"Hmm, bagaimana?" Axel tak ingin menjawab, Ariana nampak berfikir dan menatap jarinya. Dia memang punya cincin, tapi itu adalah pemberian Deren yang 'belum sempat' Ariana kembalikan.
"Ini udah sore juga." Gumam Ariana bingung, mungkinkah masih ada toko perhiasan yang buka sampai sekarang?
"Apa gak papa pacaran aja Kak?" Ariana mulai nego pada Axel.
"Kenapa pacaran?" Tanya Axel yang mulai memasang perangkapnya.
"Soalnya gak akan ada toko perhiasan jam segini, lagian ukuran tangan ku ini sangat istimewa." Ucap Ariana memperlihatkan jemari lentiknya.
"Nih, bagaimana?" Axel menyelipkan sebuah cincin indah dengan berlian berkilau gambar hati di atasnya.
"Wah, kok bisa pas banget?" Ariana mengangkat tangannya ke atas, dia meneliti benda berkilau itu dengan penuh kekaguman.
"Aku juga gak tau, mungkin jodoh kali sama kamu." Tutur Axel berbohong, tentu saja Axel berbohong karena cincin itu sudah dia pesan sekitar satu minggu lalu.
"Keren, oh ya apa nih yang bakal aku dapatkan bila aku melakukan ini semua, hem?" Ariana memasang wajah yang menggemaskan di hadapan Axel.
"Memangnya apa yang kamu inginkan?" Axel memalingkan wajahnya yang terasa memanas.
"Aku mau beli apapun di mini market, gimana?" Tanya Ariana dengan kedua bola mata yang nampak berbinar.
"Sepakat!" Axel langsung menyetujui keinginan Ariana, tanpa tahu apa tujuan Ariana sesungguhnya. Ariana tersenyum puas dan berjalan menuju kamarnya.
"Aku buat list belanjaan dulu, Kak Axel gak boleh nakal ya kalo jadi tunangan boongannya Ariana, heheh.." Ariana tersenyum lebar dan masuk ke dalam kamarnya.
"Terserahlah, setelah besok kamu juga tidak akan bisa kabur dari ku." Lirih Axel yang berhasil memasang jaringnya dengan sempurna.
.
.
.
Keesokan paginya, Ariana sudah siap dengan sebuah baju sederhana yang cukup sopan. Rambut panjangnya di biarkan terurai, sebuah tiara indah juga nampak menjadi penghias rambut Ariana. Riasan tipis yang di pakai Ariana juga memperlihatkan sosok Ariana yang anggun dan sangat menawan.
Axel tak berkedip saat melihat Ariana turun dari lantai dua, Axel menelan salivanya. Bila seperti ini Axel jadi tak ingin keluar dari kediamannya.
"Kak, aku mau izin ke taman di samping dulu ya?" Ariana mengambil sebuah gunting dan berjalan ke luar, Axel masih terpaku di tempat dan merasakan sebuah desiran yang terasa manis di seluruh urat tubuhnya.
"Dia bidadari." Gumam Axel menyentuh dadanya yang berdetak sangat cepat. Ariana mengambil beberapa bunga dari taman di samping kediaman itu, dengan sangat cekatan Ariana juga membuat buket sederhana.
"Ayo berangkat Kak!" Arian melambaikan tangannya di dekat garasi, dua buah buket bunga di bawa Ariana.
"Saat sampai di sana masih mau memanggilku Kakak?" Axel tersenyum jahil pada Ariana yang masuk ke dalam sebuah mobil.
"Hem, panggil apa dong?" Axel menatap dua buket indah di tangan Ariana. Senyum terukir di sudut bibir Axel.
"Sayang, mungkin." Jawab Axel masuk ke belakang kemudi, Ariana terkekeh dan mengacungkan jempolnya.
"Siap, tunangan palsu mu ini akan melakukan penampilan memukaunya." Tutur Ariana, Axel hanya tersenyum penuh arti.
Mereka berdua melesat menuju sebuah perkampungan yang cukup sepi, melewati jembatan yang membelah lautan dan bukit serta pantai yang indah.
"Masih jauh?" Tanya Ariana saat sudah hampir tengah hari, namun mereka belum kunjung sampai di tempat tujuan mereka.
"Bentar lagi sampe kok." Jawab Axel mulai naik lagi pada sebuah bukit, di bawahnya nampak pantai indah dengan air biru dan pasir putih serta angin yang berdesir hangat.
Axel mematikan mobilnya dan mereka sampai di sebuah hunian sederhana, sangat sederhana dan tradisional. Seorang pria tua nampak keluar bersama dua orang pria yang masih terbilang masih muda.
"Dia Papa ku." Bisik Axel pada Ariana, Ariana langsung tersenyum dan mengambil satu buket bunga di dalam mobil itu, Ariana berlari ke arah pria paruh baya itu dan memeluknya.
"Ya ampun, siapa gadis manis ini?" Tanya pria tua itu yang cukup terkejut dengan pelukan mendadak Ariana.
"Eh, heheh.. maaf Papa, aku Ariana." Ariana mengecup punggung tangan pria tua itu, ada sesuatu yang terasa nyaman dan berdetak cepat di dada Ariana kala itu.
"Gadis baik, kamu kemari bersama Axel?" Tanya pria tua itu yang nampak sangat kesulitan.
"Iya, Papa kok keluar segala sih. Biarin aja Axel masuk, kenapa Papa repot-repot buat nyambut bocah itu?" Umpat Ariana, Axel mengerutkan keningnya. Kenapa Ariana berubah pikirnya?
"Hahah, aku kira tidak akan ada yang memahami karakter bocah nakal itu. Ayo masuk Nak!" Papa Axel membawa Ariana masuk ke dalam rumah sederhana itu, di dalam sana tak ada yang istimewa hanya beberapa foto lama dan kursi tua.
'Kak Axel jahat banget, dia membiarkan Papanya tinggal di kediaman tua kaya gini, sedangkan dirinya tinggal di istana yang mewah.' Gerutu Ariana dalam hati, dia menatap Axel dengan kesal.
"Ariana, aku terasa sangat familiar dengan nama ini?" Tanya pria tua itu, dia merasa sangat sering mendengar nama itu.
"Ariana putri dari Paman Bagas, Papa ingat dia bukan?" Axel menyela pembicaraan Ariana dan sang Papa.
"Owh, jadi ini putri dari Bagaswara? Apa kabar nak?" Tanya pria tua itu yang nampak sangat mengenali Ariana.
"Hehe.. Aku baik, Papa kenal Papa ku juga?" Tanya Ariana yang mulai sedikit berpikir.
"Tentu saja, kami adalah sahabat sejak kecil. Kami merintis perusahaan dari nol hingga saat ini kami bisa mewariskannya." Tutur pria tua itu, Ariana memang pernah mendengar tentang sahabat masa kecil sang Papa.
"Aku pernah dengar si, tapi aku gak tau kalo temennya Papa itu ternyata Papanya Axel." Ariana mulai merasa kecewa dengan pilihannya untuk menjadi tunangan pura-puranya Axel.
'Kenapa sekarang aku merasa tertipu?' Gumam Ariana dalam hati, dia menatap Axel yang nampak tersenyum simpul.
"Oh iya Pa, aku bawa Ariana ke sini untuk memperkenalkan dia sama Papa, dia calon istrinya Axel." Ungkap Axel serius, Ariana membulatkan matanya.
'Dasar bodoh! Kalo dia bilang kaya gini, nantinya akan jadi urusan keluarga ba*ngkeeee!' Umpat Ariana dalam hati, sedangkan Axel nampak acuh tak acuh.
"Wah, bagus sekali pilihan mu. Tapi, mengenai..." Papa Axel menggantung ucapannya.
"Tentang itu, itu sama sekali tak bereaksi pada Ariana. Aku juga tidak rahu kenapa, tapi yang jelas tuhan memberikan berkat luar biasanya padaku." Ungkap Axel, mata pria tua itu nampak melebar dan senyum indah terukir di bibirnya.
Agaknya pria tua itu kini sudah menyadari apa yang sebenarnya terjadi, melihat bagaimana tatapan Axel pada Ariana. Dan tatapan Ariana pada Axel seolah menjadi jawaban dari apa yang telah terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Eny Sen Senny
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-01-08
2