Bab 9. Pilihan

"Ariana, aku selalu membantunya. Tapi, entah mengapa dia selalu merencanakan banyak sekali siasat licik agar aku di benci oleh banyak orang." Yui menyeringai dalam dekapan Deren.

"Dia memang wanta jahat! Apa Ariana yang kamu maksud adalah wanita ini?" Deren mengeluarkan sebuah foto dari dalam sebuah laci di dekat sana.

"Wah, Kakak kenal Ariana juga?" Yui nampak ragu, meski sebenarnya dia tahu bila Ariana dan Deren memiliki sebuah hubungan yang sangat sulit dia tebak.

"Heh, dia memang wanita seperti itu. Apa kamu tahu dia itu hanya boneka di mataku." Singgung Deren, Yui nampak berbinar dan mendekap Deren dengan hangatnya.

"Kak Deren sangat pandai menilai orang, aku sayang banget sama Kak Deren." Yui mengecup pipi Deren hingga keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

Pikiran Yui yang ingin menaklukan Deren dan mendapatkan banyak uang pria itu, serta Deren yang ingin memanfaatkan Yui untuk membuat Ariana bertekuk lutut di hadapannya.

.

.

.

"Gimana Mang, si Fuad bisa sembuh kan?" Tanya Ariana pada seorang pria cebol yang nampak mengangkat jempol.

"Gampanglah, si Fuad kan mahluk paling kuat di antara jajaran motor tua seumurannya. Ngomong-ngomong tumben sendirian?" Pria Cebol itu menyudahi aktifitasnya dan menghidupkan si Fuad.

"Heheh, tadinya aku mau ketemu sama Yui. Tapi Yui kayanya gak ada di kostan, makanya aku lebih baik nimbrung sama bocah aja nanti agak sore." Jawab Yui dengan senyum lebar di bibirnya.

"Wah, masih temenan aja sama si Yui? Saran dari aku nih sebagai Dokternya si Fuad, aku saranin mendingan kamu jauh-jauh dari virus kaya gitu. Lihat! Si Fuad aja jadi sakit gara-gara tinggal deket kostannya." Pria cebol itu tersenyum saat si Fuad bisa hidup dan membereskan perkakas yang dia pakai sebelumnya.

"Hahah, bisa aja si! Si Fuad sakit gara-gara udah tua kali ah, berapa nih totalnya?" Ariana mengeluarkan ponselnya.

"Cuma ganti suku cadang aja, terserah mau kasih berapa." Pria cebol itu memang tidak perhitungan pada Ariana, bagi pria Cebol itu sendiri Ariana adalah sosok gadis bak malaikat yang menolongnya di saat tersulit.

Sebuah pesan singgah di ponsel si Cebol dan menampakkan angka yang cukup pantastis, si Cebol tertegun dan menatap Ariana hampir tak percaya.

"Buat si Emak yang sakit, periksain dia dengan baik ya Bol!" Ariana tersenyum tulus dan Cebol hanya membalas senyuman itu dengan balik tersenyum haru.

"Kamu memang sangat sulit di tebak ya, aku berharap agar Papa kamu juga cepat sembuh." Cebol menyimpan kembali ponselnya dan menaruh perkakasnya di dalam bagasi motor bebek miliknya.

"Makasih Bol, jangan kapok buat benerin si Fuad ya?" Ariana melambaikan tangannya saat melihat Cebol yang sudah berlalu meninggalkannya menuju jalan raya.

Mata Ariana langsung tertuju pada sebuah kendaraan mewah yang sangat Ariana kenal, Ariana memutar bola matanya dan langsung naik ke atas jok motor si Fuad. Namun, mata Ariana langsung membulat saat sesosok wanita keluar dari dalam kendaraan tersebut.

"Yui? Ngapain dia sama cecunguk bau itu?" Ariana hendak turun dari si Fuad, namun matanya langsung membulat saat mendapati Yui yang nampak berciuman mesra di dalam mobil itu.

Ariana memilih turun dari si Fuad dan bersembunyi di tempat yang aman. Ariana memperhatikan dengan sangat teliti, bagaimana tunangannya sendiri kini tengah bermesraan dengan sahabatnya sendiri.

.

.

.

Beberapa minggu lalu, Ariana bersama 3 mahluk Julidius masuk pada salah satu club malam yang di miliki oleh seorang yang tersohor.

Namnya Deren, dia sangat terkenal di kalangan banyak orang. Selain tampan Deren juga sosok yang sangat manis di hadapan wanita. Sedangkan Ariana merupakan salah satu dari sekian banyak wanita yang di pacari oleh Deren.

Awalnya Deren hanya merasa bila Ariana adalah gadis cantik dan layak untuk berada di sisinya, tanpa dia ketahui bila Ariana merupakan sosok yang sangat luar biasa. Keseharian Ariana yang sederhana itu tak pernah mencerminkan bila Ariana merupakan salah satu anak konglomerat.

"Hai sayang, kangen banget tau!" Ariana bergelayut manja di leher seorang pria yang tak lain adalah Deren.

"Kok kamu ke sini? Sama siapa?" Tanya Deren dengan wajah yang nampak tersenyum namun agak di paksakan.

"Sama teman-teman aku, udah seminggu gak ketemu tau. Kamu kemana aja si?" Tanya Ariana menunjuk tiga sahabatnya yang nampak mengawasi Ariana dari jarak aman. Selama ini 3 mahluk Julidius memang selalu mengikuti Ariana saat Ariana hendak bertemu dengan Deren, mereka tidak pernah percaya meski seujung kuku-pun pada sosok Deren itu.

"Sayang?" Seorang wanita cantik menggunakan gaun merah mencolok nampak mendekati Deren dan menghempaskan tangan Ariana.

"Siapa kamu?" Ariana yang mundur sebanyak dua langkah sangat terkejut dengan kedatangan seorang wanita cantik tersebut.

"Masa kamu gak kenal aku si, semua orang juga tahu kalo aku itu kekasinya Deren. Iyakan sayang?" Wanita itu mengecup bibir Deren dengan manja, dan tanpa penolakan sedikitpun dari Deren.

"Ke..ka..sih?" Ariana merasakan berat di kakinya, seakan ada magnet yang menarik pergelangan kakinya hingga dia sangat sulit untuk melangkah.

"Iya, kamu siapa kok sok kenal gitu sama pacar orang?" Wanita itu menatap Ariana dengan wajah menghina.

"Deren, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ariana dengan air mata yang mulai berjatuhan. Deren yang saat itu belum mengetahui identitas Ariana hanya berdecak kesal. Ya, kesal karena dia bahkan belum pernah mencicipi bibir Ariana yang manis.

"Dia Carlina kekasih ku, apa kamu kurang jelas?" Seketika tubuh Ariana terasa lemas mendengar itu, perlahan namun pasti langkah Ariana mulai mundur dan menabrak tiga tubuh yang sejak tadi memperhatikan dirinya.

"Dasar pria sampah!" Sensen yang memiliki bibir bon cabe level 50 itu langsung berkomentar.

"Pria bajing*an!" Tambah lagi yang memiliki ucapan layaknya cabe set*an itu, dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat, ketiganya langsung membawa Ariana keluar dari club itu dan membawa wanita itu pada sebuah tempat tongkrongan yang sudah biasa mereka tempati.

"Gue udah bilang dari dulu kan Ar! Gue udah bilang kalo dia itu pria kurang ajar Ar!" Jojo nampak marah dan memukul sebuah tiang kayu yang besar.

"Ta...tapi.. aku yakin, Deren cuma khilaf sesaat Jo. Dia gak mungkin kaya gitu.. hiks.. hiks.." Ariana menangis dan menumpahkan kepedihannya dalam pelukan sahabatnya yang pendiam yaitu Elen.

"Sudah Jo, aku yakin Ariana memiliki pola pandang sendiri dan tahu apa yang harus dia lakukan. Ariana juga harus membuka mata dengan lebar agar tidak tertipu!" Elen juga ikut berkomentar, Sensen menganggukkan kepalanya dan menepuk bahu Jojo yang nampak terbakar api amarah.

Terpopuler

Comments

Eny Sen Senny

Eny Sen Senny

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-04

1

Ani

Ani

ooh gitu toh ceritanya.. ayoklah Ariana jangan lagi percaya ular kadut itu

2024-01-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!