Ariana merasa risih dengan tatapan tajam yang di perlihatkan oleh Axel, pria itu juga nampak memperhatikan wajahnya dengan sangat teliti.
"Om, di wajah ku ada cicak ya?" Tanya Ariana polos dan mendekatkan wajahnya, tangan Axel sedikit bergetar namun pada akhirnya terulur menyentuh kening Ariana.
"Kamu basah, nanti demam." Tiba-tiba kalimat pendek itu meluncur bebas dari mulut Axel, Axel juga menyentuh kening Ariana yang memang terasa agak hangat.
"Wah, perhatian sekali. Gak papa om, aku kuat kok." Ucap Ariana tersenyum lebar, Axel menyentuh telapak tangannya yang tidak merasakan reaksi apapun.
'Apa aku sudah sembuh?' Gumam Axel dalam batin, dia memperhatikan Ariana dengan teliti, gadis itu nampak tengah memakan permen coklat dengan lahapnya.
Bibir merah muda tanpa balutan lips stic, serta mata yang terang dengan rambut panjang nan menawan. Pikiran Axel melayang hingga ke luar angkasa.
"Berhenti di sana, makasih ya om." Tutur Ariana hendak turun dari mobil itu, Axel tersenyum sekilas.
"Aku bukan om mu!" Bantah Axel, Ariana hanya tertawa sembari keluar dari mobil.
"Oh ya om, aku gak bawa uang sekarang. Aku kasih permen aja, mau rasa apa?" Tanya Ariana membiarkan Axel memilih permen di tangannya.
"Rasa coklat." Ucap Axel, Ariana tersenyum lebar dan menyerahkan permen rasa coklat di tangannya pada Axel.
"Makasih ya om, papayo!" Ariana berlari menuju sebuah gang sempit, dia nampak masuk ke dalam sebuah kostan sederhana. Axel tersenyum melihat kepergian Ariana dan melanjutkan kembali perjalanannya.
"Gadis yang unik." Ucap Axel, sosok tukang taksi online itu akhirnya ikut berkomentar.
"Dia memang baik Tuan, maaf saya membuka pintu otomatis untuk menolongnya, karena dia juga dulu pernah menolong saya." Ucap supir taksi tersebut meminta maaf dengan sungguh-sungguh, supir taksi itu memang tidak berbohong. Sebelumnya Ariana memang penah menolong orang itu, meskipun agaknya Ariana sudah tidak mengingatnya sama sekali.
"Tidak masalah. Ah, aku lupa menanyakan namanya." Gumam Axel, supir taksi itu kembali berkomentar.
"Saya jua tidak mengetahui namanya, tapi yang saya tahu, dia sering membagikan makanan gratis untuk anak jalanan setiap harinya, dia juga nampaknya sering bolos kuliah demi mengajar anak-anak di kolong jembatan, saya sering melihatnya di sekitar kolong jembatan di dekat sana." Supir taksi itu menunjukkan sebuah kolong jembatan dan nampak papan tulis besar di sana, Axel menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Axel sampai di tempat tujuannya, namun masih ada hal yang mengganjal di pikirannya sejak tadi. Yaitu, apa dia beneran sudah sembuh?
Pertanyaan itu terus berdengung di telinganya hingga cukup lama, hinga sebuah ide gila terbersit dalam otak Axel, dia kini duduk memperhatikan presentasi seorang pria muda yang mungkin seusia dengannya.
Seorang pelayan wanita masuk membawakan cemilan untuk mereka, pesona Axel agaknya sudah sangat memikat banyak orang, begitupun pelayan yang datang tebar pesona di hadapan Axel itu.
Rasa mual tiba-tiba masuk dalam pikiran Axel, sensi yang sama dengan pobianya selama ini kumat lagi. Wanita itu akhirnya pura-pura terjatuh hingga Axel berdiri dan menghindari wanita itu, namun nahas tangannya justru bersentuhan dengan pelayan tersebut.
"Sst.. menjijikan! Dasar gila!" Umpat Axel dia menggaruk tangannya yang terasa gatal, sesak nafas juga kini di rasakan oleh Axel hingga membuat sosok yang sedang presentasi itu berhenti dan mengambil obat Axel di kantong jas nya.
"Pergi, panggil pimpinan mu kemari!" Sentak pria itu dan mulai berusaha menenangkan Axel, untunglah yang kini mengerjakan bisnis bersama Axel adalah sahabat dekat Axel, hingga tidak membuat Axel berada di luar kendali.
"Sini, aku kasih salep dulu." Pria itu mengoleskan salep di sekujur tubuh Axel yang nampak sudah memerah. Sedangkan Axel sendiri terus menggaruk beberapa bagian tubuhnya yang sangat gatal dan membuatnya cukup tersiksa.
"Aku sepertinya harus istirahat." Ucap Axel, ternyata pobianya belum sembuh. Apa mungkin wanita yang tadi di dalam mobil bersamanya itu adalah wanita jadi-jadian? Axel menggelengkan kepalanya, karena dia jelas melihat baju basah gadis itu yang mencetak sempurna bentuk dada yang aduhai.
"Terus tawarannya gimana? Aku harus berangkat minggu depan Axel." Tanya seorang pria yang membantu Axel barusan, setelah melihat Axel lebih tenang dia akhirnya bertanya mengenai keinginannya.
"Kamu tahu sendiri aku anti perempuan, mana bisa aku menjaga adik mu Arkan." Tolak Axel, Arkana yang merupakan sahabat dekatnya itu akhirnya mendesah berat.
"Ayolah Axel, bertemu saja belum. Minggu besok kita bertemu di tongkrongan, aku akan bawa Ariana ke sana." Putus Arkana, Axel mengangkat bahunya. Sifat Arkana yang memang keras kepala itu sangat sulit di beri penjelasan, biarlah dia membawa adiknya, dan setelah dia merasakan alerginya kumat pasti adik Arkana juga akan merasa ilfil.
.
.
.
Di tempat lain, Ariana kini tengah menangis di dalam kamarnya. Dia benar-benar merasa di adik tirikan oleh kakaknya sendiri.
Tangisan itu hanya berjalan beberapa jam, karena para pengawal pribadinya berhasil menemukan Ariana dengan cepat.
"Nona, buka pintunya!" Suara teriakan pengawal itu kian lama kian sering hingga pada akhirnya Ariana mengalah. Lagi pula, itu bukan pertama kalinya Ariana kabur dari rumah.
"Tuan Arkana saat ini berada di bawah, dia menunggu anda." Ucap pengawal itu, Ariana melihat ke bagian bawah kostannya dan tampaklah Arkana yang tersenyum lebar.
Setelah pertemuannya dengan Axel, Arkana memang langsung tancap gas menuju tempat Ariana, untunglah Arkana memasang GPS pada si Fuad hingga keberadaan Ariana dapat di lacak dengan mudah.
Ariana menangis dan berlari ke arah sang kakak, dia memeluk Arkana dengan air mata berlinang. Rasa bersalah kini menghujani pikiran Arkana, bukannya tidak tahu. Arkana justru sangat mengerti apa yang di inginkan oleh adiknya itu, namun Arkana juga harus memikirkan kelangsungan hidup mereka akan jadi seperti apa kedepannya.
"Apa kabar?" Tanya Arkana menghapus air mata sang adik yang jatuh berlinangan.
"Huhu.. aku sakit Bang." Ucap Ariana mengambil tangan sang kakak dan menempelkannya di kening.
Benar, kepala Ariana memang terasa nyeri sejak tadi malam. Dia juga merasa demam sejak pagi tadi, dan di tambah dia main hujan-hujanan di kelas pagi ini.
"Aduh, panggil dokter!" Perintah Arkana membawa Ariana masuk ke dalam mobilnya, dia juga langsung membawa Ariana ke sebuah hunian elit, tempat tinggal mereka.
Para pelayan nampak menyapa dengan menundukkan kepala, Ariana juga langsung mendapatkan perawatan eksklusif dari dokter terbaik.
Ketiga sahabat Ariana yang merasa bila Ariana sakit pagi itu memang dengan sengaja menghubungi sang kakak agar dia dapat melihat langsung Ariana, hingga membuat Arkana menunda perjalanan bisnisnya dan memilih untuk menjaga Ariana.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Ani
seneng deh kalau ceritanya alergi cewek begini.. dijamin setia meskipun banyak pelakor mengintai
2024-01-03
0