Bab 8. Kemunafikan Yui

"Axel..." Lagi dan lagi suara itu terdengar syahdu, hingga secercah cahaya tiba-tiba muncul dalam gelapnya mimpi Axel.

"Kak Axel?" Kembali suara merdu itu terasa begitu nyata, hingga mata Axel perlahan terbuka.

"Ariana?" Axel tersadar dan terkejut saat mendapati Ariana kini nampak cemas dan mengusap keningnya yang di penuhi oleh keringat.

"Apa bermimpi buruk?" Tanya Ariana lagi menatap dua bola mata indah Axel yang nampak bergetar.

"Aku mau peluk, boleh?" Ariana kembali meminta izin, Axel menganggukkan kepalanya. Ariana mengelus punggung Axel dengan penuh perhatian, elusan itu terasa sangat nyaman bagi Axel.

"Dulu aku juga selalu mimpi buruk, Mama akan memeluk ku dan mengatakan bila mimpi buruk itu bukan berarti harus di takuti." Axel mengangguk dan mengeratkan pelukannya.

"Kenapa belum tidur?" Suara serak Axel mempu membuat dada Ariana kembali berdebar.

"Ini masih siang tahu, aku berencana ke suatu tempat dulu sekarang. Aku mencari mu tadi, tapi aku malah menemukanmu di sini." Ariana mengendorkan pelukannya dan tersenyum tulus.

"Mau ke mana?" Axel menatap Ariana, ada sebuah kata 'tidak rela' dalam tatapan Axel.

"Mau ke suatu tempat, boleh ya?" Ariana memohon dengan sangat. Axel menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukannya dari Ariana.

"Gak lama kok, papayo Kak Axel!" Ariana berlari ke luar perpustakaan dan menepuk jidatnya saat sudah berada di luar rumah.

"Dasar gila! Ngapain gue sampe bilang gak lama. Aduh ampun pokonya!" Ariana tepuk jidat dan kembali melangkah meninggalkan rumah tersebut.

Rumah yang terletak di pusat kota itu, sangat memudahkan Ariana pergi ke manapun. Selain karena dekat dengan jalan raya, Ariana juga dengan mudah dapat menemukan kendaraan umum yang akan membawanya pada suatu tempat.

Ariana menuju sebuah hunian kost yang sebelumnya dia tempati. Kostan itu terlihat masih sepi, Yui juga nampak tudak berada di tempat dan hanya memperlihatkan kesunyian.

"Yui kemana ya? Tumben hari libur ada acara." Ariana mulai melihat si Fuad yang nampak sakit di garasi kostan itu, Ariana menghubungi sebuah bengkel. Tak lama kemudian seorang montir datang dan memperbaiki si Fuad dengan sangat baik.

.

.

.

Di tempat lain, seorang gadis perlahan mulai membuka matanya. Sebuah kasur besar yang sangat empuk dan nyaman. Pemandangan mewah dan memanjakan mata itu mampu membuat kedua bola mata wanita itu membulat sempurna.

"Sudah bangun?" Seorang pria masuk dengan bertelanjang dada, dia hanya mengenakan kolor dan tubuh yang di penuhi keringat.

"Kak Deren, kenapa aku bisa di sini? Stt.. aw.." Yui memegang kepalanya yang terasa berdenyut.

"Semalam kau mabuk, jadi agar lebih aman aku membawa kamu ke sini." Jawab Deren, Yui mulai mengingat-ingat apa saja yang sudah dia lalui tadi malam. Hingga gambaran ciuman panas dirinya dan Deren terekam dengan sempurna.

"Aduh, maaf banget kak semalam itu... aku gak sengaja.. hem.. anu Kak.." Yui nampak gugup hendak menceritakan situasinya, Deren mendekati ranjang dan tersenyum jahil.

"Aku suka yang semalam, apa kamu mau mengulanginya?" Deren mengangkat dagu Yui hingga semburat merah kini terasa hangat menjalar di pipinya.

"Aku belum mandi, terima kasih Kak Deren." Yui menutup wajahnya yang memanas, Deren tersenyum simpul.

"Yasudah, mandi dulu sana! Aku akan buatkan sarapan untuk kamu." Deren kembali ke luar kamar dan menuju dapur, seringai licik kini tergambar di wajahnya.

Pagi itu, sebelum Yui bangun. Seorang bawahan Deren melaporkan bila Yui ternyata adalah sahabat dekat Ariana. Deren sangat senang mendengarnya dan merencanakan sebuah siasat licik yang akan membuatnya mampu menangkap dua burung dalam satu bidikkan.

"Kau berani menolak ku dan mengatai ku sampah, lihat saja Ariana. Akan ku buat hidup mu hancur melebihi apapun kehancuran yang pernah ada di muka bumi ini." Deren bergumam serta memasak untuk Yui.

Tak lama kemudian Yui ke luar kamar dengan wajah cerah dan tubuh segar serta kemeja Deren nampak menempel di kulit putihnya, Deren susah payah menelan salivanya saat dua gundukan besar di dada Yui nampak sangat menggodanya.

"Kamu sangat menggoda Yui." Deren mengelus pipi Yui dan mengecup bibir Yui dengan sangat brutal.

"Ah.. Kak Deren... Hem.." Yui merasakan tubuhnya yang meremang, dia membalas ciuman panas itu dengan sangat lihai.

'Dia cukup cepat dalam belajar, heheh.. akan ku buat kau jadi tahanan ku!' Deren menyeringai dan menekan salah satu gundukan besar di dada Yui.

"Ah.." Yui merasakan sesuatu yang di rasa sangat nikmat, dia tidak pernah di manjakan pria sebelumnya. Bahkan untuk pertama kalinya, Yui di sentuh dengan sangat ugal-ugalan seperti itu.

"Kau suka sayang?" Bisik Deren, dia melihat adanya semburat merah di pipi Yui. Yui menganggukkan kepalanya dan menerjang bibir Deren dengan ganasnya.

"Aku sangat suka." Bisik Yui hingga ciuman panas itu kembali berlangsung, mereka pada akhirnya di sadarkan dengan masakan Deren yang hampir gosong.

"Kak, apa aku cantik?" Yui memeluk Deren yang telanjang dada itu dari belakang, dia memperhatikan Deren yang nampak sangat lihai bermain dengan perkakas dapur.

"Kamu cantik Yui, ayo kita sarapan." Ajak Deren menyajikan masakannya di atas meja dan membiarkan Yui yang nampak sangat tergoda dengan masakan yang dia buat.

"Kakak sangat pintar memasak, kakak belajar dari mana?" Puji Yui dengan wajah manisnya, Deren tersenyum simpul.

"Aku belajar saat berada di Kemp militer." Jawab Deren jujur, Yui menutup mulutnya dan nampak sangat terpukau.

"Wah hebat sekali, lain kali aku akan masakkan sesuatu untuk Kakak. Aku sudah tidak memiliki orang tua, jadi sejak kecil aku sudah belajar memasak." Yui nampak bersedih, Deren mengangkat sudut bibirnya.

'Aku tak perlu mengajarinya berakting, dia sudah sangat lihai rupanya melakukan hal itu.' Gumam Deren dalam hati kecilnya, dia sangat puas dengan kemampuan Yui.

"Apa kamu membutuhkan uang Yui?" Mendengar penawaran Deren, mata Yui langsung berbinar namun dia langsung menundukkan wajahnya.

"Enggak papa Kak, aku kerja sampingan di mini market." Tolak Yui memasukan satu sendok makanan di hadapannya.

"Aku akan membantu kamu Yui, bila kamu membutuhkan apapun kamu bisa langsung menghubungi ku. Aku berjanji akan memberikan apapun yang kamu inginkan." Deren tersenyum sekilas hingga tanpa sadar sebuah debaran terasa hangat di dada Yui.

"Terima kasih Kak Deren, sebenarnya aku sangat tidak nyaman tinggal di kostan tempat ku sekarang. Banyak sekali orang yang tidak menyukai ku, padahal itu bukan kesalahan ku." Yui nampak menitikan air matanya.

'Sangat pandai menangis juga rupanya.' Gerutu Deren dalam hati, dia menghapus air mata Yui dan membawa Yui dalam dekapannya.

"Siapa yang begitu jahatnya membuat kamu seperti itu?" Tanya Deren dan mengelus punggung Yui dengan lembut.

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

ini sih ular kadut ketemu buaya darat wes cocoklah.. saling memanfaatkan

2024-01-04

2

Eny Sen Senny

Eny Sen Senny

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-04

2

Eny Sen Senny

Eny Sen Senny

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!