Bab 11. Elen Cewek

"Gak papa kok, aku cuma lihat orang yang aku perjuangkan malah bersama dengan sahabat sendiri. Miris ya Kak?" Ariana tanpa sadar merasakan kehangatan yang di berikan Axel.

"Pacar?" Tanya Axel, Ariana menggelengkan kepalanya.

"Cuma mantan, Kak Arkana tak menyetujui hubungan kami. Selain itu tiga sahabat ku yang lain sangat tidak suka padanya. Aku juga tak menyangka bila dia akan bersama dengan orang yang sudah ku anggap saudara sendiri." Ariana tanpa sadar menghempaskan bebannya pada Axel, Axel terus mengelus kepala Ariana hingga tanpa sadar Ariana justru tertidur dalam pelukan Axel.

Axel yang menyadari bila Ariana sudah terlelap menatap Ariana dalam-dalam. Axel memutuskan untuk menyelidiki sisanya sendiri. Ariana di bawa oleh Axel ke kamarnya.

Axel pergi meninggalkan Ariana menuju kamarnya, dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu apa saja yang terjadi pada Ariana selama ini. Meski beberapa informasi sudah di dapatkan oleh Axel tapi dia merasa penasaran dengan 3 sahabat Ariana yang sangat dekat dengan Ariana itu.

Keesokan paginya, Ariana bangun lebih pagi dan merasa lebih segar. Beban di hidupnya seolah terangkat semua, Axel juga sudah membuat sarapan. Di temani keheningan, mereka sarapan bersama.

"Aku berangkat sama si Fuad ya Kak, papayo.." Ariana berlari ke garasi dan mengeluarkan sebuah motor tua, Axel terkekeh dan membiarkan Ariana pergi sendiri. Namun Axel tanpa sengaja menangkap semburat merah yang menghiasi pipi Ariana.

"Menggemaskan sekali gadis itu." Gumam Axel dan menaiki sebuah mobil yang biasa dia pakai untuk pergi ke kantor. Sang sopir juga nampaknya sudah berada di kantor. Ah, agaknya kurang tepat bila Bagas di katakan sebagai supir saja, selain supir Bagas juga merangkap sebagai asisten pribadi dan asisten umum.

Baik kehidupan pribadi Axel maupun masalah kantor, Bagas selalu menjadi yang terdepan. Axel sampai di kantornya dan mulai bekerja, begitupun Ariana yang sampai di kampus dan bertemu dengan tiga sahabatnya.

.

.

.

"Ariana?" Yui nampak menyapa Ariana yang sedang nongkrong santai bersama tiga sahabatnya.

"Lu denger sesuatu gak si?" Tanya Jojo yang seolah merinding tiba-tiba.

"Eh, kita ada kelas jam 8? Mendingan kita langsung cus aja yo!" Ajak Ariana yang menarik tiga sahabatnya.

"Tumben banget lu menghindari tuh siluman? Tobat lu?" Tanya Sensen dengan gayanya yang ceplas-ceplos.

"Gak papa, oh ya gue mau melakukan satu uji coba nih guys!" Ariana membisikkan sebuah rencana pada tiga sahabatnya.

"What?" Jojo melotot seraya berteriak setelah mendengarkan penuturan Ariana.

"Apaan si Jo? Biasa aja bisa kali!" Ariana menggeplak tangan Jo yang nampak menunjuk-nunjuk Elen. Sebelumnya Ariana menjelaskan mengenai identitas Elen yang seorang wanita pada dua sahabatnya yang lain.

"Terus kalo gue pengen ajak kalian ke tempat tinggal baru gue, gue gak bisa ngajak cewek makanya gue harus cari cara biar Elen aman. Gimana?" Tak terasa mereka sudah sampai di depan ruang kelas mereka.

"Menurut gue, Elen emang keliatan kaya cowok meski dia gak bisa sembunyi dengan baik juga si." Sensen menambahkan, Jojo menatap Sensen dengan sengit.

"San, lo juga udah tahu kalo Elen itu cewek?" Jojo mengerutkan keningnya.

"Ya iyalah, emang lo gak tau?" Sensen melipat tangannya di depan dada.

"Ya enggak lah! Secara gitu, dari mana gue bisa liat Elen itu cewek? Dada rata, perut atletis, rambut pendek, mata..." Jojo menghentikan ucapannya saat melihat mata Elen yang menghunus tajam.

"Mata gue kenapa?" Elen melotot, dua bola mata besar milik Elen yang saat itu tidak terbalut kaca mata yang biasa dia pakai langsung membuat Jojo terdiam.

Glek!

Jojo menelan salivanya, dia menundukkan kepalanya namun bibir Elen yang berwarna merah muda alami itu mampu membuat Jojo memalingkan wajahnya seketika.

"Sialan lo Jo!" Ariana menggeplak kepala bagian belakang Jojo dengan kasar.

"Sableng!" Tambah Elen mengikuti langkah Ariana.

"Hahaha, gue kira otak lo aja yang rusak, eh taunya mata lu juga picek Jo, hahaha..." Tawa Sensen merangkul bahu Jojo untuk masuk ke dalam kelas bersama.

Ketiga orang sahabat Ariana tertegun saat melihat Ariana membawa sebuah cacatan, selain Sensen dan Elen biasanya Jojo dan Ariana tak pernah membawa catatan sekalipun.

"Tobat lo Ar?" Singgung Sensen, namun ucapannya terhenti saat catatan yang di bawa Ariana justru di gunakan bantal untuk tidur siang oleh Ariana sendiri.

"Kecewa gue nanya, gue kira lo beneran tobat!" Elen yang berada di samping Ariana hanya terkekeh dan menggunakan kaca matanya.

'Jadi selama ini dia itu cewek ya?' Jojo bergumam dalam hati, matanya menatap Elen yang tertawa lepas.

'Jadi waktu itu..." Pikiran Jojo melayang pada ingatannya di masa lalu, Jojo membenturkan keningnya ke atas meja dan menyembunyikan pipinya yang terasa memanas.

Pelajaran pagi itu di mulai dengan Jojo dan Ariana yang tertidur, sedangkan Elen dan Sensen justru fokus. Meski keduanya memang terkesan anak nakal, tapi dalam urusan akademi keduanya berada di peringkat 10 pada Fakultas mereka.

Setelah pelajaran selesai sebuah demo terjadi pada perut Ariana dan teman-temannya. Ariana mengelus perutnya yang bergemuruh kelaparan.

"Ke pemadam kepalaran yo? Gue gak kuat nih!" Ariana mengelus perutnya yang berteriak-teriak minta asupan.

"Yo! Gue kangen sama.." Ucapan Sensen tergantung, Ariana dan dua orang temannya langsung saling bersitatap.

"Sama Nyai? Hahaha..." Tawa Jojo terdengar menggema seisi ruangan kelas itu, wajah Sensen nampak memerah, Sensen mengusap tengkuknya seraya menyembunyikan semburat merah yang terlukis indah di pipinya.

"Permisi? Ada kiriman makan siang untuk Nona Ariana." Seorang pria berjas rapi datang menghampiri Ariana.

"Buat saya?" Ariana melihat bekal makanan di dalamnya dan nampak cukup untuk mereka ber 4. Ariana membuka isi makan siang itu.

"Aduh Kak Axel, terima kasih ya Om!" Ariana tersenyum pada pengantar makanan yang tak lain adalah Bagas.

"Kak Bagas, ngapain lo ke sini?" Elen yang semula sedang merapikan kertas di atas meja tidak begitu fokus pada sosok yang datang.

"Menerima perintah dari Tuan muda, Elen juga satu kelas sama Ariana ya?" Bagas nampak pura-pura tidak tahu.

"Iya, sama orang lain inget. Sama gue gak inget tuh?" Elen terkekeh dan Bagas juga nampak tersenyum seraya mengacak-acak rambut Elen.

"Itu cukup buat kalian ber 4 kok, aku kembali dulu ya?" Bagas melambaikan tangannya pada mereka semua dan pergi dari kelas itu.

"Kalian keliatan deket?" Singgung Jojo pada Elen yang nampak melambaikan tangan juga pada Bagas.

"Emang deket, bahkan dulu kita sering tidur bareng. Sebelum dia kerja kaya gini." Lirih Elen tersenyum lembut.

"Kalian pacaran?" Tanya Jojo dengan tatapan mautnya yang nampak seperti laser.

"Pacaran! Lo gila ya?" Elen menggelengkan kepalanya, Sensen yang melihat sesuatu yang tidak beres hanya menggelengkan kepalanya.

"Dia abangnya keles!" Sensen menggeplak kepala Jojo dari belakang, Jojo merasakan ada sesuatu yang terasa lega di hatinya.

'Gue kenapa?' Jojo merasakan dadanya yang berdetak cepat, matanya tertuju pada Elen yang tertawa lembut. Seolah ada banyak bunga cantik yang turun dari atap kelas dan memperlihatkan kecantikan seorang Elen. Jojo menekan dadanya yang terasa akan meledak itu.

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

😂😂😂😂😂 itu namanya Jojo lagi jatuh cintrong sama Elen. awas jantungnya lepas dari tempatnya 😃😃😃😃😃

2024-01-06

1

Ulul Ismi

Ulul Ismi

lanjut thot

2024-01-06

1

Eny Sen Senny

Eny Sen Senny

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!