Episode 10

“Kenapa kau tidak menjawabnya dan hanya terdiam? Kau bilang kau akan menjawab apapun pertanyaan ku.” Tanya Xiao Xinshu sembari menatapnya dengan dingin.

Xin Huanran hanya diam di tempat dengan wajahnya yang menunjukkan ekspresi terkejutnya. Ia tidak menduga pertanyaan itu yang pertama kali ditanyakan oleh Xiao Xinshu. Tampaknya Xiao Xinshu masih sangat terkejut dengan kejadian kemarin dan masih belum percaya bahwa siluman-siluman itu hilang dari pandangannya.

Karena terus menyembunyikan ekspresinya dan terus mematung di tempatnya, Xiao Xinshu menjadi bosan menunggu jawabannya dan memilih untuk berbalik dan mengalihkan perhatiannya. “Sudahlah kalau kau tidak mau mengatakannya. Aku akan pergi sendiri.” Ucapnya sembari berjalan pergi meninggalkannya.

Namun, baru beberapa langkah ia berjalan meninggalkannya, tiba-tiba Xin Huanran menjawab , “Kalau kau mau aku beri jawabannya, maka akan aku berikan.” Xin Huanran memberi jeda selama beberapa saat dan menunggu Xiao Xinshu untuk berbalik menatapnya.

“Nenekku dulunya seorang peramal di negeri ini. Akan tetapi, ia tiba-tiba menghilang di jurang saat mencoba melindungi anak keduanya dari para penjahat di negara Shibuye. Saat kakekku mencoba mencarinya di sana, yang ia temukan hanyalah anak keduanya dan juga mayat-mayat para penjahat yang sudah dimangsa oleh monster yang ada di hutan sana. Wanita tua itu memiliki kemampuan meramal yang tepat. Kedua matanya istimewa karena memiliki warna emas dan bisa melihat segalanya yang tidak bisa terlihat oleh mata kepala manusia seperti siluman dan sisa usia mereka. Akan tetapi, ia tidak pernah menggunakannya dan memilih untuk menyembunyikannya dari semua orang. Dan karena kemampuannya itu, aku dan bibiku memiliki kemampuan yang sama dengannya. Hanya saja, mataku ini berbeda dengan mata milik nenek. Ibuku memiliki warna mata merah muda sementara Ayahku memiliki warna hitam sementara aku sendiri berwarna biru. Meski orang lain mengatakan warna biru pada mataku ini sangat indah, sebenarnya ini adalah tanda kutukan bagi siapa saja yang memilikinya akan tetapi, mata ini tidak akan melukai siapapun.”

“… Berbeda dengan Yang mulia yang hanya bisa melihat siluman dan bisa memanggil monster dengan kedua mata itu. Juga berbeda dengan kemampuan nenek dan bibi yang bisa memanggil arwah orang yang sudah mati dan melihat sisa usia manusia juga mendengar suara hati manusia. Mataku ini bisa melihat segalanya. Semua yang sudah ditakdirkan dan di gariskan, aku bisa melihatnya bahkan sejak aku pertama kali membuka mata. Aku mampu melihat bagaimana kematian itu akan menimpa seseorang dan banyaknya dosa yang mereka perbuat. Aku juga bisa melihat masa depan dan kebanyakan, mereka semua mati akibat perang. Begitu juga dengan Ayahku yang akan mati dalam beberapa tahun kemudian. Dan negara Shaanxi yang berada di ambang kepunahan.”

Xiao Xinshu begitu memperhatikan ceritanya dengan sangat baik. Menurutnya, warna biru pada mata Xin Huanran terlihat sangat indah. Bahkan ia belum pernah melihat yang seperti itu. Rasanya sulit dipercaya jika sepasang matanya bisa melihat sesuatu yang mustahil dilihat oleh manusia. “… Tapi, apakah kau harus percaya dengan hal yang seperti itu?”

Xin Huanran terdiam selama beberapa saat sembari menundukkan kepalanya. Xiao Xinshu jadi merasa bersalah mengapa ia memaksa agar Xin Huanran menjawab pertanyaannya. Harusnya jika ia sudah tahu bahwa kemampuannya itu adalah untuk membuat dirinya sendiri menjadi depresi karena begitu banyak melihat kematian orang-orang, harusnya ia tidak pernah memaksanya.

“Sudahlah! Aku anggap aku tidak akan pernah mendengar jawabanmu itu. Aku akan pergi lebih dulu.” Ketus Xiao Xinshu sembari berjalan meninggalkannya.

“Hei! Yang mulia! Kalau kau berkeliaran sendirian seperti itu lagi kau bisa saja tersesat seperti tadi! Yang mulia!”

~o0o~

“Bau amis yang sangat menyengat dan warna merah yang pekat dan sangat kental ini. Sudah kuduga ini adalah darah manusia.” Ucap Xin Qingqi sembari memperhatikan potongan daging manusia yang tadi.

“Hei! Sejak tadi kau hanya bermain-main saja! Kalau itu kami sudah tahu bahwa itu adalah darah! Jadi, berhentilah bermain-main!” bentak seorang pangeran yang kelihatan sedang marah.

Dengan santainya, Xin Qingqi menjawab, “Kau tidak bisa memaksa kebenaran untuk datang sendiri menghampirimu. Orang bodoh akan melewatkan setiap hal yang sifatnya remeh dan kecil seperti ini.”

“Cih! Bikin kesal saja! Mengapa jenderal harus mengandalkannya?!” geram pangeran yang tadi.

Wajah Xin Qingqi masih terlihat senang dan bergembira saat menyentuh tangan manusia yang telah terpotong dari tubuhnya. Saat ia melihat darah kental yang masih menetes pada bekas gigitannya, dengan sangat berani ia menyentuhnya dan kemudian Xin Qingqi mencoba untuk menjilat tangannya sendiri yang terkena darah.

“Tunggu! Apa yang kau lakukan?! Jangan lakukan itu!”

An Ding tiba-tiba mengambil langkahnya untuk segera menghentikan Xin Qingqi yang terlihat sedang mencoba mencicipi darahnya. Hal ini membuat Xin Qingqi tampak terlihat terkejut dan langsung terdiam saat itu juga. Ia kebingungan saat melihat wajah An Ding yang terlihat sedang memperhatikannya sejak tadi padahal ia tidak akan benar-benar mencicipinya.

Melihat wajahnya, langsung membuat Xin Qingqi seketika ingin menggodanya sekali lagi. “Oh, Yang mulia sangat perhatian sekali ya. Apakah Yang mulia baru saja berpikir aku akan memakan darah kotor ini?”

Seketika wajah An Ding langsung berubah memerah, tidak seperti biasanya. Ia lantas melepaskan pegangannya kemudian dengan berusaha mengendalikan dirinya sendiri, An Ding berkata, “Siapa yang mempedulikan mu?! Terserah kau saja kau ingin melakukan apa! Aku tidak akan peduli!” ketusnya sembari berjalan cepat meninggalkan ruangan.

Saat An Ding berjalan keluar ruangan bersama dengan beberapa pelayannya, Xin Qingqi tersenyum jahat kemudian berkata, “Sampai jumpa pangeranku yang manis! Aku akan menunggu di kamar!” ucapnya yang langsung membuat seisi ruangan menjadi terkejut dan perhatian mereka semua seketika tertuju padanya.

Pernyataan ini jelas membuat An Ding yang tidak sabaran menjadi jengkel. Ia lantas memasang ekspresi marahnya lalu berteriak, “Jangan main-main dengan bahasamu yang kurang ajar itu!”

Baru selesai mengatakannya ketika pandangan semua orang tertuju padanya, tiba-tiba ia melihat mayat yang sebelumnya mati karena gantung diri tiba-tiba menggerakkan ujung jarinya dan membuat An Ding merasa terkejut sekaligus ketakutan melihat mayat hidup yang ada di depannya. Seketika, saat itu juga, dongeng mengenai mayat hidup yang berubah menjadi zombi pemakan manusia bukan lagi dongeng melainkan kisah nyata dalam kehidupannya!

“Kalian semua menghindar dari sana!”

Seketika, An Ding langsung berteriak dan menyelamatkan semua orang yang langsung berlarian keluar ruangan begitu merea melihat mayat utuh itu kembali berdiri dan berjalan dengan sempoyongan. Merasa kagum dengan mayat berjalan yang ada di depannya, bukannya ia menyelamatkan diri tetapi, Xin Qingqi malah berlari menghampiri mayat berjalan.

Belum puas dengan kebodohannya sendiri, An Ding menarik Xin Qingqi bersamanya kemudian mereka berdua lari menyelamatkan diri dari mayat hidup yang mengejar mereka menggunakan sebuah pisau daging di tangannya. “… Sial! Dilihat darimana pun juga dia terlihat menyeramkan! Tapi, apa yang membuat Wanita aneh ini malah terlihat tergila-gila?! Jenderal Xin benar-benar salah dalam mendidik dirinya!” batin An Ding yang menjadi heran setelah ia melihatnya.

Saat sedang berlari menuju tempat yang lebih aman dengan membawa beban di atas pundaknya, An Ding tidak menyadari bahwa dialah yang paling tertinggal dari yang lainnya sementara, mayat itu masih sanggup berlari untuk mengejarnya. Saat An Ding sudah berada pada jarak yang cukup jauh darinya, mayat itu tiba-tiba berhenti mengejarnya. Akan tetapi, ia putuskan untuk melempar pisau dagingnya ke arah An Ding!

An Ding yang tidak menyadari serangan tersebut seketika merasa sangat terkejut ketika ia merasakan sakit pada bagian bahu kirinya karena tergores oleh pisau daging yang dilempar oleh mayat itu dari kejauhan. Lukanya mulai terlihat sangat dalam dan bahkan nyaris membasahi seluruh pakaiannya. Untuk itu ia berhenti sejenak dan menurunkan Xin Qingqi dari atas pundaknya.

Darahnya menetes hingga menyentuh rumput di bawah kakinya. Wajahnya terlihat sedang berkeringat dan menahan rasa sakit yang begitu perih bahkan ia tidak kuat untuk mengangkat tangan kirinya. Sejak tadi, ia terus memegang dan menekan bahu kirinya agar darah dari lukanya bisa berhenti mengalir keluar. Akan tetapi, semua yang dilakukannya sia-sia dan hanya memperparah keadaannya.

“Tunggu, jangan bergerak.”

Xin Qingqi tiba-tiba menarik tangannya yang terluka. Dengan ekspresinya yang terlihat serius, ia merobek lengan pakaiannya sendiri kemudian membungkus luka yang ada pada bahu An Ding. Ia melakukannya dengan begitu teliti dan berhati-hati memikirkan An Ding yang akan merasa kesakitan jika ia tidak melakukannya dengan hati-hati.

Usai membungkusnya, Xin Qingqi langsung berbalik membelakanginya kemudian berkata, “Tetaplah di sini. Aku yang akan mengurusnya.”

An Ding begitu terkejut mendengar kata-kata ini. Baru saja Xin Qingqi tampak sedang menatapnya dengan serius dan dengan bulu matanya yang terlihat Panjang jika dilihat dari dekat. Saat Xin Qingqi sedang berjalan ke arah mayat hidup yang mengerang seperti zombi, pangeran yang lain datang dan mencoba menawarkan bantuan.

“Nona Xin! Kami akan membantu Anda!” ucap Li Yangchu yang datang bersama dengan tiga pangeran lain yang membawa pedang.

Xin Qingqi langsung menjawab, “Tidak perlu, Yang mulia. Biar saya saja yang akan melakukannya. Seorang pendeta, tidak boleh membiarkan orang lain terluka dalam tugasnya.”

Xin Qingqi kemudian merubah cambuk ekor kudanya menjadi sebuah pedang yang Panjang dengan ujung yang runcing. Pada pegangan pedang tersebut, terdapat banyak sekali kertas mantra hingga seluruhnya tertutupi oleh warna emas. Xin Qingqi menunjukkan pose ancang-ancangnya yang sama seperti seorang Jenderal Xin yang hendak mengeksekusi lawannya.

Semua orang menonton pertunjukkan yang ada di depan mata mereka. Entah apa yang akan dilakukan Xin Qingqi dalam posisinya yang hendak menyerang. Lalu, ketika ia sudah siap untuk melakukan serangan, dengan Gerakan secepat kilat dan Gerakan yang tak semua orang bisa melihatnya, Xin Qingqi sudah diri tepat di belakang zombi yang sebelumnya sedang berlari untuk menyerangnya. Akan tetapi, zombi itu berhenti saat Xin Qingqi telah berpindah posisi. Dan tak lama setelahnya, tubuh zombi itu seketika berubah menjadi dua dengan darah berwarna merah tua yang kental, terciprat kemana-mana hingga ke wajah Xin Qingqi!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!