Episode 6

“Yang mulia! Yang mulia!”

Suara anak laki-laki terus saja memanggilnya Yang mulia. Padahal, dirinya sendiri sudah merasa bahwa ia bukan lagi salah satu anggota keluarga Kerajaan. Begitu berat bagi Xiao Xinshu untuk membuka kedua matanya. Saat ini ia tengah terbaring di atas tempat tidurnya bersama dengan tiga orang laki-laki dan salah satunya adalah tabib yang merawatnya sampai ia merasa lebih baik.

“Yang mulia sepertinya sedang menikmati mimpi indahnya. Lebih baik kita tinggalkan saja.”

“Kau tidak boleh pergi dari sini! Bagaimanapun juga kau yang menemukan Yang mulia lebih dulu!”

“Hah? Mengapa aku harus tetap berada di sini? Bukankah Ayah sudah ada untuk menemaninya?”

“Yang mulia akan merasa lebih baik kalau ia ditemani oleh anak seusianya.”

Keributan yang terjadi tepat di dekat telinganya ini membuat Xiao Xinshu merasa ingin segera membuka kedua matanya. Akan tetapi, sangat sulit sekali bagi dirinya untuk melakukannya seolah ada sesuatu yang menahan kelopak matanya. Tubuhnya pun sangat sulit untuk digerakkan dan ketika ia berhasil membuka sedikit matanya, tepat di atas tubuhnya saat ini ia melihat sebuah sosok yang mengerikan yang saat ini sedang menindih tubuhnya.

Sosok itu menyerupai manusia kerdil yang memiliki sepasang mata lebar dan berwarna merah. Tubuhnya tampak kurus dengan pakaiannya yang dipenuhi dengan lubang. Seluruh tubuhnya berwarna hitam legam yang kini tangannya sedang mencoba menahan tubuhnya agar ia tidak mampu bergerak.

“Mengapa tidak ada seorangpun yang melihatnya? Ada yang ingin aku katakan!” batinnya meronta-ronta meminta tolong akan tetapi, tidak ada satupun yang menyadari bahwa di atas tubuhnya terdapat sesosok hantu yang melumpuhkan seluruh tubuhnya hingga tidak bisa membuka mata dan berbicara.

“Ayah ini selalu saja menambah beban dalam hidupku. Aku kemari untuk bersenang-senang! Mengapa Ayah selalu memaksaku untuk pulang?”

Dari suaranya, Xiao Xinshu langsung tahu bahwa anak laki-laki yang sejak tadi menyebut Ayah dalam kalimatnya adalah Xin Huanran yang sedang bertengkar sedikit dengan Xin Lianshi yang sebenarnya ingin menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah. Akan tetapi, Xin Huanran tetap bersikeras untuk tinggal di istana Pangeran dengan alasan ingin bersenang-senang.

“Kalau kau tidak pulang, akan aku laporkan pada Ibumu!”

“Memangnya Ibu bisa membunuhku? Aku sudah dengar kalau Ibu mengizinkanku untuk tinggal di istana pangeran lebih lama! Ayah jangan coba-coba untuk berbohong padaku! Aku memiliki banyak bukti tentang kelakuan memalukan Ayah di depan umum!” ucap Xin Huanran sembari mengacungkan jari telunjuknya.

Xin Lianshi tampak tersenyum jengkel ia terlihat sedang mengambil pedang raksasanya yang ia letakkan di atas lantai. Dengan wajahnya yang memancarkan aura jahat seperti pembunuh, ia membuka sarung pedangnya yang kemudian ditunjukkan tepat di depan Xin Huanran yang tidak menyangka Xin Lianshi akan melakukan hal nekat seperti ini.

“Ayah macam apa kau?! Beraninya menghunuskan pedangmu ke pada anakmu sendiri!”

“Hah?! Siapa bilang kau anakku?! Aku hanya memiliki anak yang menuruti permintaan Ayahnya. Kalau kau terus membantah sejak tadi, sepertinya ada baiknya aku tidak memiliki anak seperti mu! Jadi, sebaiknya kau ku bunuh saja!”

Xin Huanran berteriak seakan ia takut pada pedang milik Ayahnya. Ia bergerak mundur beberapa langkah lalu, tanpa sengaja ia tersandung pinggiran ranjang tempat tidur milik Xiao Xinshu hingga membuatnya jatuh terduduk di sampingnya. Secara tak sengaja, ia menyentuh tangan Xiao Xinshu yang tertutup oleh selimut dan ia sama sekali tidak menyadarinya.

Xiao Xinshu yang mendapatinya seketika merasa jauh lebih ringan dari yang sebelumnya. Hantu manusia kerdil itu tidak lagi terlihat di depan matanya. Perlahan, nafasnya yang sesak berubah kembali menjadi seperti semula. Ia mampu membuka matanya secara lebar-lebar dan dengan perasaan terkejut dan nafas yang terdengar terburu-buru seperti seseorang yang baru saja diberikan nafas buatan.

Yang pertama kali melihatnya adalah Xin Huanran yang secara kebetulan dan tidak sengaja duduk tepat di sampingnya dan berada di atas tempat tidurnya. Mulanya ia bingung dan tidak menyadari bahwa kedua mata Xiao Xinshu telah terbuka. Kepekaannya terhadap keadaan sekitar mendapatkan poin yang sangat buruk dan menjadi pemicu meninggalnya korban jika saja ia diangkat menjadi seorang tabib kekaisaran.

“Loh?” Xin Huanran memperhatikannya sejenak dengan serius. Lalu, dengan cepat ia memancing perhatian Xin Lianshi yang masih sangat marah dengan berteriak, “YANG MULIA SUDAH BANGUN!”

“JANGAN BERISIK!”

“AHH! SAKIT!”

Bukannya mendapatkan pujian, Xin Huanran malah dipukuli habis-habisan oleh Xin Lianshi karena berani berteriak di istana pangeran. Suara teriakannya ini pasti akan memancing perhatian semua orang di sekitar istana itu dan akan membuat semua orang menjadi gaduh karena membicarakannya. Xin Huanran tampaknya ingin menangis begitu mendapatkan pukulan itu. Namun, ia berusaha untuk menekankan pada dirinya untuk tidak melakukan apapun sampai ia sendiri menjadi tenang.

“Yang mulia, syukurlah Anda sudah sadar. Apakah Anda terluka? Saya akan segera memanggilkan tabib untuk Anda.” Ucap Xin Lianshi berdiri di sampingnya.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku berada di paviliun merah?” tanya Xiao Xinshu tampak kebingungan.

“Tenang saja Yang mulia. Tabib akan segera datang untuk menyembuhkan Anda.” Ucap Xin Lianshi kembali.

Xiao Xinshu mencoba untuk membenarkan posisinya dengan memaksakan diri untuk duduk meski ia sedikit terkejut dengan hal yang baru saja terjadi padanya. Keringatnya masih terus bercucuran dari atas kepalanya. Wajahnya tampak pucat dan ketakutan. Tangannya menggenggam sprei dengan sangat kuat seakan ingin melampiaskan sesuatu yang sempat tertinggal.

“Yang mulia, tidak perlu dipaksakan. Anda bisa tiduran saja.” Ucap Xin Lianshi mencemaskannya.

“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi.”

“Jenderal Xin!”

Seorang pelayan Wanita mendatangi kamar itu dengan membawa kabar yang kurang mengenakkan. Wajahnya tampak pucat diselimuti dengan rasa takut yang tidak bisa diperkirakan. Kedua tangannya gemetar saat ia mencoba memberi salam pada Xiao Xinshu yang berada di ruangan itu juga. Pelayan Wanita itu berusaha untuk menyembunyikan sesuatu yang menakutkan dari hadapan Xiao Xinshu yang baru saja mendapatkan kesadarannya.

“Kau kembali? Kemana tabib yang aku suruh untuk datang kemari?” tanya Xin Lianshi sembari berjalan menghampiri.

Tampaknya pelayan Wanita itu tidak lagi bisa menyembunyikan ekspreksi ketakutannya. Bibirnya gemetar dan kedua matanya tampak mengeluarkan air matanya. Kedua tangannya semakin bergetar kuat dan keringatnya juga terus menerus mengalir dari atas kepalanya.

Dengan mengumpulkan keberaniannya, pelayan itu mengatakan alasannya mengapa ia tidak datang bersama tabib tadi. Wajahnya dipenuhi dengan rasa takut apalagi saat ia menatap ke arah Xiao Xinshu yang masih tidak mengetahui apapun. Ketika semua orang di sana berusaha mendengarnya dan ketika pelayan Wanita itu hendak membuka mulutnya, dengan siap Xiao Xinshu ingin mendengar apa yang terjadi pada tabib yang merawatnya sampai-sampai pelayan Wanita itu terlihat sangat ketakutan.

“J- jenderal, tabib itu ternyata dia sudah-

Belum sempat mendengar semua jawabannya, tiba-tiba kedua telinga Xiao Xinshu ditutup begitu juga dengan wajahnya hingga semuanya terlihat menjadi gelap. Seseorang yang melakukannya tentu Xin Huanran yang sedari tadi memperhatikannya. Ia melepas jubah luarnya yang kemudian ia gunakan untuk menutup kepala dan telinga Xiao Xinshu agar ia tidak bisa mendengarnya.

Lalu, saat pelayan Wanita tadi bersama dengan Xin Lianshi tidak lagi berada di kamarnya, Xin Huanran kemudian membuka kepala Xiao Xinshu dan menunjukkan pemandangan yang sepi tanpa ada wajah-wajah yang penuh ketakutan itu lagi. Semuanya terlihat tenang dan di sana hanya ada suara bambu yang meramaikan suasana.

Saat Xiao Xinshu menatap sekitar, hanya ada Xin Huanran yang satu-satunya sedang bersamanya. “Kemana pelayan itu pergi?”

Sembari memakai jubah luarnya kembali, Xin Huanran berkata, “Bukan urusanmu!”

Xiao Xinshu menundukkan kepalanya sembari berkata, “Pasti itu adalah sesuatu yang sangat penting. Mengapa aku tidak boleh melihatnya?” Xiao Xinshu memberi jeda lalu menatap ke arah pintu yang sedang terbuka. “… Aku harus menyusulnya dan melihatnya.”

“Tak akan aku izinkan Yang mulia pergi ke sana!” bentak Xin Huanran yang langsung menyadarkan Xiao Xinshu.

Xiao Xinshu belum sempat memakai sepatunya yang berada di bawah tempat tidur dan dia sudah melihat ekspreksi dingin yang jarang sekali ditunjukkan oleh Xin Huanran pada semua orang. Ia terlihat sangat serius. Akan tetapi, dibalik rasa dingin itu, Xin Huanran memiliki keinginan untuk melindungi putra mahkotanya dari ocehan-ocehan penghuni Istana yang selalu melabel Xiao Xinshu sebagai anak yang selalu membawa malapetaka bagi semua orang.

“Yang mulia, apakah kau tidak mengganggapku ada di sini? Mengapa Yang mulia begitu sangat ingin pergi sementara aku masih betah berada di sini?” tanya Xin Huanran sembari berjalan menghampirinya.

Xiao Xinshu terkejut kemudian mengalihkan perhatiannya. “… Tapi, mungkin saja ada korban lainnya selain kasim tadi. Aku melihatnya. Monster itu tiba-tiba saja datang dan memakan kasim itu hingga hanya menyisakan beberapa bagian tubuhnya. Aku hanya takut kejadian itu terus-menerus terulang. Kalau kehidupanku menjadi pertanda kesialan bagi semua orang, kapanpun aku siap untuk mati meski sekarang mereka datang dengan membawa pedang di tangan mereka.”

Xin Huanran yang mendengarnya hanya mampu menghela nafasnya. Ia kemudian mengambil sesuatu yang berada di dalam mangkuk keramik lalu, berjalan kembali menghampiri Xiao Xinshu hingga ia berhenti tepat di depannya dengan menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.

Sembari tersenyum seperti anak-anak, Xin Huanran berkata, “Secantik apapun berlian, ia akan hangus terbakar oleh api yang menyala-nyala selama bertahun-tahun. Sepertinya, Yang mulia putra mahkota telah kehilangan mahkota berharganya. Kalau begitu,…”

Xin Huanran secara tiba-tiba menghunuskan ujung pisau buah yang runcing tepat di depan leher Xiao Xinshu. Kemudian dengan ekspreksi kekanak-kanakannya yang telah berubah menjadi dingin dan kejam, Xin Huanran melanjutkannya dengan nada bicara yang terdengar sangat marah.

“Bunuhlah dirimu sendiri sebagai rasa tanggung jawabmu pada negara ini.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!