“Wah, kau ingin pergi ke kuil dewi peramal itu seorang diri? Aku sungguh tidak percaya kau ingin pergi ke kuil bobrok seperti itu. Aku bahkan tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk kuil bobrok seperti itu. Kau pikir keinginanmu akan terkabul jika berdoa di sana?
“Aku tidak datang untuk berdoa tetapi untuk memastikan. Ada sesuatu yang membuatku terpanggil ke sana meski aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan saat sampai di sana.”
“Hei! Aku ingatkan sekali lagi, kau jangan berkunjung ke kuil tua itu. Kuil itu berada di atas tebing yang di kepung oleh hutan yang sangat lebat! Belum lagi dengan keberadaan hewan-hewan buas yang akan memakanmu saat kau belum sampai di sana. Kau juga pasti akan kesulitan untuk mendaki tebingnya yang licin.”
Xiao Xinshu terdiam selama beberapa saat. Saat ini, ada seorang pria tua yang menawarkan tumpangan pada mereka berdua untuk menaiki kereta sapinya. Kereta itu penuh dengan tumpukan rumput kering dan beberapa benda lainnya seperti peralatan dapur. Jarang sekali bagu Xiao Xinshu untuk menaiki kereta yang sangat sederhana seperti ini. Biasanya Yang mulia kaisar selalu memberinya kereta kuda yang tertutup ketika ia ingin pergi ke sebuah tempat yang berada di luar kota.
“Terserah kau ingin mengatakan apa. Aku akan tetap pergi ke sana.” Singkat Xiao Xinshu kemudian mengingat kembali kata-kata yang sebelumnya dikatakan oleh Xin Huanran padanya. Xin Huanran mengatakan kalau ia tidak melemparkan satupun uang koin untuk kuil tersebut. Ceritanya hampir sama seperti yang diceritakan oleh Huanqin saat mereka berdua bertemu dalam mimpi.
“Tadi yang kau bilang itu, apakah kau pernah pergi ke tempat itu sekali?” tanya Xiao Xinshu sembari menundukkan pandangannya.
Xin Huanran terkejut mendengar pertanyaan ini, “Memangnya kenapa? Aku pernah mengunjunginya sekali bersama dengan Ayahku saat ia baru saja kembali dari medan perang. Aku cukup terkejut karena Ayah membawaku ke kuil bobrok seperti itu apalagi, ia memaksa untuk menyuruhku berdoa di sana padahal, aku tidak mau melakukannya. Mana mungkin dewa miskin itu bisa mengabulkan semua keinginanku. Jadi aku tidak percaya padanya.” Jawabnya.
“Lalu, apakah kau tetap berdoa di sana karena Jenderal memaksamu melakukannya?”
“Ya, tentu saja. Aku tidak mau dia memukulku untuk yang kedua kalinya setelah aku meledek kuil bobrok itu. Aku tidak pernah mengucapkannya, sekalipun aku tidak pernah mengatakannya pada patung dewi yang ada di depanku. Hanya saja, aku menuliskan pada secarik kertas yang aku lilitkan pada sebatang bunga kemudian aku pergi tanpa berterimakasih padanya. Singkatnya, aku malah mendapatkan pukulan kedua di wajah oleh Ayahku yang tidak terima aku melakukannya.”
Xiao Xinshu terlihat sangat terkejut, ceritanya sesuai dengan yang dikatakan oleh Huanqin padanya bahkan sangat mirip. Ia tentu langsung berpikir bahwa anak yang melakukan permohonan yang berbahaya ada di depannya. Di samping itu, ia sampai merasa penasaran setengah mati dengan tulisan yang saat itu dituliskan oleh Xin Huanran di atas secarik kertas dengan bunga.
“Apa yang kau tuliskan di sana?” tanpa sengaja, Xiao Xinshu mengatakannya hingga membuat Xin Huanran tampak terdiam dan terkejut dengan pertanyaannya.
“Ah, ahahaha. Soal itu, aku juga sudah melupakannya. Kejadian itu sudah terjadi dua tahun lalu. Aku tidak bisa mengingatnya sampai sejauh itu.” Jawabnya sembari mengalihkan perhatiannya.
Seketika, suasana berubah menjadi sepi karena tidak ada satupun dari mereka berdua yang mengatakan sesuatu. Xin Huanran memegang sebuah batu giok berwarna merah menyala yang sebelumnya diberikan oleh Xin Lianshi sebagai hadiah untuknya. Xin Huanran merasa tidak betah dengan suasana yang membuatnya harus berhenti berbicara. Sementara Xiao Xinshu merasa tidak masalah dengan kesunyian yang terjadi kali ini. Ia merasa sudah terbiasa diam seperti ini tanpa berbicara dengan orang di sebelahnya. Baginya, berbicara Panjang lebar hanya akan membuatnya merasa lelah sendiri dan sangat membuang-buang energinya.
Beberapa saat setelahnya, perhatian Xin Huanran seketika menatap ke depan seperti telah melihat sesuatu yang berhasil mengejutkannya. Xin Huanran menyeringai sembari memasukkan batu giok tadi ke dalam pakaiannya. “Yang mulia, ada sesuatu yang mengikuti kita sejak tadi.”
Xiao Xinshu terkejut dan langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Xin Huanran. Sosok siluman itu adalah siluman berbentuk sapi dengan tiga mata di kepalanya. Sapi itu berlumur dengan darah dan berjalan dengan sepasang kaki yang sudah berubah menjadi tulang belulang. Terdapat rantai yang cukup besar membelenggu lehernya dan mulut yang ditusuk oleh kayu hingga menembus kepala belakangnya. Sosok itu terlihat mengerikan bagi siapapun yang melihatnya jika mereka belum terbiasa melihat siluman yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia.
“Bagaimana ini? Kalau dia menyerang, kakek tua yang ada di depan juga akan mati.” Gumam Xiao Xinshu yang tak berhenti menatap ke arah siluman sapi mengerikan yang ada di depannya.
“Jangan menatapnya, Yang mulia. Kalau dia tahu keberadaannya diketahui oleh Anda, ia akan mengamuk dan melukai orang-orang sekitar.” Jawab Xin Huanran dengan suaranya yang pelan.
“Apakah tidak ada cara untuk membunuhnya?”
“Sepertinya itu akan sulit dilakukan, Yang mulia. Tetapi, aku memiliki satu cara untuk melakukannya.”
Xin Huanran menatap ke arah sapi itu dengan tatapannya yang terlihat dingin. Kedua mata birunya tampak lebih bersinar dari sebelumnya. ia terlihat serius dan focus dengan yang dilakukannya saat ini. Menyadari keberadaannya sedang dilihat oleh Xin Huanran, siluman itu segera mengamuk dan berlari cukup cepat mengejar kereta sapi yang ditunggangi oleh mereka berdua. Xiao Xinshu seketika berubah menjadi panik dan mencoba untuk mengeluarkan pisau belatinya yang tersimpan di dalam saku. Akan tetapi, saat ia hendak melakukan perlawanan, Xin Huanran menghentikannya dan menyuruhnya untuk tetap diam di sana.
Lalu, tidak lama setelah keduanya membuat siluman yang ada di belakang mereka mengejarnya, muncul siluman lain berbentuk ular raksasa yang datang dari arah hutan dan langsung menyerang siluman sapi itu dengan membabi buta sampai akhirnya kedua siluman itu terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.
Xiao Xinshu tidak menyangka bisa melihat pertarungan antara siluman dari jarak sedekat ini. Kedua tangannya gemetar, mengingat sosok mengerikan yang hendak memakannya dan muncul kembali sesosok siluman berbentuk ular hitam raksasa dengan mulutnya yang lebar dan giginya yang penuh racun, sedang berusaha menelan siluman sapi itu secara bulat-bulat!
“Bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa bisa ada siluman yang menyerang siluman lain?”
“Apakah aku belum menjelaskannya pada Yang Mulia kalau kemampuanku ini bisa memanggil siluman terkuat yang ada di sekitar sini?” jawab Xin Huanran sesaat kemudian. “… Di hutan ini ada begitu banyak siluman-siluman kuat. Bahkan Yang mulia bisa melihatnya dengan mata kepala Anda sendiri. Akan tetapi, di sekitar hutan ini ada sebuah penghalang yang membatasi penglihatan manusia yang membuat mereka semua tidak bisa terlihat oleh manusia bahkan dengan mata iblis sekalipun. Kecuali, dia yang memiliki darah keturunan seorang pendeta yang bisa melihatnya.”
Xiao Xinshu menatap ke arah hutan yang ada di sampingnya. Ia melihat hutan itu hanyalah hutan biasa yang tidak memiliki satupun siluman di dalamnya. Bahkan ia merasa sangat tenang saat melihatnya. Ia mendengar ada banyak suara bambu dan pepohonan yang tertiup angin begitu juga dengan suara gemericik air yang menambah ketenangan batinnya.
Apa yang dilihatnya jauh berbeda dengan apa yang dilihat oleh Xin Huanran. Di dalam sana, ia melihat ada begitu banyak siluman dengan wujud-wujudnya yang lebih mengerikan daripada siluman yang hidup di istana. Ia bahkan menemukan siluman dengan wujud manusia setengah ular yang sedang memangsa siluman lain yang jauh lebih kecil darinya. Xin Qingqi sudah mengajarkannya untuk tidak melihat dan tidak menghiraukan keberadaan siluman yang ada di dekatnya betapapun mengerikannya bentuk mereka. Karena jika sekali saja ia terlihat bisa melihat siluman-siluman itu, mereka akan mengejarnya dan akan memakan tubuhnya sampai habis tak bersisa.
“Bagaimana kau bisa setenang itu? Padahal kau bisa melihat wujud mereka yang mengerikan.”
Xin Huanran terdiam sejenak sebelum menjawab, “Untuk apa takut pada wujud mereka yang sengaja dibuat-buat mengerikan? Aku hanya takut melihat kematian manusia yang mengerikan. Ada yang mati karena terjatuh dari atas jurang dan ada yang meninggal karena dibantai oleh keluarganya sendiri. Tapi, aku tidak pernah bisa meramal kematianku sendiri. Kalaupun aku bisa melihatnya, sudah sejak dulu aku melukai kedua mataku dan membiarkan diriku hidup dalam kegelapan selamanya tanpa perlu melihat kematian orang-orang.”
Xiao Xinshu mencoba mengerti perasaan Xin Huanran saat ia terpaksa menyaksikan kematian orang-orang di sekitarnya setiap hari. Dunianya pasti berlumuran dengan darah dan rasa tidak tenang yang menghantuinya setiap hari. Xiao Xinshu pun memberanikan diri untuk menatap ke arah Xin Huanran kemudian ia bertanya, “Bagaimana denganku? Apakah kau melihat bagaimana kematianku nanti?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments