Bab 7. Fobia

"Hai Tuan, tampang mu itu terlalu berbahaya bagi jantung sehat ku ini!" Ariana berjalan menuju bagian bawah rumah itu dan duduk di atas sofa.

"Kau punya alergi?" Tanya Axel menatap dua bola mata indah yang kini nampak terpejam.

"Tidak, aku hanya alergi sama ulat bulu." Ariana membuka matanya, alangkah terkejutnya dia saat di atas kepalanya kini nampak Axel yang menatapnya tajam.

"Astaga!" Ariana bangkit dari duduknya dan mengelus dada akibat terkejut.

"Aku bukan hantu, kenapa kamu seterkejut itu?" Axel mencubit hidung Ariana saking gemasnya, setelah itu dia memutuskan meninggalkan Ariana yang masih terpaku menatap punggung tegap Axel.

"Aduh, kalo terus begini jantung ku bisa bocor akibat ledakan besar." Gumam Ariana mengelus dadanya yang berdetak sangat cepat.

Mata Ariana terus memperhatikan kepergian Axel, tanpa sadar kakinya juga melangkah ke arah di mana Axel berada. Sebuah dapur minimalis dengan banyak perlengkapan mewah itu mampu membuat Ariana terpaku seketika.

"Om, kau bisa masak?" Tegur Ariana saat melihat Axel yang nampak sangat lihai memainkan tangannya dengan perkakas dapur.

"Duduklah, aku akan menyiapkannya dengan cepat." Axel mulai memasak dengan lihai. Ariana memperhatikan Axel dari jarak aman, sungguh momen tak terduga pikir Ariana.

.

.

.

Di atas meja makan, kini sudah tersaji makanan yang nampak sangat nikmat, Ariana benar-benar menatapnya dengan keinginan untuk segera melahapnya.

"Cuci tangan dulu." Pinta Axel saat memperhatikan wajah Ariana yang nampak berbinar.

"Oke, Om!" Ariana langsung cuci tangan dan kembali duduk. Ariana berdo'a dan langsung menyantap makanan di hadapannya.

Ariana makan dengan lahap, begitupun Axel. Selama ini Axel tidak pernah makan satu meja dengan perempuan, dia bahkan tak pernah makan dekat dengan wanita. Karena saat dia dekat dengan wanita, Axel akan langsung mual dan muntah saat melihat bibir wanita yang memakan makanan.

"Ariana, aku ingin bicara sesuatu." Axel menyudahi makannya dan menatap Ariana yang nampak masih asyik melahap makananya.

"Hem? Katakan saja." Ariana kembali melahap sesendok penuh makanan di hadapan matanya.

"Selama kamu tinggal di sini, aku harap kamu tidak membawa teman perempuan masuk ke kediaman ini." Ariana menatap Axel dan meneguk segelas air mineral.

"Kenapa?" Ariana bingung, karena dia memikirkan bagaiamana nanti perasaan Yui bila dia tidak mengajak Yui bermain di tempat tinggalnya yang baru.

"Aku memiliki fobia pada wanita." Ariana membulatkan matanya, Ariana berpikir mungkinkah Axel juga fobia terhadap dirinya.

"Fobia? Memangnya hal semacam apa yang akan membuat fobianya kumat?" Ariana yang memang tidak mengetahui apapun itu kembali bertanya.

"Aku tidak bisa bersentuhan dengan perempuan, saat aku bersentuhan maka aku akan langsung gatal, sesak dan mungkin pingsan." Ariana membulatkan matanya lagi, dia menelan salivanya dan pada akhirnya mengangguk.

"Bila teman laki-laki?" Axel mengangkat alisnya, dia menyeringai dan menatap Ariana dengan lekat.

'Dia berani membawa laki-laki lain ke rumahku? Jangan harap!' Gumam Axel dalam hati, tanpa sadar tangannya kini terkepal di bawah meja.

"Eh, tunggu dulu!" Ariana bangkit dari duduknya dan menyentuh tangan Axel.

"Gak gatal?" Tanya Ariana melihat Axel yang nampaknya masih baik-baik saja.

"Tidak, aku juga tidak tahu kenapa." Ariana terkekeh hambar, pantas saja saat dia bersalaman dengan Axel. Kakaknya Arkana langsung bertanya, apa dia wanita? Ariana memijit pelipisnya yang terasa bedenyut.

"Apa selain aku ada wanita lain yang bisa Om sentuh?" Tanya lagi Ariana, Axel sangat gemas dengan panggilan Ariana yang tak pernah berubah terhadapnya.

"Tidak ada. Untuk aturan ke dua, kamu di larang memanggil ku Om!" Tegas Axel, Ariana terkekeh hambar dan menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.

"Baik-baik, fobianya pilih kasih. Paman Axel aku akan ke kamar dulu ya!" Ariana terkekeh dan tertawa seraya berlari menuju kamarnya.

"Gadis itu." Axel terkekeh dan membiarkan Ariana pergi meninggalkannya. Axel membereskan bekas makan mereka dan kembali ke perpustakaan.

Di dalam kamar, Ariana mulai berfikir. Dia harus memanggil Axel apa? Dia juga berfikir untuk menghibur Yui bila dia tidak bisa mengajak Yui ke tempat tinggalnya yang baru.

Tak lama kemudian ponsel Ariana berdering dan memperlihatkan satu pesan masuk, Ariana mengerutkan keningnya saat melihat angka 15 dengan enam nol di belakangnya.

"Wah, akhirnya cair juga nih uang jajan." Ariana memang terkesan sebagai gadis sederhana di dekat temannya, namun tak jarang juga hal itu membuat beberapa orang merasa ilfil dengan sifat Ariana yang sangat irit dan penampilan yang sederhana.

Di perpustakaan, Axel tersenyum melihat ponselnya. Axel tak menyangka bila gadis seperti Ariana ternyata bukanlah sosok matre yang selalu menginginkan uang.

"Aku harus mengajarkannya untuk menjadi seorang nyonya, siapa yang akan menghabiskan uang ku bila dia seirit ini." Axel kembali mengirimkan uang pada Arina dengan jumlah yang tidak main-main.

Sedangkan di dalam kamar, Ariana tertegun melihat jumlah kiriman yang dia terima dari nomor baru itu. Hingga sebuah pesan mampir ke dalam ponselnya.

"Aku sudah memberi uang jajan dan uang belanja, jangan terlalu irit!" Isi pesan tersebut, Ariana tak dapat menebak siapa yang mengirimkan pesan padanya, apa lagi tak ada info apapun. Termasuk profil yang hanya memperlihatkan sebuah tangan.

"Maaf, siapa ini?" Ariana membalas pesan tersebut, Ariana langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

"Aku Axel, kau sudah melupakan aku?" Ariana terkekeh hambar membaca pesan yang sampai pada ponselnya itu.

"Heheh.. maaf Paman, aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, sampai-sampai agak pikun." Ariana membalas pesan tersebut.

"Jangan panggil aku Paman!" Ariana tertawa melihat pesan dari Axel tersebut.

Ariana juga tak membalas pesan itu, dia memilih untuk berfikir. Dia sebaiknya memanggil apa pada Axel.

Di sisi lain, Axel agaknya kecewa karena pesannya hanya di baca tanpa jawaban. Axel menyandarkan punggungnya ke sofa dan kembali membayangkan bagaimana Ariana yang tertawa saat dia memanggilnya Paman.

"Gadis itu benar-benar membuat ku hampir gila." Axel menutup matanya dan akhirnya terlelap di atas kursi tersebut.

Sebuah mimpi buruk kini di alami Axel, bayangan kejam bagaimana nampak seorang wanita yang menyeret wanita lainnya dan menggantung wanita itu hidup-hidup. Axel juga bermimpi sesosok mahluk tinggi besar menyeretnya pada sebuah tempat yang gelap, tubuh Axel terasa panas saat segelas air di minumkan padanya.

"Tidak, aku mohon tidak!" Axel bergumam hingga tiga orang wanita mulai membuka pakainnya, mereka mulai beraksi di tubuh mungil Axel. Axel kembali pada usia 12 tahun, itu bukan hanya sekedar mimpi buruk melainkan ingatan Axel di masa lalu.

"Axel.." Sebuah suara terdengar lembut dalam mimpi itu.

Terpopuler

Comments

vivinika ivanayanti

vivinika ivanayanti

Masa lalu Axelkah yg membuat Axel phobia sama perempuan???
di culik mungkin ya ...🤭🤭
lanjutkan kak Thor 😘😘😘

2024-01-03

1

Ani

Ani

kapan Ariana itu sadar kalau dia hanya dimanfaatkan oleh Yui

2024-01-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!