Bab 6. Kamar Ariana

"Kak, Papa kenapa?" Tanya Ariana merasa sangat sedih, Arkana menghela nafas berat dan mengelus puncak kepala adiknya.

"Kakak akan berangkat malam ini. Axel, aku sudah memberi tahu mu menganai hal itu, tolong jaga dia untukku." Ucap Arkana memeluk adiknya yang kini menangis dalam pelukannya.

"Baik, kau pergilah dengan tenang." Ucap Axel dengan pasti, Arkana sedikit bingung dengan perubahan sikap Axel. Namun, melihat bagaimana tatapan Axel pada Ariana seolah sudah menjadi jawaban atas kegundahan hatinya.

.

.

.

Ariana dan Arkana pulang ke kediaman mereka, Ariana membantu Arkana untuk bersiap dan merapikan barangnya untuk di bawa ke kediaman Axel.

"Kak, jaga Papa." Lirih Ariana sebelum mereka akhirnya berangkat ke Bandara.

"Iya, Kakak janji akan jaga Papa. Ariana juga jaga diri baik-baik ya, jangan lupa membuat onar!" Celetuk Arkana hingga senyum tipis mengembang di pipi Ariana.

"Pasti akan aku lakukan Kak! Tolong titip sayang untuk Papa." Ariana memeluk sang Kakak sepanjang perjalanan menuju ke Bandara.

Hingga akhirnya mereka sampai di Bandara, di sana nampak Axel tengah tersenyum ke arah mereka semua. Ariana juga merasa kikuk dengan senyum Arkana yang sangat mempesona itu.

"Aku titip adikku, jangan buat masalah padanya. Sebelum janur kuning melengkung jangan harap kamu bisa merusaknya." Ucap Arkana yang memang sudah sangat mengerti dengan tatapan Axel.

"Jangan cemas, aku pastikan janur itu akan segera melengkung." Tutur lagi Axel memeluk sahabatnya terlebih dahulu, Ariana juga memeluk Arkana dan menangis dalam pelukan pria itu.

"Tinggal baik-baik ya, buatlah masalah sebanyak mungkin untuk pria itu." Ucap Arkana mengecup kening adiknya, dia akhirnya berangkat dan Ariana menangis melihat kepergian sang Kakak.

Lagi dan lagi, Ariana di tinggalkan seorang diri. Ariana sangat ingin ikut bersama dengan Arkana, tapi dia yakin bila dia ikut malah akan menjadi beban bagi kakaknya.

"Cepat pulang Kak." Lirih Ariana dengan air mata berjatuhan, Axel yang melihat itu sedikit merasa cemburu pada Arkana. Selama ini Axel tak pernah di tangisi siapapun, bahkan Papanya sendiri jarang sekali memperhatikannya seperti itu.

"Ayo pulang!" Ajak Axel menarik bahu Ariana yang masih menangis. Axel mengerti, pasti sangat berat bagi Ariana melepas Arkana sekarang.

"Kemarilah." Axel memeluk Ariana dengan hangat, Ariana yang menganggap Axel hanya sebatas kakak pengganti akhirnya menurut dan memeluk Axel dengan hangatnya.

Setelah di rasa tenang, Axel kembali mengajak Ariana pulang dan akhirnya Ariana ikut bersama dengan Axel. Selain itu Ariana juga masuk ke dalam kendaraan Axel dan tancap gas menuju ke kediaman Axel.

.

.

.

Sebuah hunian mewah dan megah, terletak di tengah kota namun memiliki nuansa teduh dan nyaman. Kediaman itu nampak sangat sepi tanpa adanya pelayan satupun, Ariana meliht sekeliling dan benar-benar sepi.

"Apa Om gak punya pelayan?" Tanya Ariana polos, karena bagaimanapun bila tinggal di kediaman sebesar itu tanpa pelayan mungkin akan sangat merepotkan.

"Tidak ada, apa kamu lapar?" Tanya Arkana, "Ah ya, satu hal lagi. Jangan panggil aku Om mengerti!" Tegas lagi Axel yang tidak terima dirinya selalu di panggil Om.

"Enggak lapar, hanya saja mungkin bisa mati aku kalo harus beresin tempat ini sendirian." Protes Ariana, Axel mengangkat alisnya.

"Aku tidak akan menyuruhmu untuk beresin tempat ini, apa kamu sangat membutuhkan pelayan?" Tanya Arkana sedikit ragu, dia memiliki fobia yang sangat mengerikan.

"Ya tidak juga, tapi Om kalo aku tinggal di mana nih?" Ariana melihat ke sekeliling dan dia belum begitu tahu mengenai kediaman tiga lantai itu.

"Terserah, mau tinggal di manapun aku akan memperbolehkannya." Jawab Axel singkat, Ariana tersenyum dan mulai berjalan.

Tatapan Ariana jatuh pada lantai dua di mana sebuah kamar yang sederhana nampak sangat nyaman. Namun isi kamar itu yang berwarna kelabu sungguh tidak enak di pandang.

"Aku mau tinggal di sini." Ucap Ariana menunjuk kamar tersbut, Axel terkekeh dan menyenderkan tubuhnya di dekat pintu.

"Kamu mau tidur bersama ku?" Tanya Axel jahil, Ariana mengangkat alisnya tidak mengerti.

"Ini kamar ku, bila kamu memilih tempat ini maka kamu akan tinggal dan tidur dengan ku." Ucap Axel menjelaskan, Ariana melotot dan menepuk bahu Axel kemudian.

"Ah, wajah Om terlalu ganteng untuk ukuran anak muda seperti aku, sepertinya akan terlalu berbahaya." Tawa Kiara hambar, Axel meraih koper Ariana dan membawa Ariana ke kamar di sebelah kamarnya.

"Mulai saat ini, kamu bisa menempati kamar ini. Bagaiamana?" Tanya Axel tersenyum tulus.

"Baiklah, sepertinya lumayan." Jawab Ariana setuju dengan pilihan Axel, Ariana menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menutup kedua matanya.

"Nyaman, Om aku mau tidur dulu ya?" Pinta Ariana yang sudah males gerak itu.

Axel tak menjawab apapun dan memilih tetap memperhatikan Ariana yang di matanya terlihat seperti seorang gadis yang unik, cara Ariana tidur dan wajah polos gadis itu seolah sudah melelehkan hatinya. Meski Ariana memang sering menggunakan pakaian yang sedikit terbuka, namun Ariana sangat jarang berdandan.

Ariana tertidur sampai siang. Axel juga memilih menutup pintu kamar Ariana dan menuju ke sebuah perpustakaan di rumah megah itu. Axel membaca buku hingga siang hari.

.

.

.

"Hem..." Ariana terbangun dan baru sadar bila dirinya baru saja tidur di rumah orang lain, tidurnya sangat nyenyak dan membuat Ariana betah berlama-lama berada di atas kasur.

"Aduh males gerak tapi lapar." Gumam Ariana yang pada akhirnya memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya, Ariana berjalan menuju lantai satu dengan wajah semerawut.

Ariana mencari dapur dan berkeliling rumah itu, Ariana juga akhirnya sampai di depan kamar Axel hendak bertanya. Kaki Ariana seperti di gusur dengan terpaksa. Sedangkan Axel sendiri memperhatikan Ariana dari lantai 3 rumahnya dan buru-buru mendekat.

"Cari siapa?" Tanya Axel saat Ariana siap mengetuk pintu kamar itu.

"Astaga! Ya ampun jantung ku hampir copot." Kaget Ariana akibat di kejutkan dengan kedatangan Axel yang tiba-tiba.

"Kenapa terkejut begitu?" Axel terkekeh melihat wajah manis Ariana yang nampak sangat menggemaskan.

"Masih tanya kenapa? Ya kaget lah!" Pekik Ariana mengusap dadanya yang terasa berdebar. Bukan hanya karena terkejut, tapi karena jarak antara Ariana dan Axel yang sangatlah dekat.

"Kaget banget ya?" Axel menatap Ariana dengan senyum menawan di bibirnya.

'Ah, gila.. bisa kesengsem aku kalo terus liat muka ganteng kaya gini!' Pekik Ariana dalam hati.

"Kenapa melamun gitu?" Axel mengangkat dagu Ariana hingga mata mereka kini bersitatap.

"Laper, lagi gak bisa mikir nih." Ariana memutar jari telunjuknya di samping kanan kepalanya.

"Emang lagi mikir apa?" Tanya Axel menggoda, Ariana menghembuskan nafasnya kasar.

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

lagi mikir kapan aku dihalalin 😂😂😂😂😂

2024-01-03

1

Zeni Supriyadi

Zeni Supriyadi

semoga Ariana segera jatuh cinta ke Axel 🤗

2024-01-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!