Bab 5. Dia Ariana

Deren kembali mengecup Yui semakin dalam, bahkan ciumannya kali ini terasa sangat berbeda bagi Yui, lidah Deren masuk ke dalam mulutnya dan bergulat dengan buasnya.

Deren yang menyadari kemampuan Yui belum mempuni akhirnya melepaskan Yui saat itu, dia ingin memakan Yui saat di rasa Yui sudah matang. Saat ini Yui terasa masih sangat masam dan mentah bagi Deren yang sudah sangat berpengalaman dalam bercinta.

Hari itu Yui mabuk hingga sangat parah, Deren menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan Yui ke apartemennya. Sedangkan dirinya ingin memuaskan hasratnya pada wanita lain dulu.

.

.

.

Siang itu dengan susah payah Arkana meyakinkan Ariana untuk bertemu dulu dengan sahabatnya, namun Ariana hari itu memiliki janji dengan anak-anak jalanan terlebih dahulu.

Arkana setuju, sedangkan ketiga sahabatnya saat ini tengah mengikuti kegiatan kampus. Ariana akhirnya berangkat di antar seorang sopir kakaknya dan mengajar di tepi jalan.

Ariana juga membagikan banyak makanan dan sembako pada mereka yang membutuhkan, Ariana berharap dengan apa yang dia lakukan selain dapat meringankan beban orang lain, dia juga berharap dapat memberian karma baik untuknya di masa depan.

Ariana bukanlah sosok yang tahu banyak tentang agama, namun dia sangat yakin bilamana seseorang berbuat baik, maka hal baik juga akan ada bersama dengannya.

Diam-diam setelah 4 hari melakukan penantian, akhirnya Axel dapat kembali melihat sosok gadis yang kini tengah mengajar anak-anak jalanan dengan tawa lebar di bibirnya.

"Menurut kamu dia bagaiman?" Tanya Axel pada Bagas yang sejak 4 hari lalu sudah menderita banyak itu.

"Dia?" Bagas menatap Axel yang kini nampak tengah memperhatikan seorang wanita.

"Dia, sangat cantik." Puji Bagas jujur, Axel tersenyum penuh arti.

"Kita berangkat sekarang, setelah itu kita kembali ke sini." Ucap Axel ingin cepat menyelesaikan urusannya dengan Arkana.

Saat Axel tiba, Arkana nampak sudah duduk di sebuah kursi sederhana di sebuah cafe terbuka. Axel nampak mencari sosok adik yang hendak di kenalkan Arkana itu.

"Mana adik mu?" Tanya Axel dengan cepat, Arkana tersenyum dan mempersilahkan Axel duduk terlebih dahulu.

Namun melihat Axel yang nampak duduk tidak tenang membuat Arkana merasa gemas dengan tingkah sahabatnya itu.

"Kamu duduk kaya orang kebelet gitu, lagi bisulan?" Tanya Arkana dengan sifat jenakanya.

"Aku lagi di tunggu orang, mana adiknya lama banget!" Kesal Axel hingga tak berapa lama kemudian sebuah mobil mewah nampak parkir di dekat cafe tersebut.

Seorang wanita cantik dengan mata indah dan rambut panjang nampak berjalan ke arah mereka, Bagas yang menyadari sosok tersebut membulatkan matanya seketika.

"Aduh, maaf nunggu lama ya?" Ucap wanita itu, sontak saja jantung Axel langsung berdetak cepat saat kembali melihat sosok gadis manis yang dia nanti selama beberapa hari terakhir.

"Hei, Om. Apa kabar?" Ariana mengulurkan tangannya pada Axel dengan senyum lebarnya seperti biasa.

"Ee.. beg.." Arkana hendak menarik tangan adiknya, namun matanya tiba-tiba membulat saat Axel menerima uluran tangan Ariana dan tersenyum ramah.

"Baik, masih demam?" Axel tanpa sungkan juga langsung menyentuh kening Ariana dan tersenyum lembut.

"Tuan, ini!" Bagas napak panik dan memberikan obat pada Axel.

"Tidak perlu." Ucap Axel dan menarik sebuah kursi untuk dapat di duduki oleh Ariana.

"Kalian saling kenal?" Tanya Arkana sedikit syok, selain itu Axel juga nampak aneh.

"Lo udah sembuh juga Xel?" Tanya lagi Arkana kian penasaran, Axel menggelengkan kepalanya.

"Enggak, cuma nyentuh dia aja yang tidak bereaksi." Ucap Axel yang memang belum tahu nama Ariana.

"Apaan si? Jadi kepo." Ariana nampak celingukan melihat Axel dan Arkana yang nampak tengah berbagi kode aneh.

"Kok aneh, kamu beneran cewek kan?" Tanya Arkana melihat adiknya dari ujung kaki ke ujung kepala. Ariana tertegun mendengar pertanyaan sang kakak yang berada di luar nalar.

"Ya ampun, dari segi apa aku terlihat seperti laki-laki?" Balik tanya Ariana memajukan bibirnya hingga terkesan sangat imut.

"Syukurlah, setidaknya aku memiliki harapan." Ucap Axel mencubit pipi Ariana yang terlihat sangat menggemaskan.

"Harapan?" Ariana menjadi sangat bingung dengan maksud kedua pria tersebut, Arkana terkekeh.

"Aku tidak suka bila adikku di manfaatkan." Bantah Arkana, dia sudah mengerti dengan maksud Axel sebelumnya.

"Tidak memanfaatkan, aku memang serius." Ucap Axel, Ariana yang berada di tengah-tengah percakapan itu terasa menjadi seperti alien yang tidak mengerti maksud percakapan itu.

"Tidak sekarang." Sangkal Arkana, Axel menganggukkan kepalanya mengerti .

"Aku juga akan perlahan." Ucap Axel, Arkana hanya mengangkat sudut bibirnya ke atas.

"Ah aku jadi khawatir, sebaiknya aku titipkan dia pada salah satu dari manusia sableng itu kemarin." Keluh Arkana, Axel melotot mendengar itu.

"Kamu berani?" Bentak Axel hingga membuat Ariana juga sedikit terkejut dengan tingkah pria itu.

"Sudahlah, sana pergi! Bukanlah tadi kamu sedang di tunggu seseorang?" Tanya Arkana tersenyum penuh kemenangan.

"Tidak, siapa yang bilang begitu? Bagas, apa kamu mendengar aku mengatakan itu tadi?" Tanya Axel pada sopirnya.

"Tidak Tuan, saya tidak mendengarnya sama sekali." Jawab Bagas, membuat Arkana yang melihat itu hanya terkekeh geli.

"Ariana, jadi bagaimana menurut kamu?" Tanya Arkana meminta pendapat sang adik yang sedikit bingung.

"Jadi Om ini yang akan rawat aku selama kakak pergi?" Tanya Ariana dengan tatapan menyelidik ke seluruh tubuh Axel.

"Aku bukan Om kamu!" Tegas Axel, Ariana tersenyum lebar mendengar bantahan itu.

"Hehehe, habisnya mirip Om Om." Jawab Ariana, ucapan tersebut mampu membuat nyali Axel ciut seketika, apa dirinya sudah setua itu? Pikir Axel.

"Iya dia memang kaya Om Om, tapi bisa kan Ariana selama tiga bulan tinggal dulu bersama Om Om ini, kakak janji akan pulang lebih cepat." Ucap Arkana memasang wajah paling memelasnya.

"Uang jajan naik 2 kali lipat?" Tawar Ariana mengangkat alisnya dan tersenyum kikuk.

"Berapa uang jajan mu sebulan?" Tanya Axel memperhatikan lekuk wajah Ariana yang nampak sangat cantik itu.

"Sekitar 5 juta sebulan, tapi di tambah dengan uang jalan jadi 10 juta sebulan." Ucap Ariana nampak sedikit berfikir, dia juga belum tahu mengenai jumlah pasti uang jajannya.

"3 Kali lipat, bagaimana?" Tawar Axel, Ariana menganggukkan kepalanya setuju.

Kring..

Kring..

Kring..

Ponsel Arkana tiba-tiba berbunyi, Arkana melihat ponselnya dan menerima panggilan itu dengan cepat.

"Ada apa Dok?" Tanya Arkana, dia menerima telepon dari dokter yang menangani Papanya.

"Tuan Bagaswara mengalami drop, apa anda bisa kemari secepatnya?" Ucap Dokter tersebut, Ariana yang mendengar percakapan itu langsung menutup mulutnya.

"Baik, saya akan segera ke sana. Tolong beri perawatan terbaik pada Papa saya." Ucap Arkana sebelum akhirnya menutup percakapan itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!