Episode 4

Istana pangeran memiliki segalanya di dalamnya. Tentu para gadis-gadis bangsawan dilarang memasukinya. Hanya seorang pelayan dan kasim saja yang boleh tinggal di dalamnya. Para pangeran di tempat ini adalah anak-anak dari para selir kekaisaran yang terdahulu hingga sekarang, juga terdapat beberapa anak dari para pejabat-pejabat tinggi istana. Mereka semua dikumpulkan di satu tempat agar bisa melatih kemampuan bela dirinya yang akan di gunakan dalam perang besar suatu saat nanti.

Di kediaman keluarga Xin, anak-anak di sana dilatih untuk menjadi seorang jenderal perang suatu saat nanti. Karena itu, hal-hal yang diajarkan pada mereka juga tidak bisa sembarangan.tidak jarang Xin Lianshi mengajarkan anak-anaknya secara langsung di tempat latihan mereka ketika ia sedang senggang. Ia membuat anak-anak dari keluarga Xin menjadi lebih tangguh dan kuat melebihi dirinya nanti.

Masalah untuk putranya Xin Huanran merupakan masalah terbesar yang ia sendiri tidak bisa menanganinya. Xin Huanran memiliki keinginan untuk tinggal di istana daripada di rumahnya sendiri. Ia bahkan sangat jarang sekali pulang ke rumahnya meski hanya untuk melihat kedua orang tuanya. Xin Lianshi tidak tahu apa yang menjadi alasan Xin Huanran begitu ingin tinggal di istana pangeran. Padahal, ia merasa kalau di sana tidak ada bandingannya jika tinggal di rumah. Apa yang anaknya harapkan dari istana seperti ini?

“Lian’er! Apakah kau melihat Ran’er?” tanya Xin Lianshi ketika ia melihat Su Lian sedang berlatih panahan tepat di halaman depan ruangan milik Xin Huanran. Dari yang terakhir kali dilihat olehnya, anak ini telah menunjukkan peningkatannya dalam menggunakan anak panah. Ia melihat, Su Lian sudah mampu melemparkan anak panahnya dengan tepat sasaran.

“Wah, Paman Xin! Apa kabarmu? Kau baru saja pulang dari medan perang?” Su Lian langsung menyambutnya dengan senyum kekanak-kanakan yang sudah dimilikinya sejak dulu. Ia berlari menghampirinya dan memberinya salam sebagai bentuk perhormatan.

Xin Lianshi menyambutnya dengan mengelus kepalanya yang kecil itu. Di dalam istana pangeran, hanya dia dan Xin Huanrah lah yang paling muda di istana ini. Sisanya mereka sudah berumur belasan tahun bahkan ada yang sudah menjabat sebagai Menteri istana.

“Sejauh yang aku lihat, kau menunjukkan peningkatan pesat. Kerja bagus.” Ucap Xin Lianshi yang langsung membuatnya terlihat sangat antusias.

“Terima kasih Paman Xin.”

“Tetapi, mengapa aku tidak melihat Ran’er? Apakah dia berencana pergi ke suatu tempat?”

Su Lian tertegun dan mencoba memikirkannya selama beberapa saat. “… Sebelumnya aku melihatnya berada di sini akan tetapi, saat aku berhasil melemparkan satu anak panah, tiba-tiba Huanran menghilang. Aku pikir dia sengaja kabur dari pelatihan untuk melihat-lihat sekitar karena sudah tiga hari ia terus berada di dalam kamarnya.” Jelas Su Lian.

Xin Lianshi menghela nafasnya. “Anak itu, benar-benar merepotkan semua orang bahkan temannya sendiri.” Batinnya kesal kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu aku akan mencarinya. Kau teruskan saja latihanmu di sini tidak perlu memikirkan dia akan pergi kemana. Karena setelah ini, aku pasti akan menyuruhnya pulang!”

~o0o~

“Kemana dia pergi? Bisa-bisanya ia menghilang seperti harapan yang tak kunjung datang.” Gumam Xin Huanran sembari mencari keberadaan Xiao Xinshu di sekitar halaman belakang istananya.

Halaman belakang itu hanya dipenuhi oleh pepohonan yang lebat. Mirip seperti hutan akan tetapi lebih seram hutan daripada halaman belakang istana yang masih terguyur Cahaya dari lilin yang menyala. Suara-suara burung liar terdengar di telinganya dan lembabnya tanah yang diinjaknya semakin memberi kesan uji nyali terhadapnya. Xiao Xinshu sengaja pergi ke tempat ini agar seseorang tidak bisa menemukannya.

“Haha! Dia pikir dia mampu bersembunyi dari orang sepertiku?! Aku pasti akan mencarinya sampai kutemukan ujung hidungnya!”

di tengah rasa antusiasnya yang sedang membara, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang berhasil memancing perhatiannya. Dalam sekejap, ia langsung menatap ke samping, mencoba mencari tahu sesuatu yang barusan di dengar olehnya. Berpikir dirinya harus berhati-hati, Xin Huanran tidak pernah memikirkan hal yang demikian tidak perlu dipikirkan olehnya. Ia hanya perlu mencari tahu letak suara itu berasal dan tidak perlu berhati-hati pada sesuatu yang tidak bisa dilihat olehnya.

Suara ini berasal dari balik pepohonan yang saling berdempetan dan memiliki daun yang lebat. Suara langkah kaki itu perlahan berubah menjadi suara seekor hewan yang sedang mengunyah mangsanya dengan sangat lahapnya. Ketika ia mencoba melihatnya dari sudut belakang, cipratan darahnya tidak sengaja terkena ujung sepatunya. Tidak busa dipungkiri lagi, sosok ini adalah sosok hewan buas yang sedang memakan mangsanya. Akan tetapi, apakah ada seekor hewan buas yang dibiarkan tetap tinggal di istana ini sementara istana ini menampung begitu banyak calon-calon yang akan menjadi jenderal berikutnya?

“Apakah ada seseorang yang mencoba menjahiliku? Awas saja kalau mereka berani melakukannya!”

Dengan penuh kehati-hatian, Xin Huanran mencoba untuk melihatnya. Saat semua sudut telah terlihat sebagian, suara kunyahan daging itu terdengar sangat jelas dan semakin jelas. Ketika seluruh pandangannya telah tertuju pada sesuatu yang ingin dilihat olehnya, ia begitu terkejut melihat hasilnya.

Selain ia melihat Xiao Xinshu yang berdiri di sana dengan pakaian yang berlumur dengan darah dan pandangannya yang terlihat kosong seolah ia sedang di kendalikan, tepat di depannya itu, terdapat sesosok monster dengan tubuh yang sangat memgerikan. Kepalanya besar serta memiliki dua tanduk di sana. Rambutnya tebal seperti seekor kuda perang dan kedua matanya memiliki bentuk yang sangat bulat dengan warna merahnya yang sangat menyala. Keempat pasang kakinya begitu besar dan ia memiliki kuku-kuku yang tajam seperti pedang. Tidak dapat disimpulkan lagi, untuk pertama kalinya Xin Huanran melihat sesosok monster yang saat ini sedang memakan tubuh seorang manusia yang telah mati.

“Yang mulia!”

Xin Huanran berteriak dan mengejutkan monster yang ada di depannya. Seketika, saat itu juga monster yang ada di depannya langsung berhenti memakan tubuh manusia yang hanya tersisa beberapa bagian saja. Sementara Xiao Xinshu masih saja terdiam dan tidak merespon panggilan darinya. Ia seperti bukan Xiao Xinshu yang sebenarnya. Saat ini, pikirannya seolah sedang dikendalikan oleh sesuatu.

Dan begitu mangsa baru telah tiba di depannya, monster itu perlahan mendekatinya dan ingin memakannya juga seperti manusia yang tadi. Ia menunjukkan seluruh giginya yang runcing Dn tajam yang mampu mencabik-cabik tubuhya sampai habis tak tersisa. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Xin Huanran menjadi ketakutan. Ia malah ingin menantangnya dengan mengeluarkan sebuah pisau belati dari dalam sakunya.

“Kau monster yang memanfaatkan kelemahan seseorang, tidak akan aku ampuni! Matilah kau sekarang juga!”

Xin Huanran berlari menghampirinya untuk melawan. Akan tetapi, monster itu sudah menggerakkan ekornya yang berbentuk kalajengking ke arah Xin Huanran yang sedang menyerang. Alhasil, kemungkinan ia akan terkena racun dari kalajengking ini adalah 100 persen jika saja ia tidak segera mengambil tindakan untuk memotongnya.

Lalu, ketika jaraknya dengan ekor kalajengking itu dirasa sudah sangat mendekati dan akan segera menusuk perutnya, seseorang yang lebih besar darinya datang dari arah belakang dan langsung menariknya ke atas kemudian memotong ekor kalajengking itu dengan menggunakan sebuah pedang raksasa.

Ekor dari monster ini akhirnya terlepas. Ia tampak begitu kesakitan dan langsung berlari mundur meninggalkan mereka betiga. Darah dari monster itu sangat berbeda dari darah manusia. Mereka memiliki warna ungu pekat yang terlihat seperti racun yang sangat mematikan. Darah dari monster itu nyaris menenggelamkan kedua kaki orang tadi yang sudah menyelamatkannya. Tidak dapat dibayangkan olehnya apabila ekor kalajengking itu benar-benar mengenai dirinya tadi. Sudah pasti ia akan mati dengan sia-sia.

“Wah, sepertinya kau bersenang-senang di sini. Aku nyaris saja melenyapkanmu.”

Suara orang ini terdengar sangat familiar di telinganya. Dan begitu ia menoleh ke samping untuk memastikannya, ternyata benar orang ini adalah Xin Lianshi yang sedang menunjukkan ekspresi kekejamannya sama seperti saat ia membunuh para pasukan lawan secara membabi buta. Seketika, saat itu juga Xin Huanran tidak mampu mengatakan apapun lagi padanya. Xin Lianshi terlihat benar-benar marah sampai membuatnya merinding dan berkeringat dingin.

“A- ayah. Apa kabarmu?” tanya Xin Huanran mencoba menyapanya dengan baik.

“Terlambat untuk mengatakannya.” Dengan mudahnya, Xin Lianshu langsung melempar Xin Huanran ke belakang lalu mengabaikannya.

Di waktu yang sama ia baru menyadari bahwa di depan sana ada sosok Xiao Xinshu yang sedang berdiri di sana dengan tatapan kosongnya. Ia tidak menunjukkan pergerakan sedikitpun dan membuat Xin Lianshi merasa dirinya harus mewaspadai keberadaanya. Pandangannya yang kosong seperti itu, bisa jadi ia dirasuki oleh sesosok arwah penasaran yang menginginkan tubuhnya. Tetapi, ia tidak bisa memastikan apakah itu benar atau tidak.

Ia mendekat secara perlahan kemudian dengan tiba-tiba, Xiao Xinshu terjatuh dan meringkuk di atas rumput yang tergenang oleh darah manusia. Saat ia terjatuh seperti itu, ia masih memiliki sisa-sisa kesadaran. Ia masih mampu melihat apa yang ada di depannya dan yang pertama kali dilihatnya adalah sosok Xin Huanran yang langsung berlari menghampirinya meski pakaiannya saat ini tengah berlumuran dengan darah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!