Xin Lianshi mengikuti arah yang diberikan oleh gadis pelayan tadi. Tidak jauh dari paviliun naga, terdapat sebuah ruangan yang dipenuhi dengan loker-loker tempat tanaman obat itu berada. Tempat itu menjadi tempat para tabib membuat obat untuk anggota Kerajaan yang sakit. Ruangan itu tidak terlalu tertutup bahkan siapapun bisa melihat beberapa tabib sedang membuat obat racikan mereka yang mereka buat dengan perolehan dari istana.
Saat ini, ruangan itu tengah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melihatnya. Butuh waktu bagi Xin Lianshi untuk menyerobot antrian para pangeran dan beberapa kasim lainnya yang merasa penasaran dengan keramaian yang ada di ruang obat ini. Wajah mereka yang melihatnya tampak pucat dan sangat terkejut bahkan meninggalkan trauma mendalam pada diri mereka yang belum pernah melihat sesosok mayat dalam kehidupan mereka.
“Jenderal Xin!” Li Yangchu mencoba berjalan menghampiri Xin Lianshi yang baru saja sampai di tempat kejadian. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Li Yangchu tampak tidak baik. Xin Lianshi merasakan bahwa kejadian ini bukanlah hal yang bagus untuk diselidiki apa penyebabnya. Orang-orang awam pasti akan menuduh Xiao Xinshu yang telah membunuh tabib yang sudah mengobatinya. Akan tetapi, lain hal yang ada di pemikiran Xin Lianshi yang menyatakan bahwa ini adalah gangguan depresi atau ada orang lain dibalik pembunuhan ini.
“Yangchu, bisa kau katakan apa penyebabnya? Mengapa tabib ini tiba-tiba melakukan gantung diri?” tanya Xin Lianshi sembari menatap wajah tabib tadi dengan serius. Seluruh tubuh dan wajahnya tampak membiru. Kedua matanya terbelalak seperti baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Ia juga menjulurkan lidahnya yang terluka akibat gigitannya sendiri.
“Saya juga tidak mengetahui apa penyebabnya Jenderal. Setelah aku selesai berlatih, tiba-tiba saja orang-orang ini mengerumuni ruangan ini. Aku pikir itu adalah sesuatu yang menarik tapi, ternyata tabib yang sebelumnya aku lihat sedang mengobati Yang mulia melakukan gantung diri di tempat ini.” Jawabnya dengan ekspresinya yang masih terlihat kaget dan cemas.
“Ini pasti karena kutukan sang Putri sulung! Aku yakin ia dipengaruhi oleh sesuatu sampai-sampai ia bertindak sejauh ini!” seru seorang pangeran bernama An Ling yang saat ini berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang berkerumun.
An Ding adalah pangeran ke-12 yang usianya baru menginjak 19 tahun, sedikit lebih tua dari Li Yangchu yang berumur 17 tahun yang juga merupakan pangeran ke-13 sementara Su Lian merupakan pangeran termuda ke-17 yang masih berusia 7 tahun seperti Xin Huanran. An Ding merupakan sosok tegas namun sedikit keras kepala. Ia berani menyuarakan pendapatnya meski beberapa orang menantangnya dan tanpa bukti yang jelas.
“An Ding! Kau tidak bisa menyalahkan kutukan. Bisa saja tabib ini sengaja melakukan bunuh diri untuk membuat gempar satu istana agar kalian percaya pada kutukan sang Putri sulung.” Li Yangchu mencoba membela Xiao Xinshu yang pasti akan disalahkan lagi dalam masalah pembunuhan kali ini.
An Ding menatapnya dengan ekspresi serius. “Memangnya butuh berapa korban lagi untuk membuktikan bahwa kutukan sang Putri sulung lah yang menjadi penyebabnya?! Aku tahu ini bukanlah keinginan semua orang akan tetapi, apakah kami harus hidup di dalam istana yang telah dikutuk ini?!”
“AN DING! LI YANGCHU! HENTIKAN PERDEBATAN KALIAN!” Xin Lianshi tiba-tiba berteriak dan membuat semua orang di sana langsung terdiam seketika.
An Ding dan Li Yangchu kemudian saling memalingkan wajah, tak ingin saling memandanginya. Xin Lianshi merasa pusing dengan suara-suara yang ada di luar sana. Ia menghela nafasnya lalu, menatap dingin ke arah para pangeran dan kasim yang sedang menonton pertunjukkan ini. Tatapan dingin itu seketika membuat semuanya langsung merinding dan bahkan ketakutan mereka berpindah pada Xin Lianshi yang seolah mengisyaratkan akan memenggal kepala mereka jika terus berada di sini.
“… Apa yang kalian lihat?! Cepat kembali bekerja!”
~o0o~
“Bunuhlah dirimu sebagai bentuk rasa tanggung jawabmu pada negara ini.”
Xiao Xinshu sangat terkejut melihat ekspresi Xin Huanran yang seketika berubah menjadi serius. Ia menatap matanya yang penuh dengan rasa dendam dan benci. Baru kali ini, ia melihat ada seseorang yang menunjukkan ekspresi seperti ini saat sedang berbicara dengannya.
Pisau buah yang saat ini di genggam oleh Xin Huanran setidaknya mampu menusuk urat-urat yang ada di lehernya dan membuatnya tewas saat itu juga. Kedua tangannya gemetaran merasakan rasa sakit yang akan dialaminya jika ia menuruti yang dikatakan oleh Xin Huanran padanya. Ujung runcing yang berkilau dengan pegangan yang terbuat dari emas, akan membuatnya berubah menjadi mengerikan. Sebelumnya ia tidak pernah berpikir untuk melakukan bunuh diri seperti yang dikatakan oleh Xin Huanran. Namun, karena keinginannya adalah agar negara ini tetap aman tanpa kutukan sang Putri sulung, ia harus segera melakukannya.
“Lakukan saja. Lagipula rasa sakitnya tidak akan terjadi selamanya. Itu akan menjadi lebih baik daripada kau merasakan rasa sakit ketika kau kehilangan orang-orang di sekitarmu.”
Ucapan Xin Huanran semakin meyakinkan dirinya bahwa itulah yang terbaik yang saat ini harus dilakukan olehnya. Meski wajahnya terlihat gemetaran, ia mencoba mengambil pisau buah yang ada pada genggaman Xin Huanran saat ini. Xin Huanran tampak tidak takut sama sekali meski Xiao Xinshu berniat akan membunuh dirinya sendiri tepat di depan matanya. Ia masih terlihat dingin seperti bukan dirinya yang biasanya.
Saat ia akan mengambil pisau tersebut dan akan menyentuhnya, dengan sengaja Xin Huanran menjatuhkannya ke lantai hingga membuat Xiao Xinshu merasa sangat terkejut. Xiao Xinshu terus menatap pisau yang terjatuh itu sementara Xin Huanran seperti sedang melihat sesuatu yang berada di belakangnya. Ia merasa Xin Huanran berusaha membuatnya salah paham dan marah padanya.
“Kenapa kau menjatuhkannya? Aku pikir kau yang akan melakukannya. Lagipula, aku sudah siap untuk menahan rasa sakitnya.” Ucap Xiao Xinshu dengan suaranya yang pelan.
“Kalau begitu, mengapa tidak mengambilnya sendiri kalau kau sudah berniat untuk melakukannya? Aku ini bukan pelayanmu atau sejenisnya. Jadi, mengapa aku harus mengambilnya? Kekuatan militer terkuat saat ini ada pada keluarga Xin. Apakah kau tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika aku menurunkan orang-orang ku untuk menyerbu istana? Kalau kau mati saat ini juga, tidak aka nada yang Namanya pewaris maupun pemimpin yang berikutnya. Sudah pasti, rakyat yang berada di bawah naungan kepemimpinan mu akan hancur dan berantakan. Oleh karena itu,..”
Xin Huanran mengambil kembali pisau yang dibuang olehnya tadi. Kemudian pisau itu ia letakkan di atas telapak tangan Xiao Xinshu dan tidak sampai di sana, ia juga mengarahkan tangannya sehingga tampak terlihat seperti Xiao Xinshu yang hendak membunuh dirinya dengan menancapkan pisau itu ke lehernya.
Xin Huanran masih menatapnya dengan dingin dan penuh kebencian. Lalu, saat pisau itu menggores kulit dan dagingnya hingga berdarah, Xiao Xinshu tampak begitu terkejut dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Xin Huanran. Akan tetapi, Xin Huanran menolak untuk melepaskannya dan terus menggores luka pada bagian lehernya sendiri sampai ia terlihat berdarah-darah.
“Berhenti! Apa yang kau lakukan?!” bentak Xiao Xinshu.
Xin Huanran terdiam selama beberapa saat sebelum berkata, “Kalau kau ingin melakukan seperti yang aku suruh tadi, maka bunuhlah rakyat yang menurutmu paling setia terhadapmu. Kalau tidak, Apakah kau mau melihat mereka diperintah dan di siksa oleh orang yang tidak bisa mereka percayai lagi?”
Seketika tangan kanan Xiao Xinshu yang menggenggam pisau itu berubah menjadi gemetaran. Ia menjadi sangat takut terhadap darah yang mengalir pada luka yang ada di leher Xin Huanran. Ia tidak mampu mengatakan apapun saat itu juga. Xin Huanran telah benar-benar membuatnya terpojok!
Saat Xiao Xinshu berada pada posisi tertekan, Xin Huanran menatap serius pada apa yang ada di belakang punggung Xiao Xinshu. Siluman-siluman itu ternyata tidak berhenti mengejar Xiao Xinshu. Mereka semua menginginkan mata kiri Xiao Xinshu yang dulu diberikan oleh raja iblis pada seorang putri sulung. Lalu, entah mengapa, mata iblis itu malah berpindah pada Xiao Xinshu yang saat itu masih berusia 5 tahun.
Tiga siluman yang berkerumun di belakang Xiao Xinshu memiliki rupa yang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka memiliki rupa seekor babi dan burung dengan paruh mereka yang paling menonjol. Siluman-siluman ini berkumpul pada saat yang bersamaan. Yaitu ketika mereka mendengar Xiao Xinshu yang tampak putus asa dengan ingin membunuh dirinya sendiri. Para siluman ini semakin menekankan perasaan Xiao Xinshu untuk segera melakukannya agar mereka bisa mengambil mata iblis yang ada pada Xiao Xinshu setelah ia mati nanti.
Meski Xiao Xinshu masih berada dalam keadaan bimbang, jumlah para siluman ini terus bertambah dan semakin membuat Xiao Xinshu tertekan saat mendengar suara-suara mengerikan mereka yang mendorongnya untuk mati. Para siluman ini juga tidak tahu bahwa sejak tadi bahkan sebelum Xin Huanran datang ke istana Pangeran, mereka mampu dilihat oleh Xin Huanran yang sejak tadi memang sudah mengincar mereka semua.
“Aku tidak mau melakukannya! Tidak! Aku tidak ingin mati sekarang! Berhentilah menuduh diriku yang sudah melakukannya!” teriak Xiao Xinshu sembari menutup kedua telinganya. Ia terlihat begitu takut. Dalam dirinya ia pasti menjerit meminta pertolongan. Bagi anak berusia 7 tahun yang baru mengalaminya sejak usia 5 tahun, tentulah hal ini bukanlah menjadi hal yang biasa baginya. Jauh berbeda dengan Xin Huanran yang sudah mampu melihatnya sejak ia masih bayi. Kemampuannya ini disebabkan karena dulunya neneknya adalah seorang peramal. Akan tetapi, tiba-tiba saja ia menghilang pada malam pernikahannya dengan meninggalkan seorang bayi laki-laki yang sudah lebih dulu dikandungnya sebelum hari pernikahannya.
“Yang mulia, bisa lihat kemari sebentar?”
Xiao Xinshu membuka matanya sembari melihat ke arah Xin Huanran yang ada di depannya. Tanpa ia mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Xin Huanran, angin lembut itu tiba-tiba berhembus, menerbangkan ujung rambutnya yang tipis. Lalu, beberapa detik setelahnya, siluman-siluman yang berkumpul tepat di belakangnya seketika saat itu juga langsung menghilang seolah-olah mereka tersapu oleh angin.
“Bisikan-bisikan itu sudah tidak ada lagi? Kemana perginya para siluman-siluman itu?” gumam Xiao Xinshu sembari menatap sekitar.
Ia tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Xin Huanran tadi. Sepertinya sejak tadi Xin Huanran hanya diam, berdiri di sana tanpa melakukan apapun. Dengan kepalanya yang terus menunduk, sangat sulit baginya untuk melihat seperti apa ekspresinya saat ini. Akan tetapi, jika dilihat lebih lama lagi, keringatnya terlihat sangat banyak bahkan nyaris membasahi seluruh wajahnya.
“Hei! Apa yang baru saja kau lakukan padaku? Keringatmu banyak sekali.” Xiao Xinshu mencoba berjalan menghampirinya dan membantunya. Akan tetapi, Xin Huanran langsung menampar tangannya kemudian mengusap sesuatu yang ada di bawah hidungnya.
“Aku tidak melakukan apapun. Yang mulia juga jangan terlalu memikirkan hal yang baru saja aku katakan tadi.” Xin Huanran memberi jeda selama beberapa saat. Lalu, setelah ia selesai mengelap bagian bawah hidungnya dengan lengan, ia menatap kembali ke arah Xiao Xinshu dengan ekspreksi kekanak-kanakannya kemudian ia berkata, “Habisnya, tidak ada satupun dari perkataanku yang aku anggap serius. Aku hanya ingin menguji Yang mulia. Akan tetapi, sepertinya Yang mulia terlalu menganggapnya serius.”
“Wajahmu lah yang membuatku sangat yakin kalau kau serius! Jangan memainkan permainan seperti itu lagi padaku!” bentak Xiao Xinshu dengan nada mengomel.
“Baik, baik. Aku mengerti. Kalau begitu aku akan pergi menyusul Ayah.” Ucap Xin Huanran dengan santainya sembari berjalan meninggalkan ruangan tanpa meninggalkan raut wajah bersalahnya pada Xiao Xinshu. Namun, sebelum ia benar-benar menutup pintu kamarnya, Xin Huanran kembali menatap ke arah Xiao Xinshu dan mengatakan. “Sebaiknya, malam ini Yang mulia tetaplah berada di sini. Saya takut, monster yang tadi itu muncul kembali untuk mengincar Anda. Ah! Dan lagipula, aku akan menyuruh Ayah untuk berjaga malam ini.”
Xiao Xinshu terdiam sejenak sembari memperhatikan hidung Xin Huanran yang mengeluarkan darah. “… hanya Yang mulia kaisar yang bisa memerintah seorang jenderal.” Jawabnya beberapa saat setelahnya tanpa menghiraukan luka yang ada pada tubuh Xin Huanran saat ini.
Xin Huanran kemudian menatapnya dengan ekspreksi cemberut lalu berkata, “Aku ini putranya. Memangnya aku tidak boleh memerintahnya? Orang itu juga selalu memberiku perintah yang sulit-sulit. Jadi, selamat malam Yang mulia. Semoga Anda bermimpi indah malam ini.”
Tanpa memberi salam ataupun hormat pada seseorang yang kedudukannya lebih tinggi darinya, Xin Huanran langsung pergi begitu saja dan menutup pintunya dengan keras. Baru saja Xin Huanran keluar dari ruangannya, ia sudah mendengar suara Su Lian yang saat itu memasuki paviliun naga untuk bertemu dengan Xin Huanran di sana.
Saat itu, Su Lian berkata, “Huanran! Hidungmu berdarah lagi. Apakah kau baik-baik saja? Jenderal Xin bilang tubuhmu itu sangat lemah. Maka dari itu kau dilarang untuk melakukan pekerjaan yang berat.”
“Sudah berapa kali orang tua itu mengatakan kalau tubuhku ini lemah? Itu sangatlah tidak benar! Dia saja yang mencari alasan untuk membawaku pulang kembali ke rumah.”
Dalam pembicaraan singkat itu, Xiao Xinshu menjadi sangat penasaran. Mengapa siluman-siluman itu segera pergi setelah Xin Huanran mengatakan untuk segera melihat ke arahnya dan alasan mengapa suara-suara mengerikan itu tidak lagi terdengar di telinganya. “Kuil Dewi peramal, aku jadi ingin pergi ke sana.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments