“Yang mulia, saya datang untuk memberitahu tentang misteri kematian yang baru-baru ini terjadi di istana pangeran.” Ucap Xin Qingqi, berdiri di depan Xiao Jinwu.
Melihat keberadaan Xin Qingqi, Xiao Jinwu berharap kematian ini sebabkan karena ulah anak-anak buahnya yang sengaja mengkambing hitamkan putranya. Mereka memanfaatkan kutukan yang ada di negara ini dan sengaja melakukannya agar Kerajaan ini tidak memiliki pewaris. Ditambah lagi, permaisuri tidak bisa melahirkan anak lagi karena rahimnya telah diangkat setelah melahirkan Xiao Xinshu.
“Baguslah, jadi bagaimana?”
Xin Qingqi terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sesuai dugaan Yang mulia, semua ini bukan disebabkan karena kutukan Putri sulung tetapi, karena sebuah penyakit yang bisa mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu yang berbahaya seperti bunuh diri atau menjadikan seseorang sebagai tumbal yang akan diberikan pada monster di hutan.”
“Bagaimana itu bisa dijadikan sebuah penyakit? Apakah dugaanmu ini benar terjadi?” tanya penasehat Shen Wu.
“Saya pernah mengunjungi desa yang ada di wilayah perbatasan kota Shibuye, bersama dengan jenderal Xin. Saat perang kembali memanas. Kami menemukan sebuah desa yang seluruh penduduknya tewas gantung diri. Awalnya saya sangat yakin bahwa ini adalah pembunuhan berantai yang dilakukan oleh sekelompok orang. Akan tetapi, saya menemukan keanehan pada setiap mayat mereka.” Xin Qingqi memberi jeda sejenak. “… pada bagian lengan kiri mereka, terdapat sebuah tato berbentuk ular berwarna merah. Aku menganggapnya sebagai hal yang tidak biasa karena tato itu juga berada pada tubuh bayi dan anak-anak.”
Shen Wu menyadari sesuatu yang aneh dari dugaannya yang membuatnya merasa penasaran, “Bagaimana bayi dan anak-anak melakukan bunuh diri sementara mereka masih belum mampu melakukan semuanya sendiri?”
Xin Qingqi melanjutkan, “Itu benar. Akan sangat mustahil bagi kalian untuk percaya padaku bahwa anak-anak dan bayi yang ada di sana melakukan bunuh diri. Tetapi, kejadian ini benar-benar terjadi. Entah seseorang yang melakukannya atau orang tua mereka sendiri yang telah menusuk anak mereka menggunakan sebilah pisau. Saat itu, tidak ada satupun dari mereka yang selamat meski aku dan jenderal Xin sudah berusaha untuk mencari.”
“Pendeta Xin, lalu apa hubungannya dengan tato ular merah yang ada di lengan kiri mereka?” tanya Xiao Jinwu.
Xin Qingqi tiba-tiba terlihat sedang mencemaskan sesuatu. Kedua tangannya mengepal gemetar, seakan membayangkan sesuatu yang cukup mengerikan.ia mengalihkan perhatiannya kemudian dengan memberanikan diri, ia mencoba untuk menjawab, “Ini semua adalah ulah seorang pendeta, Yang mulia. Saya bisa mengingatnya dengan jelas. Dia adalah musuh bebuyutan dari orang tua saya yang dulu pernah menghilang setelah terpojok di sisi jurang oleh para pasukan dari negara Shibuye. Dia berasal dari wilayah perbatasan negara Langxi dan namanya adalah, Bai Shan.”
~o0o~
Setelah mereka sampai di bawah kaki bukit Yi, keduanya turun dari atas kereta sapi dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan. Cukup disayangkan, sapi yang menjadi kendaraan mereka tiba-tiba menolak untuk memasuki wilayah bukit Yi yang menurut ceritanya dikabarkan sebagai sarang bunuh diri. Semua orang yang telah kehilangan segalanya, akan memilih untuk melakukan bunuh diri di tempat ini. Kabarnya, sudah ada ratusan orang yang meninggal di sini karena bunuh diri dan mayat mereka tidak pernah ditemukan oleh siapapun. Menurut cerita, mayat mereka semua menjadi hidangan para hantu, siluman dan monster yang hidup di dalamnya.
“Yang mulia, apakah kau tidak melihat apapun?”
Xiao Xinshu menatap ke arah Xin Huanran di sebelahnya dan menjawab, “Tidak. Justru aku merasa di sini sunyi sekali. Hanya ada suara angin dan gemericik air jika dibandingkan dengan Istana pangeran yang sangat berisik dengan suara-suara siluman itu.”
“Begitu, ya? Enak sekali- Akh!”
“Hei! Kau kenapa?! Bangunlah!”
Xiao Xinshu seketika menjadi panik saat melihat Xin Huanran jatuh, duduk berlutut sembari menutup kedua telinganya. Ia terlihat sangat kesakitan bahkan kedua telinganya sampai mengeluarkan darah. Ia terlihat begitu berkeringat dengan bibirnya yang terkatup rapat. Ia terlihat kesulitan bernafas bahkan kedua matanya sampai terlihat berair karena tidak sanggup mendengar suara, kematian dan teriakan yang ada di sekitarnya bahkan memenuhi seluruh panca inderanya.
Xin Huanran terus berteriak kesakitan. Kedua tangannya terlihat gemetaran bahkan kedua kakinya tidak lagi sanggup berdiri karena sudah terlalu lemas. Xiao Xinshu merasa Xin Huanran benar-benar tidak berdaya saat ia dihadapkan dengan sebuah bukit yang menjadi sarang siluman dan orang-orang yang melakukan bunuh diri secara massal. Mata iblisnya tida mampu menembus dinding penghalang yang ada di hutan ini akan tetapi, tidak pada kedua mata Xin Huanran yang mampu melihat hampir semua hal yang tidak bisa dilihat oleh manusia.
Untuk pertama kalinya Xiao Xinshu merasa kasihan padanya. Padahal ia sudah melarang Xin Huanran untuk ikut dengannya akan tetapi, Xin Huanran terus memaksa dan tidak membiarkan Xiao Xinshu pergi seorang diri. Ia bilang, ia merasa khawatir Xiao Xinshu tidak akan kembali karena di dalam sana, mungkin saja terdapat beberapa pasukan negara Shibuye yang akan menangkapnya. Bagaimanapun, bukit Yi masih termasuk wilayah perbatasan dan wilayah perang antara negara Shibuye dan Shaanxi. Mungkin, dari semua orang yang ada di istananya, hanya Xin Huanran lah yang menganggapnya sebagai Putra mahkota di negara ini.
Xiao Xinshu mengambil sebuah kain hitam yang mengikat lengannya. Ia kemudian melipatnya menjadi beberapa lipatan kemudian bergerak untuk menutup kedua mata Xin Huanran agar ia tidak melihat mereka lagi. Ia juga melepaskan kedua tangan Xin Huanran yang sejak tadi terus menutup kedua telinganya sampai berlumuran darah. Ia menghapus darah yang ada di wajahnya menggunakan sehelai kain kemudian menatapnya dengan kasihan.
“Kalau kau bisa berpura-pura tidak melihatnya, kau juga bisa berpura-pura tidak mendengar mereka bukan? Seberapapun mengerikannya mereka, lebih mengerikan saat kau melihat orang-orang terdekatmu mengalami kematian yang mengenaskan. Karena itu, tidak ada alasan bagimu untuk menghiraukan keberadaan mereka. Aku sangat berterima kasih karena kau telah datang untuk membantuku meski kau sendiri memiliki kelemahan yang tidak semua orang duga bahkan aku sendiri pun tidak tahu kalau kau akan mengalaminya.”
~o0o~
“Jenderal! Jenderal! Ada berita gawat jenderal!” ucap seorang pasukan perang yang berlari secara terburu-buru menuju tenda milik Xin Lianshi saat mereka sedang membicarakan tentang strategi perang bersama dengan beberapa pemimpin pasukan perang yang lain.
“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang berbahaya di sana?” tanya Xin Lianshi yang langsung menganggapnya serius. Ia langsung mendapatkan firasat buruk bahkan sebelum orang ini datang memasuki tendanya.
Dengan terengah-engah, pemuda itu menatap Xin Lianshi dengan ekspresi yang terlihat cemas dan ketakutan. Berita ini datang secara tiba-tiba dan membuat semua pasukan yang sedang beristirahat di tendanya masing-masing merasa sangat terkejut. Akan tetapi, bagaimanapun keadaanya dan seperti apapun orangnya, mereka harus tetap memberikan berita ini pada orang-orang penting dalam perang.
Dengan bibirnya yang terlihat gemetaran dan wajahnya yang pucat, pemuda itu berusaha untuk berkata, “… Para pasukan Shibuye itu, mereka berhasil menerobos dinding pertahanan dan saat ini, mereka sedang bergerak menuju bukit Yi dan akan membakar seluruhnya!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments