Episode ini mungkin tidak cocok bagi beberapa pembaca yang memiliki trauma.
"Ariana, aku punya sesuatu untuk kamu. Ayo ikut Papa!" Papa Axel membawa Ariana pada sebuah ruangan, nampak seperti rungan kerja. Ariana duduk saling berhadapan dengan Papa Axel, keringat membanjiri tubuh Ariana. Padahal sepanjang malam dia sudah memikirkan banyak hal untuk hal ini.
'Sial! Ada apa ini sebenarnya?' Gumam Ariana dalam hati, Papa Axel nampak mengeluarkan sebuah sertifikat yang tebalnya sangat luar biasa.
"Yan, kamu bisa menggantikan ini menjadi atas nama menantu ku kan?" Mata Ariana membulat seketika, refleks Ariana berdiri dan menatap Papa Axel dengan dada bergetar hebat.
"Tentu saja Taun." Jawab seorang pria yang nampaknya adalah asisten pribadinya Papa Axel.
"Ini adalah beberapa sertifikat pulau terdekat, dan beberapa tambang emas di daerah Papua." Ucap Papa Axel, Ariana menelan salivanya. Axel yang duduk di sudut rungan itu hanya tersenyum seraya menikmati teh hangat yang entah sejak kapan berada di sana.
"Aku mau bicara dulu dengan Axel Pa." Ariana langsung menarik lengan Axel menuju ke luar rungan tersebut.
Ariana mendorong tubuh Axel hingga menempel dinding, Ariana mengapit tubuh Axel dari kanan dan kiri menggunakan tangannya. Ariana menatap Axel tajam.
"Bagaimana ini? Bila sampai aku menerimanya bagaimana dengan calon istri mu di masa depan?" Ariana mengelus dada akibat kejadian demi kejadian yang seolah tengah mempermainkannya.
"Tinggal menikah dengan ku, apa itu terlihat buruk?" Ariana melotot mendengar nada santai itu dari Axel.
"Hei Tuan Muda! Kau tidak pernah pacaran sebelumnya ya? Bagaiamana bisa kamu mengatakan hal serius semacam itu dengan santai?" Ariana menatap Axel dengan sengit.
"Aku tidak santai, kemarin aku sudah mengatakan bila kau akan menjadi tunangan ku bukan?" Ariana menganggukkan kepalanya.
"Apa aku mengatakan hanya pura-pura?" Ariana tanpa sadar menggelengkan kepalanya.
"Jadi, aku memang serius dengan ucapan ku." Tambah Axel, Ariana mengedipkan matanya merasa terkejut dan sangat syok mendengarnya.
"Kak, apa otak mu rusak?" Ariana mengusap tengkuknya yang terasa meremang.
"Tidak, aku memang mencintai kamu Ariana." Axel memeluk Ariana hingga tatapan mereka saling beradu, debaran jantung di keduanya seolah selaras dan senyum indah terukir di bibir Axel.
"Jangan kurang ajar!" Ariana menepis tangan Axel yang melingkari perutnya.
"Tidak, kamu sudah merencanakan segalanya." Axel terkekeh dan mengecup kening Ariana hingga wajah Ariana nampak bersemu kemerahan.
"Ahhh! Kurang ajar!" Ariana memukul dada Axel lemah, Axel hanya terkekeh dan menarik Ariana ke dalam dekapannya.
"Dengarkan ini, bukankah dada ku seperti mau meledak?" Tanya Axel menempelkan telinga Ariana di dadanya.
"Ariana, mau tidak mau sekarang kamu tunangan ku Ariana." Axel tersenyum lembut hingga membuat Ariana merasa sangat aneh. Ariana memukul pipinya berulang-ulang.
"Hai dewa mimpi, bangunkan aku!" Teriak Ariana hingga membuat Papa Axel ke luar dan melihat bagaiamana kemesraan Axel dan Ariana yang nampak sangat menggemaskan.
"Papa?" Ariana langsung berontak dari pelukan Axel, namun Axel tak ingin melepaskannya dan malah mengangkat tubuh Ariana.
"Kalian sebaiknya ke belakang, temui Mama mu Axel." Titah Papa Axel, Axel mengangguk dan membawa Ariana ke belakang kediaman itu. Sebuah makam sederhana dengan banyak pohon bunga di sekitarnya nampak sangat menawan.
"Turunkan aku!" Pekik Ariana kembali berontak, Axel menurunkan Ariana dan berjalan menuju ke hadapan pemakaman Mamanya.
"Mama, apa kabar?" Axel berjongkok dan mengusap nisan itu. Tanpa sadar air mata Axel meleleh dan dadanya terasa sesak.
.
.
.
"Dasar anak haram!" Teriak seorang wanita tua yang melemparkan sebuah tas besar dan banyak pakaian ke wajah seorang wanita cantik.
"Pergi dari sini! Bawa anak mu itu!" Pekik wanita itu lagi, wanita cantik itu bernama Lolita. Lolita merupakan seorang gadis yang mempercayai ucapan seorang pria dan harus memiliki anak di luar pernikahan anak itu bernama Axel.
Ya, Axel pernah sangat menderita melebihi derita dari kebanyakan orang. Axel semasa kecil pernah memakan makanan sisa, namun di usianya yang ke 6 seorang bocah seumurannya membawa Axel pulang.
Dia adalah Arkana, hubungan Arkana dan Axel berubah menjadi sahabat dekat tanpa memandang status. Arkana sering membantu Axel dan bermain bersama, hingga sosok Ariana datang ke dunia dan menjadi bayi yang sangat menggemaskan.
Arkana dan Axel selalu menjaga Ariana dengan sangat baik, meski di usir dari kelurganya, ibu Axel yang bernama Lolita tak pernah mengeluh pada kehidupan, berkat kemampuannya yang mempuni dia menjadi sosok seorang Disainer yang sangat di perhitungkan.
Axel dan Arkana tumbuh bersama, hingga pertemuan antara Papa Axel dan sang Mama menjadi titik penderitaan mereka kembali bermula. Berkat perlindungan dari keluarga Bagaswara, Lolita dan Axel berhasil melewati segalanya. Hingga pernikahan antara kedua orang tua Axel berlangsung.
Kebahagiaan seolah sudah menyapa Axel kala itu, namun di usianya yang ke 7. Sebuah kejadian yang membuat Axel menjadi sekarangpun terjadi.
Kala itu Mama Arkana mengalami sakit keras dan di rundung duka, namun saat tersebut juga merupakan duka bagi Lolita dan Axel. Lolita dan Axel di culik oleh sosok yang merupakan musuh besar keluarganya 'Kronion' keluarga itu tercipta selayaknya dewa kematian yang menghantui banyak kebenaran.
Lolita di cab*buli, di sat*roni bahkan di siksa dan di gantung hingga kepalanya terpisah dengan badan. Semua itu di lihat langsung oleh Axel. Axel menangis darah bahkan tak sanggup lagi bergerak.
Usia Axel yang masih 7 tahun itu di paksa meminum sebuah obat perangsang hingga rasa sakit di sekujur tubuhnya seolah menjadi derita yang tak berujung. Axel di satroni oleh beberapa orang wanita dewasa hingga Axel pingsan, namun setelah Axel bangun hal serupa akan kembali mereka lakukan.
Rasa pedih dan sakit itu memicu rasa kebencian yang luar biasa dalam diri Axel pada sosok wanita, seperti gelarnya keluarga Kronion menghanguskan seluruh pelaku yang terlibat, agar tak ada yang mampu membuka mulut.
Tujuan keluarga Kronion adalah merusak masa depan dari keluarga Axel, agar mereka tak memiliki penerus. Rasa benci Axel akan memicu rasa takut dan fobia yang tak berkesudahan. Tujuan mereka berhasil dengan sangat mulus, beberapa wanita yang menyantap tubuh Axel di bunuh oleh ketua Kronion dan sisanya di bakar hidup-hidup.
Begitulah kisah pilu tragedi yang menimpa sosok Axel, dia tumbuh menjadi sosok pria tangguh bukan tanpa alasan. Axel memiliki alasan untuk dirinya sendiri, dan alasan yang membuat Ariana tidak masuk dalam daftar takut Axel, karena sejak kecil darah mereka sudah saling berdekatan. Meski Axel pada awalnya tidak mengenali wajah Ariana, tapi sesuatu dalam tubuhnya tak dapat menyangkal bila mereka memiliki ikatan yang lebih dalam dari sekedar sayang yang di sebut ikatan batin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
vivinika ivanayanti
Kasihan Axeell 😭😭😭
2024-01-09
1
Eny Sen Senny
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-01-08
1
Ani
yang menimpa Axel kecil mengerikan sekali ..
2024-01-08
1