Bab 10. Patah Hati

Ketiga mahluk Julidius akhirnya berusaha menenangkan Ariana, selain itu Ariana juga terus berusaha melupakan apa yang sudah terjadi saat itu.

Hingga satu minggu kemudian, Deren mengetahui identitas Ariana yang sesungguhnya. Deren sangat kecewa dan setiap pagi terus memohon maaf pada Ariana. Sedangkan Ariana sendiri selalu bersikap acuh tak acuh, meski tak dapat di pungkiri Ariana, bila dirinya masih mencintai Deren.

.

.

.

Ariana terduduk di sudut kostan itu, dia merasakan dadanya yang bergemuruh dan rasa sakit menyergap di hatinya. Dengan air mata berlinang, Ariana memperhatikan bagaimana Deren dan Yui kini nampak keluar dari mobil mewah itu dan masuk ke dalam kostan Yui yang berada di lantai dua.

Dengan cepat Ariana mendorong si Fuad ke luar gerbang kostan, dia menghidupkan si Fuad saat sampai di tepi jalan raya, perasaan Ariana hancur. Air mata terus berjatuhan membuat banyak uap yang tergenang di upuk matanya.

Sudah beberapa kali Ariana hampir tabrakan karena berkendara sambil menangis, dia juga hampir menabrak bahu jalan. Ariana bingung saat itu, haruskah dia bertemu teman-temannya?

Ariana menggelengkan kepalanya, Jojo dan Sensen adalah sahabatnya yang baik. Tapi dia adalah orang yang sangat mudah terpancing emosi, sedangkan Elen saat ini pasti berada di ruang komputer.

Ariana memutuskan untuk pulang saja ke kediaman Axel, selain itu gerimis juga mulai turun membasahi seisi kota. Ariana pulang dengan keadaan sekujur tubuh yang basah.

"Ya ampun!" Axel yang melihat kedatangan Ariana dengan tubuh basah kuyup langsung menyerahkan sebuah handuk.

"Lepas dulu sepatunya." Pinta Axel, Ariana menuruti keinginan Axel dan berjalan menuju kamarnya. Axel melihat sesuatu yang aneh dari Ariana saat itu.

"Kau suka coklat panas atau teh jahe?" Tanya Axel, Ariana menghentikan langkahnya. Matanya terasa panas dan menggelengkan kepalanya, Ariana berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamar itu dengan kasar.

Axel yang melihat perubahan drastis dari Ariana yang sangat hobi ceplas-ceplos dan banyak bercanda itu kini merasa ada yang aneh. Axel menyiapkan makan malam dan menunggu Ariana di depan meja makan.

Di dalam kamar, setelah mandi Ariana memutuskan untuk menjadi kepompong besar di dalam selimut tebal. Air matanya terus berjatuhan dan rasa sakit di hatinya seolah bertumpuk.

Tok...

Tok...

Tok...

"Ar? Kamu belum makan malam, keluarlah!" Suara Axel terdengar lembut.

"Aku gak lapar, Kakak makan aja sendiri." Axel tersenyum mendengar panggilan baru dari Ariana.

"Aku tidak mau di hukum Arkana gara-gara tidak memberi makan adiknya ya?" Ariana yang mendengar itu menghela nafas panjang, dengan berat hati Ariana berjalan menuju ke arah pintu.

Dengan wajah sembab dan rambut seperti tersetrum, Ariana membuka pintu hingga membuat Axel tertegun sejenak.

"Hahahaha..." Axel tertawa melihat penampilan Ariana, Ariana memajukan bibirnya dan mencubit pinggang Axel. Namun gagal, Ariana akhirnya menarik telinga Axel hingga membuat pria itu meringis.

"Aw..aw.. hahahah..." Axel masih tertawa, Ariana makin gemas dengan tingkah Axel dan memasang wajah yang sangat masam.

"Lucu ya?" Bentak Ariana, Axel tertegun sejenak dan mengacak-acak rambut Ariana lagi.

"Manis, ayo makan!" Axel mencubit pipi Ariana dan menggandeng tangan kecil Ariana untuk turun. Ariana masih memasang wajah masam, namun dia senang saat merasakan hawa hangat dari tangan Axel.

Mereka makan malam, Ariana juga membantu Axel merapikan bekas makan malam mereka. Ariana yang belum mengantuk memilih duduk di ruang keluarga dan menyalakan televisi.

"Coklat panas." Axel memberikan sebuah muk berukuran sedang pada Ariana, Ariana menerima muk itu dan tersenyum pada Axel.

Axel membuka leptopnya dan mulai bekerja, Ariana memperhatikan bagaimana sosok Axel yang sangat serius tengah mengetik. Diam-diam Ariana semakin terpaku melihat ketampanan Axel yang sangat luar biasa itu.

"Apa ada cicak di wajah ku?" Tanya Axel tanpa mengalihkan pandangannya dari leptop, Ariana terkekeh dan akhirnya melihat ke arah leptop tersebut.

"Ada tokek, hahaha... aku lihat dong!" Ariana tertarik dengan pekerjaan yang tengah di hadapi Axel.

"Wah, keren banget. Ajarin dong Kak?" Ariana memasang wajah penuh harap, melihat bagaimana pekerjaan Axel yang luar biasa membuat Ariana menjadi sangt tertarik.

"Jurusan apa di kampus?" Tanya Axel mulai menghentikan aktifitasnya dan menatap Ariana yang terkagum-kagum.

"Jurusan pembuat onar abadi." Celetuk Ariana, Axel terkekeh mendengar itu dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

"Bagaimana rasanya membuat onar?" Tanya Axel menutup leptopnya. Axel menarik kepala Ariana untuk bersandar di bahunya.

"Lumayan seru, minggu depan aku berencana akan membakar gudang Fakultas keguruan." Jawab Ariana, entahlah dia akan berhasil atau tidak. Namun dia sangat ingin membakar gudang itu dan membuat Arkana kembali, namun Ariana kembali terdiam.

Bila Arkana kembali, tentulah sang Papa akan sendirian. Dia juga tidak boleh egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri, Arkana juga harus merawat sang Papa dan harus berjuang terus bekerja.

"Gudang Fakultas keguruan? Untuk apa melakukan itu?" Tanya Axel, pertanyaan Axel benar. Untuk apa Ariana melakukan semua itu? Dulu dia selalu membuat onar karena Papa dan Kakaknya yang selalu sibuk. Tapi sekarang, demi apa Ariana melakukan semua itu?

"Untuk membuat mu repot, mungkin." Jawab Ariana meminum coklat panas miliknya. Axel terkekeh dan mengusap puncak kepala Ariana.

"Baiklah, tapi menurut ku akan lebih baik kamu segera bertobat. Bagaimana bila suatu hari Arkana muak dengan sikap kamu, dan Papa mu benci dengan sikap nakal kamu itu? Aku sama sekali tidak keberatan bila kamu nakal. Tapi bukankah sejak awal kamu hanya ingin menarik perhatian mereka?" Axel mulai menebak-nebak, Ariana tertegun sejenak.

"Dari mana kakak tahu?" Tanya Ariana mengangkat wajahnya, hingga keduana kini saling bersitatap.

"Aku saat kecil juga seperti itu, aku sangat ingin membuat Papa tertarik pada ku. Tapi Papa semakin sibuk dan sibuk, tapi pada akhirnya aku mulai belajar dan serius hingga membuat Papa tertarik pada ku." Ariana mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bila aku belajar, apa aku juga akan mendapatkan perhatian mereka?" Gumam Ariana, Axel tersenyum penuh arti.

"Tentu saja Ariana, orang tua yang mana yang tidak bahagia bila anaknya terus berprestasi?" Ariana nampak berfikir dan menganggukkan kepalanya setuju.

"Baiklah, aku akan belajar. Kak, ajari ya?" Ariana memasang wajah yang menggemaskan di depan Axel, Axel mengangguk dan menyetujui keinginan Ariana.

"Jadi, apa mau cerita apa yang terjadi tadi siang? Kenapa wajahmu sembab begitu saat pulang?" Axel mulai mengorek informasi, Ariana menyandarkan kepalanya di bahu Axel.

"Cuma patah hati aja kok, cuma kok sakit banget ya Kak?" Ariana menekan dadanya yang kembali berdenyut.

"Patah hati?" Axel mulai mengorek informasi yang lebih dalam mengenai kehidupan Ariana.

Terpopuler

Comments

Eny Sen Senny

Eny Sen Senny

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!