Bab 16. Insomnia

"Ah ya ampun! Ingatan Ariana kembali. Namun bukan itu yang membuat dia pingsan." Tutur Dokter tersebut menghela nafas berat.

"Ingatan Ariana?" Axel merasakan dadanya bergemuruh, ada banyak kekhawatiran yang kini merasuki pikiran Axel.

"Lalu apa yang membuat Ariana pingsan?" Tanya Papa Axel yang juga sangat cemas dengan calon menantunya.

"Dia dehidrasi dan telat makan." Ucap Dokter tersebut, Axel melotot mendengar penuturan Dokter itu. Begitupun dengan Papa Axel yang melotot pada Axel, akibat keteledoran Axel, Ariana menjai korban kelaparan.

"Jangan menatapku seperti itu!" Pekik Axel, Papa Axel memalingkan wajahnya merasa muak dengan sikap Axel.

"Dia memiliki riwayat penyakit lambung, dan asam lambungnya naik. Kalian orang kaya, apa beli beras saja tidak mampu?" Singgung Dokter tersebut, dia tak menyaring lagi ucapannya pada kedua Tuannya.

"Kau bisa menjual berlian dengan harga selangit, apa memberi makan calon menantu ku saja tidak mampu?" Tambah lagi Papa Axel, Axel melotot dan merasa terpojok.

"Anda juga bisa menjual emas dengan harga selangit, apa memberi makan menantu mu saja tidak sanggup?" Tambah Dokter tersebut, mata Papa Axel langsung melotot dan menendang Dokter yang tak lain adalah bawahannya itu ke luar rumah.

Axel masih berada di dalam kamar, Papa Axel sengaja memberikan ruang pada Axel agar dapat berfikir lebih jernih.

"Ah ya ampun, bagaimana bila dia bangun? Apa yang harus aku katakan?" Axel nampak cemas bukan kepalang.

"Uuh..." Suara Ariana mengaduh, Axel tertegun seketika Axel seolah berubah menjadi batu yang kaku, kedua kakinya seperti terpaku dan tak dapat bergerak.

"Air..." Lirih Ariana, Axel langsung berlari mengambil segelas air hangat dan memberikannya pada Ariana.

"Kak Axel.." Lirih lagi Ariana lemah, Axel langsung duduk di tepi ranjang.

"Aku di sini!" Ucap Axel cepat, Axel bergerak layaknya robot yang mendengarkan ucapan Ariana.

Ariana mengulurkan tangannya dan menyentuh tangan Axel, Axel seakan tersetrum dengan aliran listrik ribuan volt saat tangan Ariana menyentuh kulitnya.

"Apa Kakak membenci ku?" Lirih Ariana lagi, air matanya nampak jatuh berlinangan.

"Tidak, jangan berkata seperti itu." Tutur Axel lansung mengusap air mata Ariana yang membasahi pipinya.

"Kenapa Kakak pergi?" Tanya Ariana lagi, Axel merasakan dadanya yang sesak dan akhirnya menunduk hingga wajah mereka sangat dekat.

"Karena aku takut, aku takut kehilangan kamu Ariana ku." Lirih Axel, Ariana terisak mendengar ucapan Axel.

"Aku juga merasa takut selama ini, aku selalu merasakan ada yang kosong." Lirih Ariana Axel juga merasa demikian, Axel membawa Ariana duduk dan mendekapnya erat.

"Aku juga, jangan membenci ku." Bisik Axel, Ariana tersenyum tulus dan merasakan apa yang dulu terasa kurang itu kini sekan sudah memenuhi seluruh hatinya. Keduanya larut dalam perasaan masing-masing.

Tok..

Tok...

Tok...

Seorang pria masuk dengan nampan di tangannya, dia membawa semangkuk bubur dan segelas susu. Axel tersenyum melihat sang Papa yang nampak jauh lebih peka dan perhatian.

"Ayo makan dulu Nak." Pinta Papa Axel, Axel menaruh bantal di belakang tubuh Ariana untuk bersandar. Axel berdiri dan membiarkan sang Papa untuk duduk di samping Ariana.

"Pantas saja aku merasa sangat merindukan Papa." Tutur Ariana tersenyum tulus, Papa Axel terkekeh dan membiarkan makanan di tangannya pada Axel.

"Tinggal beberapa hari ya di sini? Papa akan senang bila kamu setuju." Pinta Papa Axel, Ariana mengangguk.

"Anak baik." Papa Axel mengelus kepala Ariana penuh sayang, Papa Axel kembali berdiri.

"Kali ini, aku yang akan menafkahi menantuku bila kamu tidak mampu!" Bisik Papa Axel, Axel menarik bibir atasnya seraya berdecak kesal mendengar kalimat menyakitkan itu.

"Ayo makan dulu." Axel menyuapi Ariana dengan sangat baik, Ariana juga nampak tidak risih dengan perlakuan Axel. Karena pada dasarnya Ariana memanglah gadis yang sangat manja.

.

.

.

Malam hari akhirnya tiba, di rumah itu hanya ada 3 kamar. Satu kamar di pakai oleh bawahan Papa Axel yang selalu merawat Papa Axel dan satu lagi di gunakan Ariana dan yang satunya di pakai Papa Axel.

Sedangkan Axel malam itu agaknya harus tidur di ruang tamu, di tengah malam Ariana ke luar kamar dan melihat Axel yang masih termenung dengan leptop yang menyala namun tak dia sentuh sedikitpun.

"Kak Axel." Ariana yang berjalan tertatih-tatih langsung di bantu Axel dan mendudukkan Ariana di sampingnya.

"Kenapa belum tidur?" Tanya Ariana lirih, Axel membawa Ariana ke dalam pelukannya.

"Aku mengalami insomnia, Ariana tidurlah." Pinta Axel, Ariana menggelengkan kepalanya dan memeluk Axel dengan hangat.

"Boleh aku tidur begini?" Pinta Ariana semakin masuk dalam dekapan Axel. Axel tersenyum, jawabannya tentu saja boleh.

"Kakak sejak kapan mengalami Insomnia?" Ariana bertanya seraya menghirup aroma tubuh Axel yang sangat membuatnya menjadi candu.

"Sejak aku kehilangan kamu." Bisik Axel, dadanya kembali terasa sesak mengingat bagaimana perpisahan pedih antara dirinya dan Ariana.

Nafas keduanya pada akhirnya terdengar teratur, rasa gelisah yang selalu menghantam perasaan Axel sekan lenyap bersama angin malam.

Mereka berdua terlelap di atas sofa denga sehelai selimut yang menghangatkan keduanya, leptop yang menyala seolah menjadi penonton dari kebersamaan keduanya.

.

.

.

"Hemm..." Ariana terbangun, matahari terasa menyilaukan matanya dari arah jendela yang terbuka.

"Kak Axel?" Ariana mencari sosok Axel yang sudah tidak ada di dekatnya, suara seseorang yang tengah memasak terdengar dari arah dapur.

"Sudah bangun?" Sapa Axel dengan sigapnya dia tengah bermain dengan perkakas dapur, Ariana tersenyum dan memeluk Axel dari belakang.

"Iya, masak apa Kak?" Tanya Ariana manja, Axel terkekeh dan berbalik menghadap Ariana yang baru saja bangun tidur.

"Buka mulutnya." Pinta Axel, Ariana langsung membuka mulutnya namun sebuah hal mengejutkan seketika membuat Ariana melotot.

Axel dengan sengaja memasukkan sebuah kue berukuran besar ke dalam mulut Ariana, wajah Ariana nampak kesal dan kedua pipinya nampak mengembang akibat sesak dari kue yang di masukan Axel.

"Gimana rasanya?" Tanya Axel jahil, Ariana memalingkan wajahnya dan menelan semua kue di dalam mulutnya secara perlahan.

"Enak liatnya ya?" Singgung Ariana saat melihat Axel yang tertawa, Axel mengacak rambut Ariana yang sudah berantakan.

"Enak banget." Jawab Axel, Ariana menggelembungkan kedua pipinya dan berjingkrak masuk ke dalam kamar.

Mata Ariana seketika membulat saat dirinya berhadapan dengan cermin, rambut yang acak-acakan. Mata yang sembab dan wajah yang entah bagaimana bentuknya itu kini terlihat sangat jelas.

"Astaga, apa aku seburuk ini?" Pekik Ariana, dia teringat kembali dengan Axel yang tadi melihatnya dengan kondisi seperti saat itu.

"Ahhh Ariana, mati saja kau!" Ariana memukul-mukul keningnya dan terasa sangat kacau melebihi meletus balon hijau, DOR.

Terpopuler

Comments

Eny Sen Senny

Eny Sen Senny

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!