Bab 17. Patah Hati

Axel yang tengah memasak terkekeh melihat Ariana yang nampak sungguh menggemaskan, Axel melanjutkan kembali memasak. Berbeda dengan Axel, Ariana langsung meluncur mandi.

Sebuah kebiasaan buruk Ariana yang tidak pernah berubah selama ini adalah, Ariana selalu mandi dengan pakaian lengkap sebelum akhirnya membuka bajunya di kamar mandi.

"Ah, ya ampun apa yang tadi aku lakukan." Ariana menginjak pakaian basah yang semula dia pakai, Ariana mengguyur tubuhnya dengan air dingin.

"Sayang, kau di mana?" Suara Axel terdengar dari luar kamar.

"Sebentar!" Teriak Ariana dari dalam kamar mandi, Ariana menggunakan handuk dan matanya tiba-tiba melotot.

"Ya ampun, bajuku!" Pekik Ariana yang baru sadar, dia saat ini berada di rumah orang yang bahkan tak ada perempuan sama sekali.

"Sayang?" Axel membuka pintu hingga tampaklah Ariana yang membalut tubuhnya dengan selimut.

"Ngapain jadi kepompong gitu?" Tegur Axel mendekat ke arah Ariana.

"Jangan mendekat!" Ariana menghindar, Axel mengangkat alisnya bingung.

"Gak suka aku panggil gitu ya? Jangan marah dong." Axel duduk di tepi ranjang, dia menyentuh kepala Ariana yang terasa basah.

"Habis mandi?" Tanya Axel lembut, Ariana menganggukkan kepalanya lemah.

"Aku gak bawa baju ganti, aku boleh pinjem baju Kakak dulu gak?" Ariana memasang wajah imutnya. Axel tersenyum lembut dan mengambil sebuah kemeja dari dalam lemari pakaian.

"Ini muat gak?" Axel mengeluarkan sebuah kolor pantai yang biasa dia gunakan saat berlibur ke tempat itu.

"Kakak keluar dulu." Pinta Ariana merasa sangat malu. Axel berjalan ke luar kamar.

Deg! Jantung Axel berdetak sangat kencang, meski tadi dia nampak tenang itu bukan berarti dia beneran tenang. Nyatanya Axel sangat gugup, apa lagi setelah mengetahui apa yang terbalut di dalam selimut itu pasti... Ah, Axel benar-benar menjadi me*sum dan merasa sangat berdosa memikirkan hal gila itu pada Ariana.

Ariana langsung menggunakan kemeja dan kolor pendek Axel. Namun karena tubuh Ariana yang cukup mungil kolor dan kemeja itu nampak sangat kebesaran di tubuh Ariana.

"Aku mau jemur baju dulu, di samping kan?" Tanya Ariana ke luar dari kamar, dengan rambut basah dan bagian baju yang menantang itu sudah membuat Axel sesak nafas seketika.

"I..iya di samping." Jawab Axel, Ariana menjemur pakaiannya. Matahari juga nampak sudah mulai meninggi, Ariana merasa ada yang aneh.

"Kak, Papa ke mana?" Tanya Ariana mencari keberadaan Papa Axel dan asisten pribadinya.

"Papa mau ke kota dulu. Ayo masuk, kita sarapan dulu." Axel menyiapkan sarapan di atas meja. Ariana mengikuti apa yang di intruksikan oleh Axel.

.

.

.

Di tempat lain, seorang wanita nampak mengetuk sebuah kamar apartemen mewah. Tak berapa lama kemudian seorang pria nampak membuka pintu tengah berte*lanjang dada.

"Yui, ayo masuk!" Ajak pria itu, Yui masuk dan duduk di atas sebuah sofa mewah di ruang tamu.

"Mau minum apa sayang?" Tanya pria itu, Yui menatap sekeliling apartemen itu.

"Aku cuma mau bicara sesuatu Riki, menurut mu sekarang kita pacaran sudah berapa lama?" Tanya Yui, Riki yang merupakan kekasih Yui itu tersenyum lembut.

"8 Bulan sayang, orang tua kamu juga sudah aku beri uang di kampung. Kamu tidak perlu khawatir dengan hal lainnya." Ya, Riki adalah anak seorang Tuan tanah di kampung Yui.

Akibat malu memiliki seorang ayah yang cacat dan ibu yang hanya bekerja serabutan, Yui selalu mengatakan bila dirinya adalah anak yatim piatu. Dan yang mengetahui kebenaran tentang semua itu hanya Riki dan Kakak perempuan Riki saja.

"Terima kasih, tapi Riki. Sebenarnya, aku datang ke sini ingin membicarakan hal lainnya." Yui menghempaskan rambutnya yang baru saja keluar dari salon, aroma wangi parfum luar Negri langsung menyeruak memasuki indra penciuman.

"Aku mau kita putus!" Putus Yui, Riki memelototkan matanya hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar sendiri.

"Maksud kamu apa Yui?" Tanya Riki, Riki sendiri adalah pria baik hati yang sangat menyayangi Yui dengan tulus. Dia tak pernah berfikiran kotor pada Yui, dia selama ini juga membiayai kehidupan Yui dan kedua orang tuanya.

"Aku merasa kita tidak cocok, dan kamu juga tahu bukan? Bila tahun ini aku mendaptkan beasiswa." Tutur Yui dengan entengnya, Riki memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

"Kamu sebaiknya berfikir lebih jauh lagi Yui, apa salah ku selama ini?" Riki merasa sangat terhina. Dengan semua pengorbanan yang Riki lakukan untuk Yui, semuanya seolah sudah lenyap begitu saja. Yui mengambil sebuah kartu dari dalam tasnya.

"Di dalan sini ada uang dua miliar, itu kompensasi atas apa yang kamu berikan padaku dan orang tua ku selama ini." Yui menaruh kartu tersebut di atas sebuah meja kaca di depannya.

"Yui, kamu sebenarnya kenapa?" Riki berdiri dan menggenggam kedua pundak Yui.

"Kenapa? Aku rasa sudah tidak ada lagi alasan untuk kita bertahan Riki. Kamu selalu tidak peka dengan apa yang aku inginkan, kamu selalu tidak perduli dengan apa yang aku butuhkan. Aku rasa, aku sangat bahagia melakukan ini semua." Yui tersenyum dengan bangganya.

"Bekerja di mana kamu sekarang Yui? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya lagi Riki, dia masih tidak percaya bila sosok gadis yang selama ini selalu dia cintai kini malah membuangnya begitu saja.

"Itu bukan urusan mu!" Yui menghempaskan tangan Riki, hingga membuat Riki tertegun dengan perubahan sikap drastis Yui.

Yui ke luar dari dalam apartemen itu, dia membanting pintu dengan cukup kasar dan langsung menuju ke bawah. Di sebrang jalan apartemen itu, nampak seorang pria tengah tersenyum licik di balik kaca sebuah cafe.

"Sayang!" Teriak Yui dan memeluk sosok pria tersebut, dia adalah Deren Kronion. Deren tersenyum dan mengecup bibir Yui dengan lembut.

"Kamu dari mana? Sudah selesai dengan urusan temannya?" Tanya Deren membawa Yui duduk di hadapannya.

"Sudah, malam ini aku akan datang ke tempat itu." Tutur Yui dengan senyum manis di bibirnya, Deren terkekeh dan mereka akhirnya makan siang bersama.

Di sisi lain, Riki yang melihat kepergian Yui dari apartemennya langsung tertegun sejenak. Dia cukup mengenal sosok Deren, namun dia tidak mengenal Deren dengan pandangan baik.

Hati Riki hancur seketika saat melihat bagaimana ciuman mesra antara Yui dan Deren, Riki menekan dadanya yang berdetak tak karuan. Riki bahkan belum sempat mengenakan baju setelah mandi dan langsung membuka pintu saat Yui mengetuk dengan celana Jins yang dia kenakan.

Riki perlahan mundur, Riki tak mungkin membuat masalah dengan Deren. Riki masih memiliki orang tua yang harus dia lindungi, Kakak perempuannya dan orang-orang di desa yang mungkin lebih membutuhkannya.

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

kamu **** Yui meninggalkan pangeran kuda putih demi monster berkedok pangeran. penyesalan selalu datang terakhir Yui

2024-01-10

1

vivinika ivanayanti

vivinika ivanayanti

Ooalaaahhh Yuii.....

2024-01-10

3

Eny Sen Senny

Eny Sen Senny

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!