Episode 1

Dua tahun berlalu. Sang kaisar menyembunyikan kabar mengenai Xiao Xinshu dari dunia luar. Ia juga memberlakukan penjagaan ketat terhadapnya meski semua orang yang melihatmya merasa takut padanya. Alhasil, Xiao Xinshu merasa terisolasi dari dunia luar akibat kecacatan yang diterimanya dan penolakan semua orang di sekiatarnya. Sang permaisuri dan sang Kaisar sangat sibuk dengan pekerjaannya sementara Xiao Xinshu berada di istana pangeran, terus di sana selama dua tahun berturut-turut setelah dipindahkan dari istana kekaisaran tempat orang tuanya tinggal.

Di sini, Xiao Xinshu tidak diperlakukan secara istimewa. Karena semua orang takut padanya, ia jadi melakukan semua kebutuhannya sendiri. Mulai dari mengambil makanannya sendiri dan memakai pakaiannya sendiri. Tentu untuk ukuran anak bangsawan yang berada di lingkungan kekaisaran, melakukan hal seperti ini dianggap remeh dan perlu adanya peran seorang pelayan pribadi di dekatnya terutama untuk seorang pewaris tahta seperti dirinya. Kalau semua orang sudah merasa takut akan keberadaannya, ia menjadi merasa bersalah karena kelahirannya.

Pagi-pagi setelah ia pergi mandi, biasanya ia akan pergi mengunjungi perpustakaan. Tempat yang biasanya ramai, berubah menjadi sepi begitu keberadannya terendus oleh seseorang. Ia selalu menyukai tempat-tempat yang sunyi seperti di perpustakaan dan tidak menyukai tempat yang ramai seperti tempat latihan.

Xiao Xinshu sangat menyukai buku-buku sastra yang penuh dengan sastra-sastra kuno milik pejabat-pejabat kekaisaran zaman dulu. Ia tidak begitu menyukai buku yang diisi dengan dongeng yang orang bilang nyata. Bagaimanapun, ia hanya percaya pada apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri setelah ia memastikan bahwa ia benar-benar yakin.

Akan tetapi, tempat sunyi seperti perpustakaan ini agak sedikit menyesakkan dirinya. Berbeda sekali rasanya sebelum ia mendapatkan mata iblis ini. Saat itu semua orang memgantri untuk bertemu dengannya. Akan tetapi, kali ini jauh berbeda sekali. Semua orang seolah memiliki banyak wajah untuk menipu dirinya. Ia justru lebih kecewa terhadap orang-orang di sini yang justru sering mengabaikannya. Andai saja Sang kaisar memperbolehkannya gantung diri, sudah tentu ia akan melakukannya sejak dulu.

“Wah! Mata kirimu indah sekali! Warnanya benar-benar mirip dengan liontin Ayah!”

Suara anak kecil yang meraung gembira ini membuat Xiao Xinshu merasa sangat terkejut dan dengan cepat ia menoleh ke samping, tepat di jendela yang sedang terbuka di sana. Anak laki-laki dengan pakaian berwarna hitam itu duduk di atas sebuah dahan pohon sembari memegang sebuah liontin giok berwarna merah darah. Rambutnya dikuncir kuda dengan sepasang mata yang memiliki warna biru yang sangat cerah. Senyumnya yang lebar dan lesung pipinya yang terlihat, Xiao Xinshu yakin anak ini paling disukai oleh orang-orang yang ada di istana ini.

“Mau apa kau datang kemari?” tanya Xiao Xinshu sembari menatapnya serius.

Anak laki-laki itu berkedip beberapa kali. “… Kenapa? Sudah tentu tujuanku kemari untuk bersenang-senang. Aku lihat, semua perpustakaan ini dikuasai olehmu. Para pangeran yang biasanya selalu datang kemari setiap pagi, tiba-tiba datang ke tempat latihan kami dan sebagian malah bermalas-malasan semenjak kehadiranmu. Saat aku tanya alasanya, mereka malah menjawab yang aneh-aneh. Aku sungguh tidak mengerti mengapa mereka melakukannya.” Jawabnya sembari menghela nafasnya.

“Itu pasti karena mereka takut terluka. Bagaimanapun, aku ini memang pantas di jauhi oleh semuanya karena kutukan yang aku terima.”

Mendengar jawabannya yang pilu, membuat anak itu seketika menjadi kebingungan. Dia tidak mengerti kata-kata pantas dijauhi dan kutukan yang keluar dari mulut Xiao Xinshu. Rasanya ia baru mendengar kata-kata ini dan masih belum bisa mengartikannya.

“Wah, Yang mulia putra mahkota senang sekali bermain tebak-tebakan rupanya. Apakah itu yang menjadi alasan Yang mulia dijauhi selama ini?” anak itu memberi jeda selama beberapa saat. “… aku dengar Yang mulia dijauhi karena memiliki mata merah seperti itu. Awalnya aku pikir, yang mulia terkena iritasi tetapi, kau malah mengatakan kalau ini adalah kutukan. Aku jadi semakin tidak mengerti kata-katamu dan orang lain.”

Xiao Xinshu akhirnya membuang wajahnya. “Kalau kau tidak mengerti, yasudah! Pergi saja! Kembali ke tempat latihanmu! Jangan menggangguku!” ketusnya

“Yang mulia, ternyata Anda bisa mengusir orang lain juga ya? Akan tetapi, apakah Yang mulia benar-benar ingin aku pergi?” tanya anak itu dengan penuh menyelidiki.

“Kenapa orang rendah sepertimu malah bertanya balik padaku? Kalau aku suruh pergi, pergilah! Jangan bertanya lagi!” bentak Xiao Xinshu.

“Sungguh Yang mulia ingin aku pergi? Tetapi, dari yang aku lihat, sepertinya Yang mulia ingin aku temani meski beberapa saat saja. Ekspesi wajahmu itu Yang mulia, mudah sekali terbaca.” jawab anak itu sembari tertawa meledek.

Xiao Xinshu terdiam sejenak. Sebenarnya ia ingin bertanya sekali padanya mengapa anak ini mau mendekatinya disaat semua orang menghindar darinya karena takut terkena kutukan. Dia bahkan masih bisa tertawa di depannya meski seluruh istana sudah tahu bahwa ia adalah pewaris tahta Kerajaan yang berikutnya. Kalau saja ia tidak dihindari oleh semua orang, apakah anak ini nantinya akan takut padanya dan tidak mampu menunjukkan wajahnya di hadapannya?

Atau mungkin, dia melakukan semua ini karena merasa kasihan padanya?

“Hei! Jangan-jangan kau kemari karena merasa kasihan padaku, benar begitu? Kalau aku tidak memperoleh kutukan ini, apakah kau masih mau menunjukkan wajahmu di hadapanku?” tanya Xiao Xinshu sembari menatapnya dengan dingin.

Anak ini terdiam selama beberapa saat kemudian menunjukkan wajah penuh kepeduliannya. “… Kalau aku mendekatimu karena kasihan atau berniat memanfaatkan, aku rasa aku tidak akan repot-repot melakukan ini. Hanya ada rasa takut ketika aku bertemu dengan Yang mulia. Diasingkan dan tidak dianggap meski Yang mulia adalah pewaris berikutnya, aku pasti sudah melakukan bunuh diri. Karena, bagaimanapun juga, aku tidak ingin menjadi pemimpin bagi siapapun yang tidak bisa menganggap kehadiranku di sekitar mereka.”

Xiao Xinshu terkejut mendengar kata-kata ini dan terdiam selama beberapa saat. Tidak ada kata karena kasihan atau memanfaatkan. Yang ada hanyalah kata takut yang keluar dari bibir dan mulut anak ini. Itu artinya, anak ini hanya berusaha untuk membuatnya kembali sepeti dulu dan memancing orang-orang di sekitarnya agar mau berbicara dengannya.

Xiao Xinshu kemudian menghela nafas sembari berkata, “Bohong. Aku tidak percaya kalau kau tidak memiliki bukti. Sekarang pergilah. Banyak hal yang harus aku lakukan saat ini.” ucapnya sembari membuka bukunya kembali.

Anak itu menunjukkan ekspresi penasarannya sembari merangkak semakin mendekatinya, “Kalau begitu, bagaimana caranya agar kau percaya? Kalau perasaan cinta dari kedua orang tuamu yang menyambut kelahiranmu tidak bisa dijadikan bukti kalau sebenarnya mereka menyayangimu lalu, bagaimana dengan perasaan takut? Apakah dengan mendekatimu seperti ini bisa menjadi bukti bahwa aku takut melihat kematianmu sebab kau dijauhi oleh semua orang?”

Xiao Xinshu yang kesal karena anak ini terlalu banyak bertanya padanya akhirnya menyempatkan diri untuk menoleh ke arahnya. Akan tetapi, saat ia menoleh ke arahnya, ia tidak menyadari bahwa anak itu terlampau begitu dekat dengannya sampai-sampai mereka berdua saling melakukan kontak mata. Xiao Xinshu yang sangat terkejut atas kehadirannya seketika langsung bergerak menjauhinya dan menutup kedua matanya dengan lengan.

“Pergilah! Jangan terlalu dekat melihat ke arahku! Atau kau akan celaka nantinya!” bentak Xiao Xinshu.

Anak itu tampak kebingungan dengan semua ucapannya. Padahal ia hanya mendekat sedikit dan tidak sampai melihat kedua matanya. Ia bahkan masih berada di atas dahan pohon yang kayunya tebal. Mengapa Xiao Xinshu malah ketakutan ia akan celaka?

“Kau ini membicarakan apa? Aku ini akan baik-baik saja-

Tiba-tiba anak itu langsung menghilang dari pandangannya begitu dahan pohon yang menjadi pijakan kakinya patah. Seketika, ucapannya menjadi kenyataan. Anak itu benar-benar terjatuh dari atas ketinggian pohon. Ia bahkan mendengar suara kejatuhannya dari atas sana bahkan suaranya yang mengeluh kesakitan.

“Aduh, duh sakit sekali.”

Xiao Xinshu memberanikan diri untuk menatap ke bawah. Ia takut luka yang dialami oleh anak itu terlampau parah sekali sampai ia bisa dikatakan cacat seumur hidup. Saat ia melihatnya ke bawah untuk pertama kali, ia terkejut melihat anak itu sedang memegangi kaki kirinya yang sakit akibat terjatuh. Beberapa orang yang melihatnya langsung berlari menghampirinya dan membantu mengobati lukanya.

“Ini gawat! Kaki kiri Tuan muda Xin terkilir! Panggilkan tabib sekarang juga!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!