Bab 15. Ingatan Ariana

Ariana tertegun melihat Axel yang nampak menangis di hadapan nisan Mamanya, Ariana ingat dengan buket yang dia buat. Langkah Ariana perlahan mundur dan membiarkan Axel memiliki waktu bersama kenangan masa lalunya.

Ariana mengambil buket dari dalam mobil, setelah mengambil buket, Ariana terkejut melihat Papa Axel yang nampak terdiam dengan kursi rotan yang dia duduki tengah menghadap ke pantai.

"Papa sedang apa?" Tanya Ariana, entah mengapa sejak pertemuan pertamanya dengan Papa Axel Ariana sama sekali tidak bisa memanggil pria itu Paman.

"Burung camar akan datang kemari, musim semi juga sudah hampir tiba." Lirih Papa Axel, Ariana mengikuti pandangan pria tua itu. Ariana tak melihat apapun kecuali air laut yang tak terlihat ujungnya.

"Maafin Ariana yang tidak sopan." Lirih Ariana, memang aneh rasanya. Saat melihat pria tua yang merupakan Papa Axel itu dadanya berdetak lebih cepat, seolah dia sudah menantikan pertemuan itu sejak lama.

"Tidak, aku malah bahagia kau datang kemari. Aku tidak menyangka bila gadis yang dulu sering bermain lumpur itu akan tumbuh secantik ini." Singgung Papa Axel, Ariana menggelembungkan kedua pipinya.

"Kau masih sama Nak, saat marah pasti akan seperti itu. Cincin itu sepertinya sudah memiliki Nyonya baru sekarang." Papa Axel nampak menghela nafas panjang.

"Ini dari Axel Pa. Papa tahu, Mama pernah bilang kalo teman Papaku yang katanya dekil dan receh itu selalu membuat onar saat di kampus dulu." Ariana terkekeh mengingat kembali bagaimana kisah yang sering di ceritakan sang Mama.

"Apa Mama mu bilang? Aku kucel dan dekil?" Papa Axel juga ikut terkekeh, bagaimanapun dulu mereka memang tumbuh bersama.

"Iya, Mama bilang bila meski begitu Papa adalah orang yang memiliki pandangan luas terhadap segala sesuatu. Pa, apa aku boleh tahu apa yang terjadi pada Axel?" Ariana termenung, dia takut bertanya langsung pada Axel. Namun hatinya juga ragu bertanya pada Papa Axel.

"Sepertinya, Arkana lebih tahu Axel di bandingkan aku." Tutur Papa Axel memberikan kode. Ariana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Keduanya kini memandang ke arah laut, perut Ariana yang semula keroncongan langsung terdiam. Warna jingga juga nampak menghiasi langit sore itu.

"Aku izin ke belakang Pa." Pamit Ariana, Ariana berjalan menuju tempat Axel berada. Axel masih termenung dengan derai air mata. Hati Ariana seakan sakit luar biasa melihatnya.

"Halo Mama, aku Ariana." Ariana menaruh buket bunga yang dia bawa di atas tanah di dekat nisan.

"Aku calon istrinya Kak Axel, Mama tolong restui kami." Lirih Ariana, dia tak berpura-pura sekarang. Dengan lapang dada Ariana mengakui perasaannya sendiri kala itu.

Axel mengangkat wajahnya, matanya menatap Ariana yang nampak sangat cantik. Angin berhembus bersama aroma bunga yang memanjakan indra penciuman mereka. Ariana mendekati Axel dan memeluk pria itu dari belakang.

"Kak Axel, maafkan aku." Lirih Ariana, tanpa terasa air mata Ariana terjatuh. Sebuah gambaran menyedihkan tertangkap oleh ingatannya.

.

.

.

"Jangan tinggalkan aku!" Teriak seorang bocah berusia 14 tahun, air matanya jatuh beruraian.

"Kak Axel." Sosok bocah berusia 8 tahun kini nampak tergeletak di atas jalan raya.

"Ariana banguuun!" Teriak Axel yang memeluk bocah perempuan yang berlumuran darah, beberapa orang dewasa nampak menghampiri Axel dan memberikan pertolongan.

"Ariana banguuun!" Teriak lagi Axel dengan mata yang sayu dan tak berapa lama kemdian, Axel juga jatuh pingsan.

Ariana dan Axel menjadi korban tabrak lari, saat itu Ariana adalah sasaran sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Axel yang saat itu bersama Ariana lansung menolong Ariana, namun sayang kepala Ariana justru terbentur bahu jalan dan mengalami pendarahan.

Mereka menjadi korban tabrak lari bukan tanpa alasan, Axel yang tumbuh menjadi sosok anak superior itu menjadi incaran banyak pembunuh. Keluarga Kronion merasa sangat murka saat mengetahui bila ada seorang anak perempuan yang dapat menyentuh Axel dengan leluasa.

Mereka berencana menyingkirkan Ariana, sebelumnya mereka berhasil menyingkirkan ibu Arkana agar keluarga Bagaswara tidak memiliki keturunan lagi. Namun mereka selalu gagal menghancurkan Arkana, karena Arkana selalu mendapatkan pengawasan ketat dari sang Papa.

Keriuhan tercipta kala itu, Ariana mengalami koma selama satu minggu dan Axel dapat sadar beberap jam kemudian setelah mendapatkan pertolongan dari pihak medis.

Axel yang masih kecil tahu, dirinya masih belum mampu melindungi siapapun dengan kemampuannya kala itu. Rasa bersalah yang tak berkesudahan terus menghantui hati Axel, hingga membuatnya menjauh dari keluarga Bagaswara.

Kepedihan Axel juga tak sampai di sana saja, setelah di lakukan pemeriksaan berulang. Ariana mengalami amnesia permanen, yang artinya Ariana tak akan mengingat apapun di masa lalunya.

Axel menjauh dari keluarga Bagaswara, Ariana yang tak mengingat apapun juga tumbuh menjadi gadis yang gesit dan nakal. Hingga dia lulus sekolah dasar, dan sebuah keajaiban terjadi pada Ariana. Dokter mengatakan bila ingatan Ariana kemungkinan dapat kembali dengan cara mempertemukan Ariana dengan orang-orang yang dulu selalu bersamanya.

Arkana sangat bahagia mendengar hal itu, begitupun sang Papa. Mereka berdua bekerja sama untuk membantu Ariana mengingat masa lalunya. Namun hanya gambaran-gambaran kecil dengan Arkana dan sang Papa saja yang Ariana ingat, Ariana tak mengingat Axel sedikitpun.

Arkana sangat terpukul dengan hal itu, di tambah setelah sang Papa jatuh sakit dan seluruh beban keluarga dia tanggung sendiri. Arkana tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan tak tersentuh siapapun, begitupun dengan Axel, dia tak pernah tersentuh oleh siapapun setelah kejadian tragis kala itu.

Hingga akhirnya Ariana tumbuh jadi gadis nakal pembuat onar, namun itu justru menjadi kesempatan emas untuk Arkana, karena saat kecil Ariana memang gadis nakal dan hanya patuh pada satu orang saja yaitu Axel.

Kesempatan itu di rencanakan dengan sangat baik oleh Arkana, hinga pertemuan tak sengaja Axel dan Ariana terjadi.

.

.

.

Axel tertegun saat merasakan air mata Ariana yang jatuh, dia berbalik dan menatap dua bola mata indah milik Ariana. Dengan lembut, Axel mengusap air mata Ariana dan mengecup kening gadis itu.

"Jangan menangis." Lirih Axel dengan suara serak, Ariana tak menjawab. Dia mengepalkan tangannya, seluruh tubuhnya bergetar dan dadanya terasa sesak. Kepala Ariana seolah tertimpa batu besar yang membuat kepalanya terasa sangat berat.

Bruk!

Ariana jatuh pingsan, Axel langsung meraih tubuh Ariana dan membawa Ariana masuk ke dalam rumah sang Papa. Yayan, asisten pribadi dari Papa Axel langsung menghubungi Dokter pribadi keluarga tersebut.

"Ada apa sebenernya ini Axel?" Papa Axel nampak khawatir, dia menatap Axel yang nampak masih merenung.

"Tuan, Dokter telah memeriksa Nona Ariana." Yayan memberikan informasi, Axel langsung mendekat ke arah Dokter tersbut.

Terpopuler

Comments

vivinika ivanayanti

vivinika ivanayanti

Lanjutkan kak....🥰🥰🥰

2024-01-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!