Pagi berganti menjadi siang, dan siang juga berganti menjadi sore. Ariana baru saja mengambil bajunya yang sudah kering. Papa Axel masih belum kembali dari kota, sedangkan mobil Axel saat ini di pinjam oleh sang Papa.
"Ke pantai yu?" Ajak Ariana pada Axel yang menatap laut dari kursi rotan yang sering di duduki sang Papa, warna jingga juga nampak sudah menghiasi seluruh langit. Matahari nampak melambai hendak mengucapkan selamat tinggal.
"Enggak, di pantai berbahaya." Tutur Axel menggenggam tangan Ariana dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Berbahaya kenapa?" Ariana yang memang belum mengetahui apa-apa itu menatap pantai yang sangat menggoda.
"Yang memikat itu selalu memiliki masa kelam sayang, coba lihat ke sana!" Axel menunjuk pada bagian ombak yang bergelombang.
"Itukan!" Ariana terperanjat melihat sosok menakutkan itu. Axel terkekeh dan memeluk Ariana dengan hangatnya.
"Itu, seperti yang kamu lihat. Seekor hiu, selain itu ada banyak binatang beracun di sekitar pantai." Ariana merinding mendengar itu.
"Coba lihat kawat itu!" Deren menunjuk sebuah kawat di bawah jalan yang membentuk seperti jala. Ariana mengerti maksud Axel dan bernafas lega.
"Kak, kenapa Papa lama?" Tanya Ariana merasa tidak sabar, satu hari ini dia serasa senam jantung akibat selalu bersama Axel.
"Mungkin urusannya belum selesai." Axel menjawab dengan jujur, meski urusan yang kini tengah di lakukan oleh Papa Axel tentu saja berkaitan dengan Axel dan Ariana.
Suara kendaraan roda empat akhirnya terdengar mendekati ke arah mereka, nampak seorang pria tua dan bawahannya turun dari kendaraan itu, sedangkan seorang lagi nampak masih di dalam dan mengotak atik leptopnya.
"Papa?" Ariana berdiri dari pelukan Axel, Papa Axel tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak kayu.
"Ini, kamu urus sisanya." Papa Axel menyerahkan kotak itu pada Axel. Axel membuka kotak itu, Ariana juga nampak sangat tertarik dan mendekat ke arah Axel.
Dua buah buku kecil dan sebuah token gambar naga, Ariana mengambil salah satu buku kecil itu dan menatapnya lekat-lekat.
"Ini seperti buku nikah." Tutur Ariana membuka buku tersebut. Deg! Jantung Axel terpompa dengan sangat cepat. Seketika otak Axel berputar, mungkinkah itu buku nikah dirinya dan Ariana yang di buat secara diam-diam oleh Papanya untuk mengikat Ariana?
"Hem... Papa cakep banget pas masih muda!" Teriak Ariana melihat sebuah foto lama dalam buku kecil itu, mata Axel langsung teralih dan melihat isi dari buku itu.
"Inikah surat nikah Papa." Gumam Axel, Papa Axel nampak terkekeh.
"Memangnya apa yang kamu harapkan? Apa kamu mengharapkan buku nikah milik orang lain?" Singgung Papa Axel, Axel berdecak kesal dengan tatapan menghunus tajam ke arah sang Papa.
"Lihat Kak, Mama cantik banget!" Ariana menarik Axel untuk melihat foto sang Mama. Axel tersenyum kecil dan mengecup pipi Ariana tanpa aba-aba.
Refleks Ariana menyentuh pipi yang semula di tempeli bibir Axel yang terasa lembut, Ariana langsung menatap Axel hingga pandangan mereka saling beradu. Bersama dengan angin sore itu keduanya seolah larut ke dalam dimensi yang jauh dari bumi.
"EHEEEEM!!!" Dengan sangat di sengaja, Papa Axel berdehem untuk menyadarkan dua orang manusia yang kini nampak tengah di mabuk cinta.
"Sudah buat makan malam?" Tanya Papa Axel, dia berjalan di antara Ariana dan Axel. Tangan Ariana masih menyentuh pipinya yang terasa sangat hangat.
"Kamu juga sangat cantik, sayang." Bisik Axel yang pada akhirnya mengikuti langkah sang Papa untuk masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Ariana terpaku, dia menatap Axel yang sudah berjalan kian menjauhi dirinya. Ariana tersenyum dan seketika wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Maaf Nona, ini beberapa baju yang kami belikan saat kami ke kota." Yayan menyadarkan Ariana yang masih terdiam, Ariana mendekati Yayan.
"Paman, apa aku cantik?" Tanya Ariana masih belum percaya dengan apa yang di katakan Axel sebelumnya.
"Tentu saja, apa ada masalah?" Yayan yang memang selalu jujur sekaligus perhatian menyerahkan sebuah kotak pada Ariana.
"Enggak ada, makasih Paman." Ariana menutup buku kecil di tangannya dan menerima kotak itu. Mereka berjalan bersama menuju ke dalam rumah, Axel nampak terkekeh melihat semburat merah yang masih menghiasi kedua pipi kekasihnya.
"Papa bilang malam ini akan terbang ke Jerman bersama asistennya, sedangkan Paman Nikolas akan menghadiri sebuah lelang besar di Inggris. Apa kita juga sebaiknya pulang, apa masih ingin tinggal?" Axel bertanya pada Ariana yang nampak masuk ke dalam rumah bersama Yayan.
"Paman Nikolas?" Ariana nampak berfikir, Axel menunjuk pada seorang pria yang baru keluar dari dalam mobil menggunakan sebuah kaca mata.
"Oh, Paman itu." Ariana ingat bila sosok Nikolas pernah bertemu saat dia baru saja sampai di tempat itu, Nikolas sendiri memang sangat pendiam dan tak banyak bicara.
"Dia adalah adik Mama, tapi dia memilih tinggal di sini bersama Papa karena dulu dia hampir meninggal, akibat mencari Mama yang di usir dari rumah." Ariana terdiam sejenak. Memang pernah ada kejadian itu sebelumnya, Ariana tak perlu lagi bertanya pada siapapun sekarang tentang apa yang sudah terjadi pada Axel. Karena ingatan Ariana yang sudah kembali, jelas Ariana lebih mengetahui sosok Axel di bandingkan siapapun.
"Kalo mereka semua gak ada, kita pulang aja ya kak? Lagian aku takut ketinggalan banyak pelajaran." Ariana masuk ke dalam sebuah kamar yang dia tempati, dengan sangat cepat Ariana berganti pakaian dengan yang di berikan oleh Yayan sebelumnya.
"Emangnya kita mau pulang sekarang? Mobilnya mau di pakek Papa dulu sayang." Tegur Axel, Ariana mengerutkan keninya.
"Terus kita gimana?"
"Kalian sebaiknya kembali saja lebih dulu bersama Yayan, sekalian dia ngambil mobil di garasi. Axel, jangan lupa apa yang aku katakan tadi!" Tambah Papa Axel memberikan wanti-wanti pada putranya.
"Iya Pa, Papa gak usah khawatir. Aku pasti jagain Ariana dan akan memberikan kabar baik secepatnya." Ariana sebenarnya tidak mengerti dengan ucapan ayah-anak itu.
"Papa, kenapa Papa mau pergi ke Jerman. Katanya nyuruh Ariana tinggal di sini beberapa hari dulu?" Ariana datang mengecup kening Papa Axel, sebelum dirinya pergi bersama Axel. Bahkan mereka terkesan sangat tergesa-gesa.
"Gak Papa sayang, pokonya setelah ini sebaiknya kamu berpergian bersama pengawal." Pinta Papa Axel, Ariana menjadi panik dengan keadaan itu.
"Kak, apa sebenarnya yang terjadi?" Ariana menggenggam tangan Axel yang juga nampak gugup.
"Besok juga tahu, sekarang kita pulang dulu ya?" Axel meyakinkan Ariana bila sesuatu hal yang buruk tidak akan terjadi.
"Kak, Papa lebih baik ikut kita saja. Lagian mobilnya muat buat kita semua kok." Ariana memohon, Axel tersenyum tulus dan menatap Papa dan Pamannya bergantian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Eny Sen Senny
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-01-10
2