"Kalian pergi saja duluan." Kembali Papa Axel menambahkan, Axel mengangguk dan membawa Ariana bersama dengannya.
Mereka akhirnya meninggalkan pulau itu, jarak yang sangat jauh menuju kota membuat Ariana kian khawatir. Yayan berhenti di sebuah rumah mewah dan menyerahkan kemudi pada Axel.
"Baik-baik di jalan Tuan muda." Tutur Yayan, Axel mengangguk. Axel dan Ariana akhirnya melesat menuju kediaman Axel, mereka tiba setelah dini hari, sepanjang malam Axel menyetir.
Setelah sampai di garasi Axel melihat Ariana yang nampak terlelap, dia tak tega membangunkan Ariana dan membawa Ariana masuk ke dalam rumah itu dengan cara menggendongnya ala briden style.
Axel menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menatap ponselnya, sebuah pesan masuk dari Nikolas.
"Semua berjalan sesuai rencana." Isi pesan tersebut, Axel tersenyum dan menutup matanya dengan tangan.
.
.
.
Pagi hari tiba, Axel baru saja membuat sarapan untuk Ariana dan dirinya sendiri. Namun ketenangan pagi itu agaknya tidak berjalan lama.
"Permisi!" Sebuah teriakan dari luar pagar rumah terdengar menggema, Ariana juga baru selesai mandi dan melihat ke jendela.
"Yui?" Ariana bergumam dalam hati, sesuatu yang sesak terasa di hatinya. Axel terdengar mengetuk kamar Ariana.
"Masuk Kak." Tutur Ariana, Axel masuk membawa sebuah sarapan di atas nampan. Ariana tersenyum dan mengelap rambutnya yang masih basah menggunakan handuk.
"Apa dia teman mu?" Tanya Axel, Ariana menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku lihat dia bukan salah satu orang yang dulu main ke sini." Axel melihat raut wajah Ariana yang berubah.
"Bila dia kemari, sebaiknya biarkan saja." Axel menganggukkan kepalanya setuju, Axel adalah orang yang bergerak dalam terang dan kegelapan. Axel tahu siapa sosok Yui yang seolah sudah menjadi seperti parasit yang menempeli Ariana.
"Mau masuk kuliah hari ini?" Tanya Axel lagi, Ariana menganggukkan kepalanya dan perlahan meminum susu yang di bawa Axel di atas nampan.
"Aku juga akan ke kantor, selesaikan sarapannya dengan cepat. Kita akan berangkat bersama." Ariana mengangguk, Axel keluar kamar Ariana dan berganti pakaian ke kamarnya.
Ariana mengikat rambutnya dan tampil dengan sederhana untuk berangkat ke kampus, Yui juga nampak sudah tidak ada di depan gerbang rumah itu. Membuat perasaan Ariana menjadi jauh lebih tenang.
Ariana berangkat di antar Axel, di gerbang kampus nampak tiga orang manusia yang kini tengah menunggu Ariana saat mendapatkan kabar bila Ariana akan masuk kuliah hari ini.
Seperti biasanya, Ariana bersenda gurau bersama mereka dan mereka juga sama sekali tidak tahu apa saja yang sudah di lalui Ariana selama dua hari terakhir. Hari demi hari terus berlalu, kekhawatiran Ariana juga nampaknya tak berdasar karena Papa Axel sudah menghubunginya dan tengah melakukan sebuah peluncuran produk baru di Jerman.
Ariana juga terus belajar dan mulai mengikuti semua pelajaran kampus dengan baik, dia juga menyalin buku Sensen dan selalu berdiskusi dengan tiga sahabatnya. Meski begitu agaknya Jojo masih belum di berikan hidayah untuk belajar, saat mereka bertiga belajar. Jojo malah sering menghabiskan waktu untuk tidur di ruang sepi perpustakaan.
Waktu ujian semester akhirnya tiba, Ariana belajar giat dan mengikuti ujian dengan sangat baik. Berkat bantuan les tambahan setiap sore yang di berikan oleh Axel pada Ariana membuat Ariana jauh lebih memahami semua mata pelajaran yang ada.
.
.
.
"Akhirnya kelar juga!" Sensen meregangkan tubuhnya setelah berhasil menyelesaikan semua ujian dari setiap mata pelajaran kuliah. Ariana juga bernafas lega, Elen juga mengamati Jojo yang masih sibuk tertidur 'mencari ilham' istilahnya.
"Jo, kalo kamu tidur terus kamu gak bakal dapat ilmu sama sekali. Jangan mimpi jadi laduni kalo molor terus gitu Jo!" Singgung Sensen.
"Emmh.." Lengguh Jojo, dia menarik tas Elen untuk di jadikan bantal.
"Bangun Jo!" Elen menarik tasnya, namun Jo malah memaksa hingga membuat tubuh Elen terhempas bersamaan dengan itu Jo terbangun.
Cup!
Bibir Jo dan Elen menyatu, Ariana dan Sensen langsung terpaku. Ariana mengambil bukunya begitupun juga dengan Sensen, mereka seakan tak melihat apa yang baru saja terjadi.
"Dasar kampr*et!" Gertak Elen mendorong tubuh Jojo hingga terjatuh di pojok ruangan. Sensen menggunakan earphone miliknya agar tak mendengar apa-apa.
"Main nyosor aja kaya bebek!" Bentak lagi Elen, Ariana menutupi wajahnya dengan buku dan sesekali menatap keduanya.
"Udah dua kali lo kaya gini!" Bentak lagi Elen, mata Ariana langsung membulat saat mendengar itu. Begitupun dengan Sensen yang melepaskan earphone dari telinganya.
"Sial! Gue gak mau deket-deket lo lagi!" Elen menarik kerah kemeja Jojo dengan kasar.
"Pokonya balikin lagi!" Bentak lagi Elen, Sensen dan Ariana terkikik mendengar hal gila yang di ucapkan oleh Elen.
"Duh, telinga gue sakit." Jojo dengan cuek mengorek telinga kirinya.
"Lo denger gak si!" Bentak lagi Elen dengan wajah memerah, entahlah wajah Elen memerah karena malu atau mungkin marah.
"Lo ngatain apa tadi? Gue Kam*pret? Emang iya, lo baru nyadar?" Jojo berdiri dengan tangan Elen yang masih menempel di kemejanya.
"Gue nyosor? Yang pertama, lo sendiri yang nyosor di dekat jalan raya. Bener? Yang kedua, apa sekarang gue yang datang buat nyosor? Enggak tuh, malah lo yang nyosor gue kaya bebek!" Jojo membalikan semua ucapan Elen, telinga Sensen dan Ariana seketika berubah seperti telinga gajah.
Cup!
Jojo menarik tengkuk Elen dan mengecup bibir Elen dengan paksa, mata Elen seketika melotot dan mendorong tubuh Jojo. Namun Jojo tak memperdulikan Elen yang berontak dan memperdalam ciumannya.
"Hemm.. Udah gue balikin, dan gue bakal minta lagi." Bisik Jojo lembut, Ariana dan Sensen tertegun mendengar bisikan itu apa lagi Elen yang kini masih terengah.
"Eee.. San, gue pengen makan indomie nih. Ke kantin yu!" Ajak Ariana pada Sensen, Sensen tersenyum paksa.
"I..iya kayanya gue juga lapar habis ujian, kita ke kantin aja." Ariana dan Sensen langsung mengambil langkah seribu meninggalkan Jojo dan Elen yang masih larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Suasana kelas kala itu tiba-tiba senyap, beberapa orang yang semula di kelas juga memilih ke luar dan tak ingin memiliki masalah dengan preman kampus seperti Jojo. Elen berusaha pergi dari kelas itu juga bersama dua sahabatnya yang lain, namun di hentikan oleh Jojo.
"Kenapa lo menghidari gue dua minggu terakhir?" Tanya Jojo mengunci pergerakan Elen.
"G...gue.. gak menghindari siapapun. Lo aja kali yang salah faham, gu...gue.. laper mau ke kantin!" Elen berusaha keluar dari kekangan Jojo, Jojo menyandarkan tubuh Elen di tembok dan mengapit tubuh Elen dengan kedua tanannya.
"Ehem.." Suara seorang pria menyadarkan keduanya, mata Elen langsung berbinar saat mengetahui sosok yang datang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Eny Sen Senny
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-01-10
1