apakah aku tidak akan bisa berjalan selamanya? Bagaimana caranya aku mengambil makanan? Wah, saat ini aku lapar sekali. Rasanya sampai ingin mati saat ini juga.” Lanjut Xin Huanran.
“Sudahlah Huanran! Apalagi yang kau inginkan? Kau ingin aku memanggil Ibumu kemari agar dia memarahimu?” ucap Su Lian.
“Haha! Ancaman itu tidak akan berlaku padaku! Ibuku itu tidak akan bisa memarahiku!” cibir Xin Huanran menganggapnya remeh.
Tak tahan mendengar celotehan ini, Li Yangchu menarik kerah pakaian Xin Huanran kemudian memberikannya sebuah tatapan dingin yang penuh ancaman. “… Sudah. Turuti saja apa perkataannya. Jangan banyak bicara!” ucapnya tegas sehingga membuat Xin Huanran langsung terdiam selama beberapa saat.
Xin Huanran menghela nafasnya, “Haah baiklah. Aku akan tetap berada di sini. Akan tetapi, aku tidak tahu apakah aku akan mati kebosanan atau tidak.”
Tabib itu membungkuk dan memberikan salamnya, “Baik Tuan muda. Saya akan kembali besok untuk memeriksanya. Tuan muda harus banyak-banyak istirahat mulai hari ini dan obat salepnya harus habis malam ini. Jika Tuan muda mengerti, saya akan permisi.” Ucapnya kemudian berjalan meninggalkan ruangan.
Setelah tabib itu pergi, Xin Huanran menatap ke arah dua orang yang tidak berguna ini kemudian bertanya, “Kalian mau apa kemari? Tidak ada kerjaan ya selain melihatku tidak berdaya di sini?” ucapnya sembari menatapnya dengan malas.
“Sejujurnya aku malas menanyakan hal ini akan tetapi, apakah kau memerlukan sesuatu seperti makanan atau minuman?” tanya Li Yangchu tanpa menatap ke arahnya.
“Ah, benar juga. Aku lupa menanyakannya padamu. Aku mungkin bisa membawakan buah-buahan dari dapur.” lanjut Su Lian dengan posisinya yang sama seperti Li Yangchu.
“Aku merasa kalian tidak mau melakukannya. Jadi sebaiknya kalian pergi saja! Aku tidak membutuhkan kalian lagi!” dilanjut Xin Huanran yang jengkel melihat ekspresi mereka berdua.
Malam pun tiba. Sudah seharian Xin Huanran berada di kamarnya tanpa ditemani oleh siapapun. Terkadang ia ingin bermain di luar akan tetapi, ternyata kakinya terlalu sakit untuk berjalan. Alhasil, ia pun terpaksa menuruti perkataan tabib tadi dengan terus menerus berada di kamar selama seharian penuh tanpa melakukan apapun selain membaca buku yang tidak disukainya.
Di tengah diamnya yang tidak jelas ketika waktu menunjukkan tengah malam, tiba-tiba seseorang mengetuk pintunya dari depan dan kemudian ia melihat bayang-bayang anak laki-laki yang seumuran dengannya sedang berdiri dibalik pintu dengan memegang sebuah lilin di tangannya.
“Lian, apakah itu kau?” tanya Xin Huanran mencoba memastikan. Akan tetapi, kalau dia memang Su Lian, dia tidak mungkin mengetuk pintunya terlebih dahulu. Biasanya ia akan langsung memasukinya dan mengabaikan kata sopan santun dalam peraturannya. “… Ah, sepertinya aku salah. Kau adalah Yang mulia bukan? Tidak ada satupun dari temanku di sini yang mau mengetuk pintu dahulu sebelum memasukinya. Yang mulia tidak perlu sungkan seperti itu, kau tinggal masuk saja ke dalam. Aku bisa melihat bayanganmu dari sini.” Lanjutnya.
Xiao Xinshu yang berada di depan sana terus terdiam selama beberapa saat sampai membuat Xin Huanran yang menunggunya menjadi kebingungan. “… Ada apa Yang mulia? Mengapa tidak masuk? Aku tidak bisa membukakan pintunya karena kakiku yang sakit sekali.” Lanjut Xin Huanran.
Mendengar kata ini, seketika langsung membuat Xiao Xinshu langsung menjawab, “Tidak. Kau tidak perku membukanya atau mempersilahkanku untuk masuk. Aku hanya akan berbicara di depan sini.”
“Aku tidak mengerti apa yang Yang mulia katakana. Masuk saja! Aku sama sekali tidak keberatan.”
“Tidak. Ini bukan tentangmu yang terlalu keberatan tetapi, tentang kenyataanku yang selalu membawa petaka bagi siapapun yang mendekatiku. Sekarang aku mengerti alasan mengapa orang-orang di istana ini sibuk menjauhiku. Itu karena, aku akan mencelakakan keberadaan mereka jika mereka berada di dekatku. Karena itulah, aku memutuskan untuk tidak bertemu dengan siapapun. Agar tidak membuat yang lain terluka, sama seperti yang kau alami saat ini.”
Xin Huanran terdiam selama beberapa saat. “Apakah ini karena warna matamu yang berbeda, Yang mulia? Aku sudah bilang bahwa aku tidak percaya pada sesuatu yang tidak bisa kulihat. Bagiku, kutukan seperti itu tidak ada hubungannya dengan dunia ini. Aku percaya kalau semua yang terjadi pasti ada alasannya mengapa hal itu harus terjadi. Orang-orang hanya sibuk menyalahkan dan malas untuk mencari alasannya. Itulah yang aku pelajari dari nenek tua miskin yang timggal di dekat rumahku.”
Xiao Xinshu tiba-tiba terdiam selama beberapa saat dan membuat Xin Huanran menjadi sangat penasaran. Ia mencoba meneliti setiap gerak-gerik Xiao Xinshu dalam bayangannya akan tetapi, hal itu sama sekali tidak bisa terlihat olehnya. “… Aku jadi semakin penasaran dengan apa yang sedang dipikirkannya.” Batinnya.
Xiao Xinshu terdengar sedang menghela nafasnya kemudian berkata, “Sebenarnya aku datang kemari hanya untuk memperingatkanmu. Tolong jangan mendekatiku lagi, apapun yang terjadi kedepannya nanti. Kejadian ini adalah peringatan yang pertama. Aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari jika kau kembali mengulanginya lagi. Mungkin saja itu akan menjadi semakin parah dari hari ini.”
“Tunggu sebentar, Yang mulia!”
Xin Huanran memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan menghampiri Xiao Xinshu di depannya. Akan tetapi, kaki kirinya yang masih lumayan sakit, membuatnya seketika langsung terjatuh ke lantai. Xiao Xinshu yang mendengarnya juga ikut terkejut dan mencoba untuk masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi, saat hendak membuka pintunya, ia mendengar suara langkah kaki yang membuatnya langsung mengurungkan niatnya dan berlari pergi meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments